Pengertian Putus Sekolah Menurut Para Ahli
1. Pengertian Anak Putus Sekolah
Anak putus sekolah adalah keadaan dimana anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak–hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Pada umumnya anak putus sekolah dikarenakan sering bolos, dan ketika kembali ke sekolah ia menemukan dirinya sudah terlalu jauh untuk bisa mengikuti pelajaran lebih lanjut, rata-rata sekolah sekolah tidak di tata untuk memberikan perhatian secara individual terhadap murid, sehingga ia menghadapi pengalaman yang tidak menggairahkan yang mungkin ia tidak punya selera lagi untuk belajar, kemudian anak meninggalkan sekolah lagi untuk selamanya atau dalam arti lain ialah putus sekolah.
Dalam hal ini Dr. ST. Vembrianto menjelaskan bahwa yang di maksud dengan putus sekolah ialah (Drop Out) yakni suatu kejadian dimana murid meninggalkan suatu pelajaran di sekolah sebelum ia menamatkan pelajarannya.21 Sedangkan menurut Drs. YB. Suparlan bahwa putus sekolah adalah anak sekolah yang gagal sebelum menyelesaikan sekolahnya, tidak memiliki ijazah atau surat tanda tamat belajar.22 Menurut Dr. Lukman Hakim yang di maksud dengan putus sekolah adalah anak putus sekolah yang tidak bias melanjutkan sampai tamat di karenakan beberapa faktor.
Dengan demikian dapat di simpulakan bahwa yang di maksud denagn putus sekolah adalah berhentinya belajar seorang murid di tengah ia sedang mengenyam pendidikan atau seorang murid yang tidak memiliki surat tanda tamat belajar (ijazah). Putus sekolah merupakan permasalahan yang cukup besar di dunia pendidikan bagi Negara yang sedang berkembang seperti Negara kita ini, sebab kita tahu bahwa pendidikan merupakan suatu proses kehidupan yang panjang yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi anak sebagai warga Negara agar nantinya seorang anak menjadi seorang pribadi baik yang mengerti tentang norma-norma agama dan kehidupan dan kelak akan menjadi orang yang dapat di banggakan oleh orang tua, masyarakat, dan Negara. Akan tetapi jika baru di tengah-tengah mencapai tujuan tersebut sudah mengalami putus sekolah maka apa ang akan terjadi pada diri dan masa depan mereka nanti adalah jauh dari kemungkinan akan mendapat kehidupan yang layak karena di baying-bayangi dengan masa depan yang suram.
2. Faktor-faktor Terjadinya Anak Putus Sekolah
Hampir di setiap tempat banyak anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan. Pendidikan putus di tengah jalan disebabkan karena berbagai macam alasan yang terjadi dalam kehidupan.
Setiap perbedaan tingkat pendidikan juga mempunyai faktor yang berbeda pula dengan kaitannya putus sekolah. Menurut Drs. Sofyan S. Willis dan Drs. August Setyawan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak putus sekolah banyak sekali, faktor tersebut dapat di kolompokkan menjadi dua bagian besar yaitu:
1). Faktor intern (dalam diri anak didik) : yang termasuk di dalamnya ialah:
- Tidak ada motivasi diri, Siagian Sondang mengatakan: “Motivasi adalah daya dorong yang mengakibatkan seorang mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan, tenaga, dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya” Dari kutipan tersebut manusia memerlukan daya dorong agar tetap semangat dalam belajar. Berbeda dengan anak putus sekolah, motivasi justru rendah dan tidak ada dorongan dari luar maupun dari dalam diri sendiri untuk membangkitkan motivasinya.
- Malas untuk pergi sekolah karena merasa tidak percaya diri. Malas ini muncul karena perasaan tidak percaya diri yang diderita oleh si anak. Rasa tidak percaya diri yang di alami oleh si anak tidak bisa menyesuaikan dengan kemampuan siswa yang lain dan merasa tidak percaya diri karena ejekan dan yang terakhir ialah anak tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, padahal ketika anak bersekolah akan selalu berinteraksi dengan siswa lain, menjalin komunikasi, berteman, bercanda bersama, jika tidak dapat bersosialisasi baik dengan yang lain maka hal ini akan menjadi hambatan dalam proses belajarnya.
2) Faktor ekstern (dari luar anak didik) : beberapa yang termasuk di dalamnya ialah;
a. Keadaan Kehidupan Keluarga
Hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli, keadaan ini merupakan dasar anak mengalami permasalahan yang serius dan hambatan dalam pendidikannya sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.
Kehidupan keluarga yang harmonis dan penuh dengan rasa kasih sayang antara sesama anggota keluarga dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan, terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak serta sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan anak.
Dalam hal ini Winarno Surachmad mengemukakan sebagai berikut: Keluarga merupakan lingkungan yang pertama yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, keluarga besar atau kecil, keluarga miskin atau berada. Situasi keluarga tenang, damai gembira atau keluarga yang sering cekcok, bersikap keras, ini akan mewarnai sikap anak, jumlah orang yang tinggal di dalam keluarga tersebut, nenek, paman, bibi, ini juga turut mempengaruhi perkembangan anak, pengaruh baik tetapi juga buruk dapat dipelajari anak dalam keluarga.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa keadaan sebuah rumah tangga sangat besar pengaruhnya terhadap proses pendidikan anak, karena di dalam keluargalah anak menerima kesan-kesan yang merupakan pengalaman pertama setelah seorang anak dilahirkan. Kalau di dalam rumah tangga sering terjadi pertengkaran antara ibu dan ayah, maka ini akan berakibat pada mentalnya si anak dan akan mengakibatkan keminderannya dalam pergaulan, sehingga anak akan malas pergi ke sekolah bahkan bisa mengakibatkan anak meninggalkan bangku sekolahnya.
Terlepas dari pada itu kehidupan seorang anak dalam keluarga sangat mendambakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Disini orang tua dituntut sangat hati-hati dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, agar tidak terlalu dimanjakan. Dalam hal ini St. Vembriarto mengemukakan bahwa:
Anak yang dimanjakan sering berwatak tidak patuh, tidak dapat menahan emosinya dan menuntut orang lain secara berlebih-lebihan. Faktor manja dibiasakan dengan hal yang sifatnya tidak mendidik dengan kekhawatiran orang tua terhadap anak yang berlebihan, akan mengantarkan anak tidak suka pergi sekolah.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan kasih sayang kepada anak tidak perlu berlebih-lebihan, karena hal itu dapat menghilangkan rasa tanggung jawab yang ada pada diri anak dan memungkinkan si anak dapat menunjukkan sikap[1]sikap dan cara bertingkah laku yang tidak baik.
b. Keadaan Ekonomi Orang Tua
Lemahnya keadaan ekonomi orangtua adalah salah satu penyebab terjadinya anak putus sekolah.30 Faktor ekonomi yang dimaksudkan adalah ketidakmampuan keluarga si anak untuk membiayai segala proses yang dibutuhkan selama menempuh pendidikan atau sekolah dalam satu jenjang tertentu. Walaupun pemerintah telah menetapkan wajib belajar 9 tahun, namun belum berimplikasi secara maksimal terhadap penurunan jumlah anak yang tidak dan putus sekolah. Selain itu, program pendidikan gratis yang telah dilaksanakan belum tersosialisasi hingga kelevel bawah. Konsep gratis belum jelas sasaran pembiayaannya oleh sekolah sehingga masih dianggap sebagai beban bagi keluarga yang kurang mampu. Sebab, selain biaya yang dikeluarkan selama sekolah anak harus mengeluarkan biaya untuk pakaian sekolah, uang daftar, buku dan alat tulis lainnya, serta biaya transportasi atau akomodasi bagi siswa yang jauh dari sekolah.
Hal-hal tersebut masih dianggap sebagai beban oleh orang tua sehingga membuat mereka enggan untuk menyekolahkan anaknya. Selain itu, mata pencaharian orang tua anak tidak dan putus sekolah sebagian besar petani, sebagian kecil nelayan, buruh, serta terdapat orang tua anak yang tidak memiliki pekerjaan (tetap). Perlu dikemukakan bahwa terdapat sejumlah anak yang tidak dan putus sekolah disebabkan oleh ketiadaan orang tua atau meninggal dunia. Jadi, anak tersebut putus sekolah karena tidak adanya orang tua atau pihak yang mau membiayai sekolah si anak. Jumlah anak yang tidak dan putus sekolah karena orang tuanya meninggal dunia.
