Pengertian Stress Menurut Para Ahli

Pengertian Stress Menurut Para Ahli

Pengertian Stress

Stress adalah reaksi tubuh dan pikiran seseorang terhadap sesuatu yang menyebabkan perubahan keseimbangan. Stress adalah aspek umum dari banyak emosi yang berbeda seperti kecemasan, frustrasi, marah, khawatir, takut, sedih dan putus asa (Shahmohammadi, 2011). Stres adalah segala sesuatu yang menimbulkan tantangan atau ancaman bagi kesejahteraan seorang individu. Hal tersebut terjadi sebagai suatu proses di mana tuntutan lingkungan melebihi kapasitas adaptif seorang individu, yang akhirnya menghasilkan perubahan psikologis dan biologis yang mungkin menempatkan seseorang yang berisiko terkena suatu penyakit (Wahed & Hassan, 2016).
Stres mewakili fenomena kehidupan yang normal, perlu, dan tidak dapat terhindarkan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan sementara, serta konsekuensi jangka panjang (Hamid Afshar, et al., 2015) . Sekolah merupakan pemicu stres akademik yang dapat terlihat dalam segala aspek lingkungan anak yaitu rumah, sekolah, lingkungan, atau pertemanan (Deb, et al., 2015)

Epidemiologi stress

Rata-rata 25% remaja mengalami paling sedikit satu peristiwa yang menyebabkan terjadinya stress (Widyanti, et al., 2012). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anandita, et. al (2017) jerawat lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki, dimana hal ini dapat terjadi karena perbedaan tingkat stres pada wanita lebih tinggi daripada pria yang mengakibatkan tingkat terjadinya akne vulgaris lebih tinggi. Namun, saat memasuki usia dewasa, prevalensi akne vulgaris akan menurun pada laki- laki sedangkan pada wanita kejadian akne vulgaris dapat terus berlanjut hingga usia dekade ketiga atau lebih lama lagi. Pada pria umumnya akne vulgaris lebih cepat berkurang yang mengakibatkan tingkat kejadian akne vulgaris pada wanita lebih tinggi.

Sumber stress

Sumber stres (stressor) antara lain (Indriana, et al., 2010) :

1. Dalam Diri

Stress akan muncul dari dalam diri seorang individu melalui kekuatan motivasional dari dalam diri dimana akan terjadi perlawanan apabila seseorang mengalami konflik, dimana konflik merupakan sumber utama untuk terjadinya stress pada seorang individu.

2. Keluarga

Stress dapat bersumber dari lingkungan keluarga. Sebuah interaksi antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain seperti terjadinya perselisihan dalam masalah keuangan atau kehadiran anggota keluarga baru dapat menimbulkan stress pada anggota keluarga tersebut.

3. Komunitas

Interaksi seorang individu dengan lingkungan luar keluarga akan menyebabkannya seorang individu memperoleh atau terpapar sumber-sumber stress, misalnya kejadian stress anak di sekolah.

Faktor stress

Tiga faktor yang ikut mempengaruhi stress antara lain (Handono & Bashori, 2013) :

1. Faktor perilaku

Saat seorang individu menghadapi stresor ada dua karakteristik dari stresor yang akan mempengaruhi reaksi yang muncul yaitu:

a) Durasi

Semakin lama individu menghadapi stress, maka akan semakin banyak efek negatif yang didapatkan dan semakin besar kemungkinan terjadinya stress.

b) Dapat diramalkan

Beberapa penyebab timbulnya stress dapat diketahui ketika seorang individu mampu memprediksi adanya stressor, sehingga dapat mengatur strategi yang dapat membantu dirinya untuk mengurangi dampak negatif emosional yang diakibatkan oleh stress. Semakin baik kemampuan untuk memprediksi stres maka akan semakin siap seseorang menghadapi dan menanggulangi stress.

2. Faktor psikologis

  • Perceived control (kontrol yang mampu dirasakan) adalah keyakinan dari diri seseorang untuk mampu menguasai stressor yang didapatkannya. Hal yang sudah terjadi merupakan akibat dari perilaku, bukan nasib, kesempatan, keberuntungan, dan pengaruh dari orang lain sehingga individu tidak mudah untuk menyerah dan terkena stres.
  • Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) adalah reaksi akibat frekuensi yang tinggi mengalami peristiwa di luar kendali individu tersebut. Semakin sering mengalami situasi diluar kendali maka semakin tinggi resiko untuk terjadinya stress.
  • Kepribadian tabah (hardiness) adalah berani dan tangguhnya individu untuk menghadapi situasi di luar kendalinya. Semakin tangguh dan berani maka akan semakin mampu untuk menghadapi stres.

3. Faktor sosial

Semakin banyak perubahan yang terjadi dalam hidup maka akan semakin mudah bagi seorang individu untuk terganggu masalah fisik dan psikologisnya. Tuntutan dari situasi sosial dapat dipenuhi oleh seseorang jika memiliki kemampuan untuk mampu memahami berbagai situasi social, kemudian menentukan perilaku yang sesuai dan tepat dalam situasi sosial yang sedang dialaminya, dimana kemampuan tersebut dapat diperoleh dari keluarga dan pembelajaran pengetahuan dari lingkungan yang di tempati.

Gejala stress

Gejala stres kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) aspek antara lain (Rustiana & Cahyati, 2012) :

1. Gejala psikologis

Meliputi kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitif, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, kebosanan, ketidakpuasan kerja, lelah mental, menurunnya fungsi intelektual, kehilangan daya konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas, kehilangan semangat hidup, menurunnya harga diri dan rasa percaya diri.

2. Gejala fisik

Meliputi meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan nonadrenalin, gangguan gastrointestinal, misalnya gangguan lambung, mudah terluka, mudah lelah secara fisik, kematian, gangguan pada kulit, gangguan kardiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat, kepala pusing, migrain kanker, ketegangan otot, problem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur).

3. Gejala Perilaku

Meliputi menunda ataupun menghindari pekerjaan, penurunan prestasi dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan perilaku berisiko tinggi, seperti ngebut, berjudi, meningkatnya agresivitas dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman, kecenderungan bunuh diri.

Tingkat Stress

Tingkatan stress dapat dibagi menjadi tiga yaitu (Rahmawati, et al., 2019) :

1. Stres ringan

Stresor yang dihadapi bisa berlangsung beberapa menit atau jam, stres ringan sering terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi ini dapat membantu seseorang men-jadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Stres ini tidak merusak aspek fisiologis seseorang, namun pada respon psikologi seseorang didapatkan merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun secara tidak disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres sedang

Stres sedang berlangsung be-berapa jam sampai beberapa hari. Stressor ini dapat menimbulkan gejala yaitu mudah merasa letih, mudah marah, sulit untuk beristirahat, mudah tersinggung, gelisah.

3. Stres berat

Stres berat merupakan situasi kronis yang dapat terjadi dalam beberapa minggu, persepsi individu sangat menurun dan cenderung membutuhkan banyak pengarahan.

Banyak yang baca