Teori dan Fungsi Kematangan Emosi

Untuk lebih mengenali emosi, penulis akan merujuk kepada teori emosi yang ada, di antaranya menurut Walgito, bahwa emosi adalah keadaan perasaan yang telah begitu melampaui batas sehingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya mungkin dapat terganggu. Orang yang emosi akan cenderung komunikasinya terganggu tidak menyenangkan bagi orang lain.

a. Teori Emosi Sentral

Menurut teori ini, jasmani merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Jadi, individu mengalami emosi terlebih dahulu, baru kemudian mengalami perubahan-perubahan. Contohnya; orang menangis karena merasa sedih. Dalam konteks pelaksanaan ibadah haji, seringkali jamaah haji berperilaku kurang baik menurut etika, misalnya kurang sabar, tidak tertib, dan suka diakibakan oleh emosi. Akibat emosi tersebut akan mengalami perubahan fisik, seperti; cemberut, arogan, memukul, dan lain-lain.

b. Teori Emosi Peripheral

Teori ini dikemukakan oleh William James. Menurut teori ini justru sebaliknya, gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu.Tetapi, emosi yang dialami oleh individu mengakibatkan gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori ini orang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya, ia susah karena menangis. Pada pelaksanaan ibadah haji, pelayanan panitia yang tidak menyenangkan berakibat pada ketidaksenangan jamaah terhadap panitia. Pada giliranya menimbulkan stres karena harus menunggu lama antrian tiket bus, seperti pengaturan dalam transportasi pemberangkatan bus dari Jedah ke Madinah atau sebaliknya.

c. Teori Emosi Kepribadian

Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktivitas pribadi. Antara pribadi dan jasmani tidak bisa dipisah-pisahkan. Oleh karena itu, emosi meliputi pola perubahan-perubahan jasmaniah. Emosi dapat bersifat positif dan negatif. Emosi positif yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, di ataranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum dan sebagainya. Emosi negatif yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, di antaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya.

Ditinjau dari proses emosi, terdapat beberapa teori, di antaranya:

1) Menurut Cannon dan Bard
Proses emosi diawali dari stimuli dan peristiwa dari lingkungan. Stimuli ini menyebabkan reaksi fisiologis yang sering tampak dalam denyut jantung yang semakin cepat. 47 Stimuli yang terjadi terusmenerus menghasilkan keadaan kognitif subjektif. Keadaan kognitif subjektif inilah yang dikenal dengan emosi.

2) Teori James Lange.
Menurut James Lange proses emosi dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada awalnya terdapat stimuli dan peristiwa dari lingkungan menghasilkan reaksi fisiologis di antaranya denyut jantung yang semakin cepat, tekanan darah yang semakin tinggi, dan keringat yang semakin banyak. Kesadaran manusia atas reaksi-reaksi tersebut menghasilkan keadaan kognitif subjektif. Keadaan kognitif subjektif inilah yang disebut emosi.
Dengan demikian jelas bahwa emosi adalah gejolak jiwa, pikiran dan kondisi perasaan yang meluap-luap. Kadang kita sering menyamakan emosi dengan marah, pengertian ini tidak salah tetapi kurang tepat, karena marah hanyalah sebagian kecil dari emosi. Cinta, haru, juga bagian dari emosi dan terkadang kita tidak sanggup mengendalikannya.

d. Fungsi Emosi

Menurut Bimo Walgito emosi berfungsi untuk survival, energizer, massager, reinforcer, dan balancer.

1) Survival
Emosi yang berfungsi sebagai perjuangan untuk bertahan hidup. (sebagai contoh ketika seseorang dipukul oleh orang lain maka siapapun orangnya pasti akan marah).

2) Energizer
Emosi sebagai pembangkit energi, yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia (ketika kita mencintai orang di satu kantor, tentu kita akan bersemangat datang untuk bekerja. Atau sebaliknya, jika kita putus cinta maka merasa hari-hari suram dan tidak berenergi untuk bekerja).

3) Messeger
Emosi berfungsi sebagai pembawa pesan. Misalnya, pada saat melihat wajah teman yang sedang sedih, tentu kita tidak bisa bergurau sembarangan seperti pada saat teman kita nampak sedang bergembira.

4) Reinforcer
Emosi berfungsi untuk memperkuat pesan atau informasi yang disampaikan (Sewaktu mengatakan kalimat “Apakah anda mengerti maksud saya?” dengan nada biasa atau datar. Beda dengan “Anda mengerti tidak maksud saya?!” dengan nada marah sambil menunjuknunjuk orang yang ditanya.

5) Balancer
Emosi sebagai penyeimbang hidup.(Ketika sedih kehilangan orang yang dicintai lalu kita menangis. Atau melihat kejadian lucu kita tertawa).

 

Literasi

Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikogi UGM, 1986), .hlm. 133.

Maramis, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 133.

Tags: , , , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *