Apa Itu Komunikasi Menurut Para Cendekiawan

Apa Itu Komunikasi Menurut Para Cendekiawan

Pengertian Komunikasi Secara Umum

Komunikasi dalam bahasa Ingris adalah communication, berasal dari kata commonicatio atau dari kata comunis yang berarti “sama” atau “sama maknanya” dengan kata lain komunikasi memberi pengertian bersama dengan maksud mengubah pikiran, sikap, perilaku, penerima dan melakukan yang diinginkan oleh komunikator. Menurut Roben komunikasi merupakan kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben 2008). Tidak jauh dari pengertian Roben, John R. Schemerhorn dalam bukunya berjudul Managing Organizational Behavior menyatakan bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses antara pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti dalam kepentingan mereka (Widjaja,1986).

J.L. Aranguren dalam bukunya Human Communication menyatakan bahwa komunikasi adalah pengalihan komunikasi untuk memperoleh tanggapan (Sutaryo,2005). Sementara itu, Melvin L. De Fleur mendefinisikan komunikasi sebagai pengkoordinasian makna antara seseorang dengan khalayak. John C. Merril mengatakan bahwa komunikasi tidak lain adalah suatu penyesuaian pikiran, penciptaan perangkat simbol bersama di dalam pikiran para peserta atau singkatnya Don Fabun dalam bukunya The Transfer of Meaning mengatakan komunikasi adalah suatu peristiwa yang dialami secara internal, murni personal, dibagi dengan orang lain (Sutaryo,2005). Menurut Weaver komunikasi adalah seluruh prosedur melalui pikiran seseorang yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain. Menurut Gode, komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki dua orang atau lebih (Vardiansyah,2005). James A.F. Stoner dalam bukunya berjudul Manajemen, menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara memindahkan pesan.

Sehingga secara garis besar komunikasi adalah penyampaian informasi, gagasan, pikiran, perasaan, keahlian dari komunikator kepada komunikan untuk mempengaruhi pikiran komunikan dan mendapatkan tanggapan balik sebagai feedback bagi komunikator. Sehingga komunikator dapat mengukur berhasil atau tidaknya pesan yang di sampaikan kepada komunikan.

Menurut Widjaja (2010 : 8) istilah komunikasi dalam Bahasa inggrisnya disebut dengan kommuniation, berasal dari kata comuniatio atau dari kata communis yang berarti sama atau sama maknanya atau pengertian bersama, dengan maksud mengubah pikiran, sikpa, perilaku, penerima dan melaksanakan apa yang diinginkan apa yang diinginkan oleh komunikator. Jadi, dalam berkomunikasi diharapkan dapat mengubah dengan mengikuti pesan yang disampaikan oleh penyampai pesan. Sedangkan menurut Theodore Herbert (dalam Majid 2013 : 282) mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang didalamnya mewujudkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud menapai beberapa tujuan khusus.

Setelah melihat pemaparan diatas, jadi secara komunikasi dapat di definisikan sebagai usaha memindahkan pengetahuan antar manusia dengan memiliki tujuan untuk mengubah pikiran, sikap, dan perilaku bagi penerima pesan untuk memenuhi keinginan komunikator.

Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Komunikasi adalah untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan yang didalamnya memiliki tujuan dan fungsinya, fungsi komunikasi menurut Judy C Pearson dan Paul E. Nelson dalam Mulyana ( dalam Dirman & Junarsih ) bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum, yaitu untuk kelangsungan hidup diri sendiri dan untuk kelangsungan hidup masyakarat. Untuk kelangsungan hidup diri sendiri meliputi : kesamaan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan menapcapai ambisi pribadi. Untuk kelangsungan hidup masyarakat, yaitu tepatnya untuk memperbaiki hubungan social dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.

Menurut pendapat di atas dengan demikian yang dimaksud dengan fungsi komunikasi adalah untuk keberlangsungan hidup baik diri sendiri maupun hidup bermasyarakat yakni bertujuan untuk memperbaiki hubungan social masyarakat atau antar pribadi dengan orang lain maupun dengan masyarakat banyak.

Menurut Widjaja (2010 : 10 ) bahwa komunikasi mempunyai beberapa tujuan antara lain :

  1. Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti. Sebagai pejabat ataupun komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) atau bawahan dengan sebaik – baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang kita maksudkan.
  2. Memahami orang lain. Kita sebagai pejabat atau pemimpin harus engetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkanya. Jangan mereka menginginkan arah untuk pergi kebarat tetapi kita memberikan jalan pergi ke timur.
  3. Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain. Kita harus berusaha agar gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan yang persuasif bukan memaksakan kehendak,
  4. Menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu. Menggerakan sesuatu itu dapat bermacam – macam, mungkin berupa kegiatan.

Kegiatan yang dimaksudkan ini adalah kegiatan yang lebih banyak mendorong, namun yang penting harus diingat adalah bagaimana ara yang baik untuk melakukannya.

Ciri Ciri Komunikasi

Komunikasi tentunya pemindahan pesan dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu. Maka komunikasi memiliki ciri tersendiri, menurut Ted J. McLaughlin dkk ( dalam moekijat, 1993 : 41 – 42 ) bahwa komunikasi memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

a) Komunikasi itu merupakan produk dari perilaku manusia

Oleh karena komunikasi adalah proses dengan mana orang – orang mengadakan reaksi mereka terhadap faktor – factor geografis,social, dan fator lingungan lainnya, maka ahli – ahli perilaku masyarakat telah lama pengetahui hubungan yang erat antara komunikasi dan perilaku manusia.

b) Komunikasi itu sifatnya dinamis

Ciri komunikasi yang kedua adalah sifatnya dinamis – kecenderungan dan kemampuannya untuk menyesuaikan dengan dunia yang berubah yang dilayaninya. Perubahan dunia memperngaruhi komunikasi melalui bahasa dan kebiasaan yang berubah dan melalui pembaharuan dalam kemudahan – kemudahan yang dipergunakan untuk menyimpan, menerima, menganalisis, dan menyimpan informasi.

c) Komunikasi itu hakikatnya tidak tepat

Manajer perusahaan yang mencari perbaikan dalam komunikasi ditakdiran untuk menerima ketidakpuasan. Meskipun ia memperlajari dan menggunaan praktek – praktek yang mengakibatkan kefektifan dalam tulisan dan pembicaraannya, tidak dapat dielakan ia harus menghadapi kenyataan bahwa praktek – praktek demikian hanya mengurangi ( bukan menghapuskan ) masalah – masalah komuniakasi. Komuniasi banyak dipengaruhi oleh aneka ragam variabel perorangan, variabel bahasa, dan sebagainya yang selalu berubah sehingga hamper tidak mungkin memahami komunikasi dengan sempurna.

Menurut pendapat di atas maka komunikasi memiliki tiga ciri yakni komunikasi adalah perilaku manusia di dalam lingkunganya, komunikasi yang bersifat dinamis yakni kemampuan untuk menyesuaikan pada perubahan informasi, komunikasi hakikatnya tidak tepat karena dalam komunikasi selalu mencari perbaikan sehingga tidak akan ada rasa puas dalam berkomunikasi.

Bentuk bentuk komunikasi

Komunikasi merupakan proses pemindahan pesan dari pengirim kepda penerima pesan, tentunya dalam bentuk komunikasi yang berbeda – beda. Maka komunikasi menurut Dirman & Juarsih (2014 : 13) yakni ada empat bentuk – bentuk dalam komunikasi :

1) Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal maerupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan untuk berfikir, melakukan penalaran, menganalisis, dan merenung. Menurut Devito (dalam Dirman & Juarsih, 2014 : 13) menurut Effendy (dalam Dirman & Juarsih 2014 : 13) bahwa komunikasi intreapersonal atau komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang dan seseorang berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan.

2) Komunikasi Antrarpersonal

Komunikasi antarpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan – pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang – orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (devito, dalam Dirman & Juarsih, 2014 :13)

3) Komunikasi Kelompok

  • Komunikasi dalam kelompok besar Komunikasi dalam kelompok besar (large group, massaatau maro group), tindaan selalu sama dengan komunikasi dalam kelompok kecil maupun kelompok besar meskipun setiap kelompok besar terdiri atas beberapa kelompok kecil.
  • Komunikasi kelompok kecil Komunikasi kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing – masing dihubungkan oleh beberaoa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu diantara mereka. Misalnya, komunikasi antar kepala sekolah dengan dewan guru yang dipimpinnya.

4) Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi seara institusional dan teknologis dari sebagian besar aliran pesan yang dimiliki bersama seara berkelanjutan dalam masyarakat industrial (Winarso, dalam Dirman & Juarsih, 2014 : 14 )

Teori-teori Komunikasi

Secara umum komunikasi dapat dibagi menjadi beberapa bagian, disesuaikan dengan kebutuhan manusia dalam berinteraksi, di antaranya komunikasi antar pribadi, komunikasi antar kelompok, komunikasi politik, komunikasi massa, komunikasi organisasi dan lain sebagainya. Berdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatannya, Littlejohn membagi teori-teori komunikasi dalam dua kelompok. Pertama disebut “teori-teori umum” (general theories), dan kedua adalah “teori-teori kontekstual” (contextual theories) (Sendjaja,1994).

 Teori-teori umum dalam komunikasi diklasifikasikan ke dalam empat bagian: 1) teori fungsional dan struktural, 2) teori-teori “behavioral” dan “cognitive”, 3) teori-teori konvensional dan interaksional serta 4) teori-teori kritis dan interpretif. Sementara itu, kelompok teori-teori kontekstual terdiri dari teori-teori tentang: 1) komunikasi antar pribadi, 2) komunikasi kelompok, 3) komunikasi organisasi, dan 4) komunikasi massa.

Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, baik terjadi secara langsung (tanpa medium) atau tidak langsung (melalui medium). Komunikasi kelompok (group communication) menfokuskan pembahasannya pada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok kecil. Sedangkan komunikasi organisasi (organizational communication) menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal serta bentukbentuk komunikasi pribadi dan kelompok. Sementara komunikasi massa (mass communication) adalah komuniksi melalui media massa yang ditujukan kepada halayak besar. Proses komunikasi massa melibatkan aspek-aspek komunikasi intra pribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi (Sendjaja,1994).

Dari berbagai teori komunikasi tersebut yang sering di gunakan dalam proses belajar mengajar adalah teori komunikasi antar pribadi dan kelompok. Guru dapat menyiasati dan menggunakan berbagai kesempatan untuk berkomunikasi dengan siswa melalui situasi dan kondisi yang memungkinkan. Baik penggunaan komunikasi antar personal maupun kelompok.

Gaya Komunikasi

Efendi mendefinisikan gaya komunikasi (the communication style) diartikan sebagai seperangkat perilaku antar pribadi yang dapat digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of intexpersonal behaviors that are used in a given situation)(Uchjana,2001). Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi tertentu pula. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).

Steward L.Tubbs dan Sylvia Mos menyatakan gaya komunikasi ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications (wikipedia).

Dari berbagai pendapat tentang gaya komunikasi diatas secara garis besar dapat dipahami bahwa gaya komunikasi merupakan gaya yang digunakan komunikator dalam menyampaikan pesan. Setiap komunikator mempunyai gaya komunikasi dan ciri khas berbeda-beda. Perbedaan ini dapat dilihat dari segi budaya, pendidikan, lingkungan keluarga, pengalaman dan lain sebagainya. Gaya komunikasi ini dipakai dengan tujuan untuk mendapatkan respon dari komunikan.

Model Komunikasi

Menurut Wina Sanjaya ( 2012 : 83) bahwa ada dua Model komunikasi yang berpengaruh terhadap komunikasi pembeajaran, sebagai berikut :

1) Model Lasswell Lasswell mengetengahkan model komunikasi melalui pertanyaan yang sangat popular yaitu , “ who says in which channel to whom with what effect?’ ( mulyana dalam Sanjaya, 2012 : 83). Model komunikasi lasswell merupakan model yang sederhana, yang hanya memuat komponen – komponen system komunikasi. Disamping itu model ini juga bersifat linier, artinya model yang menggambarkan bagaimana sumber pesan menyampaikan pesan.

2) Model Schramme Model komunikasi schramme ini bukan hanya sekedar penyampaian pesan, namun bagaimana pesan itu diolah melalui menyandian ( ecoder) oleh komunikan dan diterjemahkan melalui penyandian ulang (decoder) yang dilakukan oleh penerima pesan, dan selama proses penerjemahan itu mungkin terdapat berbagai gangguan (noise) baik disadarri maupun tidak sehingga kemungkinan terjadi kesalahan penerjemah oleh penerima pesan.

Inilah pentingnya umpan balik atau feedback untuk melihat apakah pesan yang dikomunikasikan itu sesuai dengan maksud komunikan atau tidak. Menurut teori model komunikasi di atas, bahwa komunikasi tidak hanya bersifat linier tentang bagaimana proses penyampaian pesan, tetapi perlu adanya feedback atau tangggapan agar dapat dikonfirmasi apakah pesan yang disampaikan sesuai atau tidak.

Proses Komunikasi

Dalam proses komunikasi terdapat komponen-komponen dasar sebagai berikut:

Pertama pengirim pesan (sender). Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya.

Kedua Pesan (massage). Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas. Materi pesan dapat berupa: (1) informasi, (2) ajakan, (3) rencana kerja, (4) pertanyaan dan sebagainya.

Ketiga Simbol atau isyarat. Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang guru menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya).

Keempat adalah media atau penghubung adalah alat untuk menyampaikan pesan seperti: TV, radio, surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini disesuaikan dengan isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dan sebagainya.

Kelima adalah mengartikan kode atau isyarat. Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata maupun indera lainnya), maka penerima pesan harus dapat mengartikan simbol atau kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dipahami.

Keenam adalah penerima pesan. Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari pengirim meskipun dalam bentuk kode atau isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.

Ketujuh adalah balikan (feedback). Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun non verbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap penerima pesan. Hal ini penting bagi guru atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Delapan adalah gangguan. Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada gangguan. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

Proses komunikasi menurut Dirman & Junarsih (2014 : 14 ) pada hakekatnya bahwa proses komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau gagasan atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bias berupa gagasan, informasi, opini, dan lain – lain yang mucnul di benaknya. Perasaan biasanya berupa keyakinan, kepastian, keragu- raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, dan sebagainya. Dengan demikian proses komunikasi dapat disimpulkan yakni proses penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan perasaan yang muncul dalam benak seorang komunikator kepada komunikan.

Menurut Majid (2013 : 285 ) bahwa komunikasi dibedakakan atas komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa, baik Bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak – gerik, gambar, lambing, mimik muka, dan sejenisnya.

Pada hakikatnya proses pembelajaran adalah interkasi antara guru dengan siswa dikelas yang di dalamnya terdapat interaksi antara guru dengan siswa dalam komunikasi. Komunikasi dalam proses pembelajaran yakni proses menyampaian pesan antara guru (komunikator) kepada siswa (komunikan) baik menggunakan bahasa verbal (lisan) maupun bahasa nonverbal (isyarat) yang memiliki tujuan agar siswa mampu memahami materi yang disampaikan guru baik secara verbal ataupaun nonverbal. Pesan yang disampaikan oleh yakni guru bisa berupa ilmu pengetahuan, ide, atau pengalaman.

Berdasarkan paradigm Hold Lasswel, Philip Kotler (dalam Dirman & Juarsih 2014 : 10) proses komunikasi meliputi unsur – unsur sebagai berikut.

  1. Sender, yakni komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.
  2. Encoding, yakni penyandaian, proses pengalihan pikiram kedalam bentuk lambing.
  3. Message, yakni pesan yang merupakan seperangkat lambing bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
  4. Media, yakni saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.
  5. Decoding, yakni penguraian sandi, proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambing yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
  6. Receiver, yakni komunikan yang menerima poesan dari komunikator.
  7. Response, yakni tanggapan, separangkat reaksi dari komunikan setelah diterpa pesan.
  8. Feedback, yakni umpan balik, tanggapan komunikan yang disampaikan kepada komunikator.
  9. Noise, yakni gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

Adapun proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini:

Diagram 1 : Proses Komunikasi

Sumber Bacaan

Roben, Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2008)

Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi Aksara, 1986), hal. 8

Sutaryo, Sosiologi Komunikasi, (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2005), hal. 43

Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Indeks Gramedia, 2005), hal. 25

Sendjaja, Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1994), hal. 21, hal. 25

Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, (Bandung: Remadja Rosda Karya, 2001), hal. 52

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi

Banyak yang baca