Menurut Indrajati sisi (2002), kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mampu menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Dalam pandangan Slamet PH (2002), kecakapan hidup adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Sedangkan Brolin (1989), mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk berfungsi dan bertindak secara mabndiri dan otonom dalam kehidupan seharihari, tidak harus selalu meminta bantuan dan petunjuk pihak lain. Ini berarti bahwa bentuk kecakapan hidup berupa pengetahuan sebagai praksis dan kiat (praxis dan techne), bukan teori; pengetahuan sebagai skills of doing sekaligus skills of being.
Pendidikan berjalan pada setiap saat dan pada segala tempat. Setiap orang dari kanakkanak hingga tua mengalami proses pendidikan melalui apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan. Walaupun tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan, secara alamiah setiap orang akan terus belajar dari lingkungannya. Pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Apabila dikaitkan dengan life skills, maka pendidikan sebagai sistem yang pada dasarnya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu, secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik, pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimilik peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema dalam kehidupan yang dihadapi. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya.
Tahun 2001 pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan konsep pendidikan kecakapan hidup (Life Skills Education), yaitu suatu pendidikan yang dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu keberanian menghadapi problem hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemdsian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan yang dapat disinergikan berbagai mata pelajaran menjadi kecakapan hidup yang diperlukan seseorang, dimanapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup tersebut, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari dan menciptakan pekerjaan bagi meraka yang tidak melanjukan pendidikannya (Depdiknas, 2002). Kendall dan Marzano (1997) menegaskan bahwa kecakapan hidup (life skills) telah menjadi salah satu hal yang harus dimiliki dan dikuasai oleh masyarakat, termasuk peserta didik, agar mereka mampu berperan aktif dalam lapangan kerja yang ada serta mampu berkembang.
Lebih lanjut dikemukakn oleh Indrajati Sidi (2002) bahwa kecakapan hidup lebih luas dari keterampikan untuk bekerja, dan dapat dipilih menjadi lima, yaitu:
- kecakapan mengenal diri (self awarness), yang juga disebut kemampuan personal (personal skill),
- kecakapan berpikir rasional (thingking skill,
- kecakapan sosial (social skill),
- kecakapan akademik (academic skill), dan
- kecakapan vokasional (vocational skill).
Tiga kecakapan yang pertama dinamakan General Life Skill (GLS), sedangkan dua kecakapan yang terakhir disebut Specific Life Skill (SLS). Dialam kehidupan nyata, antara GLS dan SLS, antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan akademis, kecakapan vokasional tidak berfungsi secara berpisah-pisah, atau tidak terpisah secara eksklusif. Hal yang terjadi hanya peleburan kecakapan-kecakapan tersebut, sehingga menyatu menjadi sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional dan intelektual. Derajat kualitas tindakan individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas kematangan berbagai aspek pendukung tersebut diatas.
Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah mengfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa datang. Secara khusus, pendidikan berorientasi kecakapan hidup bertujuan :
- mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi,
- memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan
- mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya yang ada dimasyarakat, dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (indrajati sidi, 2002).
Dari uraian diatas maka dapat disarikan bahwa kecakapan hidup (life skills) adalah kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, seperti kemampuan berfikir, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warga Negara yang bertanggung jawab dan siap terjun di dunia kerja.
Sumber Bacaan
Indrajati Sidi. 2002. Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui Pendidikan Berbasis Luas (Broad-Based Education-BBE), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Dinas Pendidikan Jawa Barat. 2002. Pendidikan Berbasis Luas Kecakapan Hidup dengan Model Pelaksanaan Pembelajaran Hidup di Sekolah. Bandung: CV Dwi Rama.
Kendall, John S dan Marzano, Robert J. 1997. Content Knowledge: A Compedium of Standards and Benchmarkes for K-12 Education Aurora, Colorado. USA: