Pola Asuh Pendidik

Secara umum, pola asuh terbagi dalam tiga bagian besar, yakni Pola Asuh Demokratis, Pola Asuh Permisif, dan Pola Asuh Otoriter.

Pola Asuh Demokratis

Merupakan salah satu bentuk pola asuh yang ditujukan pendidik dengan cara memberikan kebebasan disertai bimbingan pada anak dalam mengambil berbagai keputusan. Pola Asuh Demokratis juga akan ditunjukkan dengan pola pengasuhan yang bersahabat dan membimbing anak dengan kasih sayang. Dalam banyak hal pendidik mengadakan dialog dengan anak tentang berbagai keputusan, menjawab pertanyaan anak dengan bijak dan terbuka.

Pendidik demokratis cenderung menganggap sederajat hak dan kewajiban anak dibandingkan pendidik. Secara bertahap pendidik memberikan tanggung jawab pada anak untuk menunjukkan sikap dan perilaku sampai anak menjadi dewasa. Pola Asuh Demokratis menempatkan musyawarah sebagai pilar dalam memecahkan berbagai persoalan anak. Pendidik yang menerapkan pola asuh demokratis bersikap hangat, mengasihi, mendukung dengan penuh kesadaran serta berkomunikasi dengan baik pada anak.

Pola Asuh Permisif

Pola asuh permisif, adalah bersikap damai dan selalu menyerah pada anak, untuk mencegah timbulnya persoalan atau konfrontasi. Pendidik takut untuk menjalankan pembatasan-pembatasan sehingga biasanya anak memperoleh apa yang dikehendaki walaupun tentang sesuatu yang tidak pantas. Pendidik yang menerapkan pola asuh permisif mendorong anak untuk bersikap otonomi. Pendidik kurang mengontrol anak didiknya, membiarkan anak didik berbuat sekehendak hatinya, dan tidak membuat aturan-aturan yang dipatuhinya. Sikap pendidik dengan pola asuh permisif di antaranya dengan bebas menerima semua ungkapan si anak, memberikan sedikit petunjuk mengenai tingkah laku, tidak menentukan batas-batas, peraturan, dan disiplin pada anak.

Pola Asuh Otoriter

Pendidik cenderung melaksanakan pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan yang mutlak. Pendekatan pendidik yang keras dan kaku mengakibatkan anak cenderung merasa tertekan, takut, dan penurut. Anak dengan pendidik otoriter cenderung kurang dapat mengendalikan diri, kurang kreatif, kurang rasa ingin tahu, kurang percaya diri, kurang mandiri, kurang dewasa dalam perkembangan moral, dan kurang fleksibel dalam menghadapi masalah intelektual akademis serta masalah sehari-hari. Anak tidak diberi waktu cukup kesempatan untuk mengujicobakan gagasan serta ide-ide mereka. Akibatnya anak yang telah memiliki kemampuan menganalisis sesuatu serta memerlukan sarana untuk mengeluarkan ide-ide tersebut menjadi terhambat. Mereka menjadi anak yang tertutup dan penakut.

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *