a) Pengertian Etos Kerja
Etos berarti pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
Menurut Anogara (2009), etos kerja merupakan pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Bila individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur bagi eksistensi manusia, maa etos kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi kehidupan, maka etos kerja dengan sendirinya akan rendah.
Setiap orang yang berkerja, harus memiliki kemampuan untuk menumbuhkan etos kerjanya, terlebih dalam ajaran islam, pekerjaan yang dikerjakan, ditekuni, serta diniati untuk kebaikan maka akan bernilai ibadah disisi Allah SWT. Hasil yang diperolehnya dari pekerjaan yang ditekuni juga dapat digunakan sebagai kepentingan ibadah, termasuk mencukupi kebutuhannya dalam kehidupan seharihari, Oleh karena itu, semangat menumbuhkan etos kerja yang Islami menjadi satu keharusan bagi semua pekerja.
Tak terkecuali profesi guru, dalam penerapannya dapat ditunjukkan dari cara pandang guru, sikap, serta semangat guru dalam memahami arti kerja yang sebenarnya. Seorang guru harus bekerja dengan sungguh-sungguh, etos kerja guru dapat dinilai dari kualitas atau hasil pekerjaan yang dicapai guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Toto Tasmara menyebutkan ada 3 hal yang berkaitan dengan indikator etos kerja sebagai seorang Pendidik, yaitu:
- Aktifitas tersebut dilakukan dengan adanya kesenjangan dan perencanaan terlebih dahulu, artinya sebelum seorang guru menyampaikan ilmu pengetahuan dalam proses kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus menyusun perencanaan tersebut sebelum memulai proses pembelajaran, sehingga proses yang dilalui akan sistematis, terprogram, dan dapat dievaluasi.
- Aktifitas tersebut dilakukan dengan dorongan tanggung jawab. Kegiatan yang telah diprogramkan, direncanakan oleh seorang guru hendaknya segera bisa dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, keseriusan, sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.
- Aktifitas itu dilakukan karena adanya tujuan luhur yang secara dinamis memberikan makna bagi dirinya. Seorang guru hendaknya menyadari bahwa pekerjaan yang ditekuni adalah sebagai pekerjaan yang mulia, mencerdaskan generasi penerus bangsa Indonesia, sehingga pelaksanaan tugas ini haruslah didasari dengan niat yang tulus ikhlas, dengan meyakini bahwa yang dikerjakan akan mendatangkan manfaat bagi dirinya.
Dari uraian diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau seseorang terhadap pekerjaan yang dilakukan. motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja.
b) Aspek – Aspek Etos kerja
Kerja menurut Sinamo (2005) dirumuskan menjadi delapan aspek etos kerja yaitu sebagai berikut :
- Kerja adalah rahmat, pekerjaan apapun itu, merupakan rahmat dan anugrah dari Tuhan.
- Kerja adalah amanah, kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
- Kerja adalah panggilan, kerja merupakan suatu darma yang sesuai dengan panggilan jiwa, sehingga kita mampu bekerja dengan penuh keseriusan.
- Kerja adalah aktualisasi, pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat.
- Kerja adalah ibadah, bekerja merupakan bentuk bakti dan ketaqwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
- Kerja adalah seni, kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan hobi.
- Kerja adalah kehormatan, seremeh apapun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan dating kepada kita.
- Kerja adalah pelayanan, manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apapun pekerjaannya bisa dimaknai dengan pengabdian kepada sesama.
c) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja
Setiap guru memiliki etos kerja yang berbeda yang dipengaruhi oleh beberapa faktor baik secara internal maupun eksternal, menurut Anoraga (2014), faktor – faktor yang mempengaruhi etos kerja yaitu :
1) Pekerjaan yang menarik
Apabila seseorang mengerjakan sesuatu dengan perasaan senang bagi dirinya maka hasil pekerjaannya akan lebih memuaskan daripada mengerjakan yang tidak disenangi. Jadi rasa senang dengan suatu pekerjaan juga merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan mutu dari hasil pekerjaan.
2) Kesejahteraan yang baik
Tidak dipungkiri bekerja juga merupakan sumber dari penghasilan, termasuk menjadi seorang guru, pada dasarnya seseorang yang bekerja juga mengharapkan imbalan yang sesuai dengan jenis pekerjaannya. Dengan terpenuhinya kesejahteraan atau dengan kata lain upah yang sesuai, maka akan menimbulkan pula rasa semangat serta produktifitas dalam bekerja.
3) Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan
Dengan terpenuhinya keamaanan dan keselamatan atas pekerjaan yang dilakukan, maka dalam bekerja tidak akan lagi perasaan khawatir atau ragu-ragu.
4) Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan
Apabila seorang pekerja telah memahami fungsinya sebagai seorang pekerja yang sangat penting bagi umum, maka dalam mengerjakan pekerjaanya , akan lebih meningkatkan produktifitas kerjanya.
5) Lingkungan atau suasana kerja yang baik
Lingkungan kerja yang baik akan membawa pengaruh yang baik pula pada segala pihak, baik pada para pekerja, pimpinan pekerja, ataupun pada hasil pekerjaan.
6) Promosi dan perkembangan diri mereka sejalan dengan perkembangan tempat bekerja.
Para pemimpin harus tahu bagaimana menghargai perasaan bawahannya agar tetap menjaga citra, baik di dalam lingkunagn kerja atau diluar lingkungan kerja.
7) Merasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi
Dengan adanya keterlibatan dalam organisasi dimana para pekerja tetap itu bekerja, ia akan merasakan bahwa dirinya benarbenar dibutuhkan dalam lingkungan pekerjaannya, dan akan merasa memiliki tempat ia bekerja.
8) Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi
Seorang pemimpin yang bijaksana akan memperhatikan bawahannya sampai pada urusan pribadinya. Dengan demikian para pekerja merasakan bahwa dirinya diberi perhatian besar oleh pimpinannya. Hal ini mendorong motivasi seorang pekerja agar lebih giat lagi dalam bekerja.
9) Kesetiaan pimpinan pada diri si pekerja
Kesetiaan pimpinan pada bawahannya merupakan dasar rasa kepercayaan pekerja terhadap perusahaan dimana dia bekerja. Dimana seorang pemimpin tidak hanya mengobral janji akan melakukan sesuatu tetapi melaksanakan apa yang telah dijanjikan.
10) Disiplin dan kerja keras
Seorang manusia secara harfiyah memiliki sifat-sifat dasar, seperti sifat egois, kurang mampu menerima masukan, hal ini akan berubah sejalan dnegan proses perjalananan hidupnya. Dalam dunia kerja pun hal tersebut dapat terjadi, sehingga para pekerja biasanya akan merasa enggan akan disiplin kerja yang keras dari tempat ia bekerja, sehingga tidak maksimal dalam melakukan pekerjaan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi etos kerja seseorang. Jika dikaitkan dengan etos kerja Guru Pendidikan Agama Islam di sekolah, maka ada dua aspek esensial dalam menjelaskan faktor-faktor tersebut, yaitu:
- Faktor pertimbangan internal, yang meliputi ajaran yang diyakini atau sistem budaya dan agama, semangat untuk menggali informasi dan menjalin komunikasi.
- Faktor pertimbangan eksternal, yang meliputi pertimbangan histories, termasuk di dalamnya latar belakang pendidikan dan lingkungan alam di mana ia hidup, pertimbangan sosiologis atau sistem sosial di mana hidup; dan pertimbangan lingkungan lainnya, seperti lingkungan kerja seseorang. Menurut Al-Kindi bahwa setiap muslim itu diwajibkan untuk bekerja.
Dalam dunia pendidikan, tidak ada peraturan untuk kepala sekolah mengenai tugas disekolah berkaitan dengan etos kerja secara spesifik, hanya saja kepala sekolah bertanggunjawab atas keterlaksananya kurikulum, pembinaan kesiswaan, pengembangan SDM dan sarana prasarana, serta menciptakan kehidupan islami di sekolah/madrasah.
Pengembangan SDM yang diuraikan diatas juga meliputi bagaimana seorang kepala sekolah bisa mengembangkan sumber daya manusia dalam hal ini guru dan karyawannya untuk bisa memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Etos kerja merupakan sikap yang diambil berdasarkan tanggung jawab moralnya yang meliputi kerja keras, efisiensi, disiplin, tepat waktu serta kerjasama yang baik.