Sistem Paguron menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara merupakan suatu sistem pendidikan nasional karena sistem pendidikan ini berorientasi pada nilai-nilai kultural, hidup kebangsaan serta kemasyarakatan Indonesia. Gagasan paguron mencakup pengertian bahwa paguron sebagai tri pusat pendidikan, yaitu sebagai tempat guru, sebagai tempat belajar, dan sebagai tempat pendidikan dalam masyarakat.
Berdasarkan pengamatan secara langsung dalam kehidupan masyarakat saat ini sebenarnya banyak menjumpai pendidikan pada pesantren modern yang berkembang di kota-kota besar maupun di desa-desa di Indonesia. Penulis ingin menunjukkan bahwa konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan sistem paguron benar-benar diterapkan dalam dunia pendidikan di luar Taman Siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Tyasno Sudarto, seorang tokoh TNI.
“Kendati ajaran militer itu keras, toh tidak ada unsur pemaksaan. Selain itu, saya melihat sistem padepokan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara ada juga dalam militer. Sebab, banyak prajurit tinggal di asrama. Antara pimpinan dan anak buah tinggal dalam satu lingkungan, sehingga pimpinan, pamong, atau guru bisa mengikuti perkembangan dan proses pendidikan anak. Saya sudah lama mengagumi beliau, terutama ajaran-ajarannya. Ternyata, konsep ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani sangat klopdalam dunia militer (Sudarto, 2008: 78).
Gagasan Ki Hadjar Dewantara menciptakan pendidikan berbentuk pondok asrama terwujud secara fisik melalui pembangunan SMA Taruna Nusantara di Magelang tahun 1990. Penjabaran sistem pondok ini tampak dalam bentuk kerjasama Taman Siswa dengan ABRI ketika sepakat mendirikan SMA Taruna Nusantara. Peresmian sekolah itu dilakukan oleh Try Soetrisno yang ketika itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Inilah babak baru bagi Taman Siswa yang menerima kepercayaan pihak ABRI. Latar belakang terjalinnya kerjasama ini diprakarsai oleh LB Moerdani.
Ketika memaparkan lintasan sejarah Taman Siswa, H. Moesman Wiryosentono menuliskan, “20 Mei 1987 di Pendapa Agung Taman Siswa LB Moerdani melontarkan gagasan agar Taman Siswa menyelenggarakan pendidikan untuk mempersiapkan calon kader bangsa, yang diperlukan bangsa Indonesia di masa datang. Pada saat itu diusulkan bentuk sekolah tingkat menengah atas. Prakarsa ini ditanggapi positif oleh Majelis Luhur sebagai pimpinan pusat Taman Siswa dan berkembang menjadi kerjasama dari pihak ABRI maka terwujudlah SMA Taruna Nusantara di Magelang. Tugas pokok dalam kerjasama itu, pihak ABRI mempersiapkan dan menyediakan perangkat keras, sedangkan Taman Siswa bertanggung jawab terhadap persiapan penyediaan perangkat lunaknya. SMA Taruna Nusantara adalah wujud nyata kerjasama sistem paguron dengan pendidikan militer, namun tidak untuk menciptakan militerisme. Konsep kedisiplinan dan sistem asrama bisa saling mengisi dalam menghadapi tantangan jaman. Dilihat dari konsep Taman Siswa, SMA Taruna Nusantara merupakan konsep perguruan dari Ki Hadjar Dewantara dalam skala nasional.
Sekolah ini menggunakan asrama sebagai sistem pendidikannya, sehingga semua tinggal bersama-sama satu kompleks dengan para guru, pamong, dan pengurus sekolah, membentuk suatu masyarakat kekeluargaan dalam kebersamaan yang tinggi. Menurut Tyasno Sudarto, SMA Taruna Nusantara menggunakan sistem Tri Pusat, yakni memadukan tiga lingkungan pendidikan, yaitu pendidikan sekolah, pendidikan keluarga, dan pendidikan masyarakat. Selain itu metode among diterapkan dengan TutwuriHandayani sebagai dasar pengajaran, pengasuhan, dan pelatihannya (Sudarto, 2008: 80).
Pendidikan militer yang memiliki citra kedisiplinan pada kenyataannya sangat relevan dengan ajaran pendidikan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa, yaitu memberikan kebebasan bagi para individu untuk berkembang sesuai dengan kodrat alam. Ki Hadjar Dewantara juga pernah mengatakan bahwa kita bisa hidup di alam masyarakat yang tertib dan damai. Artinya, kebebasan tidak boleh lepas dari ketertiban, karena ketertiban akan melahirkan kedamaian. Kalau tidak tertib, pasti tidak akan ada kedamaian, oleh sebab itu, kalau kita semua masyarakat tertib dipastikan karena masyarakatnya disiplin, jadi semua itu sangat relevan dengan apa yang terdapat di dalam pendidikan militer. Antara pendidikan militer dan pendidikan di Taman Siswa tidak ada perbedaan, sama-sama menciptakan tujuan yang positif, yaitu tertib dan damai.
Asas Taman Siswa mengatakan bahwa hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan di dalam kehidupan umum. Tertib dan damai itulah yang menjadi tujuan setinggi-tingginya. Tidak ada kedamaian bila tidak ada ketertiban. Sekarang ini masyarakat masih belum mengerti dan memahami apa yang di tanamkan sistem pendidikan Taman Siswa di era globalisasi. Sebenarnya, Taman Siswa bukanlah sekedar sekolah, namun sebuah badan perjuangan, kebudayaan, dan pembangunan masyarakat yang berdasarkan kiprah pendidikan dalam arti luas. Taman Siswa tidak pernah memisahkan pendidikan nasional dengan masalah-masalah yang ada di dalam masalah kebangsaan. Sebagai badan perjuangan, Taman Siswa sangat peduli dengan masalah yang dialami rakyat dan masyarakat, serta selalu berpartisipasi secara efektif membangun politik kenegaraan, ekonomi, budaya, dan pertahanan keamanan masyarakat.
Melihat berbagai macam pola pendidikan yang berbeda satu dengan lainnya, Taman Siswa tetap berkeyakinan bahwa sistem pendidikan harus kembali ke sistem pendidikan yang sudah dijabarkan oleh Ki Hadjar Dewantara walaupun harus disesuaikan dengan perkembangan jaman dan globalisasi. Apa yang ditanamkan Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya sudah menjadi dasar pemikiran yang terusmenerus harus disosialisasikan kepada anak didik dan masyarakat.
Pengaruh budaya luar tidak bisa ditolak, jika terdapat hal yang baik, bisa diambil dijadikan ajaran baru, sedang yang jelek dibuang. Semuanya harus sesuai dengan jati diri bangsa dan kemudian dikembangkan sebagai bagian ajaran baru. Filter dari semuanya adalah kesadaran akan kodrat alam bahwa manusia mempunyai kebiasaan-kebiasaan hidup yang berbeda-beda antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Dipilihnya sistem paguron dari Ki Hadjar Dewantara karena sistem pondok yang dimaksudkan Ki Hadjar Dewantara besar sekali faedahnya.
Faedah pertama, membuat murahnya belanja. Seorang yang hidup paguron seharusnya berani hidup sederhana. Menurut Prof. Van Vollenhoven dalam tulisannya, The Old Glory, yang dikutip Prof Dr. Sukanto, Ki Hadjar Dewantara seorang di antara sedikit orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pengajaran berdasarkan kekuatan sendiri, yang lebih murah untuk masyarakat, seratus kali lebih berguna dan lebih baik daripada pengajaran yang berdasarkan Barat. Dengan demikian, sistem paguron adalah sistem nasional yang sesuai dengan kepribadian bangsa, murah dan sangat baik hasilnya.
Faedah kedua, guru-guru dan murid hidup bersama tiap hari. Siang dan malam berkumpul dan bergaul bersama menurut pedagogik yang hidup, yakni dengan contoh-contoh keteladanan, terutama dalam suasana kehidupan keluarga sehari-hari yang nyata dan baik. Cara seperti ini menjadikan anak-anak didik tidak terpisahkan dengan orangtuanya, baik lahir maupun batin.
Anak-anak sehari-hari terus merasa anak rakyat, terus hidup dalam alam kemanusiaan. Berhubungan dengan pengajaran, anakanak harus berhubungan dengan kondisi saat ini, selalu berhubungan dengan barang-barang nyata dan harus bermaksud mendidik lahir batin, mematangkan anak-anak untuk hidup sebagai manusia utama dalam dunia raya (Sudarto, 2008: 83).
Sumber Bacaan
Sudarto, Tyasno, 2008, Garis Simpul Karya Ki Hadjar Dewantara, Galang Press, Yogyakarta.