Siswa (Peserta Didik) Menurut Ki Hadjar Dewantara
Siswa adalah suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain: pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/pedagogis.
Sedangkan dalam berbagai penjelasannya, Ki Hadjar memandang siswa atau peserta didik adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Sedangkan dalam menentukan arah, ia di tuntun oleh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya, baik orang tua, guru atau masyarakat lainnya. Karenanya, ia berpendapat bahwa anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.1
Peserta Didik Menurut Ki Hadjar Dewantara, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan lebih jauh dan detail bahwa biarkanlah anak didik mencari jalan sendiri selama mereka mampu dan bisa melakukan itu, karena ini merupakan bagian dari pendidikan pendewasaan diri yang baik dan membangun. Kemajuan anak didik dengan membiarkan hal seperti itu, akan menjadi kemajuan yang sejati dan hakiki. Namun, kendatipun begitu, membiarkan mereka berjalan sendiri, bukan berarti tidak diperhatikan atau dipedulikan, pendidik harus mengawasi kemanakah mereka akan menempuh jalan. Pendidik hanya mengamati, memberikan teguran, maupun arahan ketika mereka mengambil jalan yang salah dan keliru. Dengan kata lain, masih menggunakan gagasan inti Ki Hadjar, untuk memperlancar prosesnya seorang pendidik harus mencerminkan sosok yang bisa disenangi dan menjadi contoh terbaik bagi anak- anak didiknya.2 Seorang pendidik harus memiliki sikap dan tindakan yang bisa dilakukan oleh anak didiknya dengan sedemikian rupa di kemudian hari kelak, baik di lingkungan dalam sekolah, keluarga, maupun masyarakatnya. Mengutip pernyataan Ki Hadjar dalam sebuah penggambaran, sebagai berikut:
“Berilah kemerdekaan kepada anak-anak kita, bukan kemerdekaan yang leluasa, tetapi yang terbatas oleh tuntutan-tuntutan kodrat alam yang nyata dan menuju kearah kebudayaan, yaitu keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Agar kehidupan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan, tetapi jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan”.3
Dari kutipan tersebut, dapat dijelaskan bahwa Ki Hadjar sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, dan juga pemanusiaan terhadap anak didik dengan memberinya kebebasan yang diikuti dengan tuntunan agar anak didik tidak terjerumus kepada hal-hal yang negatif serta tidak mengekang perkembangannya.
Harus diketahui juga, bahwasanya baik dan buruknya perilaku seorang anak didik bergantung pada bagaimana seorang pendidik memberikan pelajaran dan pengajaran dalam melakukan interaksi sosial, baik dalam kelas atau lainnya. Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan ketika pendidikan anak dengan menggunakan Ing Ngarsa Asung Tuladha, Ing Madya Amangun Karsa, Tut Wuri Handayani pun tidak dimaksimalkan implementasinya, karena ini membicarakan generasi penerus bangsa.
Banyak sekali para tokoh yang melakukan perbincangan mengenai anak, hal tersebut dilakukan tidak lain hanya untuk menyelamatkan bangsa ini dari persoalan-persoalan kehancuran bangsa di masa mendatang. Adapun alasan yang lain bahwa anak adalah penerus estafet kepemimpinan karena di sanalah bangsa ini akan dibawa dan dibangun. Anak adalah tunas-tunas pejuang muda dengan se- abrek gagasan cemerlang dan semangat perjuangan yang sangat tinggi dan revolusioner. Dalam pandangan Setyo Mulyadi, mantan ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, anak adalah jantung kehidupan bangsa. Di tangan merekalah, bangsa ini akan ditentukan nasibnya dihari esok.
Pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan terutama mengenai anak didik banyak dipengaruhi oleh pemikir barat yaitu Rabindranath Tagore, Maria Montessori dan Forbel yang menyelenggarakan pendidikan dengan metode baru waktu itu. Ketiga tokoh tersebut dihormati oleh Ki Hadjar, serta pandangan mereka itu dikatakan sebagai petunjuk jalan dalam rangka mewujudkan cita- citanya, yakni melalui pendidikan disebarkanlah benih kemerdekaan, dan dibinalah kebudayaan yang baik dan luhur. Tagore mendirikan dan menciptakan suatu sistem pendidikan Santi Niketan (tempat yang damai), Forbel menjadi terkenal karena orientasi pendidikannya pada anak-anak. Sedangkan Montessori, menjadi terkenal dan berpengaruh di Eropa karena dia adalah ahli anak-anak dan mau menciptakan pendidikan kecerdasan dan kebebasan yang harus ditumbuhkan sejak kanak-kanak.4
Sumber Bacaan
1 Ki Hadjar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 3.
2 Moh. Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia …, hlm.195.
3 Moh. Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia …, hlm. 177.
4 Martin Sardy, Pendidikan Manusia, hlm. 64.
