Pengertian dan Hakikat Anak

Definisi anak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti manusia yang masih kecil. Mansur dalam bukunya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam menjelaskan tentang hakikat anak dalam berbagai pandangan:

a) Anak sebagai orang dewasa mini

Pada abad pertengahan khususnya di Eropa, anak dipandang sebagai orang dewasa dalam bentuk mini. Yang membedakan dengan orang dewasa hanyalah ukuran dan usianya saja, justru anak diharapkan bertingkah laku sebagai orang dewasa. bahkan di berbagai dunia ketiga yakni di Amerika Latin dan Asia, anak-anak diharapkan produktif secara ekonomi. Maria montessori berpendapat anak dianugerahi dengan kekuatan yang tak dikenal, yang dapat memandu kita menuju masa depan yang gemilang. Jika yang benar-benar kita inginkan adalah dunia yang baru, maka pendidikan harus menjadikan pengembangan potensi-potensi tersembunyi ini sebagai tujuannya.14 Pendapat Maria Montessori bukanlah tanpa alasan, sebab suatu bangsa dapat menjadi besar dengan generasi yang memiliki jiwa yang besar. Cita-cita yang tinggi serta semangat berjuang generasi penerus bangsa akan mampu mengawal kehidupan bangsa yang lebih baik. Dan hal tersebut hanya dapat diwujudkan melalui proses pendidikan.

b) Anak sebagai orang yang berdosa

Pada abad ke 14-18 terdapat pandangan bahwa anak sebagai orang berdosa, tingkah lakunya yang menyimpang merupakan dosa keturunan. Bila anak bersalah, maka orang tua menganggap perbuatan anak adalah dosa.

c) Anak sebagai tanaman yang tumbuh

Anak diumpamakan sebagai tanaman yang tumbuh, sehingga peran pendidik atau orang tua adalah sebagai tukang kebun, dan sekolah merupakan rumah kaca di mana anak tumbuh dan matang sesuai dengan pola pertumbuhannya yang wajar. Sebagai tukang kebun berkewajiban untuk menyirami, memupuk, merawat, dan mememlihara tanaman yang ada di kebun.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa sebagai pendidik haruslah melaksanakan proses pendidikan agar mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkemangan anak didik. Suatu konsekuensi alami dari pertumbuhan dan kematangan ibarat pohon, banyak miripnya dengan mekarnya bunga dalam kondisi yang tepat. Dapat dikatakan, bahwa apa yang akan terjadi pada anak tergantung pada pertumbuhan secara wajar dan lingkungan yang memberikan perawatan. Adapun pertumbuhan yang alami adalah kegiatan bermain dan kesiapan atau proses kematangan. Isi dan proses belajar terkandung dalam kegiatan bermain dan materi serta aktivitas dirancang untuk kegiatan bermain yang menyenangkan dan tidak membahayakan.

d) Anak sebagai makhluk independen

Meski anak dilahirkan oleh orang tua, namun pada hakikatnya anak merupakan individu yang berbeda dengan siapapun, termasuk dengan orang tuanya. Bahkan anak juga memiliki takdir tersendiri yang belum tentu sama dengan orang tua. Orang tua seharusnya menyadari bahwa mereka tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada anak. Biarkan anak tumbuh dewasa sesuai dengan suara hati nuraninya, orang tua hanya memantau dan menarahkan agar jangan sampai menyusuri jalan hidup yang sesat.

e) Anak sebagai nikmat, amanat dan fitnah orang tua

Anak merupakan sumber kebahagiaan keluarga, buah hatilah yang memperkuat kehangatan tali kasih kedua orang tuanya dan mampu membahagiakan segenap sanak saudara. Oleh karena itulah hendaknya orang tua menyadari pula akan kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap anak. Anak memerlukan perawatan, asuhan, bimbingan dan pendidikan yang benar demi kelangsungan hidupnya. Pasangan suami istri yang mampu melahirkan anak hendaknya menyadari betul bahwa anaknya itu semata-mata merupakan karunia Allah. Sebab banyak orang yang sudah lama menikah dan ingin mempunyai anak, tetapi tidak diberi anak oleh Allah. Jadi anak merupakan nikmat Allah yang begitu tinggi nilainya, maka haruslah disyukuri dengan membina dan mendidik anak sebaik-baiknya. Sebagai orang tua haruslah menyadari bahwa di samping anak itu menjadi nikmat, juga merupakan fitnah bagi orang tuanya jika tidak mampu menjaganya.

Setiap orang tua muslim hendaknya menyadari bahwa anak adalah amanat Allah yang dipercayakan kepada orang tua. Dengan demikian maka orang tua muslim pantang mengkhianati amanat Allah berupa dikaruniakannya anak kepada mereka. Diantara sekian perintah Allah berkenaan dengan amanatNya yang berupa anak adalah bahwa setiap orang tua muslim wajib mengasuh dan mendidik anak-anak dengan baik dan benar. Hal itu dilakukan agar tidak menjadi anak-anak yang lemah iman dan lemah kehidupan duniawinya.

Jika para orang tua lengah dalam mengemban amanat Allah, niscaya fitrah islamiah anak akan tercoreng atau bahkan hilang sama sekali dan tegantikan oleh akidah lain. Na’udzu billahi min dzalik.

f) Anak sebagai milik orang tua dan investasi masa depan

Sejak abad pertengahan banyak orang tua berpandangan setelah mereka tua atau meninggal dunia, maka anak adalah penggantinya. Pada tahun 60-an berbagai program yang berlantarbelakang pentingnya anak sebagai investasi, berkembang di berbagai negara bagian Amerika, yakni program kesejahteraan anak berdasarkan pandangan anank sebagai invesasi. Umumnya program-program tersebut berpandangan bahwa investasi yang paling berharga bagi negara adalah anak-anak.

g) Anak sebagai generasi penerus orang tua dan bangsa

Orang tua yang telah memiliki anak akan merasa ada pihak yang dapat meneruskan garis keturunannya. Garis keturunan tidak akan terputus dan kelangsungan hidup manusia pada umumnya akan lebih terjamin.

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *