Revitalisasi Pendidikan Kejuruan Era Industri 4.0
Menghadapi industri 4.0, pendidikan kejuruan membutuhkan dukungan masyarakat. Shan, Liu, & Li, (2015), Shavit & Müller (2000) menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan membutuhkan dukungan dan pengakuan serta tidak terlepas dari kepentingan masyarakat. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri lulusan pendidikan kejuruan sehingga lulusannya merasa aman sebagai pekerja yang terampil karena adanya dukungan dan pengakuan dari masyarakat. Pada dasarnya pendidikan kejuruan dapat disediakan atau difasilitasi oleh masyarakat dan pemerintah untuk mempersiapkan dan merubah individu secara cepat dalam memenuhi tuntutan dunia kerja (Murgor, 2013) dan perubahan zaman termasuk fase industri 4.0.
Pengembangan pendidikan kejuruan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam sistem untuk menjawab tantangan industri 4.0. Brofenbrener (1989) menawarkan suatu model yang disebut sebagai A Bioecological Model of Human Development.

Pada Gambar 1. diatas, terlihat bahwa seluruh bagian dari sistem, individu, mikro sistem, meso sistem, ekso sistem seperti industri, media massa, layanan sosial, dan politik lokal, serta makro sistem harus mampu berkolaborasi untuk membentuk sistem yang utuh yaitu chronosystem. Elemen itu harus terlibat dalam sistem pembelajaran, satuan pendidikan, peserta didik, dan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan peran masing-masing.
Muatan pembelajaran abad 21 harus selalu menyesuaikan dengan perubahan termasuk di era industri 4.0. Muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 (21st century skills); 1) pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi, 2) keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT, 3) karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab (Trilling & Fadel, 2009).

Elemen yang berinteraksi dalam chronosystem harus mengintegrasikan fokus dari era industri 4.0 yaitu, fisikal, digital, dan biologikal. Elemen yang ada dalam pendidikan kejuruan sebagai bagian dari chronosystem harus menguatkan gerakan literasi baru (literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia). Penguatan itu dilakukan untuk memberikan nilai tambah dan daya saing lulusan pendidikan kejuruan di era industri 4.0. Interaksi dan integrasi antarelemen dengan muatan industri 4.0 dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3 menunjukkan adanya integrasi seluruh komponen seharusnya dapat dimediasi oleh sistem pendidikan kejuruan karena pada dasarnya pendidikan kejuruan memiliki kepentingan sangat besar untuk memediasi seluruh elemen untuk meningkatkan kualitas sistem pembelajaran, kualitas sistem pendidikan, kualitas peserta didik, dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan demi menciptakan lulusan yang berdaya saing di era industri 4.0.
Tags: Pendidikan Kejuruan Era Reolusi Industri, Pendidikan Revolusi Industri, Revolusi Industri, Revolusi Industri 4.0, Revolusi Industri Indonesia
