Tujuan Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan merupakan tonggak berdirinya sebuah bangsa yang besar, berdaulat, berharkat dan bermartabat.
Dalam konteks demikian, pendidikan bertujuan menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan damai di antara semua elemen bangsa, tanpa memandang kelas sosial apapun, baik ras, suku, agama, adat, dan lain seterusnya.
Pendidikan adalah alat yang bisa mempersatukan segala anak bangsa dalam satu wadah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah bendera merah putih dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945.38 Pendidikan yang ingin dijalankan oleh Ki Hajar Dewantara itu berorientasi pada pendidikan kerakyatan. Ia mau mendidik rakyatnya, membina kehidupan bangsa dan kebudayaan nasional. Dan pendidikan sendiri harus benar-benar bisa merakyat, mencakup seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya pembedaan tingkat dan golongan, dan bisa mengangkat derajat rakyat untuk membebaskan diri dari penindasan dan kemiskinan.
Ki Hajar menunjukkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi manusia yang merdeka dan mandiri, serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya. Menjadi manusia merdeka berarti (a) tidak hidup terperintah, (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri, dan (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Singkatnya, pendidikan menjadikan orang mudah diatur tetapi tidak bisa disetir.1
Ki Hajar yang menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan ia belajar. Baginya perlu dihindari pendidikan yang hanya menghasilkan orang yang sekedar menurut dan melakukan perintah (dalam bahasa Jawa = dawuh).
Ki Hajar mengartikan mendidik sebagai “berdaya-upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup-tumbuhnya budi-pekerti (rasa, fikiran, roh) dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan…”. Menurutnya, jangan ada perintah dan paksaan dalam pendidikan. Pendidik adalah orang yang mengajar, memberi teladan dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri dan berperan dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. Jika pun ada ganjaran dan hukuman, maka “ganjaran dan hukuman itu harus datang sendiri sebagai hasil atau buahnya segala pekerjaan dan keadaan.”
Menurut paham yang kini diakui oleh kelompok yang terkemuka (seorang ahli yang terpandang, misalnya Prof. Dr. Kohnstan), serta yang sama dengan pandangan Ki Hajar, maka arti, maksud dan tujuan dari pendidikan disebutkan bahwa pendidikan yaitu tuntunan di dalam kehidupan anak-anak. Adapun yang dituntun ialah segala kekuatan yang ada dalam kehidupan anak-anak dengan maksud agar anak-anak itu menjadi bahagia untuk dirinya sendiri maupun sebagai anggota masyarakat, mendapat kepuasan atau ketentraman batin yang mungkin didapat oleh masing-masing.2
Adapun isi-isi yang terkandung dalam pengertian tersebut adalah :
- Tentang suatu tujuan pendidikan yang pada pengertian tersebut disebutkan dengan kata “kepuasan” atau “ketentraman” batin, atau lebih jelasanya dan nyata barangkali kita terjemahkan dengan kata bahagia atau rahayu dalam bahasa Jawa. Sebab, pengertian bahagia itu adalah keadaan senang dalam hidup batin sehingga hanya rasa puas dan tenteramlah yang ada.
- Kata “bahagia untuk diri sendiri dan sebagai anggota masyarakat”. Di sini tampak kepentingan pendidikan yang ditujukan kepada hanya seseorang dan kepada hidup masyarakat.
- Sebutan “kepuasan yang mungkin didapat oleh masing-masing”, yang berarti bahwa tingkatan bahagia, tinggi rendahnya kerahayuan itu berbeda-beda, bertingkat-tingkat dan tidak sama untuk semua manusia. Apa yang mungkin untuk orang yang satu belum tentu mungkin untuk orang yang lain.
- Pendidikan disebut “tuntunan” di dalam kehidupan anak-anak, yang berarti bahwa pendidikan itu hanya dapat tetapi tidak berkuasa untuk membuat atau mencetak hidup. Ini disebabkan karena di dalam kehidupan manusia itu sudah terdapat kekuatan dari kodrat hidup sendiri, yang sebagian dapat dipengaruhi, yakni diubah oleh pendidikan, tetapi sebagian lagi tidak akan mungkin dihilangkan oleh pendidikan.3
Tentang maksud pendidikan yang dutujukan kepada “kebahagiaan batin” perlu difahami dengan benar. Sebab, kebanyakan orang mengira bahwa tujuan pendidikan itu hanya mengenai penghidupan manusia dan dikira tidak berhubungan dengan kehidupannya. Padahal, hubungan penghidupan dan kehidupan manusia itu lebih penting dan lebih berharga. Dengan kata lain, walaupun keselamatan kehidupan lahir harus kita cari dan kejar, akan tetapi yang primer (nomor satu) adalah bahagia atau rahayu-nya batin kita.4
Dalam pidato sambutan Ki Hajar Dewantara saat pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepadanya, ia mengatakan bahwa anak didik haruslah diberi pendidikan yang kultural dan nasional, yang semua kita tujukan ke arah keluhuran manusia, nusa dan bangsa, tidak memisahkan diri dengan kesatuan perikemanusiaan, agar tidak terpengaruh dengan budaya Barat yang negatif. Ia berkata bahwa:
“Untuk dapat mencapai tujuan ini cukuplah di sini saya menasehatkan: didiklah anak-anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri….”5
Bukan hanya tujuan pendidikannya harus jelas tetapi agar proses pendidikannya dapat berjalan sesuai dengan tujuan tersebut dibutuhkan sistem atau metode dalam prakteknya. Maka, pembahasan selanjutnya akan membahas guru, siswa, serta metode pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara memiliki tujuan pendidikan yang sangat kuat dan idealis. Ia meyakini bahwa pendidikan adalah sarana untuk pembebasan, perkembangan karakter, dan pembangunan masyarakat. Berikut adalah beberapa tujuan utama pendidikan menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara:
- Pembebasan dan Keadilan: Salah satu tujuan utama pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah untuk memberikan pembebasan kepada individu dari ketidaksetaraan sosial, ekonomi, dan politik. Ia ingin semua orang, terlepas dari latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
- Pendidikan Karakter: Ki Hajar Dewantara sangat menekankan pembentukan karakter melalui pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus membantu individu menjadi manusia yang baik, dengan moral, etika, dan nilai-nilai yang kuat.
- Pembangunan Bangsa: Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan sebagai alat utama dalam membangun bangsa. Ia ingin pendidikan membantu mempersiapkan generasi muda untuk berperan dalam pembangunan negara dan masyarakat.
- Pendidikan Demokratis: Ki Hajar Dewantara mempromosikan pendidikan yang demokratis, di mana siswa memiliki peran aktif dalam pembelajaran. Ia ingin pendidikan mengajarkan nilai-nilai demokrasi, partisipasi aktif, dan toleransi.
- Pendidikan Berbasis Budaya Lokal: Ki Hajar Dewantara ingin pendidikan menghormati dan mempertimbangkan budaya lokal. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dan harus memperkuat identitas budaya bangsa Indonesia.
- Pendidikan Seumur Hidup: Ki Hajar Dewantara mendorong ide pendidikan sepanjang hayat. Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada masa sekolah, tetapi harus berlanjut sepanjang hidup untuk memenuhi perubahan yang terus berlangsung dalam kehidupan dan masyarakat.
- Pendidikan sebagai Sarana Perubahan Sosial: Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan sebagai alat untuk menciptakan perubahan sosial yang positif. Ia berharap bahwa pendidikan dapat membantu mengatasi masalah sosial, seperti kemiskinan dan ketidaksetaraan, dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada individu.
- Pendidikan Inklusif: Ia memperjuangkan pendidikan yang inklusif, di mana semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang beruntung atau berkebutuhan khusus, memiliki akses yang sama ke pendidikan yang berkualitas.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan konsepnya tentang pendidikan telah memberikan dasar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia, dan banyak dari tujuannya masih relevan hingga saat ini dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, demokratis, dan berkualitas.
Sumber Bacaan
1 Moh. Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia ; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm.172.
2 Bagus Takwin, “Konstruktivisme dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara”
3 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 32.
4 Ki Hajar Dewantara, Karja Ki Hajar Dewantara; Bagian Pertama …, hlm. 438-439.
5 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 33.
6 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, dalam lampiran no.04, hlm 203.
