Anak Terlahir Dengan Kombinasi Delapan Inteligensi

Anak Terlahir Dengan Kombinasi Delapan Inteligensi

Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak usia dini sebagai persiapan untuk kelangsungan hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pembelajaran bagi anak usia dini bukan berorientasi pada sisi akademis saja. Pendidikan Anak Usia Dini lebih dititikberatkan kepada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan seluruh kecerdasan. Howard Gardner dari Universitas Harvard mengembangkan teori yang menyatakan bahwa setiap anak terlahir dengan kombinasi delapan inteligensi yang paling dikuasainya yang meliputi:

  1. Menanamkan dan mengembangkan keimanan dan ketakwaan (keTuhanan) anak. Setiap keluarga sebagai pemeluk suatu agama biasanya mengidamkan anaknya kelak menjadi anak yang baik, patuh pada agama, orang tua, dan masyarakat. Harapan orang tua ini tentunya dapat pula diminta atau diarahkan pada pendidik (selain pendidik agama khusus). Pendidik yang menyadari akan perlunya pengembangan keimanan dan ketakwaan anak akan berusaha semampunya untuk memenuhi harapan orang tua tersebut, dengan membimbing anak agar mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.
  2. Salah satu tujuan pendidik adalah menanamkan sikap disiplin. Kedisiplinan merupakan kesiapan mental dan tindakan untuk selalu melaksanakan segala bentuk kegiatan dengan tepat waktu, tepat guna dan tepat suasana. Mendidik dengan kedisiplinan dapat membantu anak untuk selalu hidup teratur, misalnya kapan saatnya mandi pagi, berangkat beraktivitas dengan teman sebayanya, tidur/istirahat dan sebagainya. Pendidik harus menyadari adanya tujuan seperti ini dalam mendidik maka langkah pertama dalam melaksanakan tugasnya adalah mengatur jadwal kegiatan anak, jika mungkin juga melibatkan anak sehingga anak merasa memiliki dan dilibatkan dalam mengatur jadwal kegiatan.
  3. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (panca indera). Meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn). Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma baru dunia pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together yang dalam implementasinya di lembaga PAUD dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta menumbuhkembangkan keterampilan hidup (life skills) sederhana sedini mungkin.
  4. Meningkatkan kecakapan anak yang merupakan kesanggupan anak untuk menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan fisik dan mental. Anak yang cakap adalah anak yang mampu berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab dan akibat. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
  5. Proses mendidik juga mempunyai tujuan untuk melatih dan mengembangkan kepekaan (sensitivitas) anak terhadap sesuatu. Kepekaan merupakan suatu kesanggupan dan kesediaan anak untuk memikirkan, merasakan dan melakukan sesuatu yang sepantasnya. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat dan menghargai keragaman sosial dan budaya. Serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki. Menumbuh kembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan agar mampu menolong diri sendiri (self help), yaitu mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri seperti mampu merawat dan menjaga kondisi fisiknya, mampu mengendalikan emosinya dan mampu membangun hubungan dengan orang lain. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan serta menghargai hasil karya yang kreatif.
Banyak yang baca