Prinsip Dasar Filosofi Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara, memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia berikut beberapa prinsip dasar filosofi Ki Hajar Dewantara, beliau adalah pendiri organisasi pendidikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang mengusung filosofi dan prinsip-prinsip yang sangat mendalam.

Prinsip Dasar Filosofi Ki Hajar Dewantara

Hakikat pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah memasukkan kebudayaan ke dalam diri anak dan memasukkan anak ke dalam kebudayaan supaya anak menjadi makhluk yang insani.

Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara disebut filsafat pendidikan among yang di dalamnya merupakan konvergensi dari filsafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak didik untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dengan memberikan kebebasan berpikir seluas-luasnya. Di samping itu digunakan kebudayaan yang sudah teruji oleh waktu, menurut esensialisme, sebagai dasar pendidikan anak untuk
pencapaian tujuannya. Khusus mengenai kebebasan berpikir, menurut Ki Hadjar Dewantara, bila membahayakan anak didik berbuat salah maka akan diambil alih pamongnya (Tutwuri Handayani). Selain itu Ki Hadjar Dewantara menggunakan kebudayaan asli Indonesia, sedangkan nilai-nilai dari Barat diambil secara selektif adaptatif sesuai dengan teori trikon (kontinyuitas, konvergen dan konsentris).

Kontribusi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan di Indonesia adalah dengan munculnya model-model pendidikan pesantren modern yang sering dikenal dengan MBS (Modern Boarding School). Namun secara jelas adalah dibangunnya SMA Taruna Nusantara yang benar-benar menerapkan sistem paguron dari Ki Hadjar Dewantara.

Ditinjau dari filsafat pendidikan esensialisme terutama yang didukung oleh idealisme modern bahwa di balik dunia
fenomenal ini ada jiwa yang tak terbatas, yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Manusia bila mau menguji dan menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, maka manusia akan dapat mencapai kebenaran yang sumbernya adalah Tuhan sendiri (Barnadib, 1982: 39).

Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dibandingkan dengan filsafat pendidikan esensialisme sangat mirip, karena esensialisme berpendapat bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang diwariskan merupakan kebudayaan yang telah teruji oleh segala jaman, kondisi dan sejarah (Noor Syam, 1983: 260).

Konsep Ki Hadjar Dewantara pada sistem among mengatakan bahwa sistem among yang berjiwa kekeluargaan bersendikan 2 dasar, yaitu: pertama, kodrat alam sebagai syarat kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya; kedua, kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka.

Tiga prinsip dasar Kepemimpinan yang menjadi pedoman dan ditauladani dari Ki Hajar Dewantara adalah:

  • Ing ngarsa sung tulada. Artinya, di depan memberi teladan. Pemimpin harus menjadi contoh bagi anak buahnya.
  • Ing madya mangun karsa. Artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Pemimpin harus berjuang bersama anak buah.
  • Tut wuri handayani. Artinya, dari belakang memberikan dorongan. Ada saatnya pemimpin membiarkan anak buah melakukan sendiri.

Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara tetap mempertahankan tujuh asas dalam menyelenggarakan pendidikannya. Tujuh asas tersebut adalah: (1) pendidikan didasarkan pada kodrat alam, (2) sistem among atau: tut wuri handayani, (3) pendidikan didasarkan pada budaya nasional, bukan budaya asing, (4) pendidikan didasarkan pada kerakyatan, (5) pendidikan diarahkan untuk memupuk kekuatan sendiri untuk tumbuh, (6) pendidikan Taman Siswa harus mampu membiayai diri sendiri, (7) keikhlasan lahir bathin dari guru untuk mendekati anak didik (Tilaar, 1995).

Konsep Ki Hadjar Dewantara pada sistem among mengatakan bahwa sistem among yang berjiwa kekeluargaan bersendikan 2 dasar, yaitu: pertama, kodrat alam sebagai syarat kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya; kedua, kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka.

Sumber Bacaan

Noor Syam, Mohammad, 1983, Filsafat Pendidikan dan dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya.

Barnadib, Imam, 1982, Filsafat Pendidikan, Pengantar Mengenai Sistem dan Metode Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta.

Dewantara, Ki Hadjar, 1994, Kebudayaan, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta

Dwiarso, Priyo, 2010, Napak Tilas Ajaran Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Pesatuan,Yogyakarta.

Tilaar, H. A. R. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Soeratman, Darsiti, 1983/1984, Ki Hadjar Dewantara, Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta.

Ki Suratman, 1987, Tugas Kita Sebagai Pamong Taman Siswa, Majelis Luhur Yogyakarta

 

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *