Media Pembelajaran Bahasa Jepang

Pengertian Media Pembelajaran Bahasa Jepang

Media pembelajaran merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Tak jarang guru menggunakan media pembelajaran sebagai salah satu cara untuk menyampaikan materi. Dalam dunia pendidikan media memiliki beberapa sebutan mulai dari media pembelajaran, media pendidikan, media belajar maupun media pengajaran, namun pada dasarnya sebutan tersebut memiliki makna atau pengertian yang sama.

Secara etimologi kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad, 1997: 3).

Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (2005:726) media pendidikan berarti alat dan bahan yang digunakan atau menjadi perantara informasi dalam proses pengajaran atau pembelajaran. Selanjutnya Tanaka (1988: 172) menjelaskan pengertian Media pembelajaran atau dalam bahasa Jepang disebut kyoogu sebagai berikut:

教室活動を行う上での補助的な道具を教具という。 Kyooshitsu katsudoo o okonau ue de hojotekina doogu wo kyoogu to iu. „Alat yang dapat mendukung kegiatan belajar di kelas disebut media pembelajaran‟.

Ketiga pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa media pendidikan merupakan alat yang dapat digunakan dalam mendukung kegiatan belajar serta membantu pengajar menyampaikan informasi kepada siswa.

Selain pengertian tersebut, beberapa pakar pendidikan juga mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian media pendidikan atau pembelajaran. Mengutip pendapat Ibrahim dkk. dari buku yang ditulis Tegeh: Ibrahim dkk. (Tegeh, 2015: 4) mengemukakan bahwa:

„Media pembelajaran adalah sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan pembelajar (siswa) dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Contoh: gambar, bagan, model, film, video, komputer, dan sebagainya‟.

Selanjutnya, Hamalik mendefinisikan media pendidikan sebagai alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah (Hamalik, 1994: 12).

Berdasarkan kedua teori tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat, metode atau teknik yang berfungsi untuk mengefektifkan proses komunikasi antara guru dan siswa dalam menyampaikan pembelajaran serta dapat meningkatkan minat belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Danasasmita dalam Septiyani media pembelajaran atau kyoogu (教具) disebut juga shichookaku kyoozai (視聴覚教材) adalah: „Setiap orang, bahan atau alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap, dengan demikian sebetulnya pengajar, buku ajar, dan lingkungan sekolah adalah media pembelajaran atau media pendidikan‟ (Septiyani, 2009: 120).

Gerlach dan Ely (1971) menyatakan bahwa „media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap‟ (Arsyad, 1997:3). Menurut kedua opini di atas media pembelajaran adalah segala hal, baik manusia, bahan, alat, maupun peristiwa yang mampu memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada siswa.

Pemaparan-pemaparan tentang pengertian media pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan segala sarana ataupun perantara (alat, metode, teknik, manusia, bahan, dan peristiwa) yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar di kelas untuk menyampaikan pembelajaran secara efektif serta dapat meningkatkan minat siswa untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Jenis Media Pembelajaran Bahasa Jepang

Media pembelajaran memiliki berbagai macam jenis, dalam teori pengertian media pembelajaran disebutkan bahwa manusia, bahan, alat, dan peristiwa merupakan media pembelajaran. Hamalik (1994: 36) mengungkapakan media pendidikan atau pembelajaran terdiri atas: bahan cetakan atau bacaan, alat-alat, audio – visual, sumber-sumber masyarakat, kumpulan benda-benda, dan contoh-contoh perilaku yang dicontohkan oleh guru.

Jenis media yang dipaparkan di atas pernyataan tersebut merupakan jenis media dari sudut pandang yang luas atau tidak terbatas hanya pada alat-alat, sedangkan dari sudut pandang yang lebih spesifik berdasarkan persepsi indera, media pembelajaran dibagi menjadi tiga kelas yakni, media audio, media visual, dan media audio visual. Media audio adalah media yang hanya mengandalakan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Sedangkan media visual adalah media yang hanya mengandalakan indra penglihatan. Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar (Tegeh, 2015: 19).

Sedangkan menurut Gerlach dan Ely mengelompokkan media berdasarkan ciri-ciri fisiknya, yaitu: benda sebenarnya (termasuk orang, kejadian dan benda tertentu), presentasi verbal (mencakup media cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui slide, transparansi OHP, catatan di papan tulis, dan majalah dinding), presentasi grafis (mencakup chart, grafik, peta, diagram, lukisan, dan gambar), gambar diam (potret), gambar gerak (film dan video), rekaman suara, pengajaran tepogram, dan simulasi (peniruan situasi) (Arsyad, 1997:3).

Kedua teori tersebut dapat menunjukkan bahwa media kartu ilustrasi merupakan jenis media berbasis visual dengan ciri-ciri fisiknya berupa presentasi grafis (gambar). Mengapa demikian, karena ilustrasi menurut Nuha (2019: 288) kata gambar mencakup segala bentuk lukisan atau ilustrasi yang digunakan dan disajikan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2005:425), ilustrasi berarti gambar (foto, lukisan) untuk membantu memperjelas isi buku, karangan, dan sebagainya. Dengan demikian ilustrasi merupakan gambar.

Sedangkan dalam buku karya Arsyad (1997:117) yang berjudul Media Pengajaran, konsep media kartu ilustrasi sama dengan konsep gambar garis yaitu, gambar yang merupakan rangkaian kegiatan atau cerita yang disajikan secara berurutan. Dengan kata lain kartu ilustrasi merupakan beberapa susunan gambar, setiap gambarnya mewakili beberapa kata yang terdiri dari subjek, keterangan waktu atau tempat, objek, dan predikat.

Pernyataan – pernyataan di atas dapat menjelaskan bahwa kartu ilustrasi merupakan salah satu jenis media pembelajaran visual, di mana kartu tersebut hanya menyajikan empat potong gambar yang digabungkan dalam satu kartu, setiap gambarnya mewakili kata benda dan kata kerja yang digunakan dalam unsur kalimat aktivitas bahasa Jepang. Penggunaan kartu ilustrasi tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk mengungkapkan gagasannya baik secara lisan maupun tulisan dengan rasa percaya diri.

Penggunaan Media Kartu Ilustrasi Bahasa Jepang

Media kartu ilustrasi merupakan media pembelajaran berbasis visual. Dalam penggunaanya memerlukan persiapan supaya hasil dari media tersebut efektif. Terdapat prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menggunakan media pembelajaran berbasis visual, yaitu:

  1. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan, dan diagram. Gambar realitas harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci dengan realisme sulit diproses dan dipelajari bahkan seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diamati
  2. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat pada teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik
  3. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. Meskipuan sebagian visual dapat dengan mudah diperolah informasinya, sebagian lagi memerlukan pengamatan dengan hati-hati. Untuk visual yang kompleks siswa perlu diminta untuk mengamatinya, kemudian mengungkapkan sesuatu mengenai visual tersebut setelah menganalisis dan memikirkan informasi yang terkandung dalam visual itu. Jika perlu, siswa diarahkan kepada informasi penting secara rinci.
  4. Hindari visual yang tak berimbang
  5. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk : 1) menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual, seperti lumpur, kemiskinan, dan lain-lain, 2) memberi nama orang, tempat, atau objek, 3) menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelumnya atau sesudahnya, 4) menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan, pikirkan, atau katakan.
  6. Warna harus digunakan secara realistik (Arsyad, 1997: 89).

Selain itu Hamalik (Hamalik, 1994:66) juga mengungkapakan penggunaan media berbasis visual dapat efektif apabila gambar disesuaikan dengan tingkatan anak, baik dalam hal besarnya gambar, detail, warna dan latar belakang yang perlu untuk penafsiran. Dijadikan alat untuk pengalaman kreatif untuk memperkaya fakta dan memperbaiki kekurangjelasan.

Penggunaan kartu ilustrasi dibuat berdasarkan pada prinsip-prinsip penggunaan media visual tersebut. Pada kartu ilustrasi gambar yang digunakan merupakan gambar ilustrasi sederhana, tidak menggunakan gambar rumit, karena hanya menggunakan satu gambar disetiap kata – nya dan langsung tertuju pada kalimat.

Selain itu gambar satu dengan gambar lainya memiliki perbedaan, contoh pada potongan gambar satu yang menunjukkan kata watashi diberi gambar orang, gambar selanjutnya menunjukkan waktu diberi gambar jam, dan seterusnya, sehingga siswa dapat membedakan perbedaan tiap-tiap gambar dengan mudah.

