Pengaruh Keluarga Dalam Kehidupan
Orang tua, adalah sosok yang seharusnya menjadi panutan bagi anaknya, sosok yang rela bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya. Namun selama berproses, orang tua akan sering dihadapkan pada permasalahan di luar rumah, sesuai dengan gendernya, mereka juga memiliki cara meluapkan emosi masing-masing. Ada 2 (dua) tipikal orang tua secara umum, yakni dapat menahan amarah di depan anak dan tidak dapat menahan emosi sehingga melampiaskan amarahnya kepada anak. Pada kesempatan ini, penulis akan cenderung membahas permasalahan dalam keluarga yang akan memengaruhi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek psikologis,berdasar hasil pengamatan yang telah dilakukan.
Pengertian Keluarga
Keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat, ibu dan bapak beserta anak-anaknya seisi rumah. Keluarga yang ideal senantiasa berlandaskan pada keharmonisan rumah tangga. Menurut ajaran Islam, rumah tangga dapat disebut ideal apabila di dalamnya diliputi oleh rasa Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta), dan Warrahmah (kasih sayang). Dalam keluarga, orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Bukan mengajarkan pelajaran-pelajaran, melainkan orang tua lebih mengajarkan pada nilai-nilai kehidupan yang akan dihadapi anak-anak.
Selain sebagai pengajar, orang tua juga dijadikan role model bagi setiap anak. Tidakkah kita sadari, ketika kita masih kecil, pasti kita pernah bermain peran dengan memainkan karakter yang ada di rumah. Entah sebagai ibu, ayah, kakak, atau adik. Secara tidak langsung, anak akan
memahami tugas dari anggota keluarganya, dan mereka akan melakukannya ketika sedang bermain peran dengan teman sebayanya. Tentu mereka akan berperan sesuai dengan apa yang mereka lihat ketika berada di rumah. Seorang ayah pada umumnya dikenal sebagai sosok pria yang nbijaksana, berwibawa, mengayomi, penyayang, bertanggung jawab, dan melindungi keluarganya. Sedangkan ibu, pada umumnya dikenal sebagai sosok wanita yang lembut, sabar, penuh kasih sayang, dan selalu meneduhkan bagi keluargnya.
Sebelum memasuki masa sekolah atau pendidikan formal, anak akan mengalami masa dimana pemikirannya sangat luar biasa. Entah imajinasi untuk menciptakan dunia yang baru, atau keingintahuan mereka atas segala hal yang menarik perhatian mereka dan belum pernah dijumpai
(hal baru), dan ide-ide aneh yang terkadang membuat kita sebagai orang tua terhenti dan bertanya pada diri sendiri “Mengapa saya tidak pernah berpikir seperti itu?”. Hal-hal yang seperti itu yang dapat membuat orang tua terpesona dengan anak-anaknya. Namun sayang, terkadang ada orang tua yang justru menghentikan pemikiran luas anak karena malas untuk menjawab dan menjelaskan segala rasa keingintahuan anak, tetapi ada baiknya orang tua untuk memahami beragam teknik untuk memberi pengertian pada anak.
Keterangan diatas didukung dengan pernyataan C.J. Simister (2013: xv) adalah sebagai berikut, Selama tahun-tahun awal, kekenyalan otak-yatu kapasitasnya untuk :menumbuhkan” keterampilan nilai, dan perilaku yang nantiya akan menjadi kebiasaan-berada pada periode puncak. Bahkan, perubahan-perubahan kecil dalam Anda berbicara dan bermain dengan anak Anda dapat memiliki dampak nyata. Inilah perkembangan kognitif-tanpa obat pintar.
Permasalahan Keluarga
Keluarga merupakan tempat dimana anak merasakan kasih sayang, perhatian, serta perlindungan dari sosok orang tua. Jika dalam suatu keluarga memiliki kekurangan terhadap suatu aspek tersebut maka akan menyebabkan ketidak seimbangan dalam menjalankan suatu interaksi dalam keluarga. Sebagai contoh, jika kasih sayang orang tua tidak diberikan kepada anak dan kekerasan terjadi pada suatu keluarga yang menyebabkan anak tidak merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Hal ini akan menyebabkan permasalahan pada mental anak dan dia akan berusaha melampiaskan permasalahan yang dialaminya dengan perilaku-perilaku yang dapat merugikan orang lain yang ada di sekitarnya.
Bahkan, anak kembar yang terlahir di dalam keluarga yang sama pun akan memiliki karakteristik yang berbeda. Dimana perbedaan yang ada jika tidak di tanggulangi dengn baik maka akan menjadi konflik dalam keluarga yang akan mempengaruhi mental, karakter dan kepribadian dari masing-masing anak. Sebagai seorang individu, Hana sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam memahami permasalahan yang terjadi di keluarganya dan memilih untuk melampiaskan apa yang dialaminya dengan sesuatu yang negatif kepada orang lain. Sedangkan Hani, menjadi seorang individu yang memegang erat norma, adat, dan hukum yang berlaku sehingga membuatnya sabar dalam menghadapi ujian yang ada dalam keluarganya dan menganggap itu merupakan bagian dari ujian yang diberikan Allah SWT pada keluarganya.
Seorang anak yang gagal mengendalikasn emosi dan sulit untuk menganalisi permasalahan akan menyebabkan anak tersebut berperilaku agresif, nakal, prestasi sekolah menurun, berperilaku menyimpang, gangguan kejiwaan, dan mencari kebahagiaan diluar rumah yang malah menjerumuskan dia kedalam hal yang negatif lainnya. Dan ketika dia melakukan interaksi kepada masyarakat, baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah, maka nilai kebaikan sebagai sosok individu pun akan hilang dan melahirkan interaksi yang buruk (negatif) ,seperti tidak mengahargai teman ,guru ,dan warga sekolah.
Tidak dapat dipungkiri, kehidupan seseorang akan terus berputar. Permasalahanpun kian mengiringi, termasuk dalam keluarga. Permasalahan yang datang dapat berasal dari mana saja, dari orang tua maupun dari anak. Terkait dengan pembahasan pada jurnal ini, penulis akan lebih banyak membahas permasalahan yang berasal dari orang tua dan berdampak pada anak. Orang tua dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya pasti akan menemui hambatan, seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan di atas, ada 2 (dua) tipikal orang tua secara umum ketika menemui suatu hambatan yang dapat memicu emosinya (amarah), yakni dapat menahan amarah di depan anak dan tidak dapat menahan emosi sehingga melampiaskan amarahnya kepada anak. Beruntunglah apabila diantara pembaca merupakan orang tua dengan tipikal dapat mengontrol diri, menahan amarah, dan tidak memperlihatkannya dengan jelas didepan anak apalagi melampiaskannya pada anak, atau pembaca merupakan anak yang memiliki orang tua yang dapat menahan amarahnya. Namun tidak sedikit orang tua yang justru menjadikan anak sebagai tempat melampiaskan kemarahannya. Permasalahan yang berasal dari tempat kerja ataupun permasalahan yang berasal dari teman-teman kantor terkadang belum terselesaikan dan terbawa ke rumah. Permasalahan yang sering timbul dalam suatu keluarga adalah permasalahan ekonomi dan orang ketiga.
Permasalahan ekonomi sering kali memicu keributan antara orang tua, ada yang merasa selalu disalahkan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan juga ada yang selalu menyalahkan karena tidak dapat mengatur keuangan yang sudah diberikan. Terkadang orang tua
berpikir uang dapat mencukupi segalanya, padahal segalanya tidak akan pernah cukup oleh uang, pada akhirnya anak akan menjadi korban, fenomena putus sekolah, mempekerjakan anak di bawah umur, kekerasan fisik hingga pembunuhanpun kerap terjadi karena permasalahan ini. Begitu juga dengan permasalahan orang ketiga, permasalahan ini sangat sensitif dan dapat memicu amarah yang sangat besar. Dampak negatifnya terhadap kelangsungan rumah tangga dan anak juga luar biasa. Banyak anak-anak yang ketenangan hidupnya terganggu akibat salah satu orangtuanya terlibat hubungan dengan orang ketiga. Efek yang diakibatkan dalam permasalahan dalam keluarga akan menimbulkan dampak dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang.
Psikologi Anak
Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu Psychē yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi dapat diartikan psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala jiwa seseorang.
Psikologi anak berarti ilmu yang mempelajari gejala jiwa di usia anak-anak. Anak diciptakan sesuai dengan tahap perkembangannya. Psikologi anak berarti berkaitan dengan mental seorang anak. Lev Vygotsky meruppakan salah satu tokoh pencetus teori perkembangan mental peserta didik. Pendapatnya hampir sama dengan Jean Piaget yang mengutarakan bahwa seorang siswa dapat membentuk pengetahuan dari sesuatu yang mereka ketahui, bukan sekedar menjiplak dari apa yang mereka temukan di lingkungan sekitar. Pengetahuan hasil temuan siswa merupakan hasil dari pikiran dan kegiatasn siswa sendiri yang dituangkan melalui bahasa.
Pada anak, kemampuan psikomotor akan berkembang dengan sangat pesat, yang paling menonjol adalah perkembangan lokomotornya. Pada usia balita, biasanya mereka melatih kemampuan berlari, berguling, berjinjit, menggenggam, atau melempar benda yang mana gerakan tersebut berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh. Kemampuan tersebut disebut dengan kemampuan motorik kasar, sedangka kemampuan motoric halusnya seperti menggambar, menulis, memegang sendok, menggenggam pensil dengan hari telunjuk dan ibu jari, dan lain-lain. Pada masa balita, adalah waktu terbaik untuk latihan mengendalikan diri.
Sikap Mendidik dan Mengasuh Anak
Menurut Prof. IP. Simanjuntak (1973: 73), sikap mendidik dan mengasuh anak itu dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu:
- Sikap berkuasa (otoriter)
Yaitu sikap orang tua yang mengutamakan kepentingan sendiri dan memaksa anak untuk patuh secara mutlak kepadanya. - Sikap demokratis
Yaitu sikap orang tua yang penuh tanggung jawab dan melakukan anak sebagai subyek, bukan sebagai objek. - Sikap memanjakan (indulgent)
Yaitu sikap orang tua yang patuh dan selalu menuruti setiap permintaan anak, serta cenderung memberikan perlindungan yang berlebih-lebihan (over protection). - Sikap menolak (rejection)
Yaitu sikap orang tua yang ingkar terhadap apa yang paling dibutuhkan anak, yaitu kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang dan rasa diterima kehadirannya di tengah-tengah keluarga.
Nawawi dalam Hastati (2005:23) menjelaskan bahwa sebagai lingkungan primer, keluarga terutama orang tua adalah tokoh yang dominan yang akan ditiru oleh anak dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan orang tua sebagai contoh pendidik adalah contoh nyata yang akan ditiru anak-anak dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan hidup yang secara langsung akan mewarnai kehidupannya.
Soejono (1998), mengatakan bahwa: orang tua sebenarnya kunci motivasi dalam keberhasilan studi anak dan remaja. Peran mereka tidak akan dapat diganti oleh siapa pun dengan seutuhnya. Meskipun anak berada di lingkungan sekolah yang sama dan diberi fasilitas yang sama, tetapi minat belajarnya bisa saja tidak sama. Hal ini disebabkan oleh latar belakang keluarga mereka dan kemampuannya yang berbeda pula.
Peran Orang Tua dalam Memotivasi Anak
Peran orang tua dalam menumbuhkan motivasi belajar pada anak-anaknya adalah seperti yang dikemukakan oleh Suwaryono Wiryodijoyo (1989), yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
- menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan bagi anak-anak untuk membaca,
- orang tua atau anggota keluarga dapat saling berkomunikasi dengan anak,
- bersikap terbuka dan dekat dengan anak yang berpengaruh besar terhadap pembinaan motivasi belajar mereka,
- memberikan contoh perilaku senang membaca sehingga anak terbiasa dan terpengaruhi dengan kebiasaan orang tua,
- mengatur ruang belajar atau ruang baca dengan baik sehingga merupakan tempat menyenangkan untuk belajar dan santai untuk belajar,
- menyediakan anggaran untuk membeli surat kabar, majalah, buku atau bahan bacaan yang meningkatkan minat baca, dan
- memberikan hadiah kepada anak-anak berupa buku-buku yang sesuai dengan perkembangan psikologinya, misalnya pada saat kenaikan kelas, hari ulang tahunnya dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar anak merasa lebih dihargai atas jerih payahnya selama proses belajarnya tersebut.
Anak yang sudah memiliki watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient, emosional quotient dan spiritual quotient sudah terformat dengan baik.
Peran orang tua dalam mewujudkan kepribadian anakantara lain:
- Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya
- Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ktenangan jiwa anak-anak
- Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak
- Mewujudkan kepercayaan
- Mengadakan kumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak)
Beberapa contoh kebiasaan yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga:
- Membiasakan anak bangun pagi, mengatur tempat tidur dan berolahraga
- Membiasakan anak mandi dan berpakaian bersih.
- Membiasakan anak turut membantu mengerjakan tugas–tugas rumah
- Membiasakan anak mengatur dan memelihara barang–barang yang dimilikinya
- Membiasakan dan mendampingi anak belajar/mengulang pelajaran/ mengerjakan tugas sekolahnya
- Membiasakan anak pamit jika keluar rumah
- Membiasakan anak mengucap salam saat keluar dari dan pulang ke rumah
- Menerapkan pelaksanaan ibadah shalat sendiri dan berjamaah
- Mengadakan pengajian Alquran dan ceramah agama dalam keluarga
- Menerapkan musyawarah dan mufakat dalam keluarga sehingga dalam diri anak akan tumbuh jiwa demokratis
- Membiasakan anak bersikap sopan santun kepada orang tua dan tamu
- Membiasakan anak menyantuni anak yatim dan fakir miskin
Kendala–kendala yang dihadapi dalam keluarga :
- tidak ada/kurangnya keteladanan/contoh penerapan yang diberikan oleh orang tua.
- Orang tua atau salah satu anggota keluarga (orang dewasa) yang tidak konsisten dalam melaksanakan usaha yang sedang diterapkan
- Kurang terpenuhinya kebutuhan anak dalam keluarga, baik secara fisik maupun psikhis sebab ada ungkapan yang menyatakan bahwa ’kepatuhan anak berbanding sama dengan kasih sayang yang diterimanya.
- Tempat tinggal yang tidak menetap
Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak
a. Pembinaan karakter anak yang dilakukan oleh keluarga
Secara etimologi pengasuhan berasal dari kata “asuh” yang artinya, pemimpin, pengelola, membimbing. Oleh kerena itu mengasuh disini adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya dan keberhasilannya dari periode awal hingga dewasa. Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini. Berbagai pola asuh orang tua dapat mempengaruhi kreativitas anak antara lain, lingkungan fisik, lingkungan sosial pendidikan internal dan eksternal. Intensitas kebutuhan anak untuk mendapatkan bantuan dari orang tua bagi kepemilikan dan pengembangan dasar-dasar kreativitas diri, menunjukan adanya kebutuhan internal yaitu manakala anak masih membutuhkan banyak bantuan dari orang tua untuk memiiliki dan mengembangkan dasar- dasar kreativitas diri (berdasarkan naluri), berdasarkan nalar dan berdasarkan kata hati. Dari hasil penelitian bahwa bila orang tua berperan dalam pendidikan, anak akan menunjukan peningkatan prestasi belajar, diikuti dengan perbaikan sikap, stabilitas sosio- emosional, kedisiplinan, serta aspirasi anak untuk belajar sampai ke jenjang paling tinggi, bahkan akan membantu anak ketika ia telah bekerja dan berkeluarga.
b. Keluarga sebagai wahana pertama dan utama pendidikan
Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. Oleh karena itu para sosiolog yakin, segala macam kebobrokan masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga. Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangnnya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB, fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta, memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”. Keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi departemen kesehatan, pendidikan adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan menguasai kemampuan- kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi lain untuk memperbaiki kegagalannya. Karena kagagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang berkarakter buruk atau tidak berkarakter. Oleh karena itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.
c. Pola asuh menentukan keberhasilan pendidikan anak dalam keluarga
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebijakan pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, serta norma- norma yang berlaku di masyarakat.agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Beberapa macam contoh pola asuh:
- Pola asuh otoriter, yaitu mempunyai ciri, kekuasan orang tua dominan, anak tidak diakui sebagai pribadi, control terhadap tingkah laku anak sangat ketat, orang tua menghukum anak jika tidak
- Pola asuh demokratis, kerjasama antara orang tua- anak, anak diakui sebgai pribadi, ada bimbingan dan penngarahan dari orang tua, control orang tua tidak
- Pola asuh permisif, mempunyai ciri, dominasi oleh anak, sikap longgar atau kebebasan dari orang tua, kontrol dan perhatian orang tua sangat Melalui pola asuh yang dilakukan orang tua anak akan belajar banyak hal, termasuk karakter. Artinya jenis pola asuh yang ditetapkan orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.
d. Kesalahan keluarga dalam mendidik anak mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak
Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak, diantaranya adalah:
- Orang tua kurang menunjukan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik
- Kurang meluangkan waktu untuk anak
- Orang tua bersikap kasar secara verbal, misalnya, menyindir anak, mengecilkan anak dan berkata kata kasar
- Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit atau memberikan hukuman badan
- Orang tua terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini
- Orang tua tidak menanamkan karakter yang baik pada anak
Dampak salah asuh diatas akan menimbulkan anak yang mempunyai kepribadian yang bermasalah atau kecedasan emosi yang rendah, seperti:
- Anak menjadi tak acuh, tidak menerima persahabatan, rasa tidak percaya pada orang lain
- Secara emosionil tidak responsif
- Berprilaku agresif
- Menjadi minder
- Selalu berpandangan negatif
- Emosi tidak stabil
- Emosional dan intelektual tidak seimbang dan lain-lain.
Tags: Mengasuh Anak, Pengertian Keluarga, Peran Orang Tua dalam Memotivasi Anak, Permasalahan Keluarga, Psikologi Anak, Sikap Mendidik
