Pandangan Ki Hadjar Dewantara Tentang Pengetahuan
Salah satu dasar dalam sistem among Ki Hadjar Dewantara adalah kodrat alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Kodrat alam sebagai manifestasi kekuatan Tuhan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk Tuhan adalah satu dengan alam semesta, dengan demikian manusia wajib tunduk kepada hukumhukum alam dan wajib menyatukan atau menyelaraskan dirinya dengan kodrat alam. Penyesuaian diri dengan alam tersebut merupakan proses pembudayaan manusia.
Pernyataan asas Taman Siswa (beginselverklaring), sebagai reaksi terhadap sistem pendidikan yang memaksakan kultur asing sebagai landasannya sehingga proses dan hasilnya tidak sesuai dengan kodrat anak Indonesia, menegaskan, “Yang kita pakai sebagai alat pendidikan, yaitu pemeliharaan dengan sebesar-besar perhatian (toewijdende zorg) untuk mendapatkan tumbuh kembangnya kehidupan anak lahir batin, menurut kodratnya sendiri.” Jika kultur asing dipaksakan, maka nilai-nilai yang akan dikembangkan pasti juga akan menyimpang dari nilai-nilai budaya bangsanya. Hal demikian tidak mungkin digunakan untuk keperluan membentuk watak dan kepribadian bangsa. Anakanak tersebut akan terasing dari kehidupan bangsanya dan tidak akan peka terhadap aspirasi dan penderitaan rakyatnya. Dengan demikian maka dasar kodrat alam digunakan dalam arti edukatif dan dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar (Soeratman, 1983/1984: 9- 10).
Ditinjau dari filsafat pendidikan esensialisme terutama yang didukung oleh idealisme modern bahwa di balik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tak terbatas, yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Manusia bila mau menguji dan menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, maka manusia akan dapat mencapai kebenaran yang sumbernya adalah Tuhan sendiri (Barnadib, 1982: 39).
Idealisme modern mengemukakan tinjauan yang seperti itu dalam rangka memberikan jalan bagi perkembangan baru dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Teori Leibniz tentang monade menjelaskan bahwa sifat-sifat monade mencerminkan alam semesta, sesuai dengan apa yang tercipta oleh Tuhan. Hal ini berarti bahwa meskipun atribut (sifat-sifat) ini terbatas, ia mempunyai kemungkinan untuk menuju kesempurnaan dengan cara sendiri.
Mengenai pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pengetahuan maupun belajar, memang tidak secara rinci dipisahkan dari pandangan pendidikan, tetapi dapat kiranya ditunjukkan bahwa proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan adalah penggunaan panca indera yang kemudian diolah oleh intelek, selanjutnya dipraktekkan dalam kehidupan yang merupakan kegiatan psikomotorik.
Pandangan Ki Hadjar Dewantara tersebut bila ditinjau dari filsafat pendidikan esensialisme adalah mirip. Landasan berpikir esensialisme mengatakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual jiwa membina dan menciptakan diri sendiri (Barnadib, 1982: 55). Tinjauan filsafat pendidikan esensialisme tentang pandangan Ki Hadjar Dewantara mengenai pengetahuan dan belajar dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pandangan esensialisme mengenai pengetahuan, yang dikatakan sebagai asosianisme, mengatakan bahwa gagasan atau isi jiwa itu terbentuk dari asosiasi unsur-unsur yang berupa kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. Kesan-kesan tersebut disebut tanggapan yang dapat diumpamakan sebagai atom-atom jiwa (Barnadib, 1982: 49), sedangkan behaviorisme sebagai pendukung esensialisme mengatakan bahwa suatu penghayatan kejiwaan terdiri dari proses-proses yang paling sederhana yang terdiri dari rangsang (stimulus) dari luar, yang disambut dengan tanggapan tertentu (response). Rangsang dan tanggapan menjadi satu kesatuan (sarbon). Dalam proses berikutnya, peristiwa kejiwaan merupakan saling-hubungan antar unsur-unsur tersebut dalam berbagai cara dan bentuk (associanism). Koneksionisme sebagai gerakan ketiga mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya selalu membentuk tata jawaban dengan jalan memperkuat dan memperlemah hubungan antara Stimulus (S) dan response (R). Untuk ini dikembangkan kaidah mengenai belajar dan mengenai pengetahuan yang dimiliki seseorang (Barnadib, 1982: 49).
Jadi pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan esensialisme tentang belajar tidak bertentangan karena keduanya mengatakan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan digunakan panca indera kemudian diolah oleh akal sehingga gambaran jiwa (batin) terbentuk.
Sumber Bacaan
Barnadib, Imam, 1982, Filsafat Pendidikan, Pengantar Mengenai Sistem dan Metode Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIPYogyakarta.
Soeratman, Darsiti, 1983/1984, Ki Hadjar Dewantara, Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta.
Tags: Ki Hadjar Dewantara, Taman Siswa
