Pengertian Paragraf Menurut Para Cendekiawan
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya tulis ilmiah yang cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
Pengertian Paragraf
Nurdin (2005:137) mengatakan, paragraf atau alinea adalah suatu kesatuan pikiran yang merupakan kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Paragraf merupakan himpunan dari berbagai kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. Dalam suatu paragraf gagasan tersebut menjadi lebih jelas oleh uraian-uraian tambahan untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas. Tarigan (2005:13) mengatakan, paragraf adalah suatu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat kalimat yang digunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyatakan dan menyampaikan jalan pikirannya kepada para pembaca.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa paragraf merupakan seperangkat kalimat berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan, dan diperjelas.
Kelengkapan Paragraf
Kelengkapan sebuah paragraf terdiri dari (1) transisi, (2) kalimat topik, (3) kalimat pengembang, (4) kalimat penegas.
1) Transisi
Transisi adalah mata rantai penghubung antarparagraf. Transisi berfungsi sebagai penghubung jalan pikiran dan paragraf yang berdekatan. Berfungsi pula sebagai penunjang koherensi dan kepaduan antarbab, antaranak-bab, dan antar paragraf dalam suatu karangan. Namun, transisi tidak selalu harus ada dalam tiap paragraf. Kehadiran transisi dalam paragraf bergantung kepada pertimbangan pengarang.
Ada dua cara untuk menunjukkan hubungan antardua paragraf, yaitu secara implisit dan eksplisit. Hubungan implisit tidak dinyatakan oleh alat penanda transis itertentu. Walaupun demikian hubungan antarparagraf masih dapat dirasakan. Hubungan eksplisit dinyatakan oleh alat penanda transisi tertentu seperti: (a) kata termasuk di dalamnya kelompok kata dan (b) kalimat.
2) Kalimat Topik
Tarigan (2005:18), ada berbagai istilah yang sama maknanya dengan kalimat topik. Dalam bahasa Inggris dijumpai istilah-istilah “major point”, “main idea”, central idea”, dan “topic sentence”. Keempat-empatnya bermakna sama mengacu kepada pengertian kalimat topik atau gagasan utama. Dalam Bahasa Indonesia pun ditemui istilah-istilah seperti pikiran utama, pokok pikiran, gagasan utama, ide pokok, dan kalimat pokok. Keempat-empatnya juga mengandung makna sama atau bersamaan serta mengacu kepada pengertian gagasan utama.
Kalimat topik adalah perwujudan pernyataan ida pokok paragraf dalam bentuk umum dan abstrak. Ada tiga kemungkinan letak kalimat topik dalam suatu paragraf. Kemungkinan pertama, pada bagian awal paragraf (paragraf deduktif), segera setelah transisi ada pada paragraf tersebut. Kemungkinan kedua, terdapat pula pada bagian akhir paragraf (paragraf induktif). Kemungkinan ketiga, berada di tengah-tengah paragraf, tetapi hal ini jarang terjadi.
3) Kalimat Pengembang
Sebagian besar kalimat-kalimat dalam suatu paragraf termasuk kalimat pengembang. Bila dimisalkan jumlah kalimat dalam suatu paragraf ada 12 buah, maka perbandingan jumlah kalimat sebagai berikut. (Tarigan, 2005: 18)
- Paragraf yang berunsur transisi, kalimat topik, kalimat pengembang dan penegas mempunyai porsi masing-masing satu untuk transisi, satu untuk kalimat topik, dan satu untuk kalimat penegas, sisanya sembilan itulah kalimat pengembang atau 75%.
- Bila transisi tidak berupa kalimat, maka kalimat pengembangnya berjumlah 10 atau 80%.
- Bila paragraf tersebut tanpa transisi dan penegas, maka jumlah kalimat pengembangnya sebelas buah atau 91,6%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kalimat dalam suatu paragraf termasuk kategori kalimat pengembang.
4) Kalimat Penegas
Kalimat penegas adalah unsur paragraf yang keempat dan terakhir. Fungsi utama kalimat penegas ada dua, yaitu sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topik dan sebagai daya pemikat atau penarik bagi pembaca atau sebagai selingan untuk menghilangkan kejemuan. Kedudukan kalimat penegas dalam suatu paragraf tidak bersifat mutlak. Ia ada bila pengarang merasa memerlukannya untuk menunjang kejelasan informasi. Ia tidak ada bila pengarang memandang kehadirannya tidak diperlukan. Atau apabila pengarang merasa kejelasan informasi tidak terganggu tanpa adanya kalimat penegas.
Bila dibandingkan kedudukan kalimat penegas dengan kedudukan kalimat topik dan kalimat pengembang, maka terdapat beberapa kesamaan dan beberapa perbedaan. Jumlah kalimat penegas dan kalimat topik sama. Makna yang terkandung dalam kalimat penegas dan kalimat topik kurang lebih sama, tetapi mungkin diutarakan dengan redaksi yang berbeda. Eksistensi kalimat penegas tidak mutlak dalam sustu paragraf, sedangkan eksistensi kalimat topik dan kalimat pengembang bersifat mutlak dalam setiap paragraf. Makna yang terkandung dalam kalimat topik dan kalimat penegas bersifat konkret sebagai penjabaran dari makna kalimat penegas dan kalimat topik.
