Komunikasi Efektif dalam Pendidikan

Komunikasi Efektif dalam Pendidikan

Komunikasi Efektif dengan Siswa

Pembelajaran di dalam kelas guru memiliki upaya dalam membangun komunikasi yang efektif dengan siswa, dalam membangun komunikasi tentunya harus memperhatikan aspek – aspek komunikasi yang efektif. Komunikasi efektif menurut Dirman & Juarsih (2014 : 21 – 22) bahwa guru perlu memahami lima aspek dalam mencapai komunikasi yang efektif dengan siswa, yakni sebagai berikut :

1) Kejelasan

Hal ini dijelaskan bahwa dalam komunikasi dengan peserta didik guru harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik.

2) Ketepatan

Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan. Dalam komunikasi peserta dengan peserta didik, guru harus menggunakan bahasa yang baik dan benar serta informasi yang disampaikan juga harus benar.

3) Konteks

Konteks atau sering disebut dengan situasi, maksudny adalah bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. Guru dalam berkomunikasi dengan serta didik perlu memerhatikan keadaan dan situasi yang dihadapi.

4) Alur

Bahasa dan informasi yang disajikan oleh guru dalam berkomunikasi dengan peserta didik harus disusun dengan atau sistematika yang jelas, sehingga pihak penerima informasi yaitu peserta didik cepat tanggap.

5) Budaya

Aspek ini tidak hanya menyangkut bahasa dan informasi tetapi juga berkaitan dengan tatrakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi dengan serta didik guru harus menyesuaikan dengan budaya serta didik, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi (Lestari, dalam Dirman & Juarsih, 2014 : 22).

Menurut teori di atas maka komunikasi yang efektif antara guru dengan siswa yakni harus memperhatikan aspek kejelasan, ketepatan, konteks, alur, dan budaya. Sehingga komunikasi dapat berjalan efektif ketika lima aspek tersebut terpenuhi.

Komunikasi Pendidikan

Metode komunikasi digunakan agar komunikasi antar manusia terjalin secara efektif. Pengertian metode adalah suatu cara yang digunakan untuk melakukan sesuatu hal. Metode komunikasi sering kali dikenal dengan teknik komunikasi, yaitu cara yang digunakan dalam menyampaikan informasi dari komunikator ke komunikan dengan media tertentu. Dengan adanya teknik ini diharapkan setiap orang dapat secara efektif melakukan komunikasi satu sama lain dan secara tepat menggunakannya (Mulyana, 2005).

Effendy (2006) metode komunikasi terdiri atas :

  1. Komunikasi informative (informative communication), suatu pesan yang disampaikan kepada seseorang atau sejumlah orang tentang hal-hal baru yang diketahuinya.
  2. Komunikasi persuasif (persuasive communication), proses mempengaruhi sikap, pandangan, atau perilaku seseorang dalam bentuk kegiatan membujuk dan mengajak, sehingga ia melakukan dengan kesadaran sendiri.
  3. Komunikasi instruktif/koersif (instructive/coercive communication), komunikasi yang mengandung ancaman, sangsi, dan lain-lain yang bersifat paksaan, sehingga orang-orang yang dijadikan sasaran melakukan sesuatu secara terpaksa, karena takut akibatnya.

Pengalaman bersama merupakan suatu yang amat penting dalam proses komunikasi, karena ketidaksamaan pengalaman dapat mengakibatkan kesulitan berkomunikasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan pengalaman antara satu dengan lainnya; antara lain sebagai berikut: Faktor usia, jenis kelamin, ekonomi, lokasi, pendidikan, organisasi, serta pekerjaan (Mulyo, 2001 : 5)

Setyosari (2006: 1) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode atau cara pembelajaran yang ditandai oleh adanya masalah nyata, sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar kritis dan ketrampilan memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan. Berikut diberikan lima contoh model pembelajaran yang memiliki kecenderungan berlandaskan paradigma konstruktivistik, yaitu: model reasoning and problem solving, model inquiry training, model problembased instruction, model pembelajaran perubahan konseptual, dan model group investigation.

Hambatan Komunikasi Pendidikan

Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton (1992 : 10-11), hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu :

a) Status effect

Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.

b) Semantic Problems

Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan.

c) Perceptual distorsion

Cara pandang yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain.

d) Cultural Differences

Perbedaan kebudayaan, agama, dan lingkungan sosial.

e) Physical Distractions

Gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi.

f) Poor choice of communication channels

Media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi.

g) No Feed back

Tidak ada respon dan tanggapan dari receiver .

Pentingnya sebuah komunikasi yang akurat dan baik sehingga apabila kesusksesan komunikasi tidak dapat diwujudkan maka akan mampu menimbulkan hambatan bagi komunikator dan komunikannya.

Hambatan dalam Komunikasi Pendidikan

Hambatan komunikasi bisa dimaknai dengan ganguan (noise) dalam proses komunikasi. Hambatan dalam komunikasi pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap efektifitasnya proses belajar mengajar. Terdapat hambatan semantik dan hambatan saluran.

  1. Gangguan saluran (channel noise). Berkaitan dengan kendala atau hambatan yang berhubungan dengan fisik penyampaian pesan. Terjadi antara komunikator dan komunikan yang menggunakan saluran berupa media.
  2. Gangguan semantik. Sedangkan ganguan semantik merupakan ganguan yang berhubungan demgan tata kebahasaan dimana ganguan ini sering terjadi karena kesenjangan atau ketidaksesuaian antara pesan yang disampakan komunikator kepada komunikannya.

Sumber gangguan semantik sebagai berikut:

  • Kata-kata terlalu sukar, masalahnya terlalu sukar dimengerti oleh
  • Perbedaan dalam memberikan arti denotatif pada kata-kata yang digunakan antara pengirim dan penerima pesan, yakni penerima pesan berpikir bahwa kata yang dimaksud menunjukkan pada sesuatu yang berbeda dengan yang dimaksud oleh pengirimnya.
  • Pola kalimat yang membingungkan penerima pesan.
  • Perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan, yakni intonasi, gerak mata, tangan, atau bagian badan

Fajar mengklasifikasikan hambatan komunikasi terutama dalam dunia pendidikan antara lain sebagai berikut:

a) Hambatan dari proses komunikasi

  • Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan. Hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional, sehingga mempengaruhi motivasi yaitu mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan keinginan, kebutuhan, atau kepentingan.
  • Hambatan dalam penyandian atau symbol, hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga memiliki arti lebih dari satu, symbol yang dipergunakan antara si pengirim dengan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
  • Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi.
  • Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan pesan, atau tidak mencari informasi lebih lanjut.
  • Hambatan dalam memberikan Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya, akan tetapi interpretatif, tidak tepat waktu, atau tidak jelas, dan sebagainya.

b) Hambatan fisik

Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, misalnya:

  • Gangguan kesehatan
  • Gangguan pada alat-alat komunikasi dan jaringan listrik

c) Hambatan semantik

Kata-kata yang digunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yag berbeda, tidak jelas, atau berbelit-belit antara pemberi pesan dengan penerima pesan.

d) Hambatan psikologis

Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi.

Dalam musibah, misalkan, menimbulkan trauma yang sangat tinggi pada korbannya, sehingga pada pembelajaran bisa berlangsung secara efektif.

Strategi untuk Meningkatkan Efektifitas dalam Komunikasi Pendidikan

 Strategi komunikasi yang merupakan paduan perencanaan komunikasi dengan menajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasional praktis yang harus dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan bisa berbeda-beda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan kondisi.

Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melakukan komunikasi, kita perlu mempelajari person yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut. Hal tersebut bergantung pada tujuan komunikasi.

Pemilihan media komunikasi

Media komunikasi sangat banyak jumlahnya, mulai dari yang tradisional sampai dengan modern. Untuk mencapai sasaran komunikasi, kita bisa memilih salah satu atau menggabungkan beberapa media, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan.

Pengkajian tujuan pesan komunikasi

Pesan komunikasi memiliki tujuan tertentu. Ini menentukan teknik yang akan diambil.

Peranan komunikator dalam komunikasi yakni ada pada daya tarik dan kredibikitas.

Berdasarkan kedua faktor tersebut seorang komunikator dalam menghadapi komunikan, haruslah bersikap empatik, yaitu kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain. Dengan kata lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Seorang komunikator harus bersikap empatik ketika ia berkomunikasi dengan komunikan yang sedang sibuk, marah, bingung, sedih, sakit, kecewa, dan sebagainya.

Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran banyak ditentukan oleh keaktifan pebelajar dan pembelajar dalam bentuk timbal balik berupa pertanyaan, jawaban pertanyaan atau berupa perbuatan baik secara fisik maupun secara mental. Adanya umpan balik ini memungkinkan pembelajar mengadakan perbaikanperbaikan cara komunikasi yang pernah dilakukan. Keefektifan komunikasi menunjuk kepada kemampuan orang untuk menciptakan suatu pesan dengan tepat, yaitu pengirim pesan dapat mengetahui bahwa penerima menginterprestasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim.

Selain itu keefektifan pembelajaran sangat ditentukan oleh adanya perhatian dan minat pebelajar. Ini sesuai dengan model “AIDA singkatan dari perhatian (Attention), minat (Interest), hasrat (Desire), dan kegiatan (Action)”. Maksudnya agar terjadi kegiatan pada diri pebelajar sebagai komunikan, maka terlebih dahulu harus dibangkitkan perhatian dan minatnya kemudian dilanjutkan dengan penyajian bahan. Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu syarat pembelajaran dapat berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin menjadi guru yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi kepada siswa-siswa kita pada setiap pembelajaran yang kita laksanakan.

Dalam komunikasi yang efektif, terdapat lima hal yang perlu diperhatikan:

  1. Respect, jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Sebuah penghargaan yang tulus kepada siswa, membuat siswa dapat membedakan antara perlakuan yang tulus dan tidak tulus. Berikan penghargaan maka Anda sebagai seorang pendidik akan dihargai oleh siswa. Berikan penghargaan maka proses belajar mengajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan bagi semua pihak.
  2. Emphaty, perlu saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku, dan keinginan dari siswa. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.
  3. Audible, dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik, berarti pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik oleh penerima pesan.
  4. Clarity, perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme siswa dalam proses belajar-mengajar.
  5. Humble, dengan menghargai orang lain, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain.

Sumber Bacaan

Ludlow, Ron & Fergus Panton. 1992. The Essence of Effective Communication. London : Prentice Hall.

Mulyo, Prabowo. 2001. Sistem Komunikasi Pendidikan. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarya Press.

Onong uchjana Effendy. 2006. Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek. Bandung: Penerbit Remaja Rosda Karya.

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Dirman & Cicich Juarsih. (2014). Penilaian dan Evaluasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Effendy, Onong Uchjana. 2008. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Banyak yang baca