Pengertian, Prinsip dan Indikator Perhatian Anak Usia Dini

Pengertian Perhatian Anak Usia Dini

Perhatian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar anak. Gazali dalam Slameto (2003: 56) mengemukakan perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi semata-mata tertuju kepada suatu obyek atau sekumpulan obyek. Abu Ahmadi (2003: 145) mengemukakan perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada suatu objek, baik di dalam maupun di luar dirinya. Sumadi Suryabrata (2004: 14) mengemukakan perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Senada dengan pendapat di atas Bimo Walgito (2004: 98) menyebutkan perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukkan kepada suatu obyek atau sekumpulan obyek. Berdasarkan beberapa pengertian perhatian yang diuraikan oleh beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan perhatian adalah pemusatan keaktifan jiwa yang diarahkan untuk memperhatikan obyek secara penuh pada suatu waktu tertentu.

Pada penelitian ini perhatian yang dimaksud adalah perhatian anak usia dini. Perhatian anak usia dini terhadap pembelajaran akan menentukan hasil belajar anak. Jadi perhatian anak usia dini dapat diartikan sebagai pemusatan keaktifan jiwa anak yang diarahkan untuk memperhatikan obyek secara penuh pada suatu waktu tertentu dalam pembelajaran.

Rentang Perhatian Anak Usia Dini

Tingkat perhatian anak untuk memperhatikan obyek bergantung pada usia.Menurut Olivia dalam Tsaniy Nur Farhani (2012: 4) anak usia 1-2 tahun memiliki rentang perhatian sekitar 5 menit, usia 3-4 tahun 10 menit, dan usia di atas 5 tahun sekitar 20 menit. Menurut Widodo Judarwanto (2011: 2) rata-rata rentang atensi pada usia 2 tahun selama 7 menit, usia 3 tahun selama 9 menit, usia 4 tahun selama 12 menit, usia 5 tahun selama 14 menit.Dalam penelitian ini subyek penelitian adalah anak usia 4-5 tahun. Jadi rentang perhatian anak usia 4- 5 tahun adalah sekitar 10-14 menit.

Macam-macam Perhatian

Bimo Walgito (2004: 100) menyebutkan perhatian ada bermacam-macam, sesuai dari segi yang ditinjau, yaitu:
a. Ditinjau dari segi timbulnya perhatian

  • Perhatian spontan, yaitu perhatian yang timbul dengan sendirinya secara spontan. Perhatian ini erat hubungannya dengan minat individu terhadap suatu obyek.
  • Perhatian tidak spontan, yaitu perhatian yang ditimbulkan dengan sengaja.

Pada perhatian ini individu harus ada kemauan untuk menimbulkannya.

b. Ditinjau dari banyaknya obyek yang dicakup

  • Perhatian sempit, yaitu perhatian individu pada suatu waktu hanya dapat memperhatikan sedikit obyek.
  • Perhatian luas, yaitu perhatian individu yang pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak obyek sekaligus.

Sehubungan dengan hal ini perhatian dapat juga dibedakan atas:

  • Perhatian terpusat, yaitu individu pada suatu waktu hanya dapat memusatkan perhatiannya pada suatu obyek.
    Perhatian terbagi-bagi, yaitu individu pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak hal atau obyek.

c. Ditinjau dari fluktuasi perhatian

  • Perhatian statis, yaitu individu dalam waktu yang tertentu dapat dengan statis atau tetap perhatiannya tertuju pada obyek tertentu.
  • Perhatian dinamis, yaitu individu dapat memindahkan perhatiannya secara lincah dari satu obyek ke obyek lain.

Pada penelitian ini kriteria perhatian yang dimaksud adalah perhatian ditinjau dari banyaknya objek yang dicakup yaitu perhatian terpusat. Anak secara terpusat memperhatikan suatu obyek pada pembelajaran oleh karena itu pembelajaran harus disampaikan dengan menarik.

4. Syarat-syarat dalam Menarik Perhatian

Abu Ahmadi (2003: 146) menyebutkan syarat-syarat agar perhatian dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya adalah sebagai berikut:

a. Inhibasi, yakni pelarangan isi kesadaran yang tidak diperlukan yang menghalang-halangi masuk ke dalam lingkungan kesadaran.

b. Apersepsi, yakni pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran termasuk tanggapan, pengertian dan sebagainya yang telah yang dimiliki.

c. Adaptasi, yakni penyesuaian diri dengan obyek.

Ketiga syarat tersebut apabila dapat dipenuhi maka perhatian seseorang terhadap suatu obyek dapat tercukupi dan berdampak positif terhadap pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik tanpa gangguan. Namun terkadang perhatian mengalami pengenduran. Agar perhatian tidak kendur, ada beberapa hal yang dapat membantu supaya perhatian terhadap sesuatu tidak lekas kendur, yaitu:

  • Adanya perasaan tertentu terhadap obyek tersebut. Suatu obyek akan mendapat perhatian apabila dipandang indah, baik, dan sebagainya.
  • Adanya kemauan yang kuat. Apabila perhatian terhadap suatu obyek tidak ada, tetapi obyek tersebut ternyata ada hubungannya dengan kebutuhan maka akan mempunyai kemauan yang besar terhadap obyek tersebut.

5. Prinsip-prinsip Perhatian

Salah satu masalah yang dihadapi oleh seorang guru dalam kelas adalah menarik perhatian anak dan kemudian menjaga agar perhatian itu tetap ada. Menurut Slameto (2003: 106) beberapa prinsip penting terkait dengan perhatian adalah:

  • Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru, hal-hal yang berlawanan dengan pengalaman yang baru saja diperoleh atau dengan pengalaman yang didapat selama hidupnya.
  • Perhatian seseorang tertuju dan tetap berada dan diarahkan pada hal-hal yang dianggap rumit, selama kerumitan tersebut tidak melampaui batas kemampuan orang tersebut.
  • Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya, yaitu hal- hal yang sesuai dengan minat, pengalaman dan kebutuhannya.

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perhatian

Abu Ahmadi (2003: 150) membagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perhatian sebagai berikut:

  • Pembawaan, adanya pembawaan tertentu yang berhubungan dengan obyek yang direaksi, amat sedikit atau banyak akan timbul perhatian terhadap obyek tertentu.
  • Latihan dan kebiasaan, adanya latihan dan kebiasaan dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian.
  • Kebutuhan, adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap obyek.
  • Kewajiban, di dalam kewajiban terkandung tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan.
  • Keadaan jasmani, segar tidaknya suatu badan sangat mempengaruhi perhatian terhadap suatu obyek.
  • Suasana jiwa, keadaan batin, perasaan, fantasi, pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatian seseorang terhadap suatu obyek.
  • Suasana disekitar, adanya bermacam-macam perangsang di sekitar, seperti kegaduhan, keributan, kekacauan, temperatur, sosial ekonomi, keindahan dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian.
  • Kuat tidaknya perangsang dari obyek itu sendiri, apabila suatu obyek memberikan perangsang yang kuat, kemungkinan perhatian terhadap obyek tersebut besar.

Media boneka tangan pada penelitian ini dikategorikan sebagai obyek yang memberikan perangsang yang kuat sehingga perhatian anak pada saat guru bercerita dengan media boneka tangan lebih terpusat.

7. Indikator Perhatian

Ahmad Rohani (2004: 20) mengemukakan pada saat proses pengajaran berlangsung, seharusnya guru berupaya agar peserta didik memusatkan perhatian. Perhatian sebagai modus, tempat berlangsunnya aktivitas. Bila perhatian ini sekehendak maka disebut konsentrasi. Konsentrasi anak pada saat pembelajaran bercerita dapat dilihat apabila anak mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru.

Ahmad Rohani juga mengemukakan secara psikologis jika memusatkan perhatian pada sesuatu maka segala stimulus lainnya yang tidak diperlukan tidak masuk dalam alam sadar. Akibat dari keadaan ini adalah pengamatan menjadi sangat cermat dan berjalan dengan baik. Stimulus yang menjadi perhatiannya kemudian menjadi mudah masuk ke dalam ingatan, juga akan menimbulkan tanggapan yang terang, kokoh, dan tidak mudah hilang begitu saja bahkan dapat dengan mudah untuk direproduksikan. Disamping itu dengan adanya fokus (pusat) perhatian maka:

a. Membangkitkan minat peserta didik untuk menaruh perhatian dalam pengajaran dan menimbulkan daya konsentrasi itu sendiri.
b. Dapat mengorganisasikan bahan pelajaran yang menjadi suatu problem yang mendorong peserta didik selalu aktif dalam hal mengamati, menyelidiki, memecahkan, dan menentukan jalan penyelesaiannya sekaligus bertanggungjawab atas tugas yang diserahkan kepadanya.
c. Dapat memberikan struktur bahan pelajaran sehingga merupakan totalitas yang bermakna bagi peserta didik yang dapat digunakan untuk menghadapi lingkungan tempat ia hidup.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil batasan dalam unsur-unsur perhatian adalah:

a. Konsentrasi

Slameto (2003: 86) menyebutkan konsentrasi adalah pemusatan pemikiran terhadap suatu hal dengan menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Kemampuan untuk memusatkan pemikiran terhadap suatu hal atau pelajaran pada dasarnya ada pada setiap orang, hanya besar kecilnya kemampuan itu berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut, lingkungan dan latihan/pengalaman. Pemusatan pemikiran merupakan hal yang dapat dilatih, bukan bakat/pembawaan.

b. Ingatan

Slameto (2003: 111) menyebutkan ingatan adalah penarikan kembali informasi yang pernah diperoleh sebelumnya. Sumadi Suryabrata (2004: 44) mendefinisikan ingatan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksikan kesan-kesan. Jadi dapat disimpulkan ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksikan informasi yang pernah diperoleh sebelumnya.

c. Pemahaman

Ebta Setiawan (2012) mengemukakan pemahaman berasal dari kata dasar paham. Paham berarti: (1) pengertian; pengetahuan yang banyak, (2) pendapat; pikiran, (3) aliran; haluan; pandangan, (4) mengerti benar (akan); tahu benar (akan), (5) pandai dan mengerti benar (tentang suatu hal). Apabila mendapat imbuhan pe-an menjadi pemahaman yang berarti proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Jadi pemahaman merupakan proses untuk memahami suatu hal supaya paham.

Perhatian anak yang akan dinilai dalam penelitian ini meliputi konsentrasi, ingatan, dan pemahaman. Konsentrasi anak dilihat pada saat mendengarkan cerita, dan pada akhir cerita diberikan pertanyaan seputar cerita untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang dibacakan.

Sumber Bacaan

Abu Ahmadi. (2003). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmad Rohani. (2004). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Anas Sudjiono. (2008). Pengantar Statistika. Jakarta: Rajawali Press.

Azhar Arsyad. (1996). Media Pembelajaran. Jakarta: Grafindo.

Bimo Walgito. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Cucu Eliyawati. (2005). Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.

Moeslichatoen. (2004). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Yogyakarta: Rineka Cipta

Muhammad Fadlillah. (2014). Desain Pembelajaran PAUD. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

Muhammad Idrus. (2009). Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Nini Subini. (2012). Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Mentari Pustaka.

Nurul Zuriah. (2005). Metode Penelitian Sosial Dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Saifuddin Azwar. (2014). Penyusunan Skala Psikologi Edisi Revisi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.Jakarta: Rineka Cipta.

Sofia Hartati. (2005). Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.

Suharsimi Arikunto. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Suharsimi Arikunto.(2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Sumadi Suryabrata. (2004). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syaiful Bahri Djamarah. (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya

Tadkiroatun Musfiroh. (2005). Bercerita Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

Trianto. (2011). Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Kencana.

Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama. (2011). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Indeks.

Wina Sanjaya. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tags: , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *