Model pengembangan ini disusun atas dasar inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum yang bukan datang dari atasan, tetapi bawahan yaitu guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum tipe grass roots berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum yang berkenaan dengan suatu komponen kurikulum dalam beberapa bidang studi.
Model ini dinilai lebih baik dan lebih efektif karena didasarkan atas pertimbangan bahwa guru yang bertindak sebagai perencana, pelaksana, dan juga penyempurna kegiatan pembelajaran. Guru dianggap paling tahu kebutuhan kelasnya dan paling kompeten untuk menyusun kurikulum bagi kelasnya. Model pengembangan kurikulum grass roots mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi suatu sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum model grass roots dapat meningkatkan mutu system pendidikan dan membentuk karakter individu yang lebih mandiri dan kreatif.
Pengembangan kurikulum model grass roots diawali oleh guru di sekolah dengan menganalisis kelemahan kemudian diarahkan untuk merevisi kurikulum. Orientasi yang demokratis dari rekayasa model grass roots dapat semakin memantapkan pengembagan kurikulum. Kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru terlibat langsung dalam pengembangan kurikulum. Bukan hanya para professional, tetapi peserta didik, orang tua, dan masyarakat bisa turut terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.
Guru sebagai kunci dalam pengembangan kurikulum yang efektif harus memegang tiga prinsip yang menjadi dasar pengembangan kurikulum model grass roots, yaitu sebagai berikut.
- Kurikulum akan terlaksana dengan baik apabila kompetensi professional guru ditingkatkan.
- Kompetensi guru akan meningkat bila guru terlibat secara langsung dalam pengembangan kurikulum.
- Jika guru berpartisipasi aktif dalam membentuk tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam memilih, mendefinisikan, memecahkan masalah yang akan dihadapi, mempertimbangkan dan menilai hasil, maka proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil.
- Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum akan berdampak terhadap pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus tujuan, prinsip maupun rencana-rencana.
Guru dan komite kurikulum dapat bekerja sama memahami satu sama lain, sehingga tercapai persetujuan berdasarkan prinsip-prinsip dasar, tujuan- tujuan dan rencana-rencana. Prinsip ini bersifat operasional karena guru didorong untuk bekerja kooperatif dalam merencanakan kurikulum baru. Dorongan terjadi bila administrator menyediakan pelatihan kepemimpinan, waktu yang lebih bebas, dan hal lainnya yang mendukung perencanaan dan pengembangan kurikulum.
Pengembangan kurikulum model grass roots biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakan ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran atau kegiatan evaluasi seperti yang diharapkan atau masalah kurangya motivasi belajar siswa sehingga kita merasa terganggu dan lain sebagainya. Pemahaman dan kesadaran guru merupakan kunci dalam pengembangan model grass roots.
Apabila dirasakan adanya masalah maka selanjutnya kita berusaha mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji kurikulum yang sedang berlaku. Dengan pemahaman tersebut akan memudahkan bagi guru dalam mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa dalam memperoleh pengalaman belajar.
Dalam tahap ini, biasanya diadakan lokakarya untuk membahas hasil yang telah dicapai dan merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya dengan berpedoman pada analisis kebutuhan yang telah dilakukan. Pengikut lokakarya disamping para pengajar dan kepala sekolah juga orang tua peserta didik dan anggota masyarakat lainnya serta para konsultan dan para narasumber lainnya. Dengan diadakannya lokakarya-lokakarya, maka akan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan secara demokratis sehingga merujuk pada pembuatan keputusan. Dengan dilakukannya pembuatan keputusan maka selanjutnya yang mengikuti lokakarya dapat membuat suatu perencanaan kurikulum yang nantinya akan menghasilkan kurikulum baru atau menyempurnakan kurikulum yang sudah ada.
Sumber Bacaan
Ahmad, M. 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV Pustaka Setia. Broad Base Education. 2001. Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup. Jakarta: Depdiknas.
Djahiri, A. K. 1985. Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral VCT dan Games dalam VCT. Bandung: Jurusan PPKn FPIPS IKIP Bandung.
Harta, J. 2019. Kajian Kurikulum Kimia SMA dan SMK. Yogyakarta: CV Budi Utama.
Oemar, H. 2001. Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Yayasan Al- Madani Terpadu.
Oemar, H. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Bumi Aksara.
Sanjaya, W. 2008. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sukmara, D. 2007. Impelementasi Life Skill dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Mughni Sejahtera.