Pengertian keluarga
Keluarga adalah suatu unit yang terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang hidup terkumpul dan tinggal di sebuah tempat serta satu atap dalam keadaan saling ketergantungan satu sama lain, mulai dari anak bergantung kepada ayah, ibu, kakak, abang ataupun sebaliknya dan semua saling membutuhkan. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi seorang anak, sehingga kedudukan sebuah keluarga dalam perkembangan psikologis seorang anak sangatlah dominan (Andriyani, 2016).
pengertian keluarga, Keluarga adalah sekumpulan orang yang tinggal bersama di dalam sebuah rumah yang dihubungkan oleh satu ikatan perkawinan, hubungan darah atau tidak memiliki hubungan darah akan tetapi bertujuan untuk mempertahankan sebuah budaya yang umum ada di masyarakat dan meningkatkan perkembangan secara emosional, fisik, sosial, dan mental setiap anggota keluarga (Mursafitri, et al., 2015)
Bentuk keluarga
Keluarga dapat dikelompokkan menjadi berbagai bentuk berdasarkan dari jenis anggota keluarga yang dimilikinya yaitu nuclear family, extended family, blended family, serial family, composite family, cohabitation family, conjungal family, keluarga “Dyad”, single parent, dan commune family (Endra, 2017).
Nuclear family adalah sebuah bentuk keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Extended family adalah bentuk keluarga yang terdiri dari tiga generasi dan hidup hidup di dalam satu rumah yaitu ayah, ibu, anak- anak disertai paman, tante, kakek, nenek, dan keponakan. Blended family adalah bentuk keluarga yang terdiri dari seorang duda atau janda dikarenakan sebuah proses perceraian yang kemudian menikah kembali dan mengasuh anak dari pernikahan sebelumnya. Serial family adalah keluarga yang terdiri dari laki-laki maupun perempuan yang sudah beberapa kali menikah kemudian mampu mendapatkan pasangan dan keluarga untuk sepanjang hidupnya tetapi, hanya satu kali memiliki nuclear family (Endra, 2017).
Composite family adalah keluarga yang beranggota suami dengan beberapa orang istri dan anak atau seorang istri dengan beberapa orang suami dan anak yang hidup bersama. Cohabitation family adalah bentuk keluarga yang beranggotakan seorang wanita dan pria yang hidup bersama tanpa memiliki sebuah ikatan perkawinan dan hokum negara yang sah. Keluarga “Dyad” adalah rumah tangga beranggotakan seorang suami dan istri tanpa memiliki anak. Single parent adalah sebuah rumah tangga yang beranggotakan satu orangtua dengan anak dikarenakan perceraian atau kematian (Syarqawi, 2017).
Conjungal family adalah sebuah keluarga yang beranggotakan pasangan dewasa dan anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua belah pihak orang tua. Commune family adalah beberapa pasangan keluarga bersama anaknya yang tidak memiliki hubungan saudara yang hidup secara bersamaan dalam satu rumah, sumber, dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak melalui aktivitas berkelompok atau membesarkan anak secara bersama- sama (Endra, 2017).
Ciri-ciri struktur keluarga
Ciri-ciri struktur keluarga yaitu (L & R, 2010) :
- Terorganisasi yaitu anggota keluarga saling berhubungan dan ketergantungan satu sama lain
- Terdapat keterbatasan yaitu setiap anggota keluarga mempunyai kebebasan akan tetapi juga memiliki batasan dalam menjalankan tugas dan fungsinya
- Terdapat perbedaan dan kekhususan setiap anggota keluarga sehingga mempunyai peran dan fungsi masing-masing di dalam keluarga.
Karakteristik keluarga
Sesuai dengan pengertian dari keluarga, maka dapat disimpulkan karakteristik keluarga yaitu (L & R, 2010):
- Terdiri dari dua individu atau lebih yang terikat hubungan darah, perkawinan atau adopsi
- Anggota keluarga akan hidup bersama ataupun tidak, akan tetapi tetap saling memperhatikan
- Anggota keluarga akan beinteraksi satu sama lain dan memiliki peran sosial masing-masing yaitu suami, istri, anak, kakak, dan adik
- Mempunyai tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan budaya serta menimgkatkan perkembangan fisik, psikologis serta sosial dari anggota keluarga
Tahap-tahap perkembangan keluarga
Menurut Rodgers cit Friedman dalam (L & R, 2010) setiap anggota keluarga memiliki tahapan perkembangan yang unik, akan tetapi mereka tetap mengikuti pola yang sama yaitu :
1. Pasangan atau keluarga baru
Keluarga baru akan dimulai sejak individu laki-laki dan perempuan membentuk sebuah keluarga melalui ikatan pernikahan yang sah dan meninggalkan keluarganya masing-masing. Tugas perkembangan yang dihadapi pada tahap ini adalah membina hubungan pernikahan yang saling memuaskan, mendiskusikan mengenai keluarga berencana, dan membina hubungan persaudaraan yang harmonis dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial (L & R, 2010). Masalah kesehatan yang mungkin dihadapi pada tahap ini, antara lain: penyakit kelamin, kehamilan yang tidak direncanakan, disfungsi seksual, dan gangguan kehamilan (Endra, 2017).
2. Keluarga child bearing
Pada tahap ini keluarga memiliki tugas dalam perkembangan anggota keluarga yaitu mempertahankan suatu hubungan perkawinan yang baik dan memuaskan, rekonsiliasi tugas perkembangan yang memang bertentangan dan memilih sesuai kebutuhan keluarga, memperluas hubungan persahabatan yang baik dengan anggota keluarga besar dengan cara mengikutsertakan peran kakek, nenek, dan orangtua serta membentuk sebuah keluarga muda sebagai sebuah keluarga yang baik (Endra, 2017)
3. Keluarga yang memiliki anak pra-sekolah.
Tahap ini berakhir saat anak berusia 5 tahun. Dalam tahap ini maka yang harus dilakukan keluarga adalah memenuhi kebutuhan anggota yaitu tempat tinggal, privasi, dan rasa aman. Selain itu pada tahapan juga mulai membantu anak untuk bersosialisasi, beradaptasi dengan dengan anggota baru keluarga yang baru saja lahir, kebutuhan anak yang lain juga harus tetap terpenuhi, mempertahankan hubungan yang sehat dan baik, meskipun berada di lingkungan rumah maupun di luar rumah, pembagian waktu yang baik, dan pembagian tanggung jawab yang baik untuk setiap anggota keluarga serta stimulasi tumbuh kembang yang baik (L & R, 2010).
4. Tahapan keluarga yang memiliki anak usia sekolah
Tugas pasangan suami istri dalam tahap ini adalah mempertahankan keharmonisan hubungan dengan cara mempertahankan sebuah hubungan pernikahan yang dijalani dengan memuaskan. Sedangkan sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga yang semakin meningkat, seperti biaya kehidupan, biaya sekolah, dan biaya kesehatan. Tugas perkembangan yang akan dihadapi pada tahap ini adalah berkomunikasi terbuka yang baik antara orangtua dan anak, memberikan suatu pengajaran kepada anak agar mampu untuk berinteraksi atau mengenal lingkungan yang ada di luar rumah, mengembangkan hubungan baik dengan teman yang sebaya, dan memotivasi agar anak tetap semangat serta prestasi belajar yang baik bagi anak (Endra, 2017).
5. Keluarga dengan anak remaja
Tahap ini dimulai saat anak pertama memiliki usia 13 tahun dan berakhir saat anak meninggalkan rumah orangtuanya. Pada tahapan ini keluarga memiliki tujuan agar anak remaja memiliki tanggung jawab yang lebih besar atas kebebasan yang diberikan oleh orangtuanya untuk mempersiapkan diri menjadi manusia yang dewasa dalam memenuhi otonominya, berusaha mempertahankan hubungan yang baik dengan keluarga,mempertahankan komunikasi terbuka yang baik bersama orangtua, dan perubahan system peran dalam tumbuh kembang keluarga. (L & R, 2010).
6. Keluarga dengan memiliki anak dewasa (pelepasan)
Tugas perkembangan yang dihadapi adalah mempertahankan kesehatan seorang individu dan pasangannya di usia pertengahan, mempertahankan hubungan yang baik dengan para orangtua yang sudah masuk kategori lansia dan anak-anak, memperkokoh hubungan perkawinan (Endra, 2017).
7. Keluarga dengan anggota usia pertengahan
Tahapan ini dimulai sejak anak yang terakhir meningglkan rumah orangtuanya dan berakhir saat orangtua pension atau salah satu meninggal. Pada tahapan ini keluarga harus mempertahankan kesehata, meningkatkan hubungan keakraban yang baik dengan pasangan, teman sebaya, dan anak-anak (L & R, 2010).
8. Keluarga dengan anggota yang memiliki usia lanjut
Tahap ini dimulai sejak slah satu pasangan pensiun dan berlanjut sampai suami istri berusia lanjut dan akhirnya meninggal dunia keduanya. Tugas perkembangan yang akan dihadapi pada tahap ini yaitu beradaptasi dengan perubahan, mempertahankan suasana keakraban dengan pasangan dan saling merawat satu sama lain, melakukan life review pada masa lalu, mempertahankan kehidupan rumah tangga dengan suasana yang harmonis dan menyenangkan, serta mempertahankan ikatan keluarga yang terjalin antar generasi (Endra, 2017).
Peran keluarga
Peran adalah serangkaian dari perilaku yang diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan posisi sosial (Hidayati & Violita, 2015). Peran mengacu pada bagaimana cara keluarga mengalokasikan tanggung jawab, mengawasi masalah kesehatan, perkembangan, dan memelihara hubungan dengan keluarga besar (Mansfield, et al., 2015). Peran keluarga menggambarkan sebuah perangkat perilaku antar pribadi seorang individu, sifat, dan kegiatan yang berhubungan dengan seorang pribadi dalam sebuah posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam sebuah keluarga yaitu didasari oleh harapan dan pola perilaku dari lingkungan keluarga, kelompok dan masyarakat (Fatmawati, 2016).
Keluarga memiliki peran utama dalam mengasuh anak, segala norma dan etika yang diberlakukan dalam lingkungan masyarakat, serta budaya dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya yang disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini (Agustin, et al., 2015). Orang tua adalah pembimbing utama dan memiliki peran yang sangat penting untuk perkembangan kepribadian anaknya (Fatmawati, 2016). Sebagai sebuah sistem, maka keluarga mempunyai anggota yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak ataupun individu yang tinggal di dalam rumah tangga tersebut (L & R, 2010).
Peran yang terdapat di dalam keluarga yaitu (L & R, 2010) :
- Ayah adalah suami dari istri dan ayah bagi semua anaknya. Ayah berperan untuk mencari nafkah, sebagai pendidik, pelindung, dan memberikan rasa aman bagi semua anggota keluarganya. Selain itu, ayah juga berperan sebagai kepala keluarga, anggota dari kelompok sosial dan masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal.
- Ibu adalah seorang istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Ibu memiliki peran untuk mengurus rumah tangga, pendidik, pengasuh serta pelindung bagi anaknya. Selain itu, ibu juga berperan sebagai anggota anggota masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal. Ibu juga memiliki peran mencari nafkah tambahan untuk keluarga.
- Anak memiliki peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, sosial, mental, serta spiritual yang dimilikinya.
Keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar untuk membantu proses penyesuaian diri remaja agar mampu berinteraksi dengan teman- teman di lingkungan sekolah serta menjalin suatu hubungan dengan orang dewasa di luar dari lingkungan rumah dan sekolah, yaitu lingkungan masyarakat yang memiliki pengaruh baik hal negatif maupun positif (Andriyani, 2016). Proses perkembangan penyesuaian diri remaja akan memunculkan sebuah dinamika perkembangan di dalam keluarga yang sangat tinggi, oleh karena itu proses perkembangan penyesuain diri remaja penting untuk diberikan intervensi pendidikan oleh keluarga. Intervensi yang dapat dilakukan oleh keluarga harus secara sistematis, sungguh- sungguh, dan terkoordinir yang berguna untuk membantu proses perkembangan anak remaja agar mampu untuk berkembang ke arah yang
lebih baik (Andriyani, 2016).
Menurut Henny Achjar dalam (Pradiksa, 2017) peran dasar orang tua yaitu:
- Provider (penyedia) yaitu peran orangtua untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kehidupan.
- Perawatan anak yaitu peran orangtua untuk mempertahankan kesehatan setiap anggota keluarganya agar tetap mampu memiliki produktivitas yang tinggi. Orang tua diharapkan mampu melindungi dan mencegah penyakit yang mungkin dapat dialami oleh keluarganya.
- Sosialisasi anak yaitu peran orangtua untuk mengembangkan dan melatih anaknya mengenai cara untuk berkehidupan sosial sebelum mereka meninggalkan rumah dan berinteraksi dengan orang lain saat di luar lingkungan rumah.
- Pendidikan yaitu orang tua berperan dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak untuk menghadapi masa dewasa.
- Peran afektif yaitu peran orang tua untuk memenuhi kebutuhan psikososial anggota keluarga sebelum keluar dari rumah.
Peran pendidikan yang dapat diberikan oleh orangtua antara lain (Andriyani, 2016) :
- Terciptanya suatu interaksi antar anggota keluarga yang bersifat edukatif
- Orangtua mampu memberikan stimulus agar anak remaja terhindar dari identitas yang negatif
- Orangtua dapat dijadikan sebagai contoh bagi remaja dalam segala bentuk tingkah laku agar terhindar dari perilaku yang menyimpang sehingga dapat mengganggu proses remaja untuk perkembangan penyesuaian diri.
Remaja yang mampu menyesuaikan diri dengan baik akan memiliki mempunyai batas pada dirinya untuk menghindari perilaku yang buruk, belajar untuk bereaksi terhadap keadaan diri dan lingkungannya dengan cara yang dewasa, serta dapat menyelesaikan apabila terdapat konflik sehingga dapat mengindari stress, maupun kesulitan pribadi dan sosial tanpa merubah tingkah laku ke arah negatif (Andriyani, 2016). Remaja memerlukan adanya dukungan yang positif untuk menghadapi potensi stress yang bisa saja terjadi pada diri mereka. Dukungan yang paling penting dalam kehidupan remaja adalah dari keluarganya sendiri yaitu orang tua (Widyanti, et al., 2012).
Pengasuhan yang diberikan dengan baik oleh orangtua memiliki dampak positif yang dikaitkan dengan penurunan tingkat stres psikososial dan pengaturan diri yang lebih baik pada remaja, sehingga mereka dapat mengatasi situasi stres dengan lebih baik (Maya, et al., 2018). Peristiwa dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan dapat diidentifikasi dalam pola hidup yang dapat menciptakan stress serta dapat menyebabkan hasil kesehatan yang negatif (Miller, 2012). Dimana peningkatan stress sangat berkorelasi dengan peningkatan dejarat jerawat (Zari & alrahman, 2017). Disfungsi keluarga akan berdampak pada seluruh anggota keluarga. Adanya hubungan yang cukup kuat antara peran keluarga dengan status kesehatan anggotanya menyebabkan peran keluarga sangat penting untuk menghadapi masalah kesehatan yang terjadi di dalam keluarga (Achjar, 2012).
Beberapa dekade terakhir telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam pemberian intervensi yang bertujuan untuk mengurangi perilaku yang dapat mengganggu pada remaja yang terpapar pada situasi yang dapat mengakibatkan stress. Inisiatif-inisiatif ini berupaya untuk mempromosikan faktor-faktor perlindungan individu, keluarga, dan lingkungan untuk melindungi efek negatif dari paparan terhadap situasi berisiko yang membahayakan kondisi mental remaja (Maya, et al., 2018).
Bentuk komunikasi negatif sering terjadi di dalam keluarga tanpa disadari antara lain (L & R, 2010) :
- Keluarga kompetitif yaitu anak-anak bersaing untuk mendapatkan perhatian dengan cara melakukan hal negative seperti memecahkan piring, berteriak ataupun marah
- Keluarga hening yaitu anggota keluarga jarang untuk berkomunikasi, makan bersama ataupun berinteraksi dengan cara yang lain. Tidak terdapat diskusi untuk saling membantu memecahkan masalah masing-masing, anggota keluarga cenderung untuk mengatasi masalahnya sendiri dan sibuk dengan segala kegiatan. Orangtua tidak mampu untuk mencairkan suasana yang ada di dalam keluarga
- Keluarga kasar yaitu anggota keluarga menjadikan rumah sebagai tempat untuk melampiaskan segala perasaan buruk yang ditahannya dengan melontarkan kata-kata yang kasar dan jarang untuk mengucapkan kata yang menggembirakan. Ayah diperlakukan dingin oleh anggota yang lain atau terkadang terdapat salah satu anggota kleuraga yang dijadikan sasaran pelampiasan kemarahan.
- Keluarga tegang yaitu apabila terdapat anggota keluarga yang lebih dewasa sering berekspresi yang tidak menyenangkan sehingga anggota keluarga yang lain merasa tegang. Keluarga seperti ini disebut sebagai keluarga berperasaan halus atau mudah tersinggung dengan hal yang sebenarnya sepele.
Faktor-faktor yang mempengaruhi peran orang tua antara lain (Pradiksa, 2017) :
- Usia Beberapa orang tua menikah pada usia muda dimana usia masih kurang dari 18 tahun. Pada usia tersebut, individu belum memiliki kekuatan dan kesehatan yang optimum untuk mengasuh anak.
- Pengalaman menjadi orang tua, Pengalaman orangtua dalam membesarkan anak yang sebelumnya juga berpengaruh terhadap bagaimana cara orang tua untuk membesarkan anak selanjutnya.
Faktor yang mempengaruhi struktur peran antara lain (Hidayati & Violita, 2015):
1. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah sekelompok manusia yang dibedakan lapisan sosialnya berdasarkan kriteria ekonomi. Hal ini terbentuk akibat dari status sosial seseorang berdasarkan segi ekonomi maupun kekuasaan dan sangat erat kaitannya dengan kedudukan sesorang di dalam lingkungan masyarakat. Status sosial ekonomi dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan bawah (Hidayatullah, 2016).
2. Bentuk Keluarga
Bentuk keluarga dapat dibedakan berdasarkan garis keturunan, jenis perkawinan, pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan (Endra, 2017).
3. Masalah kesehatan
Masalah kesehatan yang bisa saja dialami oleh salah satu dari anggota keluarga namun dapat mempengaruhi anggota keluarga lain dan seluruh sistem yang ada di dalam keluarga dikarenakan keluarga merupakan sebuah sistem pendukung yang sangat vital bagi setiap individu (Matheos, et al., 2018).
4. Tahap siklus kehidupan keluarga
Perkembangan keluarga dari waktu ke waktu dengan cara membaginya dalam sebuah seri tahapan perkembangan sebagai masa stabilitas relatif secara kuantitatif dan kualitatif dari tahap yang berdekatan (Endra, 2017).
5. Latar belakang keluarga
Latar belakang keluarga dapat terlihat dari pengertian keluarga itu sendiri. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam tahapan tumbuh kembang anak sebagai makhluk sosial dimana keluarga sebagai tempat tahap pertama anak untuk mengenal sikap dan sopan santun serta sifat individu dan social (Ayuni, 2015).
Tugas-tugas keluarga dalam upaya pemeliharaan kesehatan antara lain (Depkes, 2017) :
- Mengenali gangguan perkembangan kesehatan dari setiap anggota keluarganya
- Mengambil keputusan untuk dilakukan tindakan kesehatan yang tepat
- Memberikan perawatan terbaik kepada anggota keluarga yang sedang sakit
- Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan bagi kesehatan dan perkembangan kepribadian seluruh anggota keluarganya
- Mempertahankan hubungan timbal balik yang baik antara keluarga dengan fasilitas kesehatan.
Lihat Komentar (2)
Kak mau nanya, ini dipublikasikannya tahun berapa yah? soalnya mau masukin buat citasi referensi
Diterbitkan pada: Jun 12, 2023 pukul 13:53