Komunikasi Penugasan dalam Pembelajaran

Dalam proses belajar mengajar kita mengenal adanya desain komunikasi guru dalam menyampaikan materi dan juga komunikasi penugasan. Komunikasi penugasan merupakan cara guru memberikan tugas supaya diselesaikan dengan efisien (Gondokusumo, 1983).

Penerapan metode pemberian tugas dalam proses pembelajaran matematika, umumnya dimaksudkan untuk melatih siswa agar mereka dapat aktif mengikuti sajian pokok bahasan yang telah diberikan, baik di dalam kelas maupun di tempat lain yang representatif untuk kegiatan belajarnya. Tugas yang diberikan kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti daftar pertanyaan mengenai suatu pokok bahasan tertentu, suatu perintah yang harus dibahas melalui diskusi atau perlu dicari uraiannya dalam buku pelajaran yang lain. Dapat juga berupa tugas tertulis atau tugas lisan yang lain, mengumpulkan sesuatu, membuat sesuatu, mengadakan observasi, eksperimen dan berbagai bentuk tugas lainnya. Kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar (Roestiyah N.K, 1991).

Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (Sudjana dan A Rivai, 1989) mengemukakan bahwa tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lain. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar diberikan secara individual atau dengan kelompok. Penguasaan itu tidak harus selalu didiktekan oleh guru melainkan dapat berasal dari perencanaan kelompok, sehingga kelompok dapat membagi tugas kepada anggotanya secara baik menurut minat dan kemampuannya. Jelasnya bahwa penguasaan yang diberikan kepada siswa harus selalu dirumuskan dengan seksama agar tugas itu tidak terlalu memberatkan siswa dan juga tidak membosankan. Ini tidak berarti bahwa tugas itu tidak boleh sukar. Bahkan senantiasa diharapkan menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan pemberian tugas yang menantang buat siswa.

Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah metode yang dimaksudkan memberikan tugas-tugas kepada siswa baik untuk di rumah atau di sekolah dengan mempertanggung jawabkan kepada guru. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa, guru memberikan pekerjaan kepada siswa berupa soalsoal untuk dijawab atau dikerjakan yang selanjutnya diperiksa oleh guru. Misal dalam pemberian tugas guru menyuruh siswa membaca dan menambahkan tugas (Roestiyah N.K, 1991).

Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama mengerjakan tugas. Dari proses seperti itu, siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi akibat pendalaman dan pengalaman siswa yang berbeda-beda pada saat menghadapi masalah atau situasi yang baru. Disamping itu, siswa juga dididik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktivitas dan rasa tanggung jawab serta kemampuan siswa untuk memanfaatkan waktu belajar secara efektif dengan mengisi kegiatan yang berguna dan konstruktif.

Bagi seorang guru dalam menerapkan metode pemberian tugas tersebut diharapkan memperjelas sasaran atau tujuan yang ingin dicapai kepada siswa. Demikian halnya dengan tugas sendiri, jangan sampai tidak dipahami dengan jelas oleh siswa tentang tugas yang harus dikerjakan. Dalam penggunaan teknik pemberian tugas atau resitasi, siswa memiliki kesempatan yang besar untuk membandingkan antara hasil pekerjaannya dengan hasil pekerjaan orang lain. Siswa juga dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Kesemuanya itu dapat memperluas cakrawala berfikir siswa, meningkatkan pengetahuan dan menambah pengalaman berharga bagi siswa.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pemberian tugas adalah metode yang digunakan guru dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tanggung jawab belajar berdasarkan petunjuk guru secara langsung atau tidak langsung guna memperjelas sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan metode ini siswa dapat mengenali fungsinya secara nyata. Tugas dapat diberikan kepada kelompok atau perorangan.

Kelebihan dan Kekurangan Komunikasi Penugasan

Adapun kelebihan dari komunikasi penugasan adalah: (a) baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif, (b) memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan, (c) memberi kebiasaan anak untuk belajar, (d) memberi tugas anak yang bersifat praktis (Zuhairini, 1977)

Dari berbagai kelebihan yang telah dipaparkan di atas tentunya pemberian tugas juga tidak terlepas dari kelemahan, adapun kelemahannya diantaranya sebagai berikut: (a) seringkali tugas di rumah itu dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan itu, berarti tujuan guru tidak tercapai, (b) sulit untuk memberikan tugas karena perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar, (c) seringkali anak-anak tidak mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya, (d) apabila tugas itu terlalu banyak, akan mengganggu keseimbangan mental anak.

Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode pemikiran tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan satu metode mengajar seperti dalam mengkomunikasikan tugas.

Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugas mengajarnya di depan kelas.

Salah satu dampak yang sering kita lihat dari penggunaan metode yang tidak tepat yaitu: anak atau siswa setelah diberi ulangan, sebagian besar tidak mampu untuk menjawab setiap item soal dengan baik dan benar. Akibatnya sudah dapat dipastikan bahwa prestasi belajar anak didik rendah. Di sisi lain, anak didik sering merasakan kebosanan. Situasi demikian menjadikan proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan kurang efisien.

Perlu dipahami bagi seorang guru bahwa waktu belajar siswa di sekolah sangat terbatas untuk menyajikan sejumlah materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas kepada siswa diluar jam pelajaran, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam hubungan ini, guru sangat diharapkan agar setelah memberikan tugas kepada siswa supaya dicek atau diperiksa pada pertemuan berikutnya apakah sudah dikerjakan oleh siswa atau tidak. Kesan model guru seperti ini memberikan manfaat yang banyak bagi siswa, terutama dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajarnya.

Langkah-langkah dalam Metode Komunikasi Penugasan

Dalam pemberian tugas Roestiyah N.K (Roestiyah N.K, 1989) mengemukakan perlunya memperhatikan langkah-langkah berikut: (a) merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan, (b) pertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik pemberian tugas itu telah tepat untuk mencapai tujuan yang telah di rumuskan, (c) guru perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti.

Dalam menerapkan metode pemberian tugas seperti dikemukakan di atas, guru hendaknya memahami bahwa suatu tugas yang diberikan kepada siswa minimal harus selalu disesuaikan dengan kondisi obyektif proses belajar mengajar yang dihadapi, sehingga tugas yang diberikan itu betul-betul bermakna dan dapat menunjang efektifitas guru. Berbicara lebih jauh mengenai penerapan metode pemberian tugas, seringkali diterjemahkan oleh sebahagian orang hanya terkait dengan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa.

Akan tetapi sebenarnya metode ini harus dipahami lebih luas dari pekerjaan rumah karena siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya tidak mutlak harus dilakukan di rumah, melainkan dapat dilaksanakan di sekolah, di laboratorium atau di tempat-tempat lainnya yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas.

Menurut Sutomo (Soetomo,1993) bahwa metode pemberian tugas dapat digunakan apabila: (a) suatu pokok bahasan tertentu membutuhkan latihan atau pemecahan yang lebih banyak di luar jam pelajaran yang melibatkan beberapa sumber belajar, (b) ruang lingkup bahan guru terlalu luas, sedangkan waktunya terbatas. Untuk itu guru perlu memberikan tugas, (c) suatu pekerjaan yang menyita waktu banyak, sehingga tidak mungkin dapat diselesaikan hanya melalui jam pelajaran di sekolah, (d) apabila guru berhalangan untuk melaksanakan pembelajaran, sedangkan tugas yang harus disampaikan kepada murid sangat banyak. Untuk itu pemberian tugas perlu diberikan melalui bimbingan guru lain yang menguasai bahan guru yang dipegang oleh guru yang berhalangan tadi.

Sumber Bacaan

Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), hal. 92

Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bina Aksara, 1989), hal. 68.

Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Malang: IAIN, 1977), hal 17

Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Reneka Cipta, 1991), hal. 72, hal. 73

Gondokusumo, Komunikasi Penugasan, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1983), hal. 1

Sudjana dan A Rivai, Teknologi Guru, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hal. 47

Tags: , , , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *