Parameter Menskor dan Menilai Siswa Selama di Sekolah

Parameter Menskor dan Menilai Siswa Selama di Sekolah

Bagian terpenting dalam pengukuran dengan tes adalah penyusunan teks. Apabila semua tes disusun sebaik-baiknya maka sebagian besar dari tujuan penyusunan tes tercapai, selain itu menskor (memberi Angka) dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan dari penilai, ditambah dengan kebijaksanaan.

Dalam menskor dapat menggunakan tiga macam alat bantu. Pertama, Kunci jawaban. Kedua, kunci skoring. Terakhir Pedoman penilaian. Keterangan dan pengunaannya dalam bentuk tes.

A. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberiaan Skor untuk Tes Bentuk Betul dan Salah.

Yang dimaksud bentuk tes betul salah dengan kunci jawaban adalah deretan jawaban yang kita persiapan untuk pertanyaan/ soal yang disusun, sedangkan kunci skoring adalah alat yang digunakan untuk mempercepat pekerjaan skoring Guna menentukan angka dalam tes B-S, kita dapat menggunakan dua cara yaitu
1. Tanpa Hukuman/ Denda : Apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok kunci. Rumusnya adalah S = R – W
2. Dengan hukuman atau dengan denda : Karena diragukan adanya unsur tebakan. Rumusnya adalah S = T – 2W

B. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberian Skor untuk Tes Bentuk Pilihan Ganda (multiple choice)

Dalam tes pilihan ganda, teste diminta untuk melingkari salah satu pilihan jawaban yang disediakan. Untuk menentukan jawaban dalam bentuk ini, langkahnya sama dengan soal bentuk betul-salah. Untuk soal yang jumlah lebih dari 30 buah, sebaiknya menggunakan lembar jawaban dan nomor-nomor urutannya sehingga tidak memakan tempat. Dalam menentukkan angka untuk tes bentuk pilihan ganda, ada 2 macam cara pula yaitu dengan hukuman dan tanpa hukuman. Tanpa hukuman apabila banyaknya angka yang dihitung dari banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci jawaban. Sedangkan dengan hukuman menggunakan rumus, yaitu : S = R − (w) /(n-1)

C. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberian Skor untuk Tes Bentuk Jawaban Singkat (short answer test)

Tes jawaban singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. Bentuk tes ini digolongkan kedalam bentuk tes objektif. Tes bentuk isian, dianggap setaraf dengan tes jawaban singkat. Bentuk ini merupakan deretan jawaban sesuai yang sesuai dengan nomornya. contohnya : berat jenis, mengembun, komunitas, populasi, energi.

D. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberian Skor untuk Tes Bentuk Menjodohkan (matching)

Tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana jawaban-jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. Sehingga pilihan jawabannya lebih banyak. Satu kesulitannya adalah bahwa jawaban yang dipilih, dibuat sedemikian rupa sehingga jawaban yang satu tidak diperlukan bagi pertanyaan lain.

E. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberian Skor untuk Tes Bentuk Uraian (essay test)

Sebelum menyusun sebuah tes uraian, sebaiknya terlebih dahulu menentukkan pokok-pokok jawaban yang kita kehendaki. Dengan demikian, akan mempermudah kita dalam pekerjaan mengoreksi tes itu. Ada sebuah saran dalam menentukkan langkah-langkah apa yang harus kita lakukan pada saat kita mengoreksi dan memberi angka tes bentuk uraian. Sarannya adalah :

  1. Membaca soal pertama dari seluruh siswa mengetahui situasi jawaban.
  2. Menentukkan untuk soal pertama.
  3. Memberikan angka untuk soal pertama.
  4. Membaca soal pertama dari seluruh siswa untuk mengetahui situasi jawaban, kemudian dilanjutkan dengan memberi angka untuk soal kedua.
  5. Mengulangi langkah-langkah tersebut bagi soal-soal ketiga, keempat, dan seterusnya, sehingga seluruh soal diberi angka.
  6. Menjumlahkan skor-skor yang telah dituliskan pada setiap soal, dan terdaptlah skor untuk bagian soal yang berbentuk uraian.

Untuk mengurangi masuknya unsur subjektivitas dalam penilaian seperti itu, kita dapat menentukkan sendiri aspek-aspek yang menjadi bagian dari penilaian, misalnya untuk penilaian ujian skripsi :

a. Mutu skripsi yang tersusun, meliputi unsur metodologi dan pembahasan teoretik.
b. Cara dan kemampuan mempertahankan kebenaran pendapatnya.
c. Luasnya materi pendukung yang digunakan untuk menjawab.

Dalam menentukan nilai ditiap-tiap aspek, kita dituntut untuk memberikan pertimbangan yang didasari oleh kebijaksanaan. Kita bisa mengmbil salah satu dari dua cara dibawah ini, yaitu :
Ø. Bertitik tolak dari batas bawah, yaitu berpikir dari pekerjaan yang paling jelek diberi nilai berapa, kemudian dibandingkan hasil pekerjaan yang kita hadapi dengan nilai batas bawah tersebut.
Ø. Bertitik tolak dari plafon atau batas atas. Dengan cara ini kita berpikir mengenai kesempurnaan pekerjaan, tetpi diukur menurut ukuran mahasiswa, bukan diukur dengan kemampuan dosen atau ahli-ahli yang kita kagumi.

Cara-cara ini dapat juga kita terapkan untuk pekerjaan kita menilai tugas-tugas atau apa saja yang sifatnya relatif, yang kebanyakan berupa unjuk kerja atau penampilan (performance).

F. Kunci Jawaban dan Kunci Pemberian Skor untuk Tugas

Kunci jawaban untuk memeriksa tugas merupakan pokok-pokok yang harus dimuat dalam pekerjaan siswa. Hal ini untuk kriteria tentang isi tugas, namun sebagai kelengkapan dalam pemberian nilai skor dengan menggunakan satu tolak ukur tertentu.

Tolak ukur yang disarankan adalah sebagai ukuran dari keberhasilan tugas, yaitu :

v. Ketetapan waktu penyerahan tugas.
v. Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandakan keseriusan mahasiswa dalam mengerjakan tugas.
v. Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran.
v. Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
v. Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh dosen.

Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing asoek kriteria tersebut. Misalnya :
• A1 – ketetapan waktu, diberi bobot 2
• A2 – bentuk fisik, diberi bobot 1
• A3 – sistematika, diberi bobot 3
• A4 – kelengkapan isi, diberi bobot 3
• A5 – mutu hasil, diberi bobot 3

Maka nilai akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan rumus :
NAT = 2 x A1 + 1 x A2 + 3 x A3 + 3 x A4 + 3 x A5 / 12

G. Perbedaan Antara Skor dan Nilai

Skor adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa. Sedangkan nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yaitu acuan normal atau acuan standar. Pengubahan skor menjadi nilai dapat dilakukan untuk skor tunggal, misalnya sesudah memperoleh skor ulangan harian atau untuk skor gabungan dari beberapa ulangan dalam rangka memperoleh nilai akhir untuk rapor. Sebelum kita membicarakan pada pengubahan skor menjadi nilai secara lebih lanjut, kami mengajak para pembaca unutk terlebih dahulu memahami skor yang akan diubah.

Secara rinci skor dibedakan atas 3 macam, yaitu :

  1. Skor yang diperoleh (obtained score) adalah sejumlah biji yang dimiliki oleh teste sebagai hasil mengerjakan tes. Kelemahan-kelemaha butir tes, situasi yang tidak mendukung, kecemasan dan faktor lainnya dapat berakibat pada skor yang diperoleh.
  2. Skor sebenarnya (true score) atau skor univers-skor alam (universe score), adalah nilai hipotetis yang sangat tergantung dari perbedaan individu, berkenaan dengan pengetahuan yang dimiliki secara tetap.
  3. Skor kesalahan (error score), perbedaan antara skor yang diperoleh danskor sebenarnya disebut dengan istilah kesalahan dalam pengukuran atau kesalahan skor, atau skor kesalahan.

H. Norm-Referenced dan Criterion- Referenced

Sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai penggunaan normrefernced dan criteration-reference. Dalam penggunaan criteration-reference, siswa dibandingkan pada sebuah standar tertentu yaitu satndar mutlak (standar 100). Sedangkan dalam penggunaan norm-referenced, prestasi belajar seorang siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam kelompoknya. Kualitas seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas kelompokknya. Jadi ukurannya adalah relatif. Untuk itu dikatakan diukur dengan standar-relatif.

Penggunaan penilain dengan norma kelompok atau norma relatif ini, pertama kali dikemukakan pada tahun 1908 (Cureton 1971), dengan landasan dasar bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar berdasarkan kurva normal. Dengan demikian, dalam penggunaan kurva normal ini, tidak dapat dibantah lagi. Apabila standar relatif dan standar mutlak ini dihubungkan dengan pengubahan skor menjadi nilai, akan terlihat demikian :

a. Dengan standar mutlak
• Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
• Nilai diperoleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (skor mentah).

b. Dengan standar relatif
• Pemberian skor terhadap siswa juga didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
• Nilai diperoleh dengan 2 cara :
I. Mengubah skor dari setiap ulangan, lalu diambil rataratanya.
II. Menjumlah skor setiap ulangan, baru kemudian diubah ke nilai.

Banyak yang baca