Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang semoga diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Menurut pandangan Paula Freire pendidikan adalah proses pengaderan dengan hakikat tujuannya adalah pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri.
Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh nilainilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.Maka hakikat pendidikan dapat dirumuskan sebagi berikut :
- Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik;
- Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat;
- Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat;
- Pendidikan berlangsung seumur hidup;Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.
Pendidikan secara semantik menunjukkan pada suatu kegiatan atau proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada orang lain . Pengertian tersebut belum menunjukkan adanya program, sistem, dan metoda yang lazimnya digunakan dalam melakukan pendidikan atau pengajaran. Pendidikan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin , karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan antara ranah-ranaha tersebut.
Pendidikan ada seiring dengan sejarah adanya manusia. karena pada dasarnya pendidikan adalah upaya alami mempertahankan kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan. Secara alamiah sejak pertama manusia yang berstatus orang tua akan mendidik anaknya agar bertahan hidup sehingga kehidupannya dan keturunannya terus berlangsung. Nabi Adam sebagai manusia pertama mendidik qabil dan habil untuk bercocok tanam dan beternak. Demikian juga dengan manusia-manusia berikutnya, baik manusia-manusia yang berkumpul dalam komunitas masyarakat primitif hingga modern.
Pendapat lain menyatakan bahwa, “pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Dengan demikian bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan.”. Mengutip pendapat ahli yaitu, “Ki Hajar Dewantoro mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupakn anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.” . Serta dalam bukunya “Landasan Kependidikan” Made Pidarta menyimpulkan bahwa, “mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkat hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia.”
Dari beberapa pernyataan tersebut, masih menyimpulkan makna atau hakikat pendidikan secara umum dari sudut pandang sejarah peradaban manusia sejak awal. Lebih lanjut, seiring dengan perkembangan peradaban manusia hingga pada masa manusia modern maka pendidikan menjadi lebih terorganisir dari yang awalnya sebatas individual orang tua mendidik anak ataupun masyarakat melestarikan budayanya.
Definisi lebih spesifik dalam arti pendidikan di sekolah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa, “pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan, masyarakat, bangsa dan negara.”
Dari beberapa pendapat yang mendefinisikan pendidikan secara lintas masa tersebut, dapat disimpulkan bahwa hakikat pendidikan pada dasarnya adalah upaya manusia untuk mempertahankan keberlanjutan kehidupannya yang tidak hanya keberlanjutan keberadaan fisik atau raganya akan tetapi juga keberlanjutan kualitas jiwa dan peradabannya dalam arti terjadi peningkatan kualitas budayanya, baik melalui pendidikan yang dilaksanakan secara alami oleh orang tua kepada anak atau masyarakat kepada generasinya hingga pendidikan yang yang diselenggarakan oleh organisasi-organisasi pendidikan yang lebih mudah dikenal dengan istilah sekolah, baik formal maupun non formal. Sehingga pendidikan itu berlangsung seumur hidup atau lebih dikenal dengan sebutan long-life education.
Kesimpulan ini, sesuai pendapat Prof. Richy dalam buku “Planing for Teaching and Introduction to Education” yang menyatakan bahwa: Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu bangsa (masyarakat) terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penuaian kewajiban dan tanggungjwabnya di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktifitas sosial yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang kompleks dan modern. Fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan formal di luar sekolah.
Manusia sebagai makhluk yang memliki potensi-potensi (intelektual, rasa. karsa, karya dan religi) dalam dirinya untuk bisa tumbuh dan berekembang baik fisik maupun non fisik sangat membutuhkan pendidikan agar potensipotensi tersebut dapat terealisasi. Pendidkan pada intinya untuk membantu manusia menjadi ‘dewasa’ dan matang secara pribadi sehingga mereka betul tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul secara individu yang secara akumulatif akan membentuk formasi kehidupan sosial bermasyarakat yang unggul pula berbasis pada tata susila secara baik. Jadi antara manusia dan pendidikan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan untuk saling menyempurnakan. Belajar hakikat manusia untuk menyempurnakan proses pendidikan dan belajar hakikat pendidikan untuk menyempurnakan manusia.
Sebagai pribadi kita perlu lebih memahami siapa kita, apa dan siapa manusia itu. Kita perlu lebih banyak belajar agar hidup kita bisa lebih berkualitas sebagai seorang manusia. Selanjutnya sebagai guru atau insan pendidikan kita wajib memiliki dan mengaktualisasikan kegelisahan-kegelisahan intelektual dan profesi guru atas ketimpangan kondisi ideal dan realita pendidikan dengan senantiasa menggali tahu hakikat pendidikan dan tujuan pendidikan agar dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita tidak asal-asalan apa lagi menyimpang dari yang seharusnya sehingga dari rahim pendidikan kita akan terlahir generasi-generasi dengan pondasi spiritual, intelektual, mental dan moral yang kokoh guna menahkodai membawa arah kapal negeri ini menuju masa depan yang baldatun thoyyibatun wa rabbun gafuur.
Sumber Bacaan
Lloyd Yen, Yudith.(2002). Teaching in Mind How Teacher Thingking Shapes Education. Hamilton
Orr, David. (1996). What Is Education For?. Context Institute.
Ayers Schlosser, Lee. Distance Education and Glossary of Terms. Paperback, 30 Mei 2006
Nata Abuddin Prof.Dr.(2005) Filsafat Pendidikan Islam ; Gaya Media Pratama Jakarta