Motivasi Belajar Menurut Para Cendekiawan

Hakikat Motivasi Belajar Menurut Para Cendekiawan

a. Pengertian Motivasi Belajar

Kata “motivasi” adalah hal yang sudah tidak asing lagi dalam pendengaran. Motivasi dianggap sebagai hal penting yang perlu dimiliki manusia untuk mencapai apa yang diinginkannya, seperti dalam belajar. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan. Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita.

Menurut Ngalim Purwanto (2007: 71) motivasi adalah “pendorongan”, suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Vroom yang dikutip Ngalim Purwanto (2007: 72) menyebutkan bahwa motivasi mengacu kepada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikehendaki.

Isbandi Rukminto Adi dikutip Hamzah B. Uno (2011: 3) memberikan pengertian terhadap istilah motivasi:

Motivasi berasal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Dari uraian-uraian di atas terlihat pula bahwa motivasi dapat bersumber dari dalam diri seseorang (siswa) yang berupa kesadaran mengenai pentingnya hal-hal yang dilaksanakan atau dikerjakan. Motivasi seperti itu disebut juga dengan motivasi instrinsik. Akan tetapi ada pula motivasi yang bersumber dari luar diri orang yang bersangkutan yang disebut sebagai motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan kerja yang bersumber dari luar diri seseorang (siswa), yang berupa suatu kondisi yang mengharuskannya melaksanakan suatu pekerjaan secara maksimal.

Menurut Hamzah B. Uno (2011: 23) menyebutkan kaitan antara motivasi dan belajar bahwa:

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Motivasi belajar yang ada pada diri siswa dapat timbul karena adanya faktor instrinsik, antara lain berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-citanya di masa depan. Sedangkan dari faktor ekstrinsiknya antara lain adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Kedua faktor tersebut muncul disebabkan pula oleh adanya rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.

Berdasarkan teori-teori pengertian motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan dan memberikan arah, sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Dalam motivasi belajar sebuah dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka pemenuhan harapan dan dorongan dalam hal ini adalah pencapaian tujuan.

b. Macam-macam Motivasi

Berbicara tentang jenis atau macam motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, diantaranya yaitu: Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
1) Motif-motif bawaan
Motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Contohnya dorongan untuk makan, minum, tidur.
2) Motif-motif yang dipelajari
Motif yang dipelajari adalah motif yang timbul karena dipelajari. Misalnya dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu. Motif ini sering disebut dengan motif yang diisyaratkan secara sosial (Sardiman, 2009: 86)

Jenis pola motivasi yang menonjol menurut David Mc. Clelland yang dikutip Malayu (2007: 145):
1) Achievement motivation, yaitu suatu keinginan untuk mengatasi atau mengalahkan suatu tantangan, untuk kemajuan, dan pertumbuhan.
2) Affiliation motivation, yaitu dorongan untuk melakukan hubungan dengan orang lain.
3) Comperence motivation, yaitu dorongan untuk melakukan pekerjaan yang bermutu.
4) Power motivation, yaitu dorongan yang dapat mengendalikan suatu keadaan. Dalam hal ini ada kecenderungan untuk mengambil resiko dan menghancurkan rintangan yang terjadi.

Sardiman (2009: 88) menyebutkan bahwa contoh dari motivasi jasmaniah dan rohaniah antara lain: Motivasi jasmaniah seperti misalnya refleks, insting, dan sebagainya. Sedangkan motivasi rohaniah adalah kemauan.

c. Bentuk Upaya dalam Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2009: 92) ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan Motivasi Belajar siswa, yaitu:

1) Memberikan angka
2) Hadiah
3) Saingan atau kompetisi
4) Ego-Involvement, menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri.
5) Memberi ulangan
6) Mengetahui hasil
7) Pujian
8) Hukuman
9) Minat
10) Hasrat untuk belajar
11) Tujuan yang diakui

Sedangkan menurut Djamarah (2008: 169) upaya untuk meningkatkan Motivasi Belajar siswa antara lain:

1) Menggairahkan Anak Didik
Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak halhal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar.

2) Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis setiap anak didik di masa lalu. Dengan demikian, guru dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimis, atau terlalu optimis.

3) Memberikan Insentif
Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya) atau keberhasilannya, sehingga anak didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran.

4) Mengarahkan Perilaku Anak Didik
Mengarahkan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini kepada guru dituntut untuk memberikan respon terhadap anak didik di kelas yang tak terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Cara mengarahkan perilaku anak didik adalah dengan memberikan penugasan, bergerak mendekati, memberikan hukuman yang mendidik, menegur dengan sikap lemah dan dengan perkataan yang ramah dan baik.

Peran guru dalam upaya meningkatkan Motivasi Belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 101) antara lain dengan optimalisasi penerapan prinsip belajar, optimalisasi unsur dinamis belajar dan pembelajaran, optimalisasi pemanfaatan pengalaman dan kemampuan siswa, serta pengembangan cita-cita dan aspirasi belajar.

d. Asas-asas Motivasi

Menurut Malayu (2007: 146-147) asas-asas motivasi diantaranya, yaitu:
1) Asas Mengikutsertakan
Asas mengikutsertakan maksudnya mengajak siswa untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka mengajukan ide-ide, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan cara ini, seseorang (siswa) merasa ikut bertanggung jawab atas tercapainya tujuan perusahaan sehingga moral dan gairah kerja akan meningkat.

2) Asas Komunikasi
Asas komunikasi yaitu menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang dicapai, cara mengerjakannya, dan kendala yang dihadapi. Dengan asas komunikasi, motivasi kerja seseorang akan meningkat, sebab seseorang akan merasa dihargai dan akan lebih giat bekerja.

3) Asas pengakuan
Asas pengakuan yaitu memberikan penghargaan dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada seseorang atas prestasi kerja yang dicapainya. Siswa akan bekerja keras dan semakin rajin, jika mereka terus-menerus mendapat pengakuan dan kepuasan dari usaha-usahanya. Dalam memberikan pengakuan atau pujian kepada siswa hendaknya dijelaskan bahwa dia patut menerima penghargaan itu, karena prestasi kerja atau jasa-jasa yang diberikannya. Pengakuan dan pujian harus diberikan dengan ikhlas di hadapan umum supaya nilai pengakuan atau pujian itu semakin besar.

4) Asas Wewenang yang Didelegasikan
Asas wewenang yang didelegasikan yaitu mendelegasikan sebagian wewenang serta kebebasan siswa untuk mngambil keputusan dan berkreativitas dan melaksanakan tugas-tugas guru. Dalam pendelegasian ini, guru harus meyakinkan bahwa siswa mampu dan dipercayai dapat menyelesaikan tugas-tugas itu dengan baik. Asas ini akan memotivasi moral atau gairah bekerja siswa sehingga semakin tinggi dan antusias.

5) Asas Perhatian Timbal Balik
Asas perhatian timbal balik adalah memotivasi siswa dengan mengemukakan keinginan atau harapan guru dan pihak sekolah di samping berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan siswa dari sekolah. Misalnya, guru meminta agar siswa meningkatkan prestasi belajarnya sehingga sekolah memperoleh peringkat yang baik. Apabila peringkatnya baik, maka akan banyak siswa yang mendaftar dan siswa mendapat penilaian yang bagus. Jadi ada perhatian timbal balik untuk memenuhi keinginan semua pihak. Dengan asas motivasi ini diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.

e. Fungsi Motivasi Belajar

Dalam proses belajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, maka tidak mungkin dapat melaksanakan kegiatan belajar, karena motivasi belajar menentukan sedikit banyaknya kegiatan belajar yang dilakukan siswa.

Menurut Oemar Hamalik (2009: 156) “Memotivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar”. Oleh karena itu prinsip-prinsip penggerakan motivasi belajar sangat erat kaitannya dengan prinsip-prinsip belajar itu sendiri.

Menurut Sardiman (2009: 85) ada tiga fungsi motivasi:
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.
2) Menentukan arah perbuatan, yaitu kearah tujuan yang hendak dicapai.
3) Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatanperbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan tujuan-tujuan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Menurut Ngalim Purwanto (2007: 70) fungsi motivasi antara lain:
1) Motif itu mendorong manusia untuk berbuat/bertindak. Motif itu berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas.
2) Motif itu menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh.
3) Motif itu menyeleksi perbuatan kita. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan itu.

f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 97) ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar, diantaranya:
1) Cita-cita dan aspirasi siswa
2) Kemampuan siswa
3) Kondisi siswa
4) Kondisi lingkungan belajar
5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
6) Upaya guru dalam membelajarkan siswa

Hamzah B. Uno (2011: 23) menyatakan pada umumnya terdapat beberapa indikator atau unsur yang mendukung motivasi belajar antara lain:

Adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan adanya lingkungan yang kondusif sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.

Pada bagian jenis-jenis motivasi yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil sebuah pemahaman tentang faktorfaktor yang mempengaruhi motivasi belajar, salah satunya dilihat dari sumbernya, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar (kondisi siswa), karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik adalah motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.

Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar, baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan semangat belajar. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar, sehingga terdorong untuk melakukan kegiatan belajar.

g. Indikator Motivasi Belajar

Hakikat Motivasi Belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Menurut Sardiman (2009: 83) beberapa unsur yang mendukung Motivasi Belajar antara lain sebagai berikut:

1) Tekun menghadapi tugas
2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak cepat putus asa)
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah
4) Lebih senang bekerja mandiri
5) Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin
6) Dapat mempertahankan pendapatnya
7) Tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini
8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal

Sumber Bacaan

Hamzah B. Uno. (2011). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Malayu S.P. Hasibuan. (2010). Organisasi & Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara.

Muchlas Samani dan Hariyanto. (2013). Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa. (2013). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ngalim Purwanto. (2007). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. (2010). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sardiman A.M. (2009). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Wina Sanjaya. (2013). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Banyak yang baca