Pembelajaran Pola Kalimat Bahasa Jepang
Pembelajaran Bahasa Jepang dalam penerapannya, selama dilakukan kegiatan belajar, pengajar menemui berbagai macam kendala mulai dari materi maupun kontrol kelas. Pada kondisi seperti ini guru berperan penting untuk mengendalikan kelas supaya kegiatan belajar berjalan dengan lancar.
Selama pembelajaran berlangsung pengajar menyimpulkan bahwa seluruh kegiatan dan materi pembelajaran berpusat pada siswa dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendekatan yang sesuai dengan pernyataan tersebut yaitu dengan pendekatan lisan dan pengajaran bahasa menurut situasi. Pada pendekatan ini selain mengutamakan penguasaan kosakata, penguasaan pola kalimat juga menjadi titik fokusnya. Pada buku peganggan yang telah dikembangakan oleh George Pittman dengan judul Situational English (1954), mengarahkan pendekatan lisan dan metode pengajaran bahasa situasional sebagai perangkat pembelajaran bahasa inggris, berikut beberapa ciri-cirinya:
- Butir-butir tata bahasa disajikan secara situasional dalam pola[1]pola kalimat yang menunjukkan fungsi dan maknanya, yang diurut dalam urutan yang bertahap dengan seksama (dari situasi yang paling dekat atau dikenal oleh pelajar seperti ruangan kelas ke situasi yang lebih jauh atau kurang dikenal pelajar, seperti tempat dan waktu lain)
- Setiap kalimat hanya memperkenalkan satu butir struktur kalimat
- Butir-butir yang menyebabkan kesulitan untuk para pelajar BT (bahasa tujuan) diberi perhatian khusus
- Latihan-latihan tertulis diberikan kepada para pelajar sebagai rangkuman dari apa yang telah mereka pelajari secara lisan (Subyakto-Nababan, 1993: 21-23).
Keempat ciri-ciri tersebut sesuai dengan kegiatan belajar bahasa Jepang yang telah dilakukan di kelas. Pada poin pertama tata bahasa disesuaikan dengan situasi siswa atau situasi yang dekat dengan keseharian siswa, seperti kebiasaan dan aktivitas yang siswa lakukan setiap harinya. Poin kedua, satu kalimat yang diajarkan pada siswa hanya terdiri dari satu struktur kalimat. Pada poin ketiga, setiap materi yang sulit seperti partikel pada pola kalimat akan lebih diterangkan secara jelas dengan bantuan media. Terakhir, siswa dapat berlatih menulis kalimat kemudian melakukan kegiatan membaca.
Pengertian Kalimat
Pengertian kalimat ditinjau dari segi linguistik yaitu, satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana, 2008: 103). Sedangkan definisi umum kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur serta berisi pikiran yang lengkap (Chaer, 2002: 240)
Berdasarkan kedua penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa, kalimat merupakan satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan tersusun dari 2 kata atau lebih yang terbentuk oleh suatu pola sehingga kalimat tersebut memiliki makna.
Unsur-unsur Pembentuk Kalimat
Berdasarkan pengertian kalimat pada pembahasan sebelumnya, menunjukkan bahwa kalimat merupakan susunan dari beberapa kata atau unsur utama sebuah kalimat adalah kata. Kata sendiri memiliki makna yaitu, satuan bahasa yang memiliki satu pengertian (Chaer, 2002:162). Sedangkan dalam bahasa Jepang istilah kata disebut tango yang berarti satuan terkecil yang membentuk kalimat atau bun (Sudjianto dan Dahidi, 2004:136).
Selain itu Iwabuci menyebut tango dengan istilah go. Go tersebut merupakan satuan terkecil di dalam kalimat, misalnya terdapat kalimat Hana ga saku, kalimat tersebut dapat dibagi kedalam satuan terkecil menjadi Hana – ga – saku , pembagian tersebut menunjukkan bahwa kalimat Hana ga saku terdiri dari tiga buah kata (Sudjianto dan Dahidi, 2004:136). Ketiga teori tersebut menunjukkan bahwa kata atau tango merupakan satuan terkecil dalam bahasa dan setiap katanya memiliki makna tersendiri.
Kata terbagi kedalam beberapa bagian atau istilah lainnya klasifikasi kata. Menurut para tata bahasawan tradisional, klasifikasi kata terbagi menjadi dua kriteria yaitu, kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, dan adjektif, sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, dan lain-lainya (Chaer, 2004:166).
Sama halnya dengan klasifikasi kata di atas, dalam bahasa Jepang tango terbagi menjadi dua yaitu, tango yang dapat berdiri sendiri disebut jiritsugo dan tango yang tidak dapat berdiri sendiri disebut fuzokugo.
Tabel 1 Klasifikasi Kelas Kata Bahasa Jepang
| Jiritsugo | Fuzokugo |
| Meishi (kata benda) | Joshi (partikel) |
| Dooshi (kata kerja) | |
| I –keyooshi (kata sifat-i) | |
| Na –keyooshi (kata sifat- na) | |
| Fukushi (adverbia)) | Jodooshi (verba |
| Rentaishi (pronomina) | |
| Setsuzokushi (konjungsi) | |
| Kandooshi (interjeksi) |
(Sudjianto dan Dahidi, 2004:148).
Berikut penjelasan dari masing[1]masing kelas kata:
a. Meishi (Nomina)
Kata benda dalam bahasa Jepang disebut meishi. Suzuki (1992: 188) menjelaskan bahwa :
単語のなかには人や、ものや、いきもの、場所や、とき をさししめすものがあります。このような単語のことを 名詞と言います。
Tango no naka ni wa hito ya mono ya ikimono basho ya toki o sashishimesu mono ga arimasu. Konoyoona tango no koto o meishi to iimasu. „Kata yang menunjukkan waktu, tempat, makhluk, benda, dan manusia, termasuk kedalam kata yang disebut kata benda.‟
Sedangkan menurut Matsuoka, meishi adalah kata-kata yang menyatakan orang, benda, peristiwa, dan sebagainya, tidak mengalami konjungsi dan dapat dilanjutkan dengan kakujoshi (Sudjianto dan Dahidi, 2004:156). B
erdasarkan pada kedua pernyataan tersebut kata benda atau meishi merupakan kata yang menunjukkan orang, benda, makhluk, waktu, dan tempat dengan ciri-ciri dapat berdiri sendiri dan dapat digabungkan dengan partikel.
Menurut Motojiru, meishi terbagi kedalam empat jenis, yaitu sebagai berikut (Sudjiman dan Dahidi, 2004:158-160)
1) Futsuu meishi yaitu, nomina yang menyatakan nama-nama benda, barang, peristiwa, dan sebagainya. Contoh : yama, hon, gakkoo,dsb.
2) Koyuu meishi yaitu, nomina yang menyatakan nama-nama benda secara khusus seperti, nama daerah, nama negara, nama orang, nama buku dan sebagainya. Contoh: Yamato, Chuugoku, Natsume Sooseki,dsb.
Suzuki (1992:190) memberi penjelasan bahwa koyuu meishi adalah:
人、国,県、町、山、川などにつけた名まえも名詞 です。これを固有といいます。
Hito, kuni, ken, machi, yama, kawa nadoni tsuketa namae mo meishi desu. Kore wo koyuu meishi to iimasu. “Yang dimaksud dengan kata benda khusus adalah penggunaan nama pada orang, negara, prefecture, kota, gunung, sungai dan lain sebagainya.”
Kedua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa koyuu meishi merupakan nomina atau kata benda yang diberi nama secara khusus seperti : nama suatu tempat, orang atau benda secara khusus.
3) Suushi yaitu, nomina yang menyatakan bilangan, jumlah, kuantitas, urutan dan sebagainya. Contoh: ichi, yottsu, sangoo. Sedangkan josuushi adalah istilah khusus untuk kosakata yang menyatakan satuan atau jumlah, frekuensi, ukuran atau derajat, urutan, persentase, kelipatan dan sebagainya bagi kelompok objek (termasuk benda dan manusia) tertentu.
Contoh kata bantu bilangan yaitu: jikan atau kata bantu yang dipakai untuk satuan waktu yang menyatakan jumlah jam.
4) Dameishi merupakan kata yang menunjukkan sesuatu secara langsung. Kata yang digunakan untuk menunjuk seseorang disebut ninshoo daimeishi atau disebut pronomina persona. (Sudjianto dan Dahidi, 2004:160). Menurut Suzuki (1992:191) adalah, sebagai berikut:
名詞のなかにははなし手、きき手、はなし手でもき き手でもない第三の人をさししめすものがあります 。この名詞のことを代名詞といいます。
Meishi ni nakani wa hanashite, kikite, hanashite demo kikite demonai dai san ni hito wo sashishimesu mono ga arimasu. Kono meishi no koto o daimeishi to iimasu. “Kata benda yang menunjukkan orang disebut pronomina, didalamnya terdapat tiga bagian yaitu, seseorang yang menunjukkan pembicara, pendengar, dan bukan sebagai pembicara maupun pendengar.”
Sedangkan Sudjianto dalam Sembiring (2010:21) akan dibahas tiga jenis pronomina persona, yaitu pronomina persona kata ganti orang pertama (jishoo), contoh :
(1) 私はあさご飯を食べます Watashi wa asa gohan o tabemasu Saya makan pagi Kata yang bergaris bawah merupakan pronomina kata ganti orang pertama. Sedangkan yang kedua merupakan taishoo yaitu, pronomina persona kata ganti orang kedua (sebagai pendengar). Pada contoh berikut kata “anata” merupakan kata ganti orang kedua:
(2) あなたはバスで行きましたか。 Anata wa basu de ikimashitaka. Kamu telah pergi dengan bus?
(3)あのかたはやさしいです。 Anokata wa yasashii desu. Orang itu ramah. Selanjutnya kata “anokata” pada contoh tersebut berfungsi sebagai pronomina persona kata ganti orang ketiga karena “anokata” merupakan objek atau seseorang yang dibicarakan.
b. Dooshi (Verba)
Dooshi atau kata kerja berarti kata yang menyatakan suatu tindakan atau perbuatan, menurut Sudjianto dan Dahidi (2004:149) kelas kata ini (Verba) diapakai untuk menyatakan aktivitas, keberadaan, atau keadaan sesuatu. Sebagai contoh kalimat berikut :
(4) アミルさんは日本へ行く Amiru san wa Nihon e iku Amir akan pergi ke Jepang
Kata iku pada kalimat di atas termasuk dooshi. Kata iku pada kalimat tersebut menyatakan aktivitas Amir yang akan pergi ke Jepang. Selanjutnya Suzuki juga (1992:225) mendefinisikan verba sebagai berikut:
単語のなかには、人やもののうごき、状態の変化存在を さししめすものがあります。このような単語のことを動 詞といいます
Tango no nakani wa, hito ya mono no ugoki, juutai no henka, sonzai o sashishimesu, mono ga arimasu. Konoyoona tango no koto o dooshi to iimasu. “Kata kerja merupakan kata yang didalamnya menunjukkan pergerakan orang maupun benda, menunjukkan situasi perubahan keberadaan suatu benda atau orang.”
Berdasarkan pada kedua teori tersebut kata kerja atau dooshi merupakan kata yang menunjukkan atau menerangkan suatu aktivitas suatu perubahan maupun pergerakan situasi dari benda maupun orang.
c. I-keyooshi dan Na-keyooshi (Adjektif)
I-keyooshi dan na-keyooshi merupakan kelas kata yang menyatakan sifat atau keadaan sesuatu dengan sendirinya dapat menjadi predikat dan dapat dengan sendirinya membentuk sebuah bunsetsu (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 155).
d. Fukushi (Adverbia)
Fukushi merupakan kelas kata yang tidak mengalami perubahan bentuk dan dengan sendirinya dapat menjadi keterangan yoogen walaupun tanpa mendapat bantuan dari kata-kata yang lain. Contohnya : kanarazu, totemo, mattaku, dan lain sebagainya. (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 165).
e. Rentaishi (Prenomina)
Rentaishi adalah kelas kata yang termasuk kelompok Jiritsugo. Tidak mengenal konjungsi, yang digunakan hanya untuk menerangkan nomina. Contohnya seperti: kono, ano, sono, dono, dan lain sebagainya. (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 162).
f. Setsuzokushi (Konjungsi)
Setsuzokushi adalah salah satu kelas kata yang termasuk kedalam kelompok jiritsugo yang tidak dapat mengalami perubahan. Contohnya seperti: sorede, dakara, demo, dan lain sebagainya (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 170).
g. Kandooshi (Interjeksi)
Menurut Yoshiaki, merupakan kata-kata yang mengandung ungkapan perasaan seperti rasa terkejut dan rasa gembira, namun selain itu di dalamnya terkandung juga kata-kata yang menyatakan panggilan atu jawaban terhadap orang lain. Kandooshi yang menyatakan perasaan seperti: ara, maa, oya, dan lain sebagainya. Sedangan kandooshi yang menyatakan panggilan atau jawaban terhadap orang lain adalah moshi moshi, bai, iie, dan lain sebagainya (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 169).
h. Joshi (Partikel)
Joshi adalah kelas kata yang termasuk fuzokugo yang dipakai setelah suatu kata untuk menunjukkan hubungan antara kata tersebut dengan kata lain serta untuk menambahkan arti kata tersebut lebih jelas lagi. Berdasarkan fungsinya, Hirai membagi joshii kedalam empat bagian sebagai berikut:
- Kakujoshi : joshii yang dipakai setelah nomina untuk menunjukkan hubungan antara nomina tersebut dengan kata lainya (ga, no, o, ni, to, yori, kara, de, dan ya).
- Setsuzokujoshi : diletakkan setalah dooshi, i atau na-keiyooshi atau setelah jodooshii untuk melanjutkan kata-kata yang sebelumnya terhadap kata-kata yang ada pada bagian berikutnya (ba, to , keredomo, ga, kara, shi, temo, (desmo), te (de), nagara, tari (dari), noni, dan node).
- Fukujoshi : partikel yang dipakai setelah berbagai macam kata (wa, mo, koso, sae, demo, shika, made, bakari, dake, bodo, kurai (gurai), nado, nari, yara, ka, dan zutsu).
- Shuujoshi : umumnya dipakai setelah berbagai macam kata pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan suatu pertanyaan, larangan, seruan, rasa haru, dan sebagainya (ka, kashira, na, naa, zo, tomo, yo, ne, wa, no, dan sa). (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 181-182).
i. Jodooshi (Verba Bantu)
Jodoshi merupakan kelas kata dalam fuzokugo yang dapat berubah bentuknya. Salah satu contoh dari fuzokugo adalah bentuk ukemi atau kalimat pasif (Sudjianto dan Dahidi, 2004: 181-182)
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa terdapat sembilan jenis kelas kata dalam bahasa Jepang yang masing-masing memiliki fungsi dalam membentuk kalimat, seperti meishi yang dapat berfungsi sebagai objek maupun subjek dalam sebuah kalimat dan setsuzokushi yang dapat menggabungkan dua kalimat serta fungsi-fungsi dari kata lainnya.
Pola Kalimat dalam Bahasa Jepang
Seperti yang sudah dijelaskan pada teori sebelumnya bahwa unsur pembentuk kalimat adalah kata dan untuk menjadi kalimat bermakna kata harus disusun sesuai dengan pola yang sudah ada. Pada kamus besar bahasa Indonesia (2005:885), pola kalimat terdiri dari dua kata yaitu “pola” dan “kalimat”.
Pola adalah bentuk (struktur) yang tetap, sedangkan kalimat berarti konsep sintaktis yang mencakupi konstruksi, seperti indikatif (kata kerja), interogatif (kata tanya), imperatif (kalimat perintah). Sehingga pola kalimat dapat diartikan sebagai hubungan antara kata kerja, kata tanya, dan kata perintah yang sudah ditetapkan struktur kalimatnya.
Iwabuchi dalam Sudjianto dalam Septiyani (2012:11), mengungkapkan bahwa, „Bunkei atau pola kalimat bahasa Jepang merupakan suatu pola tertentu yang digunakan untuk membentuk kalimat menggunakan kata-kata‟.
Dengan demikian pola kalimat merupakan susunan beberapa kata yang diatur oleh struktur tetap sehingga dapat membentuk kalimat bermakna. Begitu pula pada kalimat yang digunakan dalam penelitian ini, untuk membentuk sebuah kalimat aktivitas diperlukan tiga bentuk pola berikut:
Kata benda + を + Kata kerja bentuk ます。 Contoh : (5) 本を読みます。 Hon o yomimasu Membaca buku (Niongo Shoho, 1981:60).
Subjek + は + Kata keteranga waktu + に + Kata benda + を + Kata kerja bentuk ます。
Contoh : (6) 私は五時にテレビを見ます。 Watashi wa go ji ni terebi o mimasu Jam lima saya melihat Televisi (Jibun de tsukuru). Subjek + は + Kata keterangan tempat + で + Kata benda + を + Kata kerja bentuk ます。 Contoh : (7) たなかさんはすし屋ですしを食べます。 Tanaka san wa sushiya de sushi o tabemasu Tanaka makan sushi di took sushi (Website Coscom).
Ketiga contoh kalimat di atas merupakan pola kalimat yang digunakan dalam membentuk kalimat aktivitas. Selain itu terdapat empat unsur kata pembentuk kalimat aktivitas. Pertama yaitu, meishi atau kata benda. Terdapat tiga jenis kata benda yang digunakan dalam pola kalimat aktivitas tersebut yaitu sebagai berikut:
a. Futsu meishi yang menyatakan:
1) Kata benda basa jepang:
Tabel 2 Kata Benda Kalimat Aktivitas Bahasa Jepang
| No | Menunjukkan benda | Arti |
| 1 | ベッド (beddo) | Kasur |
| 2 | 音楽 (ongaku) | Musik |
| 3 | 本 (hon) | Buku |
| 4 | 雑誌 (zasshi) | Majalah |
| 5 | テレビ (terebi) | Televisi |
| 6 | 水 (mizu) | Air |
| 7 | 日記 (nikki) | Buku harian |
| 8 | お祈り (oinori) | Doa |
| 9 | 宿題 (shukudai) | Tugas |
| 10 | 勉強 (benkyoo) | Belajar |
2) Kata benda yang menunjukkan keterangan waktu :
Tabel 3 Kata Benda Keterangan Waktu Bahasa Jepang
| No | Menunjukkan waktu | Arti |
| 1 | 朝 (asa) | Pagi |
| 2 | 昼 (hiru) | Siang |
| 3 | 夜 (yoru) | Malam |
3) Kata benda yang menunjukkan keterangan tempat :
Tabel 4 Kata Benda Keterangan Tempat
| No | Menunjukkan tempat | Arti |
| 1 | 内 (uchi) | Rumah |
| 2 | 学校 (gakkoo) | Sekolah |
| 3 | 部屋 (heya) | Kamar |
| 4 | 図書館 (toshokan) | Perpustakaan |
| 5 | モスク (mosuku) | Masjid |
| 6 | ~屋 (ya~) | Toko |
b. Koyuu meishi
yang menyatakan nama orang seperti: Tanaka, Tania, Mika, dan Riko.
c. Josushii atau nomina yang menyatakan waktu :
Tabel 5 Kata Benda Keterangan Waktu Bahasa Jepang
| No | Josushii | Arti |
| 1 | 一時 (ichiji) | Jam 1 |
| 2 | 二時 (niji) | Jam 2 |
| 3 | 三時 (sanji) | Jam 3 |
| 4 | 四時 (yoji) | Jam 4 |
| 5 | 五時 (goji) | Jam 5 |
| 6 | 六時 (rokuji) | Jam 6 |
| 7 | 七時 (sichiji) | Jam 7 |
| 8 | 八時 (hachiji) | Jam 8 |
| 9 | 九時 (kuji) | Jam 9 |
| 10 | 十時 (juuji) | Jam 10 |
| 11 | 十一時 (juuichiji) | Jam 11 |
| 12 | 十二時 (juuniji) | Jam 12 |
Klasifikasi kata kedua yaitu dameishi yang menunjukkan orang (ninshoo daimeishi) dengan jenis jishoo atau kata ganti orang pertama yaitu watashi. Ketiga, joshi atau partikel yang digunakan dalam kalimat tersebut yaitu partikel fukujoshi (wa), partikel wa berfungsi untuk menjelaskan kata benda yang menjadi subjek kalimat dan kakujoshi (o dan de) partikel o pada kalimat tersebut berfungsi menghubungkan nomina dengan kata kerja, sedangkan partikel de berfungsi menghubungkan kata keterangan tempat dengan kata benda. Unsur keempat yaitu kata kerja atau dooshi. Berikut kata kerja yang digunakan dalam kalimat penelitian:
Tabel 6 Kata Kerja Kalimat Aktivitas Bahasa Jepang
| No | Kata kerja(Dooshi) | Arti |
| 1 | おきます (okimasu) | Bangun |
| 2 | 浴びます (abimasu) | Mandi |
| 3 | 食べます (tabemasu) | Makan |
| 4 | 行きます (ikimasu) | Pergi |
| 5 | します (shimasu) | Melakukan |
| 6 | 聞きます (kikimasu) | Mendengar |
| 7 | 読みます (yomimasu) | Membaca |
| 8 | 書きます (kakimasu) | Menulis |
| 9 | 見ます (mimasu) | Melihat |
| 10 | 帰ります (kaerimasu) | Pulang |
| 11 | 寝ます (nemasu) | Tidur |
Keempat unsur kata tersebut merupakan pembentuk kalimat aktivitas. Kata yang telah terjabarkan pada tabel dipilih berdasarkan aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh siswa melalui angket yang telah dibagikan. Angket tersebut berisi uraian kegiatan siswa mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, selain itu pola kalimat yang digunakan merupakan pola kalimat dasar atau pola yang diajarkan khusus untuk level pemula pembelajar bahasa Jepang. Pola tersebut juga dipelajari dalam buku Minna no Nihongo Shokyuu I bab empat tentang waktu atau jam, perubahan bentuk kata kerja dan kalimat yang menceritakan aktivitas sehari-hari.