Asesmen Diagnostik merupakan metode evaluasi khusus yang bertujuan mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan peserta didik. Dengan memahami kondisi individu siswa, pendidik dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi mereka. Hasil dari Asesmen Diagnostik memungkinkan pengenalan potensi peserta didik serta area yang perlu ditingkatkan. Peserta didik yang menunjukkan perkembangan atau hasil belajar tertinggal, berdasarkan hasil asesmen tersebut, dapat menerima pendampingan belajar secara afirmatif. Dengan pendekatan ini, pendidikan menjadi lebih inklusif dan berfokus pada pengembangan penuh potensi setiap peserta didik, menciptakan lingkungan pembelajaran yang responsif dan mendukung.
Kesiapan guru dalam mengimplementasikan Asesmen Diagnostik
Kesiapan guru dalam mengimplementasikan asesmen diagnostik memainkan peran kunci dalam memastikan efektivitas evaluasi. Pertama, guru perlu memahami tujuan asesmen diagnostik, yaitu untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan kebutuhan peserta didik. Mereka harus memiliki pengetahuan mendalam tentang alat dan teknik asesmen yang sesuai untuk mengumpulkan informasi relevan.
Selanjutnya, guru perlu mengembangkan keterampilan interpretasi hasil asesmen, memahami implikasi psikologis dan pedagogis dari data yang diperoleh. Keterampilan komunikasi yang baik juga penting agar guru dapat berkomunikasi dengan siswa, orang tua, dan rekan guru mengenai hasil asesmen dengan jelas dan membangun solusi bersama.
Kesiapan guru juga mencakup kemampuan untuk merancang strategi pembelajaran yang responsif terhadap temuan asesmen. Ini melibatkan pengembangan rencana aksi individual untuk mendukung perkembangan setiap siswa berdasarkan hasil asesmen diagnostik.
Terakhir, guru perlu terus memperbarui pengetahuan mereka mengenai tren terkini dalam asesmen dan pendidikan. Kesiapan yang berkelanjutan memungkinkan guru menghadapi dinamika perubahan dalam kurikulum, teknologi, dan teori pendidikan secara efektif, menciptakan pengalaman pembelajaran yang optimal untuk setiap siswa.
Asesmen Diagnostik Kognitif
Asesmen Diagnosis Kognitif adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (Pusmenjar, 2021). Asesmen diagnosis kognitif bertujuan untuk mengidentifikasi capaian kompetensi siswa, menyesuaikan pembelajaran dengan kompetensi rata-rata, memberikan remidial bagi kelompok siswa di bawah rata-rata. Asesmen ini memetakan kemampuan semua siswa di kelas secara cepat, untuk mengetahui siswa yang sudah paham, siswa yang agak paham, dan siswa yang belum paham. Dengan demikian Bapak atau Ibu guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa.
Beda halnya dengan asesmen diagnosis kognitif, asesmen diagnosis nonkognitif bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, aktivitas belajar di rumah dan kondisi keluarga siswa. Beragamnya kondisi sosial ekonomi, akses teknologi, serta kondisi wilayah, menyebabkan proses belajar dan kompetensi siswa menjadi sangat bervariasi.
Kepala sekolah bertanggung jawab memastikan asesmen diagnosis dilakukan di semua kelas secara berkala pada awal pembelajaran. Sebaliknya apabila guru menyusun rencana pembelajaran tanpa mempertimbangkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka hasil belajar yang baik akan sukar didapatkan. Capaian kompetensi siswa secara umum akan menurun, yang pada giliran berpengaruh pula pada daya saing mereka dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Secara ringkas asesmen diagnosis terdiri atas tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Walaupun terdapat dua jenis asesmen diagnosis, yaitu kognitif dan nonkognitif namun tahapan-tahapan tadi tetap berlaku pada keduanya. Tidak ada bentuk yang baku untuk masing-masing tahapan, semuanya sangat bergantung kepada aspek asesmen, jenjang sekolah, kelas siswa berada, mata pelajarannya, sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.(Arbarini et al., 2022)
Tujuan Asesmen Diagnostik Kognitif
- Mengidentifikasi pencapaian kompetensi peserta didik
- Merancang pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi rata-rata peserta didik
- Membentuk kelas remedial yang mampu mengakomodir peserta didik dengan kemampuan di bawah rata-rata
Tahap Asesmen Diagnostik Kognitif
Adapun tahap asesmen diagnostik kognitif adalah sebagai berikut:
Cara melakukan asesmen diagnostik diawali dengan persiapan. Adapun persiapan meliputi hal-hal berikut:
- Membuat jadwal pelaksanaan asesmen.
- Mengidentifikasi materi asesmen sesuai dengan KD yang telah disediakan oleh Kemendikbudristek.
Menyusun pertanyaan sederhana, yang mencakup 2 pertanyaan sesuai capaian pembelajaran baru, 6 soal kelas satu tingkat di bawahnya, dan 2 soal dua tingkat di bawahnya. Contohnya, apabila saat ini Guru mengampu mata pelajaran IPA untuk Kelas 6, pertanyaan dalam asesmen tersebut akan mencakup 2 soal dari materi Kelas 6 Semester 1, 6 soal dari materi Kelas 5 (baik Semester 1 maupun Semester 2), dan 2 soal dari materi Kelas 4 Semester 2.
Tahap pelaksanaan meliputi kegiatan pengerjaan soal-soal asesmen oleh peserta didik. Soal diberikan untuk semua siswa, baik siswa tatap muka atau siswa daring (jika menerapkan hybrid learning).
Langkah-langkah di tahap ini meliputi:
- Mengolah hasil asesmen
- Untuk mengolah hasil asesmen, Bapak/Ibu bisa membuat skor misal 1 – 5 atau berupa pernyataan misal
- “Paham utuh”, “Paham sebagian”, atau “Tidak paham”.
- Hitung rata-rata peroleh kompetensi peserta didik.
- Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh, Bapak/Ibu bisa membagi peserta didik ke dalam tiga kelompok. 1) Jika perolehan peserta didik sama dengan rata-rata kelas, peserta didik akan diajar oleh guru kelas yang bersangkutan sesuai dengan fasenya. 2) Jika perolehan peserta didik di bawah rata-rata guru yang bersangkutan akan memberikan pendampingan berupa materi tambahan. 3) Jika perolehan peserta didik di atas rata-rata, peserta didik tersebut bisa mengikuti pengayaan.
Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Asesmen diagnostik non-kognitif memiliki fokus pada pemahaman kondisi psikologi, emosional, dan sosial peserta didik. Tujuannya adalah untuk menyelidiki aspek-aspek personal yang dapat memengaruhi kinerja akademis mereka. Dalam konteks ini, sangat penting untuk menyadari bahwa kondisi personal peserta didik memiliki dampak signifikan pada prestasi belajar di sekolah. Sebagai contoh, jika seorang siswa mengalami ketidaknyamanan di rumah karena masalah keluarga, kemungkinan besar dia akan kesulitan untuk menjaga fokus dan keterlibatannya di sekolah.
Asesmen diagnostik non-kognitif melibatkan penilaian terhadap kesejahteraan emosional, motivasi, dan kemampuan beradaptasi peserta didik. Dengan memahami secara mendalam faktor-faktor ini, pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih sensitif dan responsif. Selain itu, jika hasil asesmen menunjukkan adanya tantangan dalam aspek non-kognitif, pendampingan dan dukungan khusus dapat diberikan untuk membantu peserta didik mengatasi hambatan tersebut. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya menitikberatkan pada aspek akademis, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis dan sosial, menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung dan inklusif.
Tujuan Asesmen Diagnostik non-kognitif
- Memahami tingkat kesejahteraan psikologi, emosi, dan sosial peserta didik
- Mengetahui aktivitas peserta didik saat belajar di rumah
- Memahami kondisi keluarga peserta didik
- Memahami latar belakang pergaulan peserta didik
- Mengidentifikasi karakter, minat, serta gaya belajar peserta didik
Tahap Asesmen Diagnostik Non Kognitif
Adapun tahap asesmen diagnostik non kognitif adalah sebagai berikut:
Tahap persiapan asesmen diagnostik non kognitif SMA, SMP, maupun SD adalah sebagai berikut:
- Siapkan instrumen asesmen yang meliputi gambar atau emoji yang mendukung suasana hati seseorang.
- Membuat tabel atau pernyataan atau pertanyaan sejenis kuesioner yang dihubungkan dengan gambar atau emoji di poin sebelumnya.
- Contoh pertanyaan asesmen diagnostik non kognitif adalah “Apa yang sedang kamu rasakan saat ini?”, “Apa kamu merasa nyaman saat belajar?”, “Apa kegiatanmu setelah pulang sekolah?”, “Pengalaman apa yang paling berkesan buatmu?”, dan masih banyak lainnya.
Pada tahap pelaksanaan, peserta didik diminta untuk mengisi instrumen asesmen yang telah disusun oleh Bapak/Ibu. Proses pengisian ini diharapkan dilakukan secara jujur tanpa adanya tekanan atau paksaan. Untuk memastikan keberlangsungan yang baik, penting memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik agar mereka memiliki kesempatan yang memadai untuk berpikir sebelum mengisi instrumen tersebut.
Dalam tahap diagnostik tindak lanjut, guru menganalisis kondisi psikologi dan emosional peserta didik melalui hasil asesmen. Pendekatan yang sensitif dan keterlibatan orang tua diterapkan jika diperlukan untuk mendukung perkembangan siswa.
Referensi
Pusmenjar, Kemdikbud. (2020). Asesmen Nasional: AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran. Indonesia: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Pusmenjar, Kemdikbudristek. (2021). Asesmen Nasional: Lembar Tanya Jawab. Indonesia: Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Arbarini, M., Rahmat, A., Ismaniar, I., Siswanto, Y., & others. (2022). Equivalency Education: Distance Learning and Its Impact in Indonesia. Journal of Nonformal Education, 8(1).
OECD. (2019). Programme for International Student Assessment : PISA Results 2018.