Dalam sejarah perkembangan ilmu pendidikan, kajian awal tentang konsep pendidikan di dunia ini berasal dari pemahaman tentang persoalan belajar pada anak dan pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Dengan pemahaman tersebut, aktivitas pembelajaran secara dominan didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan merupakan suatu proses transmisi pengetahuan. Konsep inilah kemudian dikenal dengan istilah pedagogi, yang diartikan sebagai “the art and science of teaching children” (ilmu dan seni mengajar anak-anak).
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, mobilitas penduduk, perubahan dan perkembangan zaman, kajian tentang konsep pendidikan mengalami perluasan ke wilayah pendidikan orang dewasa, sehingga muncullah rumusan konsep perbedaan antara pendidikan anak-anak (pedagogi) dengan pendidikan orang dewasa (andragogi). Bila pada pedagogi diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak, maka pada andragogi, lebih dimaknai sebagai “the art and science of helping adult learn” (ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar). Dengan lahirnya konsep pendidikan orang dewasa, maka pemahaman tentang pendidikan tidak lagi sekedar upaya untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk afektif dan mengembangkan keterampilan sebagai wujud proses pembelajaran sepanjang hayat (life long education).
Istilah andragogi berasal dari bahasa Yunani “andra dan agogos”. Andra berarti “orang dewasa” dan agogos artinya “memimpin atau membimbing”, sehingga andragogi diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar. Istilah andragogi pertama kali muncul pada tahun 1833 oleh Alexander Kapp sebagai istilah pendidikan orang dewasa dalam menjelaskan teori pendidikan yang dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti Plato. Pada perkembangan berikutnya, ahli pendidikan orang dewasa asal Belanda, Gernan Enchevort membuat studi tentang asal mula penggunaan istilah andragogi.
Kemudian pada tahun 1919, Adam Smith memberikan pernyataannya tentang pendidikan orang dewasa, “pendidikan tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa”. Selanjutnya pada tahun 1921, Eugar Rosenstock menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa harus menggunakan guru khusus, metode dan filsafat khusus.
Gagasan untuk mengkaji dan mengembangkan andragogi secara konseptual teoretik dilakukan Malcolm Knowles pada tahun 1970. Menurut Knowles, pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogi). Paedagogi berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan andragogi berlangsung dalam bentuk pengembangan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Jadi istilah andragogi mulai dirumuskan menjadi teori baru sejak tahun 1970-an oleh Malcolm Knowles yang memperkenalkan istilah tersebut untuk pembelajaran pada orang dewasa.
Knowles menjelaskan, terjadinya perbedaan antara kegiatan belajar anakanak dengan orang dewasa, disebabkan orang dewasa memiliki 6 hal, yakni: (1) Konsep diri (the self-concept); (2) Pengalaman hidup (the role of the learner’s experience); (3) Kesiapan belajar (readiness to learn); (4) Orientasi belajar (orientation to learning); (5) Kebutuhan pengetahuan (the need to know); dan (6) Motivasi (motivation).5 Keenam hal inilah yang menjadi asumsi dasar untuk menjadikan andragogi sebagai ilmu dalam melandasi penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan nonformal dan pendidikan formal saat ini.
Pada aspek lain, pengembangan konsep pendidikan orang dewasa bertolak dari pemahaman tentang konsep diri. Konsep diri anak-anak masih bergantung dengan pihak lain di luar dirinya, sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Secara alamiah, kemandirian yang dimiliki orang dewasa menyebabkan ia membutuhkan penghargaan dari orang lain sebagai manifestasi kemampuannya dalam menentukan dirinya sendiri (self determination) dan mampu mengarahkan dirinya sendiri (self direction). Apabila dalam suatu proses pendidikan atau pelatihan, terdapat perlakuan yang kurang menghargai atau tidak memberi kesempatan untuk menentukan diri sendiri, maka akan muncul penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan dari pembelajar dewasa.
Dalam pendidikan orang dewasa dikenal istilah experiential learning cycle, yakni proses belajar berdasarkan pengalaman. Perjalanan kehidupan yang telah dilalui hingga sampai pada tahap kedewasaan, tentu saja telah melewati berbagai pengalaman suka dan duka. Hal ini menjadikan seorang pembelajar dewasa kaya akan pengalaman dan dirinya dapat menjadi sumber belajar. Pada saat bersamaan, pembelajar dewasa yang mengikuti juga dapat menjadi dasar untuk memperoleh pengalaman baru. Belajar melalui pengalaman menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metode serta teknik pembelajaran atau pelatihan. Dalam praktiknya, pembelajaran atau pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, brainstorming, kerja laboratori, praktik lapangan, dan sebagainya.
Sesuai dengan tingkat perkembangannya, orang dewasa diasumsikan memiliki kesiapan belajar yang matang, karena mereka harus menghadapi perannya sebagai pekerja, orang tua, atau pemimpin organisasi. Pembelajar dewasa siap untuk belajar hal-hal yang mereka perlu ketahui agar dapat mengatasi situasi kehidupannya secara efektif. Bila pada seorang anak kesiapan belajar disebabkan karena adanya tuntutan akademik atau kebutuhan biologisnya, maka pada orang dewasa kesiapan belajarnya lebih dominan ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas serta peranan sosialnya. Karena itu, materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan tugas dan peranan sosialnya.
Dalam hal orientasi belajar, pembelajar dewasa termotivasi belajar apabila mereka merasa bahwa materi yang dipelajari akan membantu mereka menjalankan tugas-tugas yang dihadapi sesuai dengan kondisi kehidupan. Jika pada anak-anak orientasi belajarnya dikondisikan berpusat pada penguasaan materi pembelajaran (subject matter centered orientation), maka pada orang dewasa orientasi belajarnya berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (problem centered orientation). Hal ini disebabkan kecenderungan belajar bagi orang dewasa mengarah pada kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam hidup keseharian, terutama dalam kaitannya dengan tugas dan peranan sosial orang dewasa. Dengan demikian, belajar bagi orang dewasa lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu yang segera.
Orang dewasa juga diasumsikan memiliki kebutuhan terhadap pengetahuan (the need to know). Kecenderungan orang dewasa sebelum mempelajari sesuatu, mereka memandang perlu untuk mengetahui mengapa mereka harus mempelajarinya. Kebutuhan orang dewasa terhadap pengetahuan menunjukkan pentingnya aktivitas belajar sepanjang hayat (life long education).
Dengan alasan kebutuhan, orang dewasa akan mendorong dirinya untuk belajar (learning to learn) sehingga dapat merespon dan menguasai secara cerdas berbagai pengetahuan yang berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan zaman.
Selain itu, orang dewasa diasumsikan pula memiliki motivasi. Dengan kata lain, ‘dewasa’ berarti orang yang memiliki motivasi instrinsik yang dapat bertahan dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar tanpa ada tekanan eksternal, baik dalam bentuk sanksi atau hukuman (punishment) maupun hadiah (reward). Orang dewasa memiliki kebebasan untuk meneruskan aktivitas belajar atau menundanya, demikian pula menghentikan aktivitas lain demi kelangsungan kegiatan belajarnya. Berkenaan dengan hal ini, Nur A. Fadhil Lubis mengatakan bahwa kondisi pembelajaran andragogis harus diwujudkan sedemikian rupa untuk memotivasi peserta didik dewasa merasakan kebutuhan belajar.
Secara fundamental, karakteristik kedewasaan atau kematangan seorang individu yang paling mendasar terletak pada tanggung jawabnya. Ketika individu sudah mulai memiliki kemampuan memikul tanggung jawab, ia sudah dianggap dewasa, karena ia telah sanggup menghadapi kehidupannya sendiri dan mengarahkan dirinya sendiri. Kondisi dewasa matang dapat ditandai oleh kemampuan memenuhi kebutuhannya dan mengidentifikasi kesediaan belajar. Ketika kemampuan belajar seputar masalah kehidupannya menjadi meningkat, maka sikap ketergantungan pada orang lain akan semakin berkurang. Orang dewasa yang memiliki konsep diri matang dapat memikul tanggung jawab kehidupan, menyadari di mana posisi dirinya pada saat itu dan tahu akan ke mana tujuan hidupnya. Di samping itu pula mereka cakap dalam mengambil keputusan dan mampu beradaptasi di masyarakat dan akan mampu mengarahkan dirinya, memilih dan menetapkan pekerjaan yang relevan. Orang dewasa yang betul-betul matang secara psikologis tidak akan menghindar atau lari dari masalah yang dihadapi.
Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif jika potensi yang ada dalam diri mereka digali dan dikembangkan. Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam aktivitas pembelajarannya. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Dengan demikian orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati dan diberi kesempatan untuk mengemukakan kontribusi pemikirannya dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individual. Setiap individu dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut. Dengan adanya peluang untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar, diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih efektif.
Dalam pendidikan orang dewasa, terciptanya proses belajar merupakan proses pengalaman yang ingin diwujudkan oleh setiap individu. Proses pembelajaran bagi orang dewasa dapat memotivasi diri untuk mencari pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi. Setiap individu dewasa dapat belajar secara efektif bila ia mampu menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan pribadinya.
Bagi pembelajar dewasa, faktor pengalaman masa lampau sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang akan dilakukan. Karena itu, pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke arah yang lebih bermanfaat. Di samping itu, pengembangan intelektualitas orang dewasa melalui suatu proses pengalaman secara bertahap dapat diperluas. Pemaksimalan hasil pembelajaran dapat dicapai apabila setiap individu dewasa dapat memperluas jangkauan pola berpikirnya.
Sejatinya pendidikan orang dewasa dapat mengakomodir segala aspek yang dibutuhkan orang dewasa yang terkait dalam aktivitas pembelajaran. Karena itu, idealnya dalam pendidikan orang dewasa dapat dilaksanakan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
- Menciptakan iklim belajar yang cocok untuk orang dewasa;
- Menciptakan struktur organisasi untuk perencanaan yang bersifat partisipatif;
- Mendiagnosis kebutuhan belajar;
- Merumuskan tujuan belajar;
- Mengembangkan rancangan kegiatan belajar;
- Melaksanakan kegiatan belajar;
- Mendiagnosis kembali kebutuhan belajar (evaluasi).