a. Pengertian Karakter
Berbicara karakter, maka berbicara pula terkait sifat dan sikap seseorang. Karakter merupakan segala sesuatu yang melekat pada diri seseorang yang menjadikan ciri khas pada seseorang tersebut. Muchlas Samani dan Hariyanto (2013: 43) memberikan makna terhadap karakter:
Karakter sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakan dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Helen G. Douglas dikutip Muchlas Samani dan Hariyanto (2013: 41) karakter tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan. Selain itu menurut S.M. Dumadi dikutip Sutarjo Adisusilo (2014: 76) karakter atau watak itu sebuah stempel atau cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang. Lebih lanjut Sutarjo Adisusilo (2014: 78) menjelaskan bahwa watak seseorang dapat dibentuk, dapat dikembangkan dengan pendidikan nilai.
Dari beberapa pengertian terkait karakter yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter adalah sikap dan sifat seseorang yang melekat pada diri pribadinya yang dapat dibentuk atau dibangun dan tercermin dalam pola pikir dan pola tingkah laku.
b. Pengertian Generasi Z
Pada teori generasi dari awal keberadaannya dikenal oleh masyarakat sampai saat ini ada sebanyak lima generasi, yaitu:
1) Generasi Baby Boomer
Generasi ini merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 1946 sampai dengan tahun 1964.
2) Generasi X
Generasi ini merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 1965 sampai dengan tahun 1980.
3) Generasi Y
Generasi ini merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1994.
4) Generasi Z
Generasi ini merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2010.
5) Generasi Alpha
Generasi ini merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025.
Lebih mengerucut pada pembahasan terkait Generasi Z. Generasi Z disebut juga dengan iGeneration, Generasi Net atau Generasi Internet adalah mereka yang hidup pada masa digital. Seorang Psikolog, Elizabeth T. Santosa (2015: xxiii) dalam bukunya yang berjudul Raising Children in Digital Era menyebutkan bahwa:
Generasi Net adalah generasi yang lahir setelah tahun 1995, atau lebih tepatnya setelah tahun 2000. Generasi ini lahir saat internet mulai masuk dan berkembang pesat dalam kehidupan manusia. Generasi ini tidak mengenal masa saat telepon genggam belum diproduksi, saat mayoritas mainan sehari-hari masih tradisional.
Hellen Chou P. (2012: 35) memberikan pengertian terhadap istilah generasi Z:
Generasi Z atau yang kemudian banyak dikenal dengan generasi digital merupakan generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan sebuah ketergantungan yang besar pada teknologi digital.
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Hellen Chou P. Tersebut maka tidak mengherankan apabila pada usia muda, orangorang yang notabene masih berstatus sebagai siswa telah terampil dalam penguasaan teknologi. Generasi Z memiliki karakteristik yang khas dimana internet mulai berkembang dan tumbuh sejalan dengan perkembangan media digital. Adanya Generasi Z tersebut lahir silabus.web.id dari perpaduan dua generasi sebelumnya yaitu Generasi X dan Generasi Y. Orang-orang pada masa silabus.web.id Generasi ini adalah mereka yang dilahirkan dan dibesarkan pada era digital, dimana beranekamacam teknologi telah berkembang semakin banyak dan canggih, seperti telah adanya perangkat keras elektronik berupa: komputer atau laptop, hand phone, iPad, MP3, MP4, dan lain sebagainya.
Kemudian banyak bermunculan pula aplikasi-aplikasi yang modern dan cenderung bersifat maya, seperti: SMS, BBM, Facebook, Twitter, Whatsapp, dan lain sebagainya.
Orang-orang yang termasuk dalam Generasi Z sejak dini sudah mengenal atau mungkin bisa juga diperkenalkan dan terbiasa dengan berbagai macam dan bentuk gadgets serta aplikasi yang canggih tersebut. Hal ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku, kepribadian, bahkan pada pendidikan dan hasil belajarnya pula bagi mereka yang masih berstatus sebagai siswa. Disamping keunggulan anakanak generasi Z terdapat kelemahan, misalnya mereka biasanya kurang terampil dalam komunikasi verbal. Generasi Z kurang menyukai proses, mereka pada umumnya kurang sabar dan menyukai hal-hal yang serba instan.
c. Karakteristik Generasi Z
Menurut Akhmad Sudrajat, Generasi Z memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda apabila dipandang dari dua generasi sebelumnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa karakteristik umum Generasi Z diantaranya adalah:
1. Fasih Teknologi
Orang-orang yang termasuk pada Generasi Z adalah mereka yang disebut dengan Generasi Digital, dimana mereka merupakan orang yang mahir dan terbiasa dengan penggunaan teknologi informasi termasuk berbagai fasilitas dan aplikasi komputer atau laptop. Segala informasi yang dibutuhkan dapat dengan mudah dan cepat diakses demi kepentingan hidup sehari-hari maupun kepentingan pendidikan.
2. Sosial
Orang Generasi Z merupakan orang-orang yang memiliki kecenderungan waktu yang lebih lama untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang diberbagai kalangan, tidak hanya teman sebaya namun juga orang lain yang lebih muda atau bahkan lebih tua melalui berbagai situs jejaring sosial seperti: Facebook, Twitter, SMS, BBM, dan lain sebagainya. Bahkan tidak cukup hanya bersosialisasi dengan orang-orang atau teman satu daerah atau negara, tetapi juga lintas daerah dan lintas negara. Generasi Z ini juga lebih cenderung memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan budaya dan lingkungan.
3. Multitasking
Orang Generasi Z terbiasa untuk melakukan pelbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka lebih menginginkan segala sesuatu dapat dilakukan dengan cepat, dan sangat menghindari hal-hal yang terlalu lambat atau terbelit-belit.
Karakteristik yang telah dijelaskan diatas memiliki dua sisi yang berlawanan, yakni bisa dipandang sebagai hal yang positif dalam arti mampu memberikan manfaat bagi orang-orang Generasi Z sendiri beserta lingkungannya. Atau justeru malah sebaliknya dipandang sebagai hal yang negatif dalam arti malah memberikan dampak merugikan bagi orang-orang Generasi Z sendiri beserta lingkungannya.
d. Implikasi Generasi Z terhadap Pendidikan
Dengan hadirnya Generasi Z yang memiliki karakteristik seperti yang telah dijelaskan di atas, membawa implikasi atau dampak tersendiri terhadap pendidikan, yaitu:
1) Sebagai orang tua, guru, konselor atau pendidik lainnya seyogyanya dapat memberikan bimbingan dan memfasilitasi anak, agar mereka terutama yang termasuk dalam Generasi Z silabus.web.id dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan zamannya serta dapat memanfaatkan kehadiran teknologi secara tepat dan benar. Bukan kemudian melarang mereka untuk menjadi seperti generasinya, namun yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat berusaha dan berupaya agar dapat hidup secara aturan silabus.web.id yang tepat dan benar.
2) Anak yang termasuk dalam Generasi Z lebih menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan. Berkaitan dengan penggunaan metode pembelajaran, guru juga harus mampu mengakomodasi kecenderungan dalam mereka belajar.
3) Dalam mengakomodasi kecenderungan anak Generasi Z dimana mereka suka dengan aktifitas bersosialisasi di dunia maya, maka tidak salah jika kemudian guru dapat memanfaatkan pelbagai media sosial untuk sarana belajar siswa. Seperti dengan membuat forum diskusi melalui facebook, e-mail, atau bahkan suatu saat nanti dimunculkan gagasan tentang twitter untuk pendidikan. Keseluruhan itu tadi merupakan upaya untuk memanfaatkan teknologi yang ada untuk kepentingan pendidikan.
e. Perlakuan untuk Karakteristik Generasi Z
Perlakuan terhadap anak akan lebih tepat apabila disesuaikan dengan karakteristik anak itu sendiri. Sebagai sebuah generasi yang unik, maka diperlukan perlakuan yang tepat. Al. Tridhonanto & Beranda Agency (2014: 77) memberikan beberapa cara dalam memperlakukan anak sesuai dengan karakteristiknya, seperti:
1) Pemberian penghargaan (rewards)
Pemberian penghargaan kepada anak bisa dalam bentuk mainan, uang, makanan, dan lainnya. Penghargaan bukan untuk mengubah perilaku anak tetapi untuk menghargai hasil karya anak.
2) Membiasakan disiplin
Disiplin pada anak bertujuan agar anak dapat memiliki kontrol terhadap dirinya dengan menanamkan kepercayaan diri.
3) Time-out
Time-out adalah proses bagi anak untuk menenangkan diri dan menyadari kesalahannya. Time-out bukan hukuman, namun memberi waktu dan kesempatan pada anak untuk memperoleh kontrol atas perilakunya.
4) Role Modeling
Anak belajar dari mengamati tingkah laku, perbuatan, pandangan, pemikiran, cara berkomunikasi dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Sehingga perlu memberikan contoh perilaku dan tindakan positif.
5) Encouragement
Adanya dorongan semangat untuk memperoleh perilaku positif pada anak.
6) Attention Ignore
Langkah ini memfokuskan pada perbuatan baik yang dilakukan oleh anak sehingga anak akan mengulangi perbuatan tersebut dan mengabaikan perilaku buruk dan tidak akan melakukannya lagi.
f. Indikator Generasi Z
Setiap populasi generasi yang muncul umumnya dalam kurun setiap lima belas sampai delapan belas tahun terakhir memiliki indikator demografik yang berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya. Pengelompokan pada silabus.web.id setiap generasi ini disebut dengan cohort. Indikator pada setiap generasi meliputi perbedaan kepercayaan, keyakinan, karier, keseimbangan kerja, keluarga, peran gender, dan lingkungan pekerjaan.
Elizabeth T. Santosa ( 2015: 20) menyebutkan beberapa indikator anak-anak yang termasuk dalam Generasi Z atau Generasi Net:
1) Memiliki ambisi besar untuk sukses
Anak zaman sekarang cenderung memiliki karakter yang positif dan optimis dalam menggapai mimpi mereka.
2) Cenderung praktis dan berperilaku instan (speed)
Anak-anak di era generasi Z menyukai pemecahan masalah yang praktis. Mereka tidak menyukai berlama-lama meluangkan proses panjang mencermati suatu masalah. Hal ini disebabkan anak-anak ini lahir dalam dunia yang serba instan.
3) Cinta kebebasan dan memiliki percaya diri tinggi
Generasi ini sangat menyukai kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berkreasi, kebebasan berekspresi, dan lain sebagainya. Mereka lahir di dunia yang modern, dimana sebagian besar dari mereka tidak menyukai pelajaran yang bersifat menghafal. Mereka lebih menyukai pelajaran yang bersifat eksplorasi. Anak-anak pada generasi ini mayoritas memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka memiliki sikap optimis dalam banyak hal.
4) Cenderung menyukai hal yang detail
Generasi ini termasuk dalam generasi yang kritis dalam berpikir, dan detail dalam mencermati suatu permasalahan atau fenomena. Hal ini disebabkan karena mudahnya mencari informasi semudah mengklik tombol search engine.
5) Berkeinginan besar untuk mendapatkan pengakuan
Setiap orang pada dasarnya memiliki keinginan agar diakui atas kerja keras, usaha, kompetensi yang telah didedikasikannya. Terlebih generasi ini cenderung ingin diberikan pengakuan dalam bentuk reward (pujian, hadiah, sertifikat, atau penghargaan), karena kemampuan dan eksistensinya sebagai individu yang unik.
6) Digital dan teknologi informasi
Sesuai dengan namanya, generasi Z atau generasi Net lahir saat dunia digital mulai merambah dan berkembang pesat di dunia. Generasi ini sangat mahir dalam menggunakan segala macam gadget yang ada, dan menggunakan teknologi dalam keseluruhan aspek serta fungsi sehari-hari. Anak-anak pada generasi ini lebih memilih berkomunikasi melalui dunia maya, media sosial daripada menghabiskan waktu bertatap muka dengan orang lain.
Sumber Bacaan
Samani, Muchlas, Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter.
Bandung Remaja Rosdakarya.
Adisusilo, J.R.. Sutarjo. 2014. Pembelajaran Nilai-Karakter: Kontruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Chou, Hellen P. 2012. Cyber Smart Parenting. Jakarta: PT Visi Anugerah Indonesia.
Tridhonanto & Beranda Agency.2014 Pengembangkan Pola Asuh Demokratis. Jakarta PT. Gramedia
Santosa, Elizabeth T. 2015. Raising Children in Digital Era. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Lihat Komentar (6)
isinya bagus, namun sayangnya tidak terdapat nama penulis artikel ini, dan juga tanggal artikel ini dibuat..
padahal kalau kedua informasi itu tercantum, artikel ini bisa dijadikan referensi untuk karya tulis ilmiah :(
Samani, Muchlas, Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter.
Bandung Remaja Rosdakarya.
Adisusilo, J.R.. Sutarjo. 2014. Pembelajaran Nilai-Karakter: Kontruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Chou, Hellen P. 2012. Cyber Smart Parenting. Jakarta: PT Visi Anugerah Indonesia.
Tridhonanto & Beranda Agency.2014 Pengembangkan Pola Asuh Demokratis. Jakarta PT. Gramedia
Santosa, Elizabeth T. 2015. Raising Children in Digital Era. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
ini debut tahun berapa ya? soalnya untuk sumber penelitian.
Diterbitkan pada: Mei 21, 2018 pukul 15:57
Anak SMA di sosmed kelakuan nya gak ngotak bikin pesimis aja jadi tinggalkanlah sosmed dan beralihlah ke melamun:)
kawula muda kok melamun olahraga kek, dari pada ngangkrem pegang smartphone mulu tak tahunya ngobrol sama robot pembalas chat