Metode Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara merangkum konsep yang dikenal dengan istilah Among Methode atau sistem among. Among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana “among” (momong) disebut Pamong, yang dianggap mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru atau dosen di Taman Siswa disebut Pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu.

Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan yang memiliki pandangan unik tentang metode pendidikan. Ia menekankan pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter, pembebasan, dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Tujuan sistem Among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya.52 Sistem among yang menyokong kodrat alam anak didik bukan dengan “perintah-paksaan”, tetapi dengan tuntunan agar berkembang hidup lahir dan batin anak menurut kodratnya secara subur dan selamat.

Sistem among mengemukakan dua prinsip dasar, yaitu:

  1. Kemerdekaan merupakan syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin sehingga bisa hidup merdeka, tidak berada dalam kekuasaan golongan apapun. Kemerdekaan ini diinternalisasikan dengan sedemikian rupa dalam kehidupan praksis anak didik sehingga mereka merasa sudah berada dalam kehidupannya, bukan kehidupan yang lain yang diupayakan masuk dalam kehidupannya.
  2. Kodrat alam adalah syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Kodrat alam tersebut adalah bahwa alam yang selama ini ada harus dijaga dengan sedemikian baik, jangan dirusak karena alam menjadi modal bagi pendidikan anak didik agar bertanggung jawab melestarikan dan memajukannya.1

Kemerdekaan itu menjadi hak milik setiap anak bangsa, bukan satu golongan saja. Oleh karenanya, kita harus mempertahankannya dengan menggerakkan dan menghidupkan prinsip kekuatan sendiri. Sistem Among selalu dilaksanakan secara “Tutwuri Handayani” dimana kita dapat “menemukenali” anak, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang. Tidak dengan hukuman atau paksaan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak.

Ki Hajar Dewantara menetapkan tujuh azas Tamansiswa 1922 yang salah satu butirnya berbunyi:
“Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (Natuurlijke Groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (Evolutie) dan harus dimerdekakan seluas- luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (Regering-Tucht En Orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode”. 2

Ki Hajar Dewantara menempatkan jiwa merdeka sebagai sifat kodrati sang anak yang harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Ketika Ki Hajar Dewantara melawan OO (Onderwijs Ordonantie) terlontar gagasan sekolah semesta dimana secara kodrati setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Dikembangkannya juga KBM (kegiatan belajar mengajar) melalui sifat kodrati anak dalam naluri Kinder Spellen. Kinder Spellen (dolanan anak) yaitu fase pertumbuhan jiwa makhluk hidup menuju dewasa yang menjadi “Embrio” jiwa merdeka sang anak.

Ki Hajar Dewantara sering menganjurkan para pamong untuk mengajak siswa sambil “bermain” dalam memberikan pelajarannya. Misalnya pelajaran ilmu bumi (geografi) dengan menggambar pulau Indonesia pada tanah atau pasir dan menandai kota-kota dengan batu, gunungnya dengan gundukan kecil, hutan dengan lumut hijau. Pelajaran menghafal abjad dengan bernyanyi atau tembang, pelajaran biologi dan botani (tumbuhan) dengan bermain jalan-jalan ke sawah atau kebun, dan sebagainya. Bahkan pelajaran seni dengan nyanyi atau tari dolanan anak hingga kini masih menjadi ciri khas perguruan Taman Siswa. Pelajaran dengan cara bermain dalam sistem among dapat menyentuh jiwa merdeka sang anak di semua tingkat usia.

Dalam salah satu Azas Taman Siswa disebutkan pula “Pamong jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik (menurut silabus) saja, akan tetapi harus mendidik siswa untuk senantiasa mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum”. Yang perlu kita ketahui bahwa dalam setiap prakteknya sistem among melakukan pendekatan secara kekeluargaan, artinya menyatukan kehangatan keluarga dengan sekolah.55
Dengan berpijak kepada semboyan Ing Ngarsa Asung Tuladha, Ing Madya Amangun Karsa, Tut Wuri Handayani, maka Ki Hajar Dewantara menggunakan beberapa cara dalam melakukan sebuah pendidikan, misalnya metode Trino (nonton, niteni, nirokke) dan juga Tringo (ngerti, ngroso, nglakoni), akan tetapi semua metode tersebut terangkum dalam sebuah metode yang sampai saat ini kita kenal dengan istilah Among methode (metode momong).3

Sumber Bacaan

1. KI Priyo Dwiarso, “Artikel Sistem Among Mendidik Sikap Merdeka Lahir dan Batin”, dalam www. tamansiswa. Org, di unduh tanggal 17 September 2012.

2. Moh. Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia …, hlm.174.

3. KI Priyo Dwiarso, “Artikel Sistem Among Mendidik Sikap Merdeka Lahir dan Batin, dalam www. Tamansiswa. Org, diunduh tanggal 17 September 2012.

4. KI Priyo Dwiarso, “Artikel Sistem Among Mendidik Sikap Merdeka Lahir dan Batin”, dalam www. Tamansiswa. Org, diunduh tanggal 17 September 2012.

5. Dalam sebuah sambutannya Sudarto (Ketua Umum MLPTS), mengatakan bahwa metode yang digunakan oleh Ki Hajar Dewantara selalu berorientasi kepada kondisi peserta didik yang ada, namun metode tersebut harus selalu dijalankan secara kontinue. Lihat Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. VI.

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *