Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan
Hadis-hadis Rasul saw yang memuji terhadap sekap zuhud dalam menempuh hidup duniawi ini sama sekali sama sekali tidak menyinggung tentang terpujinya kemiskinan. Adapun sifat zuhud dapat menumbuhkan rasa puas dalam menerima sesuatu. Orang yang dikatakan zuhud dalam arti yang sebenarnya adalah orang yang berharta, dan sanggup menjadikan hartanya dibawah kekuasaannya, bukan ia yang dikuasai atau diperhamba oleh hartanya.
Islam menilai bahwa kekayaan itu satu kenikmatan sebagai karunia Allah yang harus disyukuri. Kemiskina itu suatu cobaan, suatu bencana, yang hanya dengan pertolongan Allah ia dapat dihindari. Karena itu Islam telah memberikan beberapa jalan untuk mengatasinya (Yusuf Al-Qardawy, 1996).
Pandangan Islam, yang melihat fakta kefakiran/kemiskinan sebagai perkara yang sama, bahkan, pada zaman kapan pun, kemiskinan itu sama saja hakikatnya. Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah tidak terpenuhinya kebutuhan- kebutuhan primer secara menyeluruh. Syariat Islam telah menentukan kebutuhan primer itu (yang menyangkut eksistensi manusia) berupa tiga hal, yaitu sandang, pangan dan papan. Dapat di pahami bahwa tiga perkara (yaitu sandang, pangan,dan papan) tergolong pada kebutuhan pokok (primer), yang berkait erat dengan kelangsungan eksistensi dan kehormatan manusia. Apabila kebutuhan pokok (primer) ini tidak terpenuhi, maka dapat berakibat pada kehancuran atau kemunduran umat manusia. Karena itu, Islam menganggap kemiskinan itu sebagai ancaman yang biasa dihembuskan oleh setan, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 268 yang artinya “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat jahat…”
Allah swt juga memberikan kekayaan kepada Raul-Nya (Nabi Muhammad), yang semula dalam keadaan miskin menjadi kaya, sebagaimana diterangkan Allah dalam surah Adh-Dhuha:8 yang artinya “Dan Ia (Allah) telah mendapati engkau (Muhammad) dalam keadaan miskin, lalu menjadikan engkau orang yang berkecukupan.” Selain dari firman Allah terdapat hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani yang artinya “Sebaik-baik harta yang berguna adalah milik orang salih.”
Bila kemiskinan merupakan bahaya bagi agama dalam segi akidah dan kepercayaan, tidak sedikit pula bahayanya terhadap segi etika dan moral. Kekecewaan dan keputusasaan orang miskin lebih-lebih yang hidup ditengah-tengah orang kaya, banyak mendorong mereka untuk bertindak yang tidak dibenarkan oleh budi luhur dan akhlaq mulia.
