Prestasi Belajar Menurut Para Ahli

Prestasi Belajar Menurut Para Ahli

a. Belajar

Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan. Ciri khas belajar adalah perubahan. belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur-unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis-jenis dan jenjang pendidikan. Menurut Hilgard (dalam Wina Sanjaya, 2006:112) “ belajar adalah susatu proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan didalam laboratorium maupun dalam lingkunan alamiah”.Menurut Djamarah danZain (2002:11). “ belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan”, artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segala aspek organisme. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan susatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.Menurut Slameto (2003:2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengelamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Namun kegiatan-kegiatan yang perlu proses tertentu seperti ketika anak-anak menggunakan komputer dengan software baru, seseorang yang bekerja keras menemukan penyelesaian, seseorang yang bertanya mengenai hal-hal yang baru, kemudian menjelaskan sesuatu dengan logika yang lebih tepat, atau mendengarkan secara lebih seksama, pengalaman-pengalaman inilah yang disebut dengan belajar menurut Mulyasa (2006:24). Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha atau interaksi yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu yang baru dan perubahan keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman itu sendiri. Perubahan itu akan nampak dalam penguasaanpola-pola respon yang baru terhadap lingkungan berupa ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, kecakapan dan sebagainya.

b. Prestasi Belajar

Menurut Djamarah(2012:19) “prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok”. Ahmadi(1995:21) mengungkapkan bahwa prestasi adalah hasil kegiatan yang telah dicapai dalam usaha belajar yang ditandai oleh adanya perubahan situasi yang terlihat dalam proses perkembangan diri siswa untuk mencapai tujuan. Menurut Hamalik (2001: 43) prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang diharapkan pada murid setelah dilaksanakan kegiatan belajar mengajar, artinya suatu prestasi belajar muncul akibat adanya proses belajar mengajar. Prestasi belajar merupakan hasil respon dan pengolahan atas pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Pengertian yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.

Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan aktivitas belajarnya yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf. Untuk mengetahui seberapa jauh prestasi akademik tersebut, maka diperlukan pengukuran dan penilaian hasil belajar. Pengukuran mencangkup segala cara untuk memperoleh informasi mengenai hasil belajar yang dapat dikuantifikasikan (Suryabrata,2000:30). Prestasi belajar lebih jauh dapat diukur tinggi dan rendahnya berdasarkan nilai ujian yang diperoleh berupa rapor.

Peningkatan prestasi belajar dapat dicapai dengan memperhatikkan beberapa aspek, baik internal maupun eksternal. Aspek eksternal di antaranya adalah bagaimana lingkungan belajar dipersiapkan dan fasilitas-fasilitas diberdayakan, sedangkan aspek internal meliputi aspek perkembangan anak, dan keunikan personal individu anak.
Menurut Muhibbin (2003:45-46) secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni :

  • Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa;
  • Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa;
  • Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa untuk meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaan materi-materi pembelajaran.

Jadi, karena faktor-faktor tersebut muncul siswa-siswa yang high archievers (berprestasi tinggi) dan under-archievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali, dalam hal ini seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.

1) Faktor internal

• Aspek Fisiologis (yang bersifat jasmaniah)

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-ogan tubuh dan sendi sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dan disertai pusing kepala berat dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinyapun kurang atau tidak berbekas. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah tersebut, selaku guru yang profesional seyogianya bekerjasama dengan pihak sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat. Dan siswa siswa tersebut ditempatkan di deretan kursi bagian depan.

• Aspek psikologis

a. Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis kecakapan untuk menghadapi dan menguasai kedalaman dengan situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui konsep-konsep yang abstrak dan efektif, mengetahui relasi dan mempelajari dengan cepat. Jadi intelegensi berpengaruh terhadap belajar. Walaupun begitu siswa mempunyai intelegensi tinggi belum tentu berhasil dalam belajar, sebab belajar suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhi, sedangkan intelegensi hanya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam belajar.
Untuk menolong siswa yang berbakat, sebaiknya guru menaikkan kelas nya setingkat lebih tinggi daripada kelasnya sekarang agar dia mendapatkan kelas dengan tingkat kesulitan mata pelajarannya sesuai dengan tingkat intelegensinya atau menyerahkan siswa tersebut ke lembaga pendidkan khusus untuk para siswa berbakat. Kemudian untuk menolong siswa yang berkecerdasan di bawah normal adalah dengan memindahkankan siswa tersebut ke lembaga khusus untuk anak-anak penyandang “kemalangan” IQ.

b. Sikap Siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relative tetap tehadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negativ. Untuk mengatasi kemungkinan munculnya sikap negativ siswa, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadibagiannya. Dalam hal bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan untuk senantiasa menghargai dan mencintai profesinya. Tidak hanya menguasai bahan-bahan yang terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga mempu meyakinkan kepada para siswa akan manfaat bidang studi tertentu, siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap positif terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarkanny.

2) Faktor Eksternal

• Lingkungan sosial

Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.Didalam menjalankankurikulum, guru hendaknya dapat memperhatikan keadaan siswa sehingga siswa dapat menerima dan menguasai pelajaran yang disampaikan oleh guru. Metode mengajar yang digunakan oleh guru sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Untuk meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, guru harus mampu mengusahakan metode belajar yang tepat, efektif dan efisien.

Guru harus mampu menciptakan keakraban dengan siswa sehingga didalam memberikan pelajaran mudah diterima oleh siswa dan guru harus mampu membuat siswa dengan siswa lain terjalin hubungan yang akrab. Sebab dengan keakraban dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.

Selanjutnya, yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa tersebut. Kondisi massyarakat dilingkungan kumuh yang serba kekurangan dan anak-anak penganggur misalnya, akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Paling tidak, siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau meminjam alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimilikinya. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

• Lingkungan Nonsosial

Menurut Suryabrata (2010:67) faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.Rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tak memiliki sarana umum untuk kegitan remaja (seperti lapangan voli) misalnya, akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.

3) Faktor Pendekatan Belajar

Pendekatan belajar, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Di samping faktor-faktor internal dan eksternal siswa, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendektan belajar deep misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang bermutu daripada siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau reproductive(Ilyas: 37-45).
Menurut Arifin (1988:3) prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi utama antara lain :

  • Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
  • Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
  • Prestasi belajar sebagai informasi dan inovasi pendidikan
  • Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
  • Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadapdaya serap (kecerdasan) anak didik.

Dengan demikian penting untuk mengetahui prestasi yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar. Selain berfungsi sebagai indikator pengetahuan yang dikuasai siswa dalam bidang tertentu, juga untuk mengetahui indikator kualitas sekolah. Disamping itu, digunakan sebagai umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Banyak yang baca