Pola Asuh Yang Sesuai Bagi Anak Didiknya

Dalam proses interaksi, selain aspek perkembangan anak, pendidikan harus menemukan suatu pola asuh yang tepat agar anak merasa aman dan nyaman dalam asuhan pendidik. Oleh karena itu, setiap pendidik harus mengenal dan memahami pola asuh yang sesuai bagi anak didiknya sehingga tidak terjadi kesalahan pendidik dalam pengasuhan anak. Kualitas interaksi ini akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak.

Beberapa pola asuh dalam mendidik, yaitu sebagai berikut.

Melindungi secara Berlebihan (Overproteksi)

Perlindungan pendidik yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan. Hal ini menimbulkan ketergantungan yang berlebihan, ketergantungan anak pada orang lain dan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan frustrasi.

Permisivitas

Permisivitas adalah pendidik yang membiarkan anak berbuat sesuka hati, dengan sedikit kekangan. Hal ini menciptakan suatu kegiatan yang berpusat pada anak. Jika sikap permisif ini berlebihan akan mendorong anak menjadi cerdik, mandiri, dan berpenyesuaian sosial yang baik. Sikap ini juga menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan sikap matang.

Memanjakan

Permisivitas yang berlebihan akan menjadi pola mendidik yang memanjakan. Pola ini akan membuat anak egois dan selalu menuntut. Anak menuntut perhatian dan pelayanan dari orang lain, sehingga perilaku yang menyebabkan penyesuaian sosial yang buruk di rumah maupun di luar rumah.

Penolakan

Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka. Hal ini menumbuhkan rasa dendam, perasaan tak berdaya, frustrasi, perilaku gugup, dan sikap bermusuhan kepada orang lain, terutama terhadap mereka yang lebih lemah dan kecil.

Penerimaan

Penerimaan pendidik ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang (asih) pada anak. Pendidik yang menerima, memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak. Dengan pola asuh yang

demikian anak akan diterima dalam bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal, secara emosional stabil, dan gembira.

Dominasi

Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua akan memiliki sifat jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh, dan mudah dipengaruhi orang lain. Anak juga cenderung mengalah dan sangat sensitif. Pada anak yang didominasi sering berkembang rasa rendah diri dan perasaan menjadi korban.

Tunduk pada Anak

Pendidik yang tunduk pada anak, membiarkan anak mendominasi. Anak memerintah pendidik/orang tua dan anak akan menunjukkan sikap tenggang rasa, penghargaan atau loyalitas yang sangat kecil. Anak juga belajar untuk menentang semua yang berwewenang dan mencoba mendominasi orang di luar lingkungannya.

Favoritisme

Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit (atau anak kesayangan). Dalam hal ini orang tua cenderung lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga. Anak yang disenangi cenderung memperlihatkan sisi baik mereka pada orang tua tetapi agresif dan dominan dalam hubungan dengan kakak atau adik mereka.

Ambisi Orang Tua

Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka, sering kali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial. Bila anak tidak dapat memenuhi ambisi orang tua, anak cenderung bersikap bermusuhan, tidak bertanggung jawab, dan berprestasi di bawah kemampuan. Tambahan pula mereka memiliki perasaan tidak mampu yang sering diwarnai perasaan dijadikan orang yang dikorbankan yang timbul akibat kritik orang tua terhadap rendahnya prestasi mereka.

Tags: , , , , , , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *