Landasan Psikologi Pendidikan Sekolah Dasar
Pelaksanaan pendidikan tidak hanya serta merta dilakukan tanpa adanya landasan-landasan yang menjadi akar, penyangga sekaligus pengatur. Sistem pendidikan di Indonesia sendiri juga membutuhkan adanya landasanlandasan yang menjadi dasar dan acuan baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi dalam pendidikan. Selain landasan yuridis, landasan yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan nasional Indonesia adalah landasan psikologis. Landasan ini berguna karena seiring berjalannya waktu peserta didik dalam mengenyam pendidikan, ia juga mengalami perkembangan dimana perkembangan yang ia alami tersebut memiliki tahapan-tahapan. Tahapantahapan yang dilalui oleh peserta didik akan mempengaruhi tahapan yang akan dilalui selanjutnya. Perkembangan peserta didik itu sendiri juga berpengaruh terhadap perkembangannya dalam dunia pendidikan, baik perkembangan kognitif, sikap, dan keterampilan sehingga landasan psikologi dalam hal ini sangat dibutuhkan.
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia sehingga psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam pendidikan. Memahami peserta didik dari aspek psikologis merupakan salah satu faktor keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dalam penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan, umpamanya pengetahuan tentang urutan perkembangan anak. Setiap individu memiliki bakat, minat, kemampuan, kekuatan, serta tempo dan irama perkembangan yang berbeda dengan yang lainnya. Sebagai implikasinya pendidikan tidak mungkin memperlakukan sama kepada peserta didik. Penyusunan kurikulum harus
berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan (Junaid, 2012: 93).
Selain dibutuhkan pula pemahaman karakter siswa sekolah dasar. Hal ini dikarenakan karakteristik siswa sekolah dasar kelas rendah berbeda dengan karakteristik siswa sekolah dasar kelas tinggi. Maka, guru sebagai pendidik perlu memahami karakteristik setiap siswa sehingga pembelajaran yang ia terapkan dapat sesuai dengan karakteristik setiap siswa. Apabila pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan karateristik setiap siswa, maka siswa akan merasa lebih nyaman dan tidak terbebani akan pembelajaran yang pendidik berikan. Melihat dari kondisi ini, maka dalam bab ini akan dijelaskan mengenai landasan psikologis yang diambil dari beberapa ahli psikolog, serta akan dijelaskan pula mengenai karakeristik-karakteristik yang dimiliki oleh anak sekolah dasar.
Pengertian Psikologi Pendidikan
Istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa manusia berkembang sejalan dengan pertumbuhan jasmani. Dalam perkembangan jiwa dan jasmani inilah seyogianya anak-anak belajar, sebab pada masa ini anak-anak peka untuk belajar. Oleh karena itu, layanan-layanan pendidikan terhadap mereka harus pula dibuat bertingkat-tingkat agar pelajaran itu dapat dipahami oleh anak-anak. Bertingkat-tingkat yang dimaksud dalam hal ini yaitu jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, dan kemudian perguruan tinggi. Materi yang ada di dalam tingkatan tersebut juga naik, dari SD yang materinya rendah hingga perguruan tinggi yang materinya semakin kompleks sehingga cara memberikan materi ini pun juga akan berbeda-beda karena karakter dari subjek didik tiap tingkatannya juga berbeda (Made Pidarta, 2007: 194)
Terkait dengan landasan pendidikan ini, ada hal yang akan dibahas lebih dalam yaitu psikologi perkembangan. Menurut Sukmadinata (2008), terdapat tiga teori atau pendekatan mengenai psikologi perkembangan, yang terdiri atas pendekatan penahapan (memandang bahwa perkembangan individu berjalan melalui tahapan tertentu yang berbeda), pendekatan diferensial (memandang individu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan yang akan menghasilkan kelompok-kelompok), dan pendekatan ipsatif (berusaha melihat karakterisitk setiap individu). Dalam hal ini, pokok materi yang akan dibahas adalah pendekatan penahapan karena pada pendekatan tiap tahapan memiliki ciri khusus yang berbeda dengan tahapan lainnya. Ciri inilah yang penting untuk diketahui sebagai bekal untuk menentukan sikap kepada peserta didik sehingga setiap tahapan yang dilalui oleh peserta didik dapat terlewati dengan baik, meski tidak memungkiri bahwa dua pendekatan lainnya tersebut juga penting. Pendekatan penahapan ini berkaitan dengan berbagai pendapat para ahli, di antaranya adalah Piaget, Bloom, dan Eric Erikson.
Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Jean Piaget
Piaget menjelaskan tentang pendekatan penahapan secara khusus yaitu kognisi. Menurut Piaget, tahap perkembangan kognisi ini meliputi empat tahap diantaranya adalah sensorik motor, pra operasional, operasi konkret, dan operasi formal (Desmita, 2011).
1. Tahap Sensory Motor ( berkisar antara usia sejak lahir sampai 2 tahun).
Gambarannya, bayi bergerak dari pergerakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Reaksi intelektual hampir seluruhnya karena rangsangan langsung dari alat-alat indera, punya kebiasaan memukul-mukul dan bermain-main dengan permainannya. Pertumbuhan kemampuan anak terlihat dari kegiatan/aktivitas motoriknya. Jadi pada tahap sensori motor, kemampuan kognisi anak hanya terbatas dari reflek karena pemahamannya dibangun melalui koordinasi pengalaman indera mereka yaitu melihat dan mendengar dengan gerakan seperti menggapai dan menyentuh.
2. Tahap Pre-Operational (berkisar antara 2-7 tahun).
Gambarannya, anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar (kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis). perkembangan bahasa anak ini sangat pesat. Peranan intuisi dalam memutuskan sesuatu masih besar, menyimpulkan hanya berdasarkan sebagian kecil yang diketahui. Namun, analisis rasional belum berjalan pada tahap pra operasional. Anak pada periode pra operasional sudah mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu mengekspresikan kalimat pendek secara efektif. Pada tahap ini terjadi peningkatan kemampuan berbahasa dan pemikiran simbolisnya. Anak mendapatkan kemampuan bahasanya ketika mereka suka berbicara dengan dirinya sendiri, kemudian mereka mulai berinteraksi dengan orang tuanya. Jadi anak mengembangkan bahasanya melalui pengalamannya sendiri. Selain itu pemikiran anak masih terbatas pada egosentris dan animisme. Anak juga sudah mulai bisa mengetahui sesuatu, namun tanpa pemikiran yang rasional. Jadi anak mampu memusatkan perhatiannya pada suatu karakteristik dan mengabaikan karakteristik lainnya.
3. Tahap Concrete Operarational (berkisar antara 7-11 tahun).
Gambarannya, anak dapat berpikir secara logis mengenai hal yag konkret dan mengklasifikasikan benda ke dalam bentuk yang berbeda. Anak sudah bisa berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret. Anak sudah mampu mengerjakan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Masa ini merupakan masa dimana anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat kongkrit karena anak belum mampu berpikir secara abstrak misalnya klasifikasi secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan yang kongkrit maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Jadi, meskipun intelegensi anak pada tahap ini sudah sangat maju, cara berpikir anak masih tetap terbatas. (Made Pidarta, 2007: 202).
4. Tahap Formal Operational (berkisar antara 11-15 tahun).
Gambarannya, remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealistis. anak sudah dapat berpikir logis terhadap masalah baik yang konkret maupun yang abstrak. Anak juga sudah dapat membentuk ideide dan masa depannya secara realistis. Hal ini menyebabkan inteligensi anak menjadi lebih maju dan tidak hanya terpaut pada hal-hal yang bersifat konkret, namun sudah meliputi hal-hal yang sifatnya abstrak, idealis, dan logis. (Made Pidarta, 2007: 202).
Dari keempat periode tersebut, dapat disimpulkan bahwa periode yang sesuai dengan usia anak SD yaitu periode operasional konkret. Operasional konkret merupakan tahapan dimana anak sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya namun melalui benda-benda atau sesuatu yang konkret. Oleh karena itu, pendidik harus bisa memfasilitasi anak yaitu dengan menyesuaikan pembelajaran dengan sesuatu yang kongkrit misalnya melalui media ataupun alat peraga. Hal ini menuntut pendidik untuk kreatif dan inovatif dalam mengombinasikan pembelajaran sehingga anak akan lebih paham dengan materi yang disampaikan.
Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Benyamin Samuel Bloom
Bloom membagi sistematika perilaku manusia yang lebih dikenal dengan taksonomi perilaku. Pembagian tersebut dibedakan menjadi: cognitive domain, affective domain, dan psychomotor domain. Ranah kognitif merupakan segi kemampuan yang berkaitan dengan aspek-aspek pengetahuan, penalaran, atau pikiran. Hierarki Cognitive domain terdiri atas:
1) Pengetahuan (knowlegde).
Pengetahuan mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya (Dimyati, 2009: 27).
2) Pemahaman (comprehension).
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menangkap makna dan arti tentang hal yang dipelajari (Winkel, 1987: 150). Adanya kemampuan dalam menguraikan isi pokok bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (1).
3) Penerapan (application).
Kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode untuk menghadapi suatu kasus atau problem yang konkret atau nyata dan baru (Winkel, 1987: 150). Kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur metode, rumus, teori dan sebagainya. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru. Misalnya menggunakan prinsip. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (2).
4) Analisis (analysis)
Di tingkat analisis, sesorang mampu memecahkan informasi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain (Santrock, 2007: 468). Kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (3).
5) Sintesis (synthesis)
Kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagianbagian dihubungkan satu sama lain (Winkel, 1987: 151). Kemampuan mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana penyusunan satuan pelajaran. Misalnya kemampuan menyusun suatu program kerja. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (4).
6) Evaluasi (evaluation)
Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu materi pembelajaran, argumen yang berkenaan dengan sesuatu yang diketahui, dipahami, dilakukan, dianalisis dan dihasilkan (Yaumi, 2013: 92).
Kemampuan untuk membentuk sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya kemampuan menilai hasil karangan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menentukan penilaian terhadapa sesuatu. Hierarki untuk affective domain, terdiri atas: recieving (menerima), yaitu kemampuan menerima kehadiran aksi dalam lingkungannya; responding (menanggapi), yaitu kemampuan mereaksi dengan cara tertentu terhadap aksi yang timbul; valuing (menghargai), yaitu kemampuan menempatkan diri terhadap nilai sesuatu gejala, organization (membentuk), yaitu kemampuan mempadukan nilai-nilai yang berserakan hingga membentuk suatu sistem nilai baru; dan characterization (berpribadi), yaitu kemampuan merumuskan sistem nilai baru yang terorganisasi dan dijadikan sebagai milik pribadinya. Ranah afektif merupakan kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran. Kawasan afektif yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya (Dimyati, 2009: 28).
Selanjutnya, ranah psikomotor kebanyakan dari kita menghubungkan aktivitas motor dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata juga membutuhkan gerakan (Santrock, 2007: 469). Kawasan psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan jasmani. Psychomotor domain, mempunyai hierarki sebagai berikut: perception, yaitu penggunaan panca indera tubuh untuk memperoleh pegangan dalam membimbing kegiatan motoris; set, yaitu kesiapan yang bertindak; guided response, yaitu peniruan dan pengurangan tindakan yang konkret, mechanism, yaitu membiasakan tindakan-tindakan dan memvariasikan tindakan tersebut ke arah yang lebih luas, complexevertresponse, yaitu kemampuan melakukan tindakan yang sudah berpola, lancar, cepat, dan cermat; adaptation, yaitu kemampuan melakukan gerakan dengan dimodifikasikan pada tuntutan keadaan, origination, yaitu kemampuan menciptakan gerakan baru untuk menyesuaikan diri pada situasi yang khusus, dimana tingkat ini di dasarkan atas kreativitas keahlian. Dari aspek afektif dan psikomotor, dapat diketahui bahwa masing-masing memiliki tingkatannya. Perlu diketahui bahwa pendidik dalam mendidik peserta didik juga harus memperhatikan tingkatan dalam aspek afektif dan psikomotor anak, sehingga perhatian pendidik tidak hanya terpusat pada aspek kognitif (Burhanuddin Salam, 2002: 92).
Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Eric Erikson
Pendapat Erikson sering disebut dengan psikososial. Lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan seseorang. Menurutnya, setiap tahap perkembangan dari seseorang itu saling berkaitan satu sama lain. Pada tiap tahapannya pun ada semacam keberhasilan dan kegagalannya atau sering disebut dengan Versus. (Rita Eka Izzaty, 24: 2013).
Ada 8 tahap perkembangan psikologis menurut Erikson.
Pertama, trust vs mistrust (percaya vs tidak percaya). Hal ini dapat diistilahkan sebagai bersahabat vs menolak. Tahap ini berlangsung pada usia 0-1 tahun ketika bayi yang diasuh dengan kasih sayang serta kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi akan merasa percaya/bersahabat dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, apabila dia disia-siakan dan kebutuhannya tidak terpenuhi, maka ia akan tidak percaya atau menentang lingkungannya. Perasaan-perasaan ini akan dibawa ke tingkat perkembangan selanjutnya.
Kedua, autonomy vs shame and doubt (otonomi vs malu dan ragu-ragu). Tingkatan ini berlangsung pada akhir masa bayi atau usia 1-3 tahun ketika anak merasa mulai memiliki otonomi berjalan, memanjat, membuka, mendorong, dan lain sebagainya. Anak merasa dapat mengendalikan dirinya sendiri dalam lingkungannya, mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka, serta sudah menyadari akan kemauan mereka. Apabila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat berdiri dia atas kaki mereka sendiri, sambil melatih kemampuan mereka, maka anak akan merasa memiliki autonomi atau kekuasaan atas dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau terlalu membatasi anak, maka anak akan memiliki perasaan malu dan ragu-ragu dalam bertindak atas dirinya sendiri.
Ketiga, initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah) yang terjadi pada tahun-tahun pra sekolah atau usia 3-5tahun. Anak sangat aktif, suka berlari, memanjat dan suka menantang lingkungannya. Apabila orang tua berusaha memahami, menjawab pertanyaan anak, dan menerima keaktifan anak dalam bermain, maka anak akan belajar untuk mendekati apa yang diinginkan dan perasaan inisiatif menjadi semakin kuat. Sebaliknya, apabila orang tua kurang memahami, kurang sabar, bahkan memberi hukuman, serta menganggap bahwa pengajuan pertanyaan, bermain, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak tidak bermanfaat, maka anak akan merasa bersalah dan menjadi enggan untuk mengambil inisiatif untuk mendekati apa yang diinginkannya kemudian akan timbul perasaan bersalah.
Keempat, industry vs inferiority (perasaan produktif vs rendah diri) yang berlangsung kira-kira pada saat sekolah dasar atau usia 6-12 tahun dimana anak mulai memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah dasar dengan segala peraturan yang ada. Anak mulai mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan kognitif. Anak mulai memproduksi/menghasilkan suatu karya, baik itu berbentuk tugas dari guru, maupun tulisannya. Dalam hal ini, jika anak dihargai maka akan mengembangkan peran produktifnya, akan tetapi apabila anak merasa bahwa mereka tidak bisa menghasilkan apa-apa, maka anak akan merasa rendah diri.
Kelima, identity vs confusion (identitas diri vs kebingungan) berlangsung selama masa remaja atau usia 12-18 tahun ketika anak dihadapkan dengan pencarian jati diri. Mereka mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa mereka adalah individu unik yang siap memasuki suatu peran yang berarti di tengah masyarakat. Disisi lain, karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis di pihak lain, maka anak akan mengalami krisis identitas. Bila krisis ini tidak segera diatasi maka anak akan mengalami kebingungan peran atau kekacauan identitas, yang dapat menyebabakan anak terisolasi. Singkatnya, apabila anak tidak mampu beradaptasi dalam fasenya menuju remaja utnuk mencari jati dirinya, maka ia akan mengalami kebingungan terkait dengan jati dirinya.
Keenam, intimacy vs isolation (intim vs mengisolasi diri), terjadi selama tahun-tahun awal dewasa atau usia 19-25 tahun. Pada tahap ini individu mulai membentuk relasi intim dengan orang lain yang menuntut perkembangan seksual dan mengarah pada hubungan seksual dengan lawan jenis yang dicintai. Akibat dari tidak tercapainya keintiman selama tahap ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindari hubungan secara intim dengan orang lain. Ketujuh, generativity vs stagnation (generasi vs kesenangan pribadi) yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa atau usia 25-45 tahun dengan ciri utamanya yaitu perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, produk, ide dan sebagainya) serta pembentukan dan penetapan garis pedoman untuk generasi mendatang. Kepedulian seseorang terhadap pengembangan generasi muda ini yang diistilahkan oleh Erikson dengan “generativitas”. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur dan mengalami kemiskinan stagnasi.
Terakhir, integrity vs despair (integritas vs putus asa) yang berlangsung selama akhir masa dewasa atau usia 45 tahun. Terjadi pada tahun-tahun terakhir kehidupannya menoleh ke belakang dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam hidupnya selama ini, menerima dan menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan yang dialaminya, merasa aman dan tentram serta menikmati hidup sebagai yang berharga dan layak. Tetapi, bagi orangtua yang memiliki perasaan bahwa hidupnya selama ini sama sekali mempunyai makna ataupun memberikan kepuasan pada dirinya, maka ia akan merasa putus asa (Made Pidarta, 2007: 203-205).
Dari pemaparan mengenai teori Erikson di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ini menekankan bahwa terdapat banyak faktor dari luar yang mempengaruhi perkembangan psikologi individu. Dalam hal ini, semua tahap merupakan hal yang penting dan benar-benar diperhatikan. Namun, sebagai pendidik, guru perlu menekankan pada tahap perasaan produktif vs rasa rendah diri, yaitu pada anak duduk di bangku SD atau sekitar umur 6-12 tahun. Seperti yang sudah dibahas bahwa pada tahap ini, anak akan merasa bangga akan dirinya sendiri apabila mereka dapat menghasilkan atau memproduksi sesuatu, baik dalam bentuk tulisan, tugas, atau yang lainnya. Sebaliknya, apabila anak merasa ia tidak mampu menghasilkan/memproduksi sesuatu, maka akan timbul perasaan rendah diri dalam dirinya. Mereka akan merasa tidak berguna, karena tidak mampu menghasilkan apa yang orang lain hasilkan. Hal ini juga berkaitan dengan sikap guru dalam menghargai apa yang dikerjakan siswa. Dengan mendapat penghargaan dari guru tersebut, maka kecil kemungkinan siswa akan merasa rendah diri karena tidak mampu meproduksi sesuatu.
Tags: Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Eric Erikson, Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Benyamin Samuel Bloom, Landasan Psikologi Pendidikan Menurut Jean Piaget, Landasan psikologis-pedagogis pendidikan sd, Pengertian Psikologi Pendidikan, Psikologi Pendidikan SD
