Joyful Learning Pendidikan Jasmani Untuk Kecerdasan Majemuk
Dewasa ini, para praktisi pendidikan banyak yang berkonsentrasi mengupayakan proses pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan pengembangan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) siswa. Terdapat banyak model pembelajaran yang mungkin dapat diadopsi oleh para guru penjas agar pembelajaran yang dikelola lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran tersebut berkonsep pada Joyful Learning atau belajar yang menyenangkan. Disain atau rancangan pembelajaran tersebut kemudian dielaborasi konsepnya menjadi konsep PAIKEM ( Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Konsep pembelajaran Penjas yang mengandung unsur PAIKEM merupakan prasarat dasar bagi pembelajaran yang membentuk kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) siswa.
Konsep PAIKEM dalam pembelajaran penjas sebenarnya merupakan pemaknaan tiap guru dalam mengembangkan suatu pembelajaran yang inovatif.
Setiap guru memiliki semacam ”hak prerogratif” agar pembelajaran yang dikelolanya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan bermakna bagi siswa-siswanya. Artinya, bahwa PAIKEM dalam pembelajaran penjas bukan merupakan persoalan mengatur bentuk pembelajaran, melainkan sebuah ruh atau nafas pembelajaran penjas. Bentuknya boleh bervariasi yang bergantung pada daya kreasi guru, yang penting ruh pembelajaran hasil kreasi guru tersebut mengandung unsur Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Unsur Aktif terkait dengan rancangan pembelajaran yang lebih mengedepankan pada proporsi aktivitas yang lebih banyak kepada siswa. Pemahaman tentang sebuah makna dan pengalaman belajar ditempuh oleh siswa melalui aktivitas dengan waktu berpartisipasi secara optimal.
Unsur Inovatif sebenarnya bukan berkonotasi sebagai sesuatu yang luar biasa, tetapi dipahami sebagai: ”sesuatu pekerjaan yang biasa, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak biasa”. Guru melakukan sesuatu yang biasa dilakukan, namun dengan cara yang tidak biasa dilakukan. Inovasi pembelajaran Penjas bukan merupakan sesuatu yang revolusioner, tetapi pembelajaran yang selalu terbuka secara fleksibel untuk menerima perubahan-perubahan pada komponen-komponen inti pembelajaran, seperti: komponen siswa, guru, serta tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Unsur Kreatif lebih mengarah pada persoalan ide-ide original guru dalam mengembangkan solusi menghadapi keterbatasan dan kendala di lapangan. Guru yang kreatif adalah guru yang mampu mengelola pembelajaran, walau dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Kreativitas guru juga tampak dari kemampuannya dalam melakukan modifikasi peralatan, lapangan, atau aturan-aturan permainan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keterbatasan para siswanya.
Unsur Efektif terkait dengan persoalan kemampuan rancangan proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran apa pun bukan merupakan sesuatu yang berguna jika tidak efektif untuk mencapai.
tujuan pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran penjas yang efektif mengandung aktivitas yang bermakna untuk mengantarkan seluruh siswa menjadi insan yang terdidik secara penjas.
Unsur Menyenangkan sebagaimana telah dijelaskan di depan, lebih tergantung pada merancang cara mengajar guru. Guru adalah manager, leader, dan decision maker atau pengambil keputusan. Guru yang bijaksana akan mengambil keputusan untuk mengembangkan cara mengajar yang menyenangkan bagi para siswanya. Iklim atau suasana pembelajaran yang menyenangkan akan meningkatkan partisipasi dan hasil pembelajaran penjas.
Selanjutnya, PAIKEM dalam pembelajaran penjas tersebut harus juga mensertakan berbagai komponen yang bervariasi yang meliputi : (1) multimedia, (2) multimetode, (3) praktik dan bekerja dalam tim, (4) memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar, (5) kombinasi di dalam dan di luar kelas, dan (6) pengembangan multiaspek dalam belajar yang meliputi: logika, etika, dan sebagainya.
Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang memiliki potensi besar untuk mencerdaskan anak secara simultan. Kecerdasan simultan mengarah pada terbentuknya kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences . Kecerdasan majemuk (KM) merupakan indikator yang didasari oleh kerangka berfikir bahwa setiap anak sebenarnya tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Cerdas bukan sekadar bermakna dangkal yang terkait dengan hasil tes IQ semata, cerdas juga bukan hanya menyangkut kemampuan bahasa dan logika matematika. Cerdas dalam pandangan Multiple Intelligences model Gardner mencakup 8 (delapan) bidang kecerdasan yaitu: (1) bahasa, (2) logika mathematika, (3) musikal, (4) kinestesis tubuh, (5) spasial, (6) naturalis, (7) interpersonal, dan (8) intrapersonal.
Guru Pendidikan Jasmani sudah seharusnya memiliki kompetensi mengajar yang mendorong para siswa mengembangkan kecerdasan majemuk.
Pendidikan Jasmani adalah pendidikan melalui medium aktivitas fisik yang memfokus pada pencapaian seluruh ranah tujuan belajar. Ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, secara simultan dikembangkan dalam sebuah rancangan belajar yang standar. Namun demikian, guru masih memerlukan langkah tambahan untuk dapat menerapkan inovasi pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences).
Pengembangan kecerdasan majemuk ini sangat mungkin dilakukan melalui pembelajaran pendidikan jasmani, karena pendidikan jasmani memiliki nilai : (1) pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan siswa sesuai tahap perkembangannya, (2) pendidikan yang mengembangkan potensi fisik, kognitif, dan sosio emosional secara simultan, dan (3) pendidikan jasmani berisi aktivitas: Pengembangan, Permainan dan Olahraga, Aktivitas Uji Diri, Aktivitas Ritmik, Akuatik, dan Outdoor Education.
Sumber Bacaan
Agus Kristiyanto, (1997). “Spektrum Gaya Mengajar Pendidikan Jasmani”. Jurnal Dwijawarta. Edisi April-Juni: hal. 40-44.
______________, dkk, (1998). Akuntabilitas PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok – Surakarta: FKIP UNS.
______________, (2000). Kompetensi Umpan Balik Mahasiswa Praktikan PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok. Surakarta: FKIP UNS.
______________, (2008). “Merancang Model Pembelajaran Paikem Pendidikan Jasmani”. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Pembaharuan Pendidikan Jasmani di Sekolah, Banjarmasin Kalsel 27 Nopember 2008.
Frost, R.B. (1995). Physical Education: Foundations, Practices and Principles. Reading: Addison Wesley Publishing Company.
Harsuki, (2003). Perkembangan Olahraga Terkini: Kajian Para Pakar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Hoerr, Thomas R., (2007). Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School di St. Louis Missouri dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak. Terjemahan Ary Nilandari. Bandung: Penerbit Kaifa.
Metzler, Michael W., (2000). Instructional Models for Physical Education. Boston: Allyn and Bacon.
Mosston, Muska, (1991). Teaching Physical Education. Columbus L Bell and Howell Companies.
Nixon, J.E. & Jewett, A.E., (1990). An Introduction to Physical Education. Philadelphia: Saunders College Publishers.
Santrock, John W., (2002). Life-Span Development. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.
Siedentop, D., (1990). Physical Education: Introductory Analysis. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.
