Inovasi Pembelajaran dan Pencapaian Tujuan Penjas

Inovasi Pembelajaran dan Pencapaian Tujuan Penjas

Inovasi pembelajaran Pendidikan Jasmani kendatipun merupakan sebuah keharusan, namun dalam aplikasinya harus tetap mengarah pada upaya pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani. Jika inovasi merupakan sebuah cara, maka cara tersebut tetap berorientasi pada pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani. Antara upaya inovatif dan pencapaian tujuan terjadi sebuah ikatan yang kuat dan jelas. Inovasi dalam pembelajaran Penjas justru diharapkan mempertegas dan memperkuat arah menuju pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani tersebut. Formulasi dan tujuan Pendidikan Jasmani yang relevan perlu lebih digali dan dipahami oleh guru, untuk mempertegas pengembangan inovasi pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Berbagai definisi dan tujuan Pendidikan Jasmani yang masih relevan dengan situasi kekinian, dapat disajikan sebagai berikut.

Nixon dan Jewett (1990) berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhan yang menggunakan kemampuan gerak individu secara sukarela, tetapi bermakna langsung terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial. Konsekwensinya, pendidikan jasmani harus dirancang secara khusus untuk memberikan pengaruh yang baik terhadap jasmani, emosi, sosial, dan intelektual.

Frost (1995) berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan individu melalui media aktivitas jasmani dan gerak siswa. Semua urutan pengalaman belajarnya dirancang dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan, perkembangan, dan perilaku setiap siswa.

Masih banyak ahli memberikan definisi dan formulasi tujuan Pendidikan Jasmani, namun semuanya mengarah pada sebuah pengertian bahwa perilaku fisik dan gerak yang ditunjukkan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani sebenarnya sekadar merupakan “alat” untuk mengembangkan potensi siswa secara keseluruhan yang meliputi fisik, mental-kognitif, dan sosial. Sudahkah pembelajaran Penjas yang selama ini kita rancang telah mengarah pada pencapaian tujuan tersebut ? Jika jawabnya belum, maka inovasi pembelajaran merupakan pilihan untuk lebih memperbaiki keadaan, yakni memfasilitasi para siswa agar menjadi seorang yang terdidik dalam Pendidikan Jasmani.

Karakteristik seseorang yang terdidik dalam Pendidikan Jasmani diuraikan oleh Physical Education Outcomes Committee of The National Association of Physical Education and Sport (NASPE) sebagaimana telah dikutip Arma Abdullah dalam Harsuki (2003), memiliki ciri-ciri: (1) Telah mempelajari berbagai macam keterampilan yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas jasmani, (2) segar atau bugar secara jasmaniah, (3) berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani, (4) mengetahui implikasi dan manfaat dari keterlibatannya dalam aktivitas jasmani, dan (5) menghargai aktivitas jasmani dan sumbangannya kepada gaya hidup yang sehat.

Membedah potensi pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences), dibangun oleh berbagai pertimbangan logis, antara lain: (1) kebutuhan akan tahap-tahap perkembangan berdasarkan usia kronologis anak, dan (2) konsep joyful learning, yakni belajar yang menyenangkan dan mengandung unsur interaktif antar siswa atau siswa dengan lingkungan belajarnya.

Latihan-latihan (train and exercise) yang dirancang dalam aktivitas pendidikan jasmani berorientasi pada tahap perkembangan usia kronologis (Chronological Age), karakteristik keterampilan (Skills) untuk membentuk perkembangan kemampuan-kemampuan yang mengarah pada kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences).

Identifikasi dan mendorong penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di sekolah memang bukan perkara yang mudah dilakukan. Namun hal tersebut harus tetap diupayakan oleh setiap guru pendidikan jasmani mulai dari hal-hal yang sederhana. Penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di sekolah oleh guru telah diformulasikan dan dipraktekkan di New City School di St Louis, Missouri, Amerika Serikat. Guru Pendidikan Jasmani dapat membantu siswa untuk mengembangkan kecerdasan tertentu secara sendiri-sendiri atau simultan dengan cara memodifikasi kegiatan.

Contoh modifikasi sebagaimana diilustrasikan dalam tabel berikut:

Tabel Mendorong Penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di Sekolah

Kecerdasan Yang dapat dilakukan Guru

(Model New City School)

Yang dapat dilakukan Guru di kelas Penjas (Model Ilustrasi Agus Kristiyanto)
Bahasa Mendorong penggunaan kata-kata yang tak lazim, melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan, menunjukkan puisi untuk menyampaikan emosi. Mendorong siswa dalam

– penggunaan istilah teknis olahraga dalam bahasa Inggris sejak dini, seperti: Start, Finish, In, Out, Double, Single, dll.

– Penggunaan umpan balik secara verbal atas penampilan sendiri atau penampilan teman sekelas.

 

Logika Matematika Menggunakan diagram venn untuk membandingkan, menggunakan grafik, tabel dan bagan waktu, mendemonstrasikan dengan benda-benda nyata, meminta siswa untuk menunjukkan urutan. Mendorong siswa:

– Mampu mengkomparasikan besaran waktu, jarak, kecepatan, sudut pantulan, sudut tolakan, dsb dalam aktivitas jasmani yang dilakukan.

– Mendemonstrasikan tugas gerak dengan menggunakan benda-benda nyata (media) yang sesuai.

– Menunjukkan kemampuan menghitung pola, urutan, jumlah regu, dan jumlah anggota regu.

 

Musikal Mengubah lirik lagu untuk mengajarkan konsep. Mendorong siswa menambahkan musik dalam drama, menciptakan rumus atau hafalan berirama. Mendorong siswa:

– Melakukan aktivitas individu atau kelompok dengan menggunakan instruksi lirik dan lagu melalui ekspresi gerakan tubuh secara keseluruhan atau bagian-bagian tubuh.

– Memilih iringan musik yang sesuai untuk gerakan senam dan tari.

– Mampu berkreasi tentang rumus gerakan ritmik dan nilai-nilai ketukan.

 

 

Kinestesis Tubuh Mendorong siswa agar melakukan kegiatan bergerak dengan menggunakan tangan (manipulatif), kesempatan berakting, berekspresi gerak secara bebas. Mendorong siswa:

– Melakukan aktivitas manipulatif lengan-tangan, maupun manipulatif tungkai-kaki dengan media atau alat belajar yang sesuai.

– Melakukan aktivitas lokomotor melalui berbagai aktivitas atletik maupun bentuk-bentuk permainan

 

Spasial Menggambarkan peta, memimpin kegiatan visualisasi, menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan pemahaman melalui gambar, merancang bangunan dan pakaian Mendorong siswa:

– Mampu menirukan gerakan dan mengembangkannya dengan cara mengamati foto atau gambar ilustrasi.

– Mampu memilih kostum olahraga dengan pilihan model dan warna yang sesuai (matching)

 

Naturalis Menggunakan alam terbuka sebagai kelas, mengadakan percobaan-percobaan, memelihara tanaman dan binatang di kelas dan siswa bertanggung jawab terhadapnya. Mendorong siswa:

– Untuk gemar menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar yang efektif, seperti sungai, ladang, tebing, hutan.

– Melakukan outbond activity dengan memanfaatkan ternak dan tumbuh-tumbuhan sebagai media belajar.

 

Interpersonal Menggunakan pembelajran kerjasama, menugaskan kerja kelompok, menciptakan situasi yang membuat siswa saling mengamati dan memberi masukan. Mendorong siswa:

– Senang melakukan kompetisi olahraga beregu.

– Terbiasa bersikap terbuka dalam memberikan dan menerima umpan balik dalam akativitas olahraga yang dilakukan dalam suatu kelompok

 

Intrapersonal Membiarkan siswa bekerja dengan iramanya sendiri, membantu siswa menyusun dan memonitor target-target pribadi. Mendorong siswa:

– Terbiasa dengan bentuk pembelajaran inklusi, yakni sebuah pembelajaran Penjas yang memfasilitasi setiap anak memulai dengan kemampuan awal masing-masing (Entry Behavior).

– Secara periodik melakukan battery test, yakni tes performansi olahraga yang terdiri dari beberapa item, setiap anak diberi bekal kemampuan untuk menskor sendiri untuk setiap itemnya.

 

 

Sumber Bacaan

Agus Kristiyanto, (1997). “Spektrum Gaya Mengajar Pendidikan Jasmani”. Jurnal Dwijawarta. Edisi April-Juni: hal. 40-44.

______________, dkk, (1998). Akuntabilitas PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok – Surakarta: FKIP UNS.

______________, (2000). Kompetensi Umpan Balik Mahasiswa Praktikan PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok. Surakarta: FKIP UNS.

______________, (2008). “Merancang Model Pembelajaran Paikem Pendidikan Jasmani”. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Pembaharuan Pendidikan Jasmani di Sekolah, Banjarmasin Kalsel 27 Nopember 2008.

Frost, R.B. (1995). Physical Education: Foundations, Practices and Principles. Reading: Addison Wesley Publishing Company.

Harsuki, (2003). Perkembangan Olahraga Terkini: Kajian Para Pakar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Hoerr, Thomas R., (2007). Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School di St. Louis Missouri dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak. Terjemahan Ary Nilandari. Bandung: Penerbit Kaifa.

Metzler, Michael W., (2000). Instructional Models for Physical Education. Boston: Allyn and Bacon.

Mosston, Muska, (1991). Teaching Physical Education. Columbus L Bell and Howell Companies.

Nixon, J.E. & Jewett, A.E., (1990). An Introduction to Physical Education. Philadelphia: Saunders College Publishers.

Santrock, John W., (2002). Life-Span Development. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.

Siedentop, D., (1990). Physical Education: Introductory Analysis. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.

Banyak yang baca