Model Evaluasi Kurikulum

Model Evaluasi Kurikulum

Dalam studi evaluasi, banyak sekali dijumpai model-model evaluasi dengan format atau sistematika yang berbeda, sekalipun dalam beberapa model ada juga yang sama. Berikut hanya dijelaskan empat model evaluasi kurikulum.

1) Model Studi Kasus

Model studi kasus (case study) adalah model utama dalam evaluasi kualitatif. Evaluasi model studi kasus memusatkan perhatiannya pada kegiatan pengembangan kurikulum di satu satuan pendidikan. Unit tersebut dapat berupa satu sekolah, satu kelas, bahkan terdapat seorang guru atau kepala sekolah (Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 94).

Dalam menggunakan model evaluasi studi kasus, tindakan pertama yang harus dilakukan evaluator adalah familiarilisasi dirinya terhadap kurikulum yang dikaji. Apabila evaluator belum familiar dengan kurikulum dan satuan pendidikan yang mengembangkannya, evaluator dilarang melakukan evaluasi. Setelah familiarilisasi, evaluator bisa melanjutkan observasi lapangan dengan baik. Observasi adalah tehnik pengumpulan data yang sangat dianjurkan dalam model studi kasus. Selain observasi, pengumpulan data dapat dilakukan dengan kuesioner dan wawancara (Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 94-95).

2) Model Iluminatif

Model ini mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi sosial. Model ini juga memberikan perhatian tidak hanya di kelas namun suatu inovasi kurikulum yang dilaksanakan.
Dasar konsep yang digunakan model ini adalah:
a) Sistem instruksi, diartikan sebagai katalog, perpekstus, dan laporanlaporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan suatu pengajaran.
b) Lingkungan belajar adalah lingkungan sosial-psikologis dan materi ketika guru dan peserta didik berinteraksi

Kegiatan pelaksanaan model evaluasi iluminatif memiliki tiga langkah kegiatan yaitu observasi, inkuiri lanjutan dan usaha penjelasan (Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 95).

3) Model Responsif

Model responsif (Ratnawulan, Elis dan Rusdiana, 2015: 96) sangat menekankan pada kedudukan pertanyaan, dan masalah yang ditemui oleh perhatian para pendengar yang berbeda di bawah program evaluasi. Menurut Scriven, model evaluasi responsif mengambil dua orientasi mayor (utama) yang saling melengkapi satu sama lain:

a) Pembatasan terhadap kegunaan atau manfaat yang ada dan sedang dievaluasi,
b) Pembatasan terhadap nilai-nilai yang ada dan sedang dievaluasi

4) Model CIPP

Model ini dikembangkan oleh sebuah tim yang diketuai oleh Stufflebeam. Sesuai dengan namanya, CIPP memiliki empat jenis evaluasi, yaitu evaluasi context (konteks), evaluasi input (masukan), evaluasi process (proses), dan evaluasi produk (hasil) (Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 93).

Tujuan utama dari evaluasi context adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan evaluan. Evaluator mengidentifikasi berbagai faktor guru, peserta didik, manajemen, fasilitas kerja, suasana kerja, peraturan, peran komite sekolah, masyarakat, dan faktor lain yang berpengaruh terhadap kurikulum.

Evaluasi input untuk pemberian pertimbangan terhadap keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Evaluator menentukan tingkat kemanfaatan berbagai faktor yang dikaji dalam konteks pelaksanaan kurikulum. Pertimbangan mengenai hal ini menjadi dasar bagi evaluator untuk menentukan perlu adanya revisi atau pergantian kurikulum.

Evaluasi proses adalah evaluasi mengenai pelaksanaan dari suatu inovasi kurikulum. Evaluator mengumpulkan berbagai informasi mengenai keterlaksanaan implementasi kurikulum, berbagai kekuatan, dan kelemahan proses implementasi. Evaluator harus merekam berbagai pengaruh variabel input terhadap proses.

Adapun tujuan utama dari evaluasi hasil adalah untuk menentukan kurikulum yang diimplementasikan dapat memenuhi kebutuhan kelompok yang menggunakannya. Evaluator mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai hasil belajar, membandingkannya dengan standar, dan mengambil keputusan mengenai status kurikulum (direvisi, diganti, atau dilanjutkan).

Literasi :

Ratnawulan, Elis dan Rusdiana. 2015. Evaluasi Pembelajaran. Cet. 1. Bandung: CV Pustaka Setia

Baca Juga :

Banyak yang baca