Pengertian Artikel dan Bagaimana Sifat Artikel

Artikel merupakan karya tulis seseorang atau beberapa orang yang dirancang untuk dimuat dalam suatu jurnal atau terbitan tentang kumpulan dari beberapa artikel, yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (ensiklopedia bebas), artikel adalah karangan faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan (antara lain dalam koran, majalah, buletin) dan bertujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur. (https://id.wikipedia.org/ wiki/Artikel).

Tata urut atau sistematika dan format artikel selalu mengikuti aturan yang sudah disepakati dalam jurnal atau terbitan yang dimaksud. Bahkan, bentuk dan panjang tulisan juga harus mengikuti pedoman dalam jurnal atau terbitan tersebut.

Baik makalah atau paper maupun artikel ilmiah, selalu disertai dengan dukungan kepustakaan atau teori yang relevan. Dukungan kepustakaan tersebut diwujudkan dengan penulisan kutipan di dalam bagian isi, dan sumbernya ditulis pada bagian daftar pustaka. Hal ini dimaksud untuk mendasari secara rasional gagasan, tulisan atau penelitian si penulis.

Bagaimana Sifat Artikel

Artikel memiliki beberapa sifat, di antaranya:

  1. Aktual: artikel harus berisi informasi terbaru dan relevan dengan topik yang dibahas.
  2. Objektif: artikel harus memberikan informasi yang obyektif, tanpa terpengaruh oleh pandangan pribadi atau bias.
  3. Ilmiah: artikel harus mengandung pengetahuan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Berkualitas: artikel harus memenuhi standar jurnalistik dan memiliki kualitas yang baik dari segi tata bahasa, gaya bahasa, dan penyajian informasi.
  5. Menarik: artikel harus memikat perhatian pembaca dan membuat mereka tertarik untuk membaca lebih lanjut.

Menulis Artikel: Suatu Tantangan

Bagi personil yang berkecimpung dalam dunia pendidikan – termasuk mahasiswa – kegiatan penulisan artikel ilmiah seharusnya bukanlah hal yang asing. Penulisan artikel ilmiah dalam jurnal saat ini merupakan suatu tuntutan bagi mahasiswa. Sebelum menyandang gelar sarjana, mahasiswa diwajibkan mewujudkan hasil penelitiannya dalam bentuk artikel ilmiah yang dimuat di jurnal ilmiah atau dapat diakses melalui internet. Namun, suatu kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri adalah tidak sedikit mahasiswa bahkan para dosen yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan karya-karya tulis ilmiahnya. Fenomena ini juga banyak dialami oleh para guru, terutama guru yang sudah mencapai golongan IV A karena persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk kenaikan golongan berupa bukti fisik berupa karya tulis ilmiah yang sudah diterbitkan (a.l. PTK/PTBK) belum dapat disediakan.

Menurut pemahaman penulis, ada berbagai kendala yang sering dihadapi baik oleh mahasiswa, guru, maupun dosen berkaitan dengan penulisan karya ilmiahnya. Permasalahan yang dihadapi antara lain berupa:

1) Kesibukan dalam menunaikan tugas pengajaran atau kuliah

Tidak sedikit dosen maupun guru yang ‘miskin’ karya tulis menyatakan bahwa ‘miskinnya’ karya tulis sebagai akibat terlalu penatnya (sibuknya) melakukan tugas pengajaran. Tentu hal ini dapat dipahami jika yang bersangkutan tidak mengagihkan sama sekali waktu untuk menulis. Jika dosen ‘miskin’ karya tulis, maka hal ini sangat disayangkan, karena tugas dosen bukan hanya pada bidang pengajaran, tetapi harus melaksanakan tugas TriDharmanya secara seimbang. Perlu diingat bahwa tugas dosen sebenarnya menekankan pada penyusunan karya tulis di bidangnya.

Begitu pula mahasiswa, saat ini sangat jarang ditemui mahasiswa yang menyibukkan diri untuk membaca buku dan belajar, apalagi menulis suatu artikel. Banyak waktu (kesempatan) yang setiap harinya dibuang percuma, karena hanya digunakan untuk kegiatan di luar belajar. Oleh karena itu, sebaiknya guru, dosen maupun mahasiswa perlu mengagihkan waktunya untuk membaca dan atau menulis, misalnya 1 jam kegiatan membaca dan atau menulis selama 1 hari.

2) Kurangnya kemauan (‘greget’) untuk menulis

Faktor utama sebagai penghambat untuk menulis adalah belum adanya kemauan (‘greget’) untuk menulis. Hal ini terjadi karena belum disadarinya (dipahaminya) pentingnya (manfaat) karya tulis bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pada umumnya, modal berupa kemampuan menulis sudah dimiliki oleh setiap insan akademik. Persoalannya, banyak insan akademik yang justru menghindari untuk menulis yang bersifat ilmiah. Kondisi (masalah) semacam ini membutuhkan motivasi dari para dosennya, khususnya dosen wali. Bekal berupa pemahaman dan dorongan untuk menulis artikel perlu diberikan oleh dosen wali. Melalui berkembangnya pemahaman pentingnya untuk menulis ilmiah, diharapkan dapat menumbuhkan kemauan untuk menulis.

3) Sulitnya Menemukan Ide (Bahan) untuk

Menulis Kelancaran seseorang untuk menulis seringkali karena didorong sudah banyaknya ide atau gagasan yang sudah terkumpul untuk mau diwujudkan dalam karya tulis. Persoalannya, bagaimana agar seseorang dapat memiliki banyak gagasan.

Perlu disadari bahwa munculnya suatu gagasan tidak secara otomatis dengan sendirinya ketika dibutuhkan, tetapi karena banyak pengalaman atau pengetahuan, atau karena banyak membaca. Seseorang yang senang melakukan petualangan biasanya juga memiliki banyak pengalaman. Begitu pula seseorang yang banyak membaca, maka juga memiliki pengetahuan yang banyak juga. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum menulis, mulailah dengan banyak membaca.

4) Sulitnya Memulai Menulis

Bagi seseorang yang tidak atau belum terbiasa menulis, biasanya memulai menulis merupakan hal yang sulit. Menulis tidak harus ketika ada tugas baru melakukan kegiatan menulis, tetapi bisa dilakukan ketika ada keinginan (dorongan) yang memang ingin menulis suatu gagasan. Mulailah menulis dengan suatu gagasan tersebut, meskipun hanya berupa gagasan atau pikiran kecil saja, pada suatu buku yang bisa dibawa.

Jika suatu gagasan atau data (informasi) yang sudah ditulis sudah cukup banyak maka sudah menjadi bahan untuk menulis suatu artikel. Menulis bagian demi bagian yang awalnya terpisah tersebut – tetapi tetap memiliki keterkaitan – dapat dirangkai menjadi satu bagian. Hasil penulisan dari rangkaian berbagai informasi tersebut sering disebut sebagai Interim Report.

Tags: , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *