Pengertian Pengelompokan Belajar Siawa : Dasar-dasar, Jenis, Kebijakan

Pengertian Pengelompokan Belajar Siawa Dasar-dasar, Jenis, Kebijakan

Pengertian pengelompokan belajar siswa

Berikut beberapa pengertian pengelompokan peserta didik dan menurut Ali Imron:
Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi yang sama ini bias memudahkan pemberian layanan yang sama. Oleh karena itu, pengelompokan (grouping) ini lazim dengan istilah pengklasifikasian (classification).27
Menurut Eka Prihatin Peserta Didik adalah: “merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan,yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehinggamenjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuanpendidikan nasional”.28
Jadi penulis menyimpulkan bahwa pengelompokan peserta didik adalah beberapa siswa di kelompokan dalam satu kelompok belajar berdasarkan karakteristik yang sama untuk mempermudah tercapai tujuan pendidikan.
2. Urgensi pengelompokan belajar siswa

Urgensi pengelompokan belajar siswa adalah pentingnya ada pengelompokan belajar bagi siswa dalam melakukan prores pembelajaran secara maksimal, berdasarkan kemampuan siswa yang berada di dalam satu kelas.
Menurut Ali Imron:

Pengelompokan atau lazim dikenal dengan grouping didasarkan atas pandangan bahwa disamping peserta didik tersebut mempunyai kesamaan, juga mempunyai perbedaan. Kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran penempatan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda.29

Selain alasan di atas Ali Imron kembali mengemukakan:

Alasan pengelompokan peserta didik juga didasarkan atas realitas bahwa peserta didik secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lain berbeda. Agar perkembangan peserta didik yang cepat tidak mengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukanlah pengelompokan peserta didik. Tidak jarang dalam pengajaran yang menggunakan sistem klasikal, peserta didik yang lambat, tidak akan dapat mengejar peserta didik yang cepat.

Oleh karena itu pengelompokan peserta didik penting dan harus di perhatikan dengan baik karena pengelompokan akan berpengaruh terhadap proses berlangsungnya pembelajaran dan keberhasilan dari hasil belajar yang maksimal.

Jenis-jenis pengelompokan belajar siswa

Ada banyak jenis pengelompokan peserta didik yang dikemukakan oleh para ahli. Mitchun dalam Ali Imron mengemukakan dua jenis pengelompokan peserta didik. “Yang pertama, ia namai dengan ability grouping. Sedangkan yang kedua ia namai dengan sub-grouping with in the class. Yang dimaksud ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemempuan di dalam setting sekolah. Sedangkan sub-grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas”.
Yaegar dalam Ali Imron mengemukakan bahwa: “pengelompokan dapat didasarkan atas fungsi perencanaan dan perbedaan. Pengelompokan menurut fungsi integrasi adalah pengelompokan yang didasarkan kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik. Pengelompokan tersebut meliputi, yang didasarkan atas umur, jenis kelamin, dan sebagainya”.
Siswa memiliki banyak perbedaan antara yang satu dengan yang lain dan untuk mewujudkan proses pembelajran yang masksimal di perlukan pengelompokan berdasarkan hal-hal yang mungkin sama atau mirip antara siswa yang berada dalam satu kelompok belajar.
Banyak jenis cara pengelompokan peserta didik, diantaranya adalah:

a. Pengelompokan berdasarkan karakteristik

Pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik dapat dirincikan dalam beberapa jenis, yaitu:

  1. Pengelompokan berdasarkan minat (interest grouping) Yang dimaksud dengan interest grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas minat peserta didik. Peserta didik yang berminat pada pokok bahasan tertentu, pada kegiatan tertentu, pada topik tertentu atau tema tertentu, membentuk ke dalam suatu kelompok.
  2. Pengelompokan berdasarkan kebutuhan khusus (special need-grouping) Yang dimaksud dengan special need grouping, adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik. Peserta didik yang sebenarnya sudah tergabung dalam kelompok-kelompok, dapat membentuk kelompok baru untuk belajar ketrampilan khusus.
  3. Pengelompokan beregu (team grouping) Yang dimaksdud dengan team grouping adalah suatu kelompok yang terbentuk karena dua atau lebih peserta didik ingin bekerja dan belajar secara bersama memecahkan masalah-masalah khusus.
  4. Pengelompokan tutorial (tutorial grouping) Yang dimaksud dengan tutorial grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik bersama-sama dengan guru merencanakan kegiatan- kegiatan kelompoknya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh kelompok bersama dengan guru tersebut, telah disepakati terebih dahulu. Antara kelompok satu dengan yang lain, bisa berbeda kegiatannya, karena mereka sama-sama mempunyai otonomi untuk menentukan kelompoknya masing- masing.
  5. Pengelompokan penelitian (research grouping) Yang dimaksud dengan research grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih peserta didik menggarap suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas. Bagaimana cara penggarapan, penyajian serta sistem kerja yang dipergunakan bergantung kepada kesepakatan anggota kelompok.
  6. Pengelompokan kelas utuh (full-class grouping) Yang dimaksud dengan ful-class grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik secara bersama-sama mempelajari dan mendapatkan pengalaman di bidang seni. Misalnya saja kelompok yang berlatih drama, musik, tari dan sebagainya.
  7. Pengelompokan kombinasi (combined class grouping) Yang dimaksud dengan combined class grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih kelas yang dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV dan media audio visual lainnya.

Siswa yang memiliki kesamaan berdasarkan karakteristik dapat di kelompokan dalam satu kelompok yang sama, dengan begitu proses pembelajaran akan berjalan lebih maksimal.

b. Pengelompokan berdasarkan realitas pendidikan sekolah

Pengelompokan peserta didik berdasarkan realitas pendidikan sekolah dapat di rincikan lagi kepada beberapa jenis, yaitu:

  1. SD Tanpa Tingkat (The non grade Elementary School)
    Yang dimaksud dengan the non grade elementary school adalah sekolah dasar tanpa tingkat. Sekolah dasar tanpa tingkat ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengambil mata pelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing individu peserta didiknya. Bahkan peserta didik dapat mengambil mata pelajaran yang mungkin sama dengan mereka yang angkatan masuknya tidak sama.35
  2. Pengelompokan Kelas Rangkap (Multi grade and multi age grouping) Yang dimaksud dengan multi-grade and multi-age-grouping adalah pengelompokan yang multi tingkat dan multi usia. Pengelompokan demikian dapat terjadi pada sekolah-sekolah yang menggunakan sistem tingkat. Pada pengelompokan demikian, peserta didik berbeda usianya, dikelompokkan dalam tempat yang sama. Mereka berinteraksi dan belajar bersama-sama.36
  3. Pengelompokan kemajuan Rangkap (The dual Progress Plan Grouping)
    Yang dimaksud dengan the duel progress plan grouping adalah sistem pengelompokan kemajuan rangkap. Sistem pengelompokan demikian dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan kemampuan individual di setiap umur dan setiap tingkat. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas guru sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.37
  4. Penempatan sekelompok siswa pada seorang guru (Self-contined classroom)
    Yang dimaksud dengan self-contained classroom adalah penempatan sekelompok peserta didik pada seorang guru sementara itu, sekelompok peserta didik yang lainnya ditempatkan pada guru lainnya.38
  5. Pembelajaran beregu (Team teaching)
    Yang dimaksud dengan team teaching adalah suatu pengelompokan yang di dalamnya ada sekelompok peserta didik dibelajarkan oleh guru secara tim. Dalam pembelajaran ini, guru lebih membatasi diri pada kapasitas keahliannya, dan sama sekali tidak mengajarkan apa yang ada di luar keahliannya. Hal demikian dapat terjadi, oleh karena tidak jarang satu mata pelajaran atau bidang studi, membutuhkan keahliannya yang bermacam- macam.
  6. Departementalisasi
    Yang dimaksud dengan departementalisasi adalah suatu sistem pengelompokan peserta didik, yang di dalamnya guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu, maka yang mereka ajarkan hanyalah mata pelajaran tertentu juga.
  7. Pengelompokan berdasarkan kemampuan (Ability grouping)
    Yang dimasksud dengan ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama ditempatkan pada kelompok yang sama. Peserta didik yang sama-sama tinggi kemampuannya ditempatkan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah ditempatkan dalam kelompok peserta didik yang berkemampuan rendah.

Pengelompokan berdasarkan realitas pendidikan sekolah dapat di lakukan dengan system tingkat, system tanpa tingkat dan pengelompokan berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa.

Berikut 12 Jenis Pengelompokkan Peseta Didik

  1. Interest grouping
    Berdasarkan minat peserta didik. Minat pada pokok bahasan, kegiatan, atau tema
  2. Special need grouping
    Berdasarkan kebutuhan khusus peserta didik
  3. Team grouping
    Terbentuk dari dua atau lebih peserta didik ingin bekerja atau belajar bersama menyelesaikan masalah
  4. Tutorial grouping
    Peserta didik bersama guru merencanakan kegiatan kelompoknya, setiap kelompok dapat berbeda kegiatannya
  5. Research grouping
    Dua atau lebih peserta didik mengerjakan suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas. Proses pengerjaan, penyajian, dan sistem kerja sesuai kesepakatan
  6. Full class grouping
    Peserta didik bersama-sama mempelajari dan mendapatkan bidang seni, seperti drama, musik, dan tari
  7. Combined class grouping
    Dua atau lebih kelas dikumpulkan dalam ruangan bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV, atau media audio visual lainnya
  8. Friendships grouping
    Berdasarkan kesukaan peserta didik memilih teman
  9. Achievement grouping
    Berdasarkan prestasi peserta didik
  10. Aptitude grouping
    Berdasarkan kemampuan dan bakat peserta didik
  11. Attention or interest grouping
    Berdasarkan perhatian bakat dan minat peserta didik
  12. Intelligence grouping
    Berdasarkan tes kecerdasan (intelegensi) peserta didik

Kebijakam Pengelompokan peserta didik

Kebijakan pengelompokkan menurut Duke dan Canady (1991) bertujuan untuk menguntungkan siswa, dengan memerhatikan:

  • Outcome (tampilan).
  • Mutu.
  • Menentukan posisi siswa “di tempat mana”.

Adanya pengelompokkan siswa bertujuan untuk “menjamin” siswa mendapatkan akses sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan kemampuan siswa.

  • Pengelompokkan berdasarkan sifat populasi (heterogen dan homogen).
  • Unsur homogen siswa:
  • Prestasi.
  • Proses ujian.
  • Perbedaan perlakuan.
  • Sekolah (dalam hal ini guru) melakukan analisa kebutuhan siswa yang berbeda-2 tersebut dalam setiap populasi.

Isu Persamaan (pengelompokkan homogen):
• Pengelompokkan homogen banyak protes.
• Guru memerhatikan kelompok “tinggi” daripada “bawah”.
• Guru lebih “memuji” kelompok tinggi daripada kelompok bawah.

Kelompok heterogen akan lebih efektif belajar, jika dikelola dengan baik dan bijak.

Faktor psikologis dari adanya masalah pengelompokkan:

  • Kelompok bawah telah terkonsep sebagai siswa yang “bodoh”.
  • Pola pikir siswa tinggi lebih dari siswa bawah.
  • Siswa lebih suka dikelompokkan dengan siswa lain yang berkemampuan sama.

Pengelompokkan dapat berubah, seiring dengan kedinamisan situasi belajar, dan pertumbuhan dan perkembangan siswa.

Dampak pengelompokkan thd prestasi belajar siswa:

  • Jika pengelompokkan tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi siswa pada kelompok bawah (faktor yang sudah terkonsep, minder, diejek teman, dan merespons negatif).
  • Pengelompokkan homogen menunjukkan hasil positif bagi siswa yang berbakat.
  • Pengelompokkan bergantung pada persepsi dan sikap guru.

Pengelompokkan “tidak dapat dipaksakan”, dimaksudkan untuk menjamin siswa tiap individu.
Semua kelompok harus diperhatikan. Sehingga perlu penyadaran kepada siswa (peserta didik) dalam semua kelompok:

  • Kelompok tinggi: bukan karena untuk meningkatkan gengsi tetapi memfasilitasi siswa untuk maju, tidak terhambat oleh siswa yang kurang mampu.
  • Kelompok rendah: bakatnya diasah dan dikembangkan agar lebih baik dan berguna bagi siswa.

Dasar-dasar pengelompokan peserta didik

Hendyat Soetopo dalam Eka Prihatin mengemukakan “lima dasar pengelompokan peserta didik, yaitu:

1) Pengelompokan berdasarkan kesukaan memilih teman (friendship groupin),

Yang dimaksud dengan friednship grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kesukaan memilih teman. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk memilih anggota kelompoknya sendiri serta menetapkan orang-orang yang dijadikan sebagai pemimpin kelompoknya.
Ada kecenderungan, pengelompokan demikian menjadikan peserta didik yang pandai cenderung memilih temannya yang pandai sebagai anggota kelompoknya. Tidak jarang, mereka yang tidak pandai juga mendapatkan angota kelompok yang tidak pandai. Pada hal, kualitas suatu kelompok ditentukan juga oleh bobot masing-masing anggotanya.

2) Pengelompokan berdasarkan prestasi (achievement grouping)

Achievement grouping adalah suatu pengelompokan yang didasarkan atas prestasi peserta didik. Secara jelas, pengelompokan demikian telah diuraikan diatas.

3) Pengelompkkan berdasarkan bakat (aptitute grouping)

Aptitude grouping adalah suatu pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kemampuan dan bakat mereka.

4) Pengelompokan berdasarkan minat (attention or interest grouping)

Attention or interest grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas perhatian mereka atau minat mereka. Pengelompokan demikian dilakukan, oleh karena tidak semua peserta didik yang berbakat mengenai sesuatu dan sekaligus juga meminatinya. Tidak semua peserta didik yang mampu sesuatu sekaligus juga meminatinya.

5) Pengelompokan berdasarkan kecerdasan (intelegen grouping)”.

Intelegence grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas hasil tes kecerdasan atau intelegensi.
Dari pemaparan diatas pengelompokan belajar siswa bisa dilakukan berdasarkan kesukaan memilihteman, prestasi, bakat, minat dan kecerdasan siswa.

Dari sumber lain ada juga dalam pembelajaran peserta didik dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok yaitu: 1) kelompok normal 2) kelompok sedang dan 3) kelompok tinggi.
Tiga jenis pengelompokan diatas yaitu berdasarkan materi pembelajaran yang akan di laksanakan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan diatas peneliti menyimpulkan bahwa pengelompokan peserta didik dalam setting sekolah penting untuk dilakukan sebagaimana kita lihat sudah pasti setiap peserta didik memiliki karakter, kemampuan dan minat yang beragam, untuk mempermudah proses pembelajaran yang akan dilakukan maka di kelompokkannya peserta didik berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu sehingga memberikan hasil pembelajaran yang maksimal.
Ada banyak jenis pengelompokan peserta didik yang dapat di terapkan di sekolah yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungan sekolah tempat peserta didik berada.

Sumber Bacaan

Eka, Prihatian.2011.Manajemen Peserta Didik. Bandung: Alfabeta

Banyak yang baca