Pengertian Retorika, Fungsi dan Proses Retorika Menurut Para Ahli

Pengertian Retorika

Retorika merupakan bentuk komunikasi di mana seseorang menyampaikan buah pikirannya baik lisan maupun tertulis kepada hadirin yang relatif banyak dengan pelbagai gaya dan cara bertutur, serta tidak langsung.

Jalaluddin Rahmat berpendapat bahwa retorika adalah ilmu yang mempelajari cara mengatur komposisi kata-kata agar timbul kesan yang telah dikehendaki-nya pada diri khalayak. Retorika adalah pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran.

Adapun Wahidin Saputra memaparkan retorika adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana bertutur kata di hadapan orang lain dengan sistematis dan logis untuk memberikan pemahaman dan meyakinkan orang lain.

Retorika atau dalam Bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan Latin rhetorica yang berarati ilmu bicara.

Menurut Clenth Brooks dan Robert Penn Warren sebagaimana dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dikemukakan bahwa retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan Bahasa secara efektif.

Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan Bahasa, bisa lisan dapat juga tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking aatau pidato di depan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni melukis.

Kedua pengertian atau anggapan tersebut benar sebab kedua- duanya berkisar pada penggunaan Bahasa. Masalahnya ialah bagaimana menggunakan bahasa sebagai lambang komunikasi itu, apakah komunikasi tatap muka atau komunikasi bermedia.

Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik, yang dicapai berdasarkan bakat alam dan ketrampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan.

Fungsi Retorika

Menurut Raudhonah fungsi retorika hampir sama dengan fungsi komunikasi, yaitu sebagai berikut:

  • Mass information, yaitu untuk memberi dan menerima informasi kepada khalayak. Hal ini bisa dilakukan oleh setiap orang dengan pengetahuan yang dimiliki. Tanpa komunikasi informasi tidak dapat disampaikan dan diterima.
  • Mass education, yaitu memberi pendidikan. Fungsi ini dilakukan oleh guru kepada murid untuk meningkatkan pengetahuan atau oleh siapa saja yang memiliki keinginan untuk memberikan pendidikan.
  • Mass persuasion, yaitu untuk memengaruhi. Hal ini biasa dilakukan oleh setiap orang atau lembaga yang memberi dukungan dan ini bisa digunakan oleh orang yang bisnis, dengan mempengaruhi iklan yang dibuat.
  • Mass entertainement, yaitu untuk menghibur. Hal ini yang biasa dilakukan leh radio, televisi atau orang yang memiliki profesional menghibur.16

Proses Retorika

Suatu komunikasi dalam kegiatannya berlangsung melalui suatu proses, yaitu jalan dan urutan kegiatan sehingga terjadi atau timbul pengertian tentang suatu hal diantara unsur-unsur yang saling berkomunikasi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran (gagasan, informasi, opini) atau perasaan (keyakinan, keragu-raguan, kemarahan dan lain sebagainya) oleh seorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pada hakikatnya orang beretorika sama dengan orang berkomunikasi.
Dilihat dari konteks komunikasi antarpribadi, proses menunjukan adanya kegiatan pengiriman pesan dari seseorang kepada orang lain.

Proses komunikasi atau retorika terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan sekunder:

a. Proses komunikasi secara primer

Yaitu proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna, yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan.

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Pentingnya peran media, yakni media sekunder, dalam proses komunikasi, disebabkan oleh efisiensinya dalam mencapai komunikan.
Dalam buku yang ditulis oleh Richard West dan Lynn H. Turner dikemukakan bahwa menurut ahli retorika klasik Aristoteles, terdapat lima strategi penyusunan retorika yang dikenal dengan istilah “The Five Canons of Rhetoric”, yaitu sebagai berikut:

a. Invention (penemuan bahan)

Invention merupakan konstruksi atau pengembangan dari sebuah argumen yang relevan dengan sebuah tujuan dari pidato. Langkah ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengumpulkan, menganalisis, dan memilih materi yang cocok untuk pidato. Menurut
Aristoteles argumen-argumen harus dicari melailui rasio, moral, dan afeksi. Karena ini dianggap sebagai bagian yang sangat penting.

b. Dispositio/Arrangement (penyusunan bahan/materi)

Disposisi merupakan penataan ide. Penataan ide akan membantu pendengar memahami hubungan antar ide serta menghindari kebingungan. Penataan ide yang efektif juga akan membuat pesan lebih persuasif dengan membiarkan setiap ide membangun di atas apa yang telah dipresentasikan lebih dahulu dan membuat argumen lebih kuat.22

c. Style (gaya/pemilihan bahasa yang indah)

Style adalah cara penggunaan bahasa dalam mengekspresikan ide. Penggunaan style yang efektif akan membuat pesan lebih jelas, menarik dan powerful. Sebagai persuader yang efektif, diharapkan dapat menggunakan bahasa yang secara efektif menyuarakan argumen. Penggunaan bahasa harus sungguh-sungguh diperhatikan sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang salah.

d. Memory (mengingat materi)

Memory berhubungan dengan kemampuan untuk mengingat mengenai apa yang akan kita katakan. Pada zaman dahulu, hal ini berarti mempelajari cara untuk mengingat ide dalam urutan untuk kita mempresentasikan mereka dengan bahasa yang kita rencanakan.
Pada masa kini, hal ini lebih kepada bagaimana menggunakan catatan atau manuskrip dari pada menghafal secara keseluruhan.24

e. Pronountiatio/Delivery (penyampaian)

Delivery merupakan bagian terakhir dari retorika. Delivery melibatkan secara vokal dan fisik dalam mempresentasikan speech kita. Delivery sangat penting karena orang lebih memperhatikan ide yang dipresentasikan secara menarik dan powerful. Delivery seharusnya mempresentasikan ide sesuai bobotnya dan tidak untuk membuat ide lemah tampil lebih kuat.

Sumber Bacaan

Kustadi Suhandang, Retorika: Strategi Teknik dan Taktik Pidato, (Bandung: Nuansa, 2009), hlm..

Jalaluddin Rahmat, Retorika Modern, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 10.

Wahidin Saputra, Retorika Dakwah Lisan, (Jakarta: Dakwah Press, 2006), hlm. 2.

Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), Cet. 23, hlm. 53.

Dori Wuwur Hendrikus, RETORIKA Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009), hlm. 7.

Richard West dan Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi, (Jakarta: Salemba Humanika, 2008), hlm. 343.

Unong uchjana Effendy, op.cit., hlm. 11.

 

 

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *