Keuntungan Pengajaran Modul Bagi Siswa dan Guru Modul yang disusun dengan baik dapat memberikan banyak keuntungan bagi pelajar. Berikut adalah keuntungan pengajaran modul bagi siswa menurut S. Nasution (2003: 206-209):
1) Modul memberikan umpan balik (feedback)
Modul memberikan feedback yang banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui taraf hasil belajarnya. Kesalahan segera dapat diperbaiki dan tidak dibiarkan bagitu saja seperti halnya dengan pengajaran tradisional. Ulangan sering hanya diberikan beberapa kali dalam satu semester.
2) Penguasaan tuntas atau mastery
Pengajaran modul tidak menggunakan kurva normal sebagai dasar distribusi angka-angka. Setiap siswa mendapat kesempatan untuk mencapai angka tertinggi dengan menguasai bahan pelajaran secara tuntas. Dengan penguasaan bahwa itu sepenuhnya ia memperoleh dasar yang mantap untuk menghadapi pelajaran baru.
Kelemahan pengajaran non-modul yang tradisional ialah bahwa penguasaan kebanyakan anak atas bahan pelajaran hanya tanggung-tanggung dan jarang tuntas.
3) Tujuan
Modul disusun sedemikian rupa sehingga tujuannya jelas, spesifik dan dapat dicapai oleh murid. Dengan tujuan yang jelas usaha murid terarah untuk mencapainya dengan segera.
4) Motivasi
Pengajaran yang membimbing siswa untuk mencapai sukses melalui langkah-langkah yang teratur akan menimbulkan motivasi yang kuat untuk berusaha segiat-giatnya
5) Fleksibilitas
Pengajaran modul dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa antara lain mengenai kecepatan belajar, cara belajar, dan bahan ajar.
6) Kerjasama
Pengajaran modul mengurangi atau menghilangkan sedapat mungkin rasa persaingan di kalangan siswa oleh sebab semua dapat mencapai hasil tertinggi. Mereka tidak bersaing untuk mencapai ranking tertinggi karena tidak digunakannya kurva normal dalam penentuan angka. Juga kerjasama antara murid dengan guru dikembangkan karena kedua belah pihak merasa sama bertanggung jawab atas keberhasilannya pengajaran.
7) Pengajaran remedial
Pengajaran modul dengan sengaja member kesempatan untuk pelajaran remedial yakni memperbaiki kelemahan, kesalahan atau kekurangan murid yang segera dapat ditemukan sendiri oleh murid berdasarkan evaluasi yang diberikan secara kontinu. Murid tak perlu mengulangi pelajaran itu seluruhnya akan tetapi hanya berkenaan dengan kekurangannya itu.
Bagi tenaga pengajar (guru), pengajaran modul juga mempunyai sejumlah keuntungan antara lain:
1. Rasa kepuasan
Modul disusun dengan cermat sehingga memudahkan siswa belajar untuk menguasai bahan pelajaran menurut metode yang sesuai bagi murid yang berbeda-beda. Maka karena itu hasil belajar yang baik bagi semua murid lebih terjamin. Kesuksesan yang dicapai oleh siswa akan memberi rasa kepuasan yang lebih besar kepada guru yang merasa bahwa ia telah melakukan profesionalnya dengan baik.
2. Bantuan Individual
Pengajaran modul member kesempatan yang lebih besar dan waktu yang lebih banyak kepada guru untuk memberikan bantuan dan perhatian individual kepada setiap murid membutuhkannya, tanpa mengganggu atau melibatkan seluruh kelas.
3. Pengayaan
Guru juga mendapatkan waktu yang lebih banyak untuk memberi ceramah atau pelajaran tambahan bagi pengayaan.
4. Kebebasan dari rutinitas
Pengajaran modul membebaskan guru dari rutinitas yang membelenggunya selama ini. Ia membebaskan dari persiapan pelajaran karena seluruhnya telah disediakan oleh modul. Ia juga bebas dari rutinitas administrasi karena dapat dilakukan oleh petugas non professional dan oleh siswa.
5. Mencegah Kemubasiran
Modul adalah satuan pelajaran yang berdiri sendiri mengenai topik tertentu dan dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran atau matakuliah. Dengan demikian, modul itu dapat digunakan oleh berbagai sekolah, fakultas, atau jurusan dank arena itu tidak perlu disusun kembali oleh pihak yang memerlukannya. Ini berarti penghematan waktu. Sekolah dan perguruan tinggi dapat saling bertukar modul.
6. Meningkatkan Profesi Keguruan
Pengajaran Modul menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai proses belajar itu sendiri. Bagaimanakah murid belajar? Bagaimanakah guru meningkatkan proses belajar? Bagaimanakah langkah-langkah dalam belajar? Pertanyaan-pertanyaan serupa itu merangsang guru untuk berpikir dan dengan demikian, mendorongnya berikap lebih ilmiah tentang profesinya. Ia juga akan lebih terbuka bagi saran-saran dari pihak siswa untuk memperbaiki modul atau menggunakannya dalam penyusunan modul baru.
7. Evaluasi Formatif
Bahan pelajaran tradisional, antara lain: dalam bentuk buku pelajaran, biasanya menyajikan bahan itu dalam bagian-bagian yang besar atau luas, misalnya bab demi bab. Dengan demikian, sulit diketahui sampai manakah pemahaman murid dalam mengikuti pelajaran itu. Karena itu, tidak mungkin memperbaiki pelajaran itu berdasarkan hasil belajar murid. Sebaiknya modul hanya meliputi bahan pelajaran yang terbatas dan dapat dicobakan pada murid yang kecil jumlahnya dalam taraf pengembangannya. Dengan mengadakan pretest dan post-test dapat dinilai taraf hasil belajar murid dengan cara demikian mengetahui efektivitas bahan itu.
Referensi
Nasution, S. (2003). Pengajaran modul: Strategi belajar tuntas. Jakarta: PT Gramedia.
Lihat Komentar (3)
Bisakah Anda menambahkan tautan ke sumber S. Nasution (2003: 206-209)
S. Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
terima kasih