Jelas bahwa kondisi ekonomi merupakan faktor pendukung yang paling besar untuk kelanjutan pendidikan anak-anak, sebab pendidikan juga membutuhkan biaya besar. Selanjutnya Baharuddin M juga mengatakan bahwa:
“Nampaknya di negara kita faktor dana merupakan penghambat utama, untuk mengejar ketinggalan kita dalam dunia pendidikan. Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa dana yang cukup, tidak akan dapat diharapkan pendidikan yang sempurna.31 Jadi, kurangnya biaya pendidikan, maka akan mengakibatkan pendidikan tertunda.
Bila dilihat dari segi perkembangan zaman sekarang ini, yaitu biaya pendidikan yang setiap tahun terus meningkat, kebutuhan pokok masyarakat terus meningkatkan harganya sedangkan mata pencahariannya semakin rendah, sehingga keadaan kehidupan semakin sulit dan angka kemiskinan semakin meningkat. Keadaan semacam ini bisa kita lihat secara langsung di negara kita sendiri Indonesia. Hal seperti ini akan mengakibatkan antara lain: anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena terpaksa membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika tanpa adanya dana yang cukup, tidak bisa diharapkan untuk mendapatkan pendidikan yang sempurna. Hal-hal seperti inilah yang dapat menjadikan seorang anak menjadi putus sekolah.
c. Keadaan Sekolah
Selanjutnya menyebabkan anak putus sekolah adalah fasilitas belajar yang kurang memadai. Fasilitas belajar yang dimaksudkan adalah fasilitas belajar yang tersedia di sekolah, misalnya perangkat (alat, bahan, dan media) pembelajaran yang kurang memadai, buku pelajaran kurang memadai, dan sebagainya. Kebutuhan dan fasilitas belajar yang dibutuhkan siswa tidak dapat dipenuhi siswa dapat menyebabkan turunnya minat anak yang pada akhirnya menyebabkan putus sekolah.
Dalam upaya untuk tercapainya tujuan pendidikan faktor[1]faktor sarana dan prasarana sangat di butuhkan, seperti fasilitas gedung, ruangan serta alat-alat sekolah lainnya.
Baharuddin M, mengemukakan bahwa: Apabila faktor sarana ini tidak terpenuhi, maka banyak murid usia sekolah, maupun berbagi tingkat pendidikan yang tidak bisa bersekolah, atau tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Bila hal tersebut terjadi berarti “putus sekolah” pun terciptalah dikarenakan faktor tersebut. Yang vital adalah kurangnya pengadaan sarana tempat belajar dan pengadaan guru.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa sarana adalah penunjang utama dalam hal pendidikan bagi anak, tanpa sarana yang memadai, maka pendidikan anak akan terbengkalai. Sedangkan di negara Republik Indonesia sarana baik gedung sekolah maupun ruangan sekolah masih adanya kekurangan, jumlah gedung atau ruangan yang ada tidak dapat menampung seluruh aspek usia sekolah, sehingga masih ada anak yang ada lowongan untuk sekolah dan akhirnya si anak terpaksa meninggalkan masa sekolahnya. Di samping kekurangan masalah sarana dan alat-alat sekolah tersebut di atas, juga masih ada masalah tenaga pengajar, yaitu kurangnya tenaga guru.
Di samping perlu banyaknya jumlah tenaga pengajar juga sangat diperlukan kemampuan dan sifat-sifat seorang guru yang baik. Guru harus sanggup menciptakan suasana yang harmonis. Di sekolah para guru dapat memberikan contoh-contoh yang baik dalam proses pendidikan dan pengajaran pada murid, agar mereka menjadi generasi yang handal dan utuh, beriman, berpegang teguh kepada agama, membela dan bertanggung jawab kepada tanah airnya, berwawasan luas, mempunyai kepribadian yang kuat, senang belajar dan mencintai orang seperti mencintai dirinya sendiri dan memiliki semangat gotong-royong.
Dalam hal ini, Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa: Bagi anak didik, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang yang pertama sesudah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Apa saja yang dilakukan oleh guru dinilai baik oleh anak dan sebaliknya apa saja yang tidak baik menurut guru juga tidak baik menurut anak. Jadi guru memegang tanggung jawab dan peranan yang amat penting terhadap pendidikan anak dalam rangka pembentukan kepribadiannya menjadi seorang yang bertakwa dan berintelektual.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa guru juga mempunyai peranan sangat penting dalam pendidikan anak. Jika guru tidak ada maka bisa mengakibatkan anak putus sekolah. Jika diperhatikan tentang masalah-masalah tersebut, maka akan tampak persoalannya walaupun masalah itu kelihatannya banyak dan bermacam-macam, tetapi sebenarnya dapat dikembalikan kepada sebab-sebab yang sedikit saja.
d. Keadaan Lingkungan Masyarakat
Adapun masyarakat yang di maksud ialah sekelompok manusia yang hidup dalam satu lingkup dengan anak. Kebiasaan masyarakat di seperti rendahnya kesadaran orang tua atau masyarakat akan pentingnya pendidikan. Perilaku masyarakat pedesaan dalam menyekolahkan anaknya lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan. Mereka beranggapan tanpa bersekolah pun anak-anak mereka dapat hidup layak seperti anak lainnya yang bersekolah. Oleh karena itu di Desa jumlah anak yang tidak bersekolah lebih banyak dan mereka dapat hidup layak maka kondisi seperti itu dijadikan landasan dalam menentukan masa depan anaknya.
Kendala seperti itulah bahwa pandangan masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan tidak penting. Pandangan banyak anak banyak rejeki membuat masyarakat di pedesaan lebih banyak mengarahkan anaknya yang masih usia sekolah diarahkan untuk membantu orang tua dalam mencari nafkah.
A.H. Harahap mengemukakan bahwa: Lingkungan masyarakat merupakan faktor yang cukup kuat dalam mempengaruhi perkembangan anak remaja yang sulit dikontrol pengaruhnya. Orang tua dan sekolah adalah lembaga yang khusus, mempunyai anggota tertentu, serta mempunyai tujuan dan tanggung jawab yang pasti dalam mendidik anak. Berbeda dengan masyarakat, di mana di dalamnya terdapat berbagai macam kegiatan. Berlaku untuk segala tingkatan umur dan ruang lingkup yang sangat luas.
Dari kutipan di atas, masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan anak, karena di lingkungan masyarakat terdapat berbagai pengaruh, Pengaruh tersebut ada yang positif dan juga ada yang negatif yang ditimbulkan dari lingkungan masyarakat.
Dalam hal ini Singgih D.Gunarsa dan Ny.Y.Singgih D.Gunarsa mengemukakan bahwa: “Masyarakat sebagai ruang gerak di mana para remaja dalam pengembangan diri, menemukan diri dan menetapkan diri, turut berperan dalam memberikan corak khusus sesuai dengan yang masyarakat”.36 Namun masyarakat itu sanggup untuk membentuk anak sebagai seorang pilihan dalam masyarakat.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa terjadinya anak putus sekolah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keadaan ekonomi orang tua yang tidak stabil, juga sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana adalah salah satu penunjang bagi anak untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Kemudian masyarakat merupakan lingkungan yang ketiga bagi anak yang juga salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan mereka. Karena dalam lingkungan masyarakat inilah anak menerima bermacam-macam pengalaman baik yang sifatnya positif maupun yang sifatnya negatif.
e. Kurangnya minat anak untuk bersekolah
Yang menyebabkan anak putus sekolah bukan hanya disebabkan oleh latar belakang pendidikan orang tua, juga lemahnya ekonomi keluarga tetapi juga datang dari dirinya sendiri yaitu kurangnya minat anak untuk bersekolah atau melanjutkan sekolah. Anak usia wajib belajar semestinya menggebu-gebu ingin menuntut ilmu pengetahuan namun karena sudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik terhadap perkembangan pendidikan anak, sehingga minat anak untuk bersekolah kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya, adapun yang menyebabkan anak kurang berminat untuk bersekolah adalah: anak kurang mendapat perhatian dari orang tua terutama tentang pendidikannya, juga karena kurangnya orang-orang terpelajar sehingga yang mempengaruhi anak kebanyakan adalah orang yang tidak sekolah sehingga minat anak untuk sekolah sangat kurang.
f. Akibat pergaulan bebas
Pergaulan bebas adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam masalah anak putus sekolah, karena akibat pergaulan bebas diantala mereka ada yang mengalami hamil diluar nikah. Ketika mengalami nasib tersebut, maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan pertama, anak tersebut akan putus sekolah karena dinikahi oleh pasangannya atau ia menerima pertanggung jawaban dari pasangannya. Kemungkinan kedua, anak tersebut memilih untuk putus sekolah karena ia malu menanggung nasib yang ia alami dank arena pasangannya tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, maka ia memilih untuk bekerja. Akibat pergaulan bebas ini pula seorang pelajar dapat putus sekolah karena menjadi pecandu narkoba sehingga ia malas untuk pergi kesekolah dan akhirnya hal tersebut dapat mempengaruhi prestasinya di sekolah. Karena semakin hari nilainya terus menurun dan tertinggal dari teman yang lain, akhirnya ia merasa malu dan memilih putus sekolah.
3. Pergaulan Anak Putus Sekolah
Pergaulan adalah proses interaksi yang dilakukan oleh imdividu dengan individu yang lain atau individu dengan kelompok seperti yang di kemukakan oleh aristoteles bahwa manusia sebagai bentuk mahluk sosial, yaitu manusia yang tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Dalam pergaulan terdapat di dalamnya yaitu sebuah perilaku dimana hal tersebut mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan kepribadian individu, pergaulan yang ia lakukan itu mencerminkan kepribadiannya baik pergaulan yang positif maupun negatif. Maka dengan hal ini dalam pergaulan dapat membentuk perilaku dalam hal ini bisa bersifat positif atau sebaliknya, namun perilaku yang di hasilkan oleh anak-anak yang putus sekolah yaitu cenderung negatif.
a). Kecenderungan Perilaku Anak Putus Sekolah
Perilaku merupakan sikap, tindakan, atau perbuatan. Sedangkan Putus sekolah Menurut Departemen Pendidikan di Amerika Serikat (MC Millen Kaufman, dan Whitener, 1996) mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan program belajarnya.39 Dapat di pahami bahwa maksud dari perilaku anakputus sekolah ialah perbuatan atau tindakan anak yang tidak tamat dalam program belajarnya.
Mohammad Noor Syam, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam Pancasila, mengemukakan bahwa hubungan masyarakat dengan pendidikan sangat bersifat korelatif, bahkan seperti telur dengan ayam. Masyarakat maju karena pendidikan, dan pendidikan yang maju hanya akan di temukan dalam masyarakat yang maju pula.40 Sebagaimana yang sudah di kemukakan di atas bahwa masyarakat sangat peran yang besar dalam konteks penyelenggaraan pendidikan, bagaimanapun kemajuan dan keberadaan suatu lembaga pendidikan sangat di tentukan oleh peran dan masyarakat yang ada, tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat jangan di arapkan pendidikan dapat berkembang dan tumbuh sebagaimana yang di harapkan.41 Terlepas dari itu Tingkah laku remaja yang putus sekolah akan bervariasi, tergantung dari pola pikir individu dan lingkungan disekitarnya, Baik itu lingkungan keluarga maupun pergaulan mereka. Banyak remaja yang putus sekolah masih memegang norma-norma cara berperilaku dengan baik. Mungkin ini faktor dari didikan orang tua. Tetapi juga tidak jarang remaja yang perilakunya malah semakin menjadi-jadi di karenakan depresi. Peran masyarakat sekitar sangat dibutuhkan untuk memberi semangat kepada remaja yang putus sekolah. Bahwa putus sekolah bukan berarti kita tidak dapat menjadi orang yang sukses. Sekolah merupakan salah satu jalