Riwayat Hidup Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara yang nama aslinya Suwardi Suryaningrat dilahirkan pada 2 Mei 1889, bertepatan dengan 1303 H. di Yogyakarta, dan wafat pada tanggal 26 April 1959 bertepatan dengan 1376 H (berusia 70 tahun). Dilihat dari segi leluhurnya, ia adalah putra dari Suryaningrat, putra Paku Alam III. Sebagai seorang keluarga ningrat, ia termasuk yang memperoleh keuntungan dalam mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan dasarnya ia peroleh dari Sekolah Rendah Belanda (Europeesche Lagere School, ELS). Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Guru (Kweek School), tetapi sebelum sempat menyelesaikannya, ia pindah ke STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Arten). Namun di sekolah ini pun ia tidak sempat menamatkan pendidikannya, dikarenakan ayahnya mengalami kesulitan ekonomi. Sejak saat itu, ia memilih terjun ke dalam bidang jurnalistik, suatu bidang yang kelak mengantarkannya ke dunia pergerakan politik nasional.7

Dalam masa mudanya, Ki Hajar Dewantara banyak dipengaruhi oleh suasana kesusastraan Jawa, agama Islam serta pembicaraan-pembicaraan tentang ajaran yang dipengaruhi oleh Hinduisme dengan ayahnya. Suasana kesenian dengan cabang-cabangnya, kesenian Ganding, seni suara dan seni sastra tak asing baginya. Dari suasana inilah, yang merupakan perpaduan rasa keindahan dan religi, Suwardi Suryaningrat dibesarkan sebagai seorang muslim yang lebih suka mengutamakan hakikat dari pada syari’at.

Tokoh-tokoh pahlawan yang dipujanya ialah tokoh-tokoh dalam Mahabarata, terutama Yudistira (lambang perdamaian dan cinta kasih), dan Sri Kresna, penjelmaan Wisnu yang bijaksana serta guru politik yang cerdas dan berpandangan jauh dari keluarga Pandawa.8

Menurut silsilah susunan Bambang Sokawati Dewantara, Ki Hajar Dewantara masih mempunyai alur keturunan dengan Sunan Kalijaga.9 Jadi Ki Hajar Dewantara adalah keturunan bangsawan dan juga keturunan ulama, karena merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga.

Sebagaimana seorang keturunan bangsawan dan ulama, Ki Hajar Dewantara dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Sosio-Kultural  dan Religius yang tinggi serta kondusif. Pendidikan yang diperoleh Ki Hajar Dewantara di lingkungan keluarga sudah mengarah dan terarah ke penghayatan nilai-nilai kultural yang sesuai dengan lingkungannya. Pendidikan keluarga yang tersalur melalui pendidikan kesenian, adat sopan santun, dan pendidikan agama turut mengukir jiwa kepribadiannya.

Pada tanggal 4 November 1907 dilangsungkan “Nikah Gantung” antara

R.M. Soewardi Soeryaningrat dengan R.A. Soetartinah. Keduanya adalah cucu dari Sri Paku Alam III. Pada akhir Agustus 1913 beberapa hari sebelum berangkat ke tempat pengasingan di Negeri Belanda. Pernikahannya diresmikan secara adat dan  sangat sederhana di  Puri  Suryaningratan Yogyakarta.10 Jadi, Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara adalah sama-sama cucu dari Paku Alam III atau satu garis keturunan. Sebagai tokoh nasional yang disegani dan dihormati baik oleh  kawan maupun lawan,  Ki Hajar Dewantara sangat kreatif, dinamis, jujur, sederhana, konsisten, konsekuen dan berani. Wawasan beliau sangat luas dan tidak berhenti berjuang untuk bangsanya hingga akhir  hayat.  Perjuangan  beliau  dilandasi  dengan  rasa ikhlas yang mendalam, disertai rasa pengabdian dan pengorbanan yang tinggi dalam mengantar bangsanya ke alam merdeka.11

Pada tahun 1909, Suwardi terpaksa keluar dari STOVIA, karena biaya untuk meneruskan pelajaran tidak mencukupi lagi, kemudian ia bekerja sebagai analisis pada pabrik gula di Bojong, Purbalingga, kemudian ia kembali lagi ke Yogyakarta dan bekerja pada apotik Rathkamp. Putus sekolah tidak membuat Ki Hajar Dewantara patah semangat, setelah bergulat dalam bidang sekolah, yakni menuntut ilmu dan ternyata ia gagal, maka perhatiannya dialihkan ke dunia jurnalistik. Dengan semangatnya yang membara Soewardi Soerjaningrat bergiat dalam bidang persurat kabaran. Dan justru lewat persurat kabaran inilah Ki Hajar yang berjiwa nasionalis itu diajak untuk terjun ke dalam arus perjuangan demi kejayaan, kamajuan dan kemerdekaan bangsa dan rakyatnya. Tidak sedikit surat kabar dan majalah yang dibantunya. Ia menjadi pembantu harian berbahasa Jawa, Sedyo Tomo,di Yogyakarata, dan harian berbahasa Belanda, Sedjatama, Midden Java, di Semarang. Dan di Bandung, ia menjadi staf redaksi harian De Express, bersama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Selain itu masih banyak lagi majalah atau surat kabar yang ia geluti, misalnya menjadi redaksi harian Kaoem Moeda, pembantu Oetoesan Hindia, Harian Serikat Islam di Surabaya, Tjahaja Timoer di Malang, pengasuh Het Tijdshrift di Bandung, dan lain sebagainya.12

Pada tahun 1912, nama Ki Hajar Dewantara dapat dikategorikan sebagai tokoh muda yang mendapat perhatian Cokro Aminoto untuk memperkuat barisan Sarekat Islam cabang Bandung. Oleh karena itu, ia bersama Wignyadisastra dan Abdul Muis, yang masing-masing diangkat sebagai ketua dan wakil ketua, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai sekretaris. Namun keterlibatannya dalam Sarekat Islam ini terhitung singkat, tidak genap satu tahun. Hal ini terjadi, karena bersama dengan E.F.E. Dowes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia diasingkan ke Belanda (1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup radikal. Selain alasan tersebut, Ki Hajar Dewantara pun jauh lebih mengaktifkan dirinya pada Indische Partij yang didirikan pada tanggal 6 September 1912. Dengan alasan ini, maka Ki Hajar Dewantara tidak memiliki kesempatan untuk menjadi tokoh penting di lingkungan Sarekat Islam.13

Karena pengabdiannya terhadap bangsa dan negara, pada tanggal 28 November 1959, sosok Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soeryaningrat) ditetapkan sebagai “Pahlawan Nasional”. Dan pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai “Hari Pendidikan Nasional” berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor. 316 tahun 1959.14

Tanggal 26 April 1959, Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di rumahnya Mujamuju Yogyakarta. Dan pada tanggal 29 April, jenazah Ki Hajar Dewantara dipindahkan ke Pendopo Taman Siswa.  Dari  Pendopo  Taman Siswa, kemudian diserahkan kepada Majlis  Luhur  Taman  Siswa.  Dari Pendopo Taman Siswa, jenazah diberangkatkan ke makam Wijaya Brata Yogyakarta, Dalam upacara pemakaman Ki Hajar Dewantara dipimpin oleh Panglima Kodam Diponegoro Kolonel Soeharto.

Dalam lingkungan budaya dan religius yang kondusif demikianlah Ki Hajar Dewantara dibesarkan dan dididik menjadi seorang muslim khas jawa yang lebih menekankan aspek hakekat daripada syari’at. Dalam hal ini Pangeran Soeryaningrat pernah berpendapat: “syari’at tanpa hakekat adalah kosong, hakekat tanpa syari’at batal”.15

Jauh sebelum itu, karena tulisan-tulisannya yang kritis, ia pernah diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke pulau Bangka dan Negeri Belanda. Pada saat di Belanda ia manfaatkan untuk belajar sehingga memperoleh Europeesche Akte. Setelah pulang ke tanah air pada tahun 1918, ia mendirikan perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada tanggal 3 Juli 1922.

Di bawah ini adalah beberapa karya tulis Ki Hajar Dewantara, yang membawa perubahan:

  1. Kemerdekaan Indonesia, ini adalah tulisan pertamanya pada tahun 1906 dalam sebuah surat kabar Yogyakarta “Sedyotomo”.
  2. Seandainya aku seorang Belanda (Als ik eens een Nederlander Was) pada tahun 1913 dalam sebuah surat kabar Bandung “ De Expres”.
  3. Satu buat semua, tetapi juga semua buat satu (Een voor Allen, maar ook Allen voor Een) pada 13 Juli tahun 1913 dalam sebuah surat kabar Bandung “ De Expres”.
  4. Pengajaran dan pendidikan dengan dasar kebangsaan (Onderwij En Opvoeding Op Nationale Basis) ditulis pada tahun 16

Selain aktif dalam bidang persurat kabaran, Ki Hajar juga begitu bersemangat terjun langsung ke arena organisasi dan pergerakan partai politik. Bersama E.F.E. Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkoesoemo, Ki Hajar menjadi gembong Indiche Partij, yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1912. Organisasi politik ini benar-benar revolusioner, terbukti dalam program dari anggaran dasarnya antara lain berbunyi, “tujuan Indiche Partij ialah untuk membangun patriotisme semua ‘Indiers’ terhadap tanah air, yang telah memberi lapangan hidup kepada mereka, agar mereka mendapat dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka”.17

Pada tahun 1943 (masa penjajahan Jepang), ia bersama Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur mendirikan Pusat Tentara Rakyat (Putera). Setelah Indonesia merdeka, ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (semacam Menteri Pendidikan Nasional saat ini) yang pertama. Banyak penghargaan yang diperoleh Ki Hajar Dewantara. Hari kelahirannya (tanggal 02 Mei) dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959.

Penghargaan lain yang diterimanya adalah Doctor Honoris Causa (Dr. H. C) dari Universitas Gadja Mada pada tahun 1957, dua tahun sebelum meninggal (26 April 1959). Namanya juga diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya pernah diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah. Semboyannya yang terkenal ialah Ing Ngarsa Asung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Amangun Karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Bagian yang terakhir dari semboyannya, Tut Wuri Handayani inilah yang sampai saat ini menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional.18

Nama Ki Hajar Dewantara tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Nasional Indonesia. Ia adalah tokoh besar dan pahlawan yang banyak mencurahkan perhatiannya dalam bidang pedidikan dan pengajaran. Bahkan tanpa keraguan sedikitpun dapat dikatakan seluruh hidup dan perjuangannya diabdikan kepada dunia pendidikan, Ki Hajar mampu mengangkat derajat rakyat Indonesia melalui pendidikan.

Bapak pendiri atau Founding Fathers dari Republik Indonesia juga termasuk sebuah pengakuan untuknya. Karena selain ia seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, ia juga adalah seorang pelopor pendidikan nasional Par Excellence. Visi pendidikannya bersifat futuristik, menyiapkan masa depan, suatu dunia yang merdeka bagi generasi mendatang yang tidak lain daripada generasi saat ini.19

Pada pidato sambutan upacara pemberian gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Gaja Mada, Bung Karno (waktu itu Presiden R. I.) antara lain menyatakan: “Ki Hajar Dewantara adalah putra Indonesia yang besar. Bahkan bagi saya pribadi, saya selalu menganggap Ki Hajar Dewantara sebagai saudara tua saya, sebagai saudara Kangmas, bahkan seperti diucapkan Sdr. Semaun pula sebagai guru saya”.20

Penelusuran dalam karya-karya tulis Ki Hajar memberi pelajaran penting, orisinalitas dan progresivitas Ki Hajar dalam hal pemikiran tentang pendidikan merupakan teladan berharga bagi bangsa Indonesia. Orisinalitas itu lahir dari wawasan dan pemahaman yang luas tentang bidang pendidikan yang ia geluti, juga tentang kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia. Tentunya pemahaman itu diperoleh melalui proses belajar yang panjang. Ketekunan dan kegigihan tercakup di dalamnya. Secara kreatif berbagai pemahaman dan pengetahuan itu diolah oleh Ki Hajar untuk menghasilkan pemikiran yang khas dan orisinal. Di situ juga tampak jelas keterbukaan pikiran Ki Hajar terhadap berbagai pandangan dan pemikiran tokoh-tokoh dunia. Ketekunan dan kegigihannya dalam mempelajari berbagai perkembangan baru dalam pendidikan memungkinkannya menyerap itu semua.

Keterbukaan pikirannya yang disertai dengan kerangka orientasi ke masa depan melahirkan progresivitas pemikiran Ki Hajar tersebut. Ia menjadi tokoh Indonesia yang berpikir kedepan melalui pergaulannya dengan banyak kalangan dari berbagai bangsa. Itulah yang menjadikan pikirannya tetap relevan hingga di abad ke-21 ini. Ia menggunakan berbagai pengetahuan yang dimiliki bukan sebagai resep atau dogma, melainkan sebagai alat untuk menganalisis dan memahami kenyataan hidup di masyarakat. Dari situ, dapat diketahui bahwa Ki Hajar sebagai orang yang berorientasi pada masalah yang dihadapi, bukan pada aliran atau teori tertentu. Berbagai rumusan-rumusan konsep pendidikan yang dipaparkannya secara jelas menunjukkan keterlibatannya dengan persolan- persoalan pendidikan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia.

Dalam pandangannya tentang pendidikan, Ki Hajar menuturkan bahwa kata “pendidikan” dan “pengajaran” seringkali dipakai bersama-sama. Sebenarnya gabungan kedua kata tersebut dapat mengeruhkan pengertian yang asli. Perlu diketahui bahwa sebenarnya yang dinamakan pengajaran merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Maksudnya, pengajaran itu tidak lain adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau bermanfaat buat hidup anak-anak baik lahir maupun batin. Sedangkan pandangan pendidikan dalam pengertian umum Ki Hajar Dewantara, hanyalah suatu “tuntunan” di dalam hidup tumbuhnya anak- anak kita. Maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Anak-anak hidup dan tumbuh dengan kodratnya masing-masing, semua itu di luar kuasa pendidik. Oleh karena itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya hal itu.21

Sedangkan karya dan juga beberapa penghargaan yang beliau raih yang sampai saat ini bisa kita lihat dan bisa kita telusuri melalui perjalanan hidupnya diantaranya :

  1. Ki Hajar Dewantara, buku bagian pertama: tentang pendidikan. Buku ini khusus membicarakan gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan diantaranya tentang hal ihwal pendidikan Nasional, tri pusat pendidikan, pendidikan kanak-kanak, pendidikan sistem pondok, adab dan etika, pendidikan dan kesusilaan.
  2. Ki Hajar Dewantara, buku bagian kedua: tentang kebudayaan Dalam buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai kebudayaan dan kesenian diantaranya: asosiasi antara Barat dan Timur, pembangunan kebudayaan Nasional, perkembangan kebudayaan di zaman merdeka, kebudayaan Nasional, kebudayaan sifat pribadi bangsa, kesenian daerah dalam persatuan Indonesia, Islam dan kebudayaan, ajaran Pancasila dan lain-lain.
  3. Ki Hajar Dewantara, buku bagian ketiga: tentang politik dan kemasyarakatan. Dalam buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai politik antara tahun 1913-1922 yang menggegerkan dunia Imperialis Belanda, dan tulisan-tulisan mengenai wanita, pemuda dan perjuangannya.
  4. Ki Hajar Dewantara, buku bagian keempat: tentang riwayat dan perjuangan hidup penulis: Ki Hajar Dewantara. Dalam buku ini melukiskan kisah kehidupan dan perjuangan hidup perintis dan pahlawan kemerdekaan Ki Hajar Dewantara.
  5. Tahun 1912 mendirikan Surat Kabar Harian “De Express” (Bandung), Harian Sedya Tama (Yogyakarta) Midden Java (Yogyakarta), Kaum Muda (Bandung), Utusan Hindia (Surabaya), Cahya Timur (Malang).
  6. Monumen Nasional “Taman Siswa” yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922. Pada tahun 1913 mendirikan Komite Bumi Putra bersama Cjipto Mangunkusumo, untuk memprotes rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 November 1913 secara besar-besaran di Indonesia.
  7. Mendirikan IP tanggal 16 September 1912 bersama Douwes Dekker dan Cjipto Mangunkusumo.
  8. Tahun 1918 mendirikan Kantor Berita Indonesische Persbureau di Netherland.
  9. Tahun 1944 diangkat menjadi anggota Naimo Bun Kyiok Yoku Sanyo (Kantor urusan pengajaran dan pendidikan).
  10. Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan pemerintah sebagai perintis kemerdekaan Nasional Indonesia.
  11. pada tanggal 19 Desember 1956 mendapat gelar kehormatan Honoris Causa dalam ilmu kebudayaan dari Universitas Gajah Mada.
  12. Pada tanggal 17 Agustus dianugerahi oleh Presiden atau Panglima Tertinggi angkatan perang RI bintang Maha Putera tingkat I
  13. Pada tanggal 20 Mei 1961 menerima tanda kehormatan Satya Lantjana Kemerdekaan.

Sebagai tokoh pergerakan politik dan tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara tidak hanya terlibat dalam konsep dan pemikiran melainkan terlibat aktif sebagai pelaku yang berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang melalui pendidikan yang diperjuangkannya, yaitu melalui sistem pendidikan Taman Siswa yang didirikan dan diasuhnya sendiri. Dalam posisinya yang demikian itu, maka dapat diduga ia memiliki konsep-konsep yang strategis tentang pendidikan di Indonesia. Konsep ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut. Karena jasanya yang demikian besar dalam dunia pendidikan nasional, maka hari kelahirannya, tanggal 2 Mei dijadikan sebagai hari pendidikan nasional.22

Sumber Bacaan

Abudin Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan …, hlm. 129-130.

Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 3.

Daoed Joesoef dalam kata pengantar Menuju Manusia Merdeka oleh Ki Hajar Dewantara, hlm. iii.

Moch. Tauchit, Ki Hajar Dewantara, Pahlawan dan Pelopor Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Majlis Luhur

Persatuan Taman Siswa,1968), hlm. 23.

Martin Sardy, Pendidikan Manusia, (Bandung: Alumni, 1985), hlm. 52.

Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 215.

Darsiti Soeratman, Ki Hajar Dewantara, hlm. 16.

Dalam sebuah lampiran buku Ki Hajar Dewantara, Karya Ki Hajar Dewantara Bagian I…..

Abudin Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan …, hlm. 129.

Ki Hajar Dewantara, Karya Ki Hajar Dewantara Bagian I: Pendidikan, (Yogyakarta: MLPTS, 1962), hlm. XIII.

Harahap dan Bambang Soekawati Dewantara, Ki Hajar Dewantara dan Kawan-kawan, Ditangkap, Dipenjara, dan

Diasingkan, (Jakarta: Gunung Agung, 1980), hlm. 12.

Ki Hariyadi, Ki Hajar Dewantara sebagai Pendidik, Budayawan, Pemimpin Rakyat, dalam Buku Ki Hajar

Dewantara dalam Pandangan Para Cantrik dan Mantriknya, (Yogyakarta: MLPTS, 1989), hlm. 39.

Abdurrahman Surjomihardjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa …, hlm. 54.

Abdurrahman Surjomihardjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern, (Jakarta:

Sinar Harapan, 1986), hlm. 52.

Darsiti Soeratman, Ki Hajar Dewantara, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983), hlm. 171.

Abudin Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 128.

Tags: ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *