Pendekatan penanaman nilai (Inculcation Approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Menurut pendekatan ini, tujuan pendidikan nilai adalah diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Menurut pendekatan ini, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran antara lain keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain. (Masnur Muslich, 2011)
Penanaman nilai hidup merupakan sebuah proses panjang yang bisa diberikan melalui pendidikan formal yang direncanakan dan dirancang secara matang. nilai yang akan diberikan harus dirancang sedemikian rupa mengenai apa saja yang akan dikenalkan kepada peserta didik, metode apa yang cocok digunakan, dan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat menunjang proses penanaman nilai tersebut. Penanaman tersebut tidak serta-merta diberikan secara instan akan tetapi butuh sebuah proses di dalamnya. Dalam proses tersebut juga harus melihat kondisi psikologis peserta didik, hal itu penting karena akan mempengaruhi perkembangan kejiwaan peserta didik.
Pendekatan internalisasi ini merupakan teknik penanaman nilai yang sasarannya sampai pada tahap kepemilikan nilai yang menyatu ke dalam kepribadian siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau mewatak. Tahaptahap dari teknik internalisasi ini adalah (1) tahap transformasi nilai: pada tahap ini guru sekedar mentransformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal; (2) tahap transaksi nilai, yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dengan guru yang bersifat interaksi timbal balik. Kalau pada tahap transformasi interaksi masih bersifat satu arah, yakni guru yang aktif, maka dalam transaksi ini guru dan siswa sama-sama bersifat aktif.Tekanan dari tahap ini masih menampilkan sosok fisiknya daripada sosok mentalnya. Dalam tahap ini guru tidakhanya menginformasikan nilai yang baik dan buruk, tetapi juga terlihat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta untuk memberikan tanggapan yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai tersebut; (3) tahap transinternalisasi. Tahap ini jauh lebih dalam dari sekedar transaksi.Dalam tahap ini penampilan guru dihadapan siswa bukan lagi sosoknya, tetapi lebih pada sikap mentalnya (kepribadiannya). (Muhaimin, 2002)
Demikian pula sebaliknya, siswa merespon kepada guru bukan hanya gerakan atau penampilan fisiknya saja, melainkan sikap mental dan kepribadiannya, oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat secara aktif. Proses dari transinternalisasi itu mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, yaitu mulai dari: (1) menyimak (receiving), ialah kegiatan siswa untuk bersedia menerima adanya stimulus yang berupa nilai-nilai baru yang dikembangkan dalam sikap afektifnya; (2) menanggapi (responding), yakni kesediaan siswa untuk merespon nilai-nilai yang ia terima dan sampai ke tahap memiliki kepuasan untuk merespon nilai tersebut; (3) memberi nilai (valuing), yakni sebagai kelanjutan dari aktivitas merespon nilai menjadi siswa mampu memberikan makna baru terhadap nilai-nilai yang muncul dengan criteria nilai- nilai yang diyakini kebenarannya; (4) mengorganisasi nilai (organisasi of value), ialah aktivitas siswa untuk mengatur berlakunya sistem nilai yang diyakini sebagai kebenaran dalam laku kepribadiannya sendiri, sehingga ia memiliki satu sistem nilai yang berbeda dengan yang lain; dan (5) karakteristik nilai (characterization by a value or value complex), yakni dengan membiasakan nilai- nilai yang benar yang diyakini, dan yang telah diorganisir dalam laku pribadinya sehingga nilai tersebut sudah menjadi watak (kepribadiannya).
Dengan demikian nilai tersebut tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupannya.Nilai yang sudah mempribadi inilah yang dalam Islam disebut dengan kepercayaan/keimanan yang istiqomah, yakni keimanan yang sulit digoyahkan oleh kondisi apapun. Sedang ditinjau dari pendekatan penanaman nilai, ada beberapa pendekatan penanaman nilai yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran, antara lain yaitu pendekatan: pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional, dan keteladanan. (Ramayulis, 2004)
Pertama, pendekatan pengalaman. Pendekatan pengalaman merupakan proses penanaman nilai-nilai kepada siswa melalui pemberian pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman spiritual baik secara individual maupun kelompok.
Kedua, pendekatan pembiasaan.Pendekatan pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi.Dengan pembiasaan pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan konsep ajaran nilai-nilai universal, baik secara individual maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas proses penanaman nilai melalui pengalaman langsung dan pembiasaan dapat menggunakan berbagai model pembelajaran, seperti halnya dengan menggunakan model pembelajaran contextual teaching and learning (CLT) dan pembelajaran konstruktivistik.
Ketiga, pendekatan emosional.Pendekatan emosional adalah upaya untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini konsep ajaran nilai-nilai universal serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk.Keempat, pendekatan rasional. Pendekatan rasional merupakan suatu pendekatan mempergunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran nilai-nilai universal yang di ajarkan.Kelima, pendekatan fungsional.Pengertian fungsional adalah usaha menanamkan nilai-nilai yang menekankan kepada segi kemanfaatan bagi siswa dalam kehidupan seharihari, sesuai dengan tingkatan perkembangannya.Keenam, pendekatan keteladanan. Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan, baik yang berlangsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lain yang mencerminkan sikap dan perilaku yang menjungjung tinggi nilai-nilai universal, maupun yang tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah keteladanan. Beberapa metode pembelajaran yang dapat dilakukan untuk proses internalisasi pendidikan karakter melalui pendekatan emosional, rasional, fungsional, dan keteladanan dapat dilakukan dengan metode pembelajaran pemberian contoh, keteladanan, diskusi, dan tanya jawab. Pendekatan dalam proses internalisasi karakter tersebut tidak serta merta bersifat absolut, sehingga bisa dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam pemilihan pendekatan dalam internalisasi karakter harus berdasarkan pada berbagai aspek, seperti halnya aspek psikologis peserta didik dan aspek sosial lingkungan pendidikan.
Literasi
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002, h.45
Ramayulis, Ilmu pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia. 2004, h.5
Muslich,Masnur, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara. 2011. h.108