Pengertian Andragogi
Dugan (1995) mendefinisikan andragogi lebih kepada asal katanya, andragogi berasal dari Bahasa Yunani. Andra berarti manusia dewasa, bukan anak-anak, menurut istilah, andragogi berarti ilmu yang mempelajari bagaimana orang tua belajar.
Sudjana dalam Bukunya Pendidikan Non-Formal Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Azas (2005), disebutkan bahwa, andragogi berasal dari bahasa Yunani ”andra dan agogos”. Andra berarti orang dewasa dan Agogos berarti memimpin atau membimbing, sehingga andragogi dapat diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar. Atau sering diartikan sebagai seni dan ilmu yang membantu orang dewasa untuk belajar (the art and science of helping adult learn).
Knowles dalam Srinivasan (1977) menyatakan bahwa: andragogy as the art and science to helping adult a learner. Pada konsep lain andragogi seringkali didefinisikan sebagai pendidikan orang dewasa atau belajar orang dewasa. Definisi pendidikan orang dewasa merujuk pada kondisi peserta didik orang dewasa baik dilihat dari dimensi fisik (biologis), hukum, sosial dan psikologis. Istilah dewasa didasarkan atas kelengkapan kondisi fisik juga usia, dan kejiwaan, disamping itu pula orang dewasa dapat berperan sesuai dengan tuntutan tugas dari status yang dimilikinya.
Elias dan Sharan B. Merriam (1990) menyebutkan kedewasaan pada diri seseorang meliputi: age, psychological maturity, and soscial roles. Yang dimaksud dewasa menurut usia, adalah setiap orang yang menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah).
Hurlock (1968), adult (dewasa) adulthood (status dalam keadaan kedewasaan) ditujukan pada usia 21 tahun untuk awal masa dewasa dan sering dihitung sejak 7 atau 8 tahun setelah seseorang mencapai kematangan seksual, atau sejak masa pubertas.
Dasar Filosofis Andragogi
Dalam sejarah perkembangan ilmu pendidikan, kajian awal tentang konsep pendidikan di dunia ini berasal dari pemahaman tentang persoalan belajar pada anak dan pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Dengan pemahaman tersebut, aktivitas pembelajaran secara dominan didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan merupakan suatu proses transmisi pengetahuan. Konsep inilah kemudian dikenal dengan istilah pedagogi, yang diartikan sebagai “the art and science of teaching children” (ilmu dan seni1 mengajar anak-anak).
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, mobilitas penduduk, perubahan dan perkembangan zaman, kajian tentang konsep pendidikan mengalami perluasan ke wilayah pendidikan orang dewasa, sehingga muncullah rumusan konsep perbedaan antara pendidikan anak-anak (pedagogi) dengan pendidikan orang dewasa (andragogi). Bila pada pedagogi diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak, maka pada andragogi, lebih dimaknai
Penggunaan istilah ‘seni’ dalam mengajar memiliki makna tersendiri yang membedakannya dengan mengajar biasa atau mengajar dengan pendekatan teknologi. Lihat Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), sebagai “the art and science of helping adult learn” (ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar). Dengan lahirnya konsep pendidikan orang dewasa, maka pemahaman tentang pendidikan tidak lagi sekedar upaya untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk afektif dan mengembangkan keterampilan sebagai wujud proses pembelajaran sepanjang hayat (life long education).
Istilah andragogi berasal dari bahasa Yunani “andra dan agogos”. Andra berarti “orang dewasa” dan agogos artinya “memimpin atau membimbing”, sehingga andragogi diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar.2 Istilah andragogi dugunakan pertama kali oleh Alexander Kapp sebagai istilah pendidikan orang dewasa dalam menjelaskan teori pendidikan yang dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti Plato. Pada perkembangan berikutnya, ahli pendidikan orang dewasa German Enchevort yang berasal dari Belanda, membuat studi tentang asal mula penggunaan istilah andragogi. Kemudian pada tahun 1919, Adam Smith memberikan pernyataannya tentang pendidikan orang dewasa, “pendidikan tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa”. Selanjutnyab pada tahun 1921, Eugar Rosenstock menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa harus menggunakan guru khusus, metode dan filsafat khusus.
Gagasan untuk mengkaji dan mengembangkan andragogi secara konseptual teoritik dilakukan oleh Malcolm Knowles pada tahun 1970. Menurut Knowles,pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak (pedagogi). Pedagogi berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan andragogi berlangsung dalam bentuk pengembangan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Jadi istilah andragogi mulai di rumuskan menjadi teori barun sejak tahun 1970-an oleh Malcom Knowles yang memperkenalkan istilah tersebut untuk pembelajaran orang dewasa4
Knowles menjelaskan, terjadinya perbedaan antara kegiatan belajar anak-anak dengan orang dewasa, disebabkan orang dewasa memiliki 6 hal, yakni: konsep diri, pengalaman hidup, kesiapan belajar, orientasi belajar, kebutuhan pengetahuan dan motivasi.5 Keenam hal inilah yang menjadi asumsi dasar untuk menjadikan andragogy sebagai ilmu dalam melandasi penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan formal dan nonformal saat ini.
Prinsip – Prinsip Andragogi
Dalam pendidikan orang dewasa, kemandirian merupakan tolak ukur utama dalam setiap pengembangan model belajar. Oleh karena itu, konsep pembelajaran dalam konteks andragogi, secara lebih khusus memiliki inti dasar yang mengacu pada menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai kemandirian bagi setiap peserta didiknya (warga belajar). Tanpa tujuan itu setiap pembelajaran dalam konteks andragogi menjadi tidak bermakna dan sama saja dengan model pembelajaran lainnya. Asumsi ini merupakan batasan khusus yang mampu membedakan konsep pembelajaran andragogi dengan konsep pembelajaran lainnya.
Kemandirian dalam konsep andragogi berarti juga self directed learning. Knowles menguraikan secara jelas tentang pengertian self directed learning “as a process in which individuals take the initiative,
whith or without the help of others, in diagnosing their learning needs, formulating learning goals, identifying human and other resources for learning, choosing and implementing learning strategies, and evaluating learning outcomes” [self directed learning memberikan acuan bagaimana peserta didik memiliki inisiatif untuk belajar, menganasilis kebutuhan belajar sendiri, mencari sumber belajar sendiri, memformulasi tujuan belajar sendiri, memilih dan mengimplementasikan strategi belajar dan melakukan self-evaluating. Komponen-komponen tersebut merupakan dimensi bagaimana andragogi membangun karakter kemandirian dalam diri peserta didik (aoutonomous learning)]10.
Perbedaan Andragogi dan Pedagogi
Sebenarnya antara pedagogi dan andragogi tidak perlu dipertentangkan, hal ini dikarenakan kedua teoi tersebut sebetulnya saling melengkapi, namun munculnya perbedaan itu dikarenakan adanya model asumsi yang melandasinya sebagai dua pendekatan rancang bangun dan pengoperasioan yang berbeda, sebagaimana di
pedagogi dan seterusnya. kemukakan oleh Knowles, 1985, dalam Mustafa Kamil (2007:299), bahwa model pedagogi adalah suatu isi (content plan) yang menuntut pendidik untuk menjawab empat pertanyaan saja, yakni 1) apa isi yang perlu dicakup, 2) bagaimana isi tersebut dapat diorganisasikan kedalam satuan yang terkelola,3) bagaimana urutan yang paling logis untuk menyajikan nsatuan-satuan tersebut dan 4) alat apakah yang paling efesien untuk menyampaikan isi tersebut, sementara untuk rancang bangun pada Andragogi lebih bersifat proses (process design), dimana tutor atau pendidik memiliki peranan rangkap yakni sebagai : 1) perancang dan pengelola proses, 2) dan sumber belajar. Berkaitan dengan pedagogi dan andragogi, Knowles, yang dikutip oleh Djudju Sudjana (2007), menyatakan sejak awal tahun delapanpuluhan telah dikembangkan pendekatan kontinum (continuum learning approach) atau pendekatan berdaur atau bekelanjutan. Pendekatan ini dapat dimulai dari pedagogi dilanjutkan ke andragogi atau sebaliknya, yaitu berawal dari andragogi dilanjutkan ke pedagogi dan seterusnya.
Tabel Perbedaan asumsi dalam Pedagogi dan Andragogi
| Asumsi tentang | Pedagogi | Andragogi |
| Konsep tentang siswa | Pribadi yang bergantung | Pribadi yang sudah dapat mengarahkan diri sendiri (self
directing) |
| Peranan pengalaman siswa | Merupakan sesuatu yang dibentuk dan bukan sebagai sumber belajar | Merupakan sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri ataupun orang
lain |
| Kesiapan untuk belajar | Seragam atas dasar tingkat umur dan kurikulum | Dikembangkan dari tugas-tugas kehidupan dan
masalah-masalahnya |
| Orientasi terhadap
belajar |
Berpusat pada mata
ajaran |
Berpusat pada tugas-
tugas masalah |
| Motivasi | Atas dasar
hadiah/ganjaran dan hukuman dari luar diri siswa |
Dari dalam, berupa insentif dan keingin tahuan (curiousity) |
Tabel Perbedaan proses dalam pedagogi dan andragogi
| Unsur Pembeda | Pedagogi | Andragogi |
| Suasana | Tegang, kepercayaan yang rendah, formal, dingin, kurang bersahabat, berorientasi pada kekuasaan, bersaing,
serba ditentukan |
Santai, saling percaya, saling hormat,
informal, hangat, bekerja sama saling membantu |
| Perencanaan | Terutama oleh guru | Bersama-sama kedua
pihak (pendidik dan siswanya) |
| Diagnosis kebutuhan | Terutama dilakukan oleh guru | Dilakukan kedua
pihak (pendidik dan siswanya) |
| Merumuskan tujuan | Terutama dilakukan oleh guru | Dirundingkan bersama guru dan
siswa |
| Merencanakan | Bahan/isi direncanakan guru.silabi pelajaran
urutan logis |
Kontrak belajar tugas- tugas/proyek, urutan sesuai dengan
kesiapan siswa |
| Kegiatan belajar | Teknik ceramah, tugas-tugas baca | Tugas-tugas mencari sendiri,dan difasilitasi
teman-teman |
Tujuan Andragogi
Tujuan pendidikan pada orang dewasa berbeda dengan tujuan pendidikan pada anak-anak. Pada pendidikan anak-anak, tujuan pendidikan sudah ditentukan sebelum pelaksanaan aktivitas pembelajaran, namun pada pendidikan orang dewasa tujuan pendidikan bersifat fleksibel, maksudnya dapat ditentukan secara bersama-sama oleh pendidik dan peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang dipandang lebih penting bagi kelompok pembelajar dewasa. Atas dasar ini Suprijanto menyebutkan, tujuan pendidikan orang dewasa beroientasi pada tujuan belajarnya yang pendekatannya lebih berat pada peningkatan kemampuan dan keterampilan praktis dalam waktu sesingkat mungkin untuk mencukupi keperluan hidupnya.
Secara umum, pendidikan orang dewasa bertujuan untuk membantu pembelajar dewasa memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan guna meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupannya. Karena itulah kegiatan inti dalam pembelajaran orang dewasa lebih disesuaikan dengan kebutuhan dan target yang ingin dicapai oleh para pembelajar dewasa untuk keperluan dalam waktu yang dekat. Biasanya materi dan kegiatan pembelajaran diarahkan untuk kebutuhan kerja atau yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang digeluti.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan orang dewasa sekurang- kurangnya mengarah pada 7 tujuan utama, yaitu:
- Membantu pembelajar dewasa memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan guna meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupannya
- Untuk membantu pembelajar dewasa memahami dirinya sendiri, bakatnya, keterbatasannya, dan hubungan interpersonalnya
- Mengembangkan jiwa dan sikap kepemimpinan yang terdapat pada setiap pembelajar dewasa
- Membantu pembelajar dewasa mengenali dan memahami urgensi kebutuhan pendidikan seumur hidup (life long education).
- Membantu pembelajar dewasa mencapai kemajuan proses pematangan secara intelektual, emosional, dan spiritual.
- Melengkapi keterampilan yang diperlukan untuk menemukan dan memecahkan masalah.
- Memberi bantuan agar orang dewasa menjadi individu yang mandiri, bebas, dan otonom.
Metode dan Teknik Pembelajaran Andragogi
Menurut Knowles, metode pembelajaran adalah cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode mencakup pembelajaran individual (individual learning method), pembelajaran kelompok (group learning method), dan pembelajaran komunitas (community learning method atau community development method)15. Teknik pembelajaran adalah cara membelajarkan yang dipilih sesuai metode pembelajaran yang digunakan. Dengan kata lain, teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode.
Untuk melihat bahwa hubungan antara metode dan teknik pembelajaran berkaitan erat, secara umum dapat diperhatikan dari ketiga jenis metode, yakni metode pembelajaran individual, kelompok, dan komunitas. Dalam penerapan metode pembelajaran perorangan (individual learning method), maka teknik pembelajaran yang tepat untuk orang dewasa adalah tutorial, bimbingan, magang, dan sebagainya. Kemudian dalam penerapan metode pembelajaran kelompok (group learning method), teknik pembelajaran yang dipandang tepat untuk orang dewasa adalah diskusi, curah pendapat, simulasi, bermain peran, pecahan bujur sangkar, demonstrasi, dan sebagainya. Sedangkan dalam metode pembelajaran komunitas (community development/learning method), teknik pembelajaran yang sesuai untuk orang dewasa adalah kontak sosial, paksaan sosial, komunikasi sosial, aksi partisipatif, dan sebagainya.
Karakteristik metode pembelajaran untuk orang dewasa adalah luwes, terbuka, dan partisipatif. Luwes adalah dapat dimodifikasi dalam penggunaannya. Terbuka maksudnya dapat menerima masukan untuk perubahan dan pengembangan metode. Partisipatif berarti bahwa peserta didik diikutsertakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Model pembelajaran yang dipandang cocok dengan karakteristik metode pembelajaran adalah model pembelajaran partisipatif. Dalam andragogi, pembelajaran partisipatif adalah upaya pendidik melibatkan peserta pelatihan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran partisipatif didasari oleh prinsip-prinsip: berdasarkan kebutuhan belajar (learning needs based), berorientasi pada pencapaian tujuan (goals and objectives oriented), berpusat pada peserta pelatihan (participants centered), dan beelajar berdasarkan pengalaman atau mengalami (experiential learning)
Referensi
Laird, Dugan (1995). Approaches To Training and Development, Massachusetts, Addison-Wesley Publishing Company.
Sudjana, Djudju. (2006). Evaluasi Program Pendidikan (Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Bandung : Falah Production.
Srinivasan, L. (1977). Perspectives of Nonformal Adult Learning. Nort Haven: The van Dyih Printing Co.
Elias, John and Merriam Sharan. (1984), Philosophical Foundations Of Adult Education, Florida: Robert E. Krieger Publishing Company.
Hurlock, E.B (1980) Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Penerjemah: Istiwidayanti, Jakarta: Erlangga.
Malcolm Knowles, The Modern Pactice of Adult Education: Andragogy Versus Pedagogy (New York: Association Press,1977), hal 133.
Sudjana, “Andragogi Praktis” dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Jilid II (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007) hal 8.
Ibrahim R. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007), Vol.1 hal 292.
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal 19.21, 56 22
Malcolm Knowles, Andragogy: Concepts for Adult Learning (Washington D. C: Departement of Health, Education and Walfare, 1975) hal 18.
Saleh Marzuki, Pendidikan Nonformal (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hal 166, 168, 188
Tags: Andragogi, Metode dan Teknik Pembelajaran Andragogi, Pengertian Andragogi, Prinsip – Prinsip Andragogi, Tujuan Andragogi