Dalam satu rangkaian kartu gambar yang digunakan merupakan gambar sejenis atau satu tema. Kemudian pada setiap gambarnya diberikan keterangan (dalam bahasa Jepang) yang memperjelas makna gambar. Pemilihan gambar disesuaikan dengan karakter siswa tingkat SMP yang mudah dianalisis. Proses pencetakan kartu secara berwarna (warna cerah), dengan ukuran panjang 10.5 cm dan lebar 48 cm. Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa pembuatan kartu ilustrasi sesuai dengan prinsip media berbasis visual yang telah dipaparkan.

Manfaat Media Pembelajaran Bahasa Jepang

Bagian sebelumnya telah dibahas pengertian media pembelajaran, jenis media pembelajaran, dan pengguanaan media pembelajaran, pada teori media pembelajaran telah disinggung bahwa media pembelajaran dapat meningkatkan minat, pikiran, dan perasaan siswa saat kegiatan belajar berlangsung. Namun, manfaat media pembelajaran tidak hanya terbatas pada peningkatan minat siswa saja, melainkan memiliki banyak manfaat.

Beberapa pakar pendidikan telah mengungkapkan manfaat media, seperti Malapu dalam Tegeh yang berpendapat bahwa mafaat penggunaan media pembelajaran yaitu:

„Penggunaan media dalam pembelajaran memiliki keunggulan karena dapat memberi rangsangan kepada pembelajar untuk mempelajari hal-hal baru dan mengaktifkan respon belajar karena dapat memberikan balikan hasil belajar dengan segara‟ (Tegeh, 2015: 6).

Hamalik (1994:18) juga mengungkapkan salah satu manfaat media pendidikan atau pembelajaran adalah: “Media pendidikan membangkitkan motivasi belajar dan perangsang kegiatan belajar. Media pendidikan memberikan pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. periode orientasi pengajaran akan berlangsung lebih efektif apabila guru menggunakan media pendidikan, misalnya dengan memasang gambar pada papan tempel, mengadakan demonstrasi, berkaryawisata, dan lain-lain”.

Manfaat media pembelajaran berdasarkan kedua teori tersebut yaitu, dengan penggunaan media pembelajaran saat proses kegiatan belajar berlangsung dapat memberikan rangsangan dan membangkitkan motivasi siswa dalam belajar maupun mempelajari hal-hal baru serta mampu mengefektifkan proses penyampaian materi dan memudahkan guru dalam mengetahui seberapa jauh kemampuan siswanya.

Selain teori di atas terdapat pula teori Sudjana dan Rivai (1992:2) yang mengemukakan empat manfaat media pembelajaran yaitu sebagai berikut:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran;
  3. Tujuan pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran;
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain (Arsyad, 1997:25).

Sadiman, dkk. juga mengemukakan manfaat media pembelajaran sebagai berikut: „Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, seperti: objek yang terlalu besar, objek yang kecil, gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, kejadian dimasa lampau, objek yang terlalu kompleks, dan konsep yang terlalu luas‟ (Tegeh, 2015:6).

Manfaat media pembelajaran berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, media pembelajaran berfungsi dalam mengatasi keterbatasan ruang, waktu, daya indra, dan pengalaman siswa, karena media pembelajaran mampu menjadi sarana dalam menjelaskan suatu proses yang terlalu cepat menjadi lambat, peristiwa lampau yang dapat diperlihatkan melalui video atau film, dan materi pelajaran berupa penjelasan wilayah, tempat, benda yang berukuran besar serta tidak mungkin dihadirkan dalam kegiatan belajar siswa menjadi bisa dihadirkan dengan menggunakan media gambar.

Media pembelajaran memiliki lebih dari satu manfaat bagi proses kegiatan belajar. Oleh karena itu penulis berinisiatif untuk mencoba menerapkan manfaat media pembelajaran pada kegiatan belajar bunkei dasar atau pola kalimat dasar bahasa Jepang dengan harapan penggunaan media tersebut dapat mengefektifkan kegiatan belajar.

Referensi

Arsyad, A. (1997). Media Pengajaran. PT Raja Grafindo Persada.

Hamalik, O. (1994). Media Pendidikan. Bumi Aksara.

Nuha, M. (2019). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pustaka Al-Husna.

Septiyani, R. (2009). Pengantar Media Pembelajaran. Penerbit Graha Ilmu.

Tanaka, T. (1988). Jisho (Kamus Bahasa Jepang). Penerbit Kenkyusha.

Tegeh. (2015). Media Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya. Deepublish.

Sudjana, N., & Rivai, A. (1992). Media Pengajaran. Sinar Baru.

Tags: , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *