Karakter ialah perilaku nilai-nilai manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang maha Esa, sesama manusia, lingkungan, diri sendiri, dan kebangsaan yang terwujud didalam adat istiadat, budaya, tata karma, hokum, pemikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama.
Lickona mengatakan bahwa karakter pendidikan ialah suatu upaya yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga seseorang tersebut dapat melakukan nilai-nilai etika yang inti, memperhatikan dan memahaminya. Karakter pendidikan, membutuhkan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan bisa tercapai, Diantaranya metode pembelajaran yang sudah sesuai ialah metode pujian dan hukuman, metode pembiasaan, dan metode keteladanan.
Karakter yang mutlak dibutuhkan bukan hanya di lingkungan sekolah saja, tetapi di lingkungan sosial dan juga di lingkungan rumah. Bahkan sekarang ini pesertanya bukan lagi anak usia dini hingga remaja, yapi juga meliputi usia dewasa. Di zaman ini kita akan berhadapan dengan persaingan termasuk rekan-rekan diberbagai belahan negara di dunia. Bahkan kita pun yang masih berkarya di tahun ini pasti akan merasa perasaan yang sama. Tuntutan dari berbagai kualitas SDM pada tahun 2021 mendatang tentunya akan membutuhkan karakter yang baik. Karakter merupakan kunci dari salah satu keberhasilan individu. Berdasarkan penelitian bahwa 80% keberhasilan untuk seseorang di masyarakat ditentukan oleh (EQ). Karakter pendidikan telah menjadi pusat perhatian di berbagai belahan dunia dalam rangka menyiapkan generasi yang baik, tidak hanya untuk kepentingan individu warga negaranya saja tetapi untuk keseluruhan warga masyarakat. Pendidikan karakter bisa diartikan sebagai usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membentu pembentukan karakter secara optimal.
Pembentukan ialah bagian dari pendidikan nilai melalui sekolah yang merupakan usaha mulia yang mendesak harus dilakukan. Ada 18 poin nilai-nilai karakter pendidikan: tanggungjawab, Peduli sosial, Peduli lingkungan, Gemar membaca, Cinta Damai, Bersahabat/Komunikatif, Menghargai prestasi, Cinta tanah air.
Semangat kebangsaan, Rasa ingin tahu, Demokratis, Toleransi, Jujur, Disiplin, kreatif, Kerja keras, Religius, Mandiri. Pembentukan karakter merupakan bagian dari pendidikan nilai (values education) melalui sekolah merupakan usaha mulia yang mendesak untuk dilakukan. Bahkan, kalau kita berbicara tentang masa depan, sekolah bertanggungjawab bukan hanya dalam mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam jati diri, karakter dan kepribadian. Dan hal ini relevan dan kontekstual bukan hanya di negara-negara yang tengah mengalami krisis watak seperti Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara maju sekalipun (Fraenkel 1977: 2).
Karakter pendidikan sekarang ini juga berarti melakukan usaha yang sungguh-sungguh, sistematik dan tentunya berkelanjutan untuk membangun dan menguatkan kesadaran pada keyakinan semua orang di Indonesia bahwa masa depan yang lebih baik akan hilang tanpa dibangunnya dan dikuatkannya karakter rakyat Indonesia. Seperti halnya, tidak aka nada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kegigihan, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kejujuran, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa mengembangkan rasa tanggungjawab, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, dan serta tanpa optimisme. Untuk mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat. Sekolah juga berperan untuk membentuk karakter seorang anak.
Pendidikan karakter merupakan langkah sangat penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri bangsa dan menggalang pembentukan masyarakat Indonesia baru. Tetapi penting untuk segara dikemukakan sebagaimana terlihat dalam pernyataan Phillips bahwa pendidikan karakter haruslah melibatkan semua pihak; rumah tangga dan keluarga; sekolah; dan lingkungan sekolah lebih luas (masyarakat). Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan dan educational networks yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini. Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara ketiga lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan harmonisasi.
Penguatan pendidikan moral ataupun pendidikan karakter yang ada dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sudah melanda di negara kita. Krisis tersebut berupa banyaknya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan terhadap anak-anak dan remaja, pencurian remaja, kejahatan terhadap teman, kebiasaan menyontek, pornografi, penyalahgunaan obat-obatan, dan perusakan milik orang lain yang yelah menjadi masalah social sehingga pada saat ini belum bisa diatasi secara tuntas. Oleh karena itu betapa sangat pentingnya karakter pada pendidikan.
Para ahli pendidikan karakter melihat proses internalisasi nilai dalam pembelajaran, termasuk internalisasi pendidikan karakter di Madrasah pada dua pendekatan. Pertama, Madrasah secara terstruktur mengembangkan pendidikan karakter melalui kurikulum formal. Kedua, pendidikan karakter berlangsung secara alamiah dan sukarela melalui jalinan hubungan interpersonal antar warga madrasah, meski hal ini tidak diatur secara langsung dalam kurikulum formal.
Pada beberapa madrasah yang memanfaatkan peluang-peluang belajar di luar kelas sebagai wahana pengembangan pendidikan, kegiatan ektrakuriluler muncul sebagai keunggulan tersendiri yang pada giliranya melahirkan kredibilitas tersendiri bagi lembaga. Tidak jarang kita dengar alasan-alasan orang tua dalam memilih sekolah sebagai tempat belajar anaknya atas dasar pertimbangan mereka terhadap sejumlah kegiatan di luar kegiatan tatap muka di kelas. Dengan demikian, kegiatan ektrakurikuler dapat dikembangkan dalam beragam cara sebagai media pendidikan karakter. Penyelenggaraan kegiatan yang memberikan kesempatan luas kepada pihak madrasah, pada giliranya menuntut kepala madrasah, guru, siswa dan pihak- pihak yang terkait untuk secara efektif merancang sejumlah kegiatan sebagai muatan kegiatan ektrakurikuler berbasis pendidikan karakter.Dengan masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.
Sumber Bacaan
Arsyad, S.A. 2010. Character Education, Disajikan Pada Sarsehan Nasional Pendidikan Karakter. Dikti Kementerian Pendidikan Nasional di Hotel Murcure Pontianak, Tanggal 17 April 2010.
Aunurrahman. 2009. Eksistensi dan Arah Pendidikan Nilai. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Azra, Azyumardi, 2003 (cetakan 2, 2006), Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Penerbit Kompas.
Azra, Azyumardi, 1999a, “Membangun Kembali Karakter Bangsa: Peran dan Tantangan Perguruan Tinggi”, makalah disampaikan pada Dies Natalis ke-50 Universitas Gadjah Mada, 13 Nopember 1999.
Azra, Azyumardi, 1999b, “Pembinaan Pendidikan Akhlak Didik pada Era Reformasi”, pokok-pokok pikiran untuk Seminar tentang Pendidikan Anak dalam Indonesia Baru, Direktorat Pembinaan Pendidikan Islam pada Sekolah Umum, Depag RI, Jakarta, 2 Nopember 1999.
Ayu S. Sadewo. 2009. Mudahnya Mendidik Anak Beda Karakter dan Bakat, Beda Perlakukan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Aziz Hamka Abdul. 2011. Pendidikan Karater berpusat pada Hati. Jakarta: Almawardi Prima
Bagir, Zainal Abidin dkk. 2005. Integrasi Ilmu dan Agama, Interpretasi dan Aksi. Bandung: Mizan Pustaka
Fraenkel, Jack R. 1977. How to Teach about Values: An Analytical Approach, Englewood, NJ: Prentice Hall.
Ibn Miskawaih. 1992. Filsafat Akhlak. Bandung: Mizan. Keosoema, Doni. 2009. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo
Keosoema, Doni 2007. Pendidikan Karakter, strategi mendidik anak di zaman gobal. Jakarta: Grasindo
Keosoema, Doni. 2009. Pendidikan Karakter di zaman keblinger. Jakarta: Grasindo
Keosoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter Integral. Kompas, 11 Februari 2010
Kirschenbaum, Howard & Sydney B. Simon. 1974. Values and Futures Movement in Education, dalam Alvin Toffler (ed.), Learning for Tomorrow: The Role of the Future in Education, New York: Random House.
- Anis Matta, 2006. Membentuk Karakter Cinta Islam, Jakarta: al- I’tishom Cahaya Umat.
Mulyana Rahmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung; Alfabeta.
Munir Abdullah. 2010. Pendidikan Kalakter. Yogyakarta: Pedagogia. Nata Abuddin, dkk. 2002. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Jakarta; Raja Grafindo Persada
Sulhan, Najib. 2010. Pendidikan Berbasis Karakter. Surabaya: Jape Press Media Utama ( Jawa Pos Grup).
Q-Anees Bambang, Hambali Adang. 2008. Pendidikan Kalakter Berbasis Al-Quran. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Sadulloh Uyoh 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung; Alfabeta. Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu`I atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Sauri, S. 2006. Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung: Genesindo Suwito. 2004. Filsafat Pendidikan Etika Ibnu Miskawaih, Yogyakarta, Belukar
Soebahar Abd Halim. 2002. Wawasan Baru Pendidikan Islam.Kalam Mulia. Jakarta
Phillips, C. Thomas. 2000. Family as the School of Love. Makalah pada National Conference on Character Building, Jakarta, 25-26 Nopember, 2000.