Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif dalam Pendidikan Karakter
Disebut sebagai pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berfikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi. (Masnur Muslich 2011)
Pengertian di atas menunjukkan bahwa dengan adanya pendekatan moral kognitif ini menjadikan peserta didik lebih memahami persoalan yang terjadi dari aspek-aspek yang paling sederhana hingga kompleks, sehingga dalam mencari solusi persoalan yang adapun juga bisa tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.Pendekatan moral kognitif juga bisa menjadikan pola pikir peserta didik lebih tersistematis dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam hidupnya.
Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional (3) tingkat post-konvensional. Pada tingkatan pertama terdapat dua tahap yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental, pada tingkatan yang kedua ada tahapan orientasi masuk ke kelompok “anak baik” dan “anak manis” serta orientasi hukum dan ketertiban, sedangkan pada tingkatan yang ketiga ada tahapan ada orientasi kontrak-sosial legalitis dan oreintasi asas etika universal. (Sarbini, 2012)
Keenam tahap di atas menghadirkan suatu pola pemikiran yang menyatu pada setiap pengalaman seseorang dan pandangannya atas hal-hal yang khusus tentang moral.Pada keenam tahapan tersebut harus berperan aktif terhadap problem-problem yang dihadapi oleh para peserta didik sehingga peserta didik bisa mempertimbangkan moral yang harus mereka miliki, yaitu dengan melakukan diskusi tentang situasi-situasi yang dilema.
Pemahaman terhadap teori Kohlberg tentang pertimbangan moral ini mengimplikasikan strategi mengajar yang khusus untuk menstimulasi perkembangan moral. Diskusi dari situasi-situasi yang dilema akan memberikan dampak pada peserta didik sebagai berikut:
- mempertimbangkan problem-problem moral sesunggguhnya
- mengalami konflik-konflik kognitif dan sosial sesungguhnya selama diskusi problem moral
- mengaplikasi tingkat berpikir tertentu mereka terhadap situasisituasi problematis
- terbuka terhadap tingkatan berpikir selanjutnya yang lebih tinggi
- menghadapkan ketidakkonsistenan pertimbangan mereka sendiri terhadap berbagai isu-isu moral tanpa seseorang yang menekankan pada jawaban benar atau salah.
Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut UU nomor 20 tahun 2003, pendidikan bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Tugas-tugas guru sebagai fasilitator tersebut mencakup empat hal pokok, yaitu:
- Memfokuskan pandangan atau dalam menghadapi konflikkonflik moral yang sebenarnya. Hal ini, baik dengan memanfaatkan materi pelajaran sehari-hari maupun secara sistematik menyajikan dilema-dilema hipotesis.
- Merefleksikan alternatif cara-cara menalar konflik moral sekaligus memecahkannya.
- Merefleksikan secara kritis proses berpikir yang peserta didik terapkan.
- Memberikan saran kepada peserta didik mengenai prosedur refleksi dan pemecahan yang lebih efisien dibandingkan metode yang mereka kembangkan.
Pada saat ini ketika melihat kondisi riil di lapangan seorang guru yang seharusnya memikul beban berat tersebut lebih disibukkan dengan hal-hal administratif yang mungkin secara garis besar tidak begitu berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran.Hal tersebut terjadi karena birokrasi dalam pendidikan yang lebih mementingkan bukti di atas kertas dibandingkan dengan bukti secara riil di masyarakat.Sebuah konsep yang sangat bagus cuma sekedar berhenti dibangku perkuliahan saja, sehingga ketika terjadi dekadansi moral semua pihak saling menyalahkan dan lempar tanggungjawab.
Pendekatan ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu dengan jalan: (1) penyajian dilema moral. Pada tahap ini siswa dihadapkan dengan problematik nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang sifatnya sederhana hingga yang kompleks. Metode penyajiannya dapat melalui observasi, membaca koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dan sebagainya; (2) setelah disajikan problematik dilema moral, dilanjutkan dengan pembagian kelompok diskusi. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan beberapa hasil pengamatan terhadap dilema moral tersebut; (3) membawa hasil diskusi kelompok ke dalam diskusi kelas, dengan tujuan untuk klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya; (4) setelah siswa berdiskusi secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang terpilih sesuai dengan alternatif yang ajukan, selanjutnya siswa dapat mengorganisasikan nilai-nilai yang terpilih tersebut ke dalam dirinya. Untuk mengetahui apakah nilai-nilai tersebut telah diorganisasikan siswa ke dalam dirinya dapat diketahui lewat pendapat siswa, misalnya melalui karangan-karangannya yang disusun setelah diskusi, atau tindakan follow up dari kegiatan diskusi tersebut.( Muhaimin, 2002)
Metode dalam implementasi pendekatan ini lebih menekankan bagaimana peserta didik secara aktif berperan dalam membentuk moral kognitif pada proses internalisasi nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Langkah yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan masalah moral yaitu dengan metode small group discussion.Metode tersebutdiharapkan mampu menyelesaikan problem moral sosial yang terjadi di masyarakat. Secara psikologis ketika peserta didik melakukan diskusi dan menyampaikan pendapat akan menumbuhkan kesadaran moral dalam membuat keputusan dan rasa tanggung jawab terhadap apa yang di sampaikan.
Implementasi pendidikan karakter mengarahkan kepada peserta didik yang memiliki pengetahuan moral (kesadaran moral, mengetahui nilai-nilai moral, memiliki perspektif, memiliki alasan moral, membuat keputusan, dan berpengetahuan), indra perasa (berhati nurani, percaya diri, berempati, menyukai kebaikan, dapat mengontrol diri, dan rendah hati), dan tindakan bermoral (berkemampuan, memiliki kemauan, dan memiliki kebiasaan baik). (Thomas Lickona, 2013)
Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan perkembangan moral kognitif moral ini sesuai dengan asumsi dan tujuannya, maka dipaparkan langkah-langkah prosedur pelaksanaannya;
- Menghadapkan peserta didik dengan satu dilema moral, dapat dilakukan dengan kegiatan lembar cerita, role-playing, fragmen film, atau kliping Koran. Peserta didik harus dapat memahami “masalah pokok” yang dilematis yang dihadapi tokoh utama dalam cerita.
- Menetapkan posisi sementara. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk menetapkan posisi sementara dirinya dlam dilema moral yangdihadapi, dengan cara menuliskan posisinya. Kemudian guru mengelompokkan posisi yang sama.
- Mengkaji penalaran atau perkembangan moral. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengkaji pertimbangan moralnya (moral reasoning) dalam kelompoknya.
- Memikirkan secara mendalam setiap posisi individual (Reflect On The Individual Position). Guru membantu peserta didik sekali lagi untuk merenungi posisinya dalam dilema moral tersebut.
- Dilema moral harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik, misalnya: (a.) Tingkat SD; dilema tentang kerjasama, sikap adil, memahami orang lain, kerukunan dalam keragaman. (b.) Tingkat SMP; dilema persahabatan, hubungan dengan kekeluargaan, tekanan teman sebaya, kesetiaan, dan kepercayaan. (c.) Tingkat SMA; dilema masalah keadilan, penerapan hukum, aturan dan lain-lain.
Setelah mengetahui langkah-langkah tersebut guru seharusnya bisa mengeksplor dalam setiap pembelajarannya, guru harus siap dan harus kreatif untuk bisa menghidupkan situasi yang kondusif.Proses pendidikankarakter menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemamoral, dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam diskusi tersebut, siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat, apa alasan-alasannya. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya.Hasil dari pendekatan ini akan nampak pada diri peserta didik secara bertahap dalam kehidupannya sehari-hari dan akan menjadi sebuah karakter pada diri anak karena anak mengalami secara langsung kondisi yang telah dibahas dalam proses pembelajaran.
Literasi
Muslich,Masnur, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara. 2011. h.109
Sarbini, Model Pembelajaran Berbasis Kognitif Moral: Dari Teori Ke Aplikasi, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2012, h. 21-24.
Muhaimin.Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002, h.57
Thomas Lickona, Mendidik Untuk membentuk Karakter: Bagaimana sekolah dapat Memberikan Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab, Penerjemah. Juma Abdu Wamaungo, Jakarta: Bumi Aksara, 2013, h. 103.
Tags: Design Pendidikan Karakter, Nilai Pendidikan, Perkembangan Moral Kognitif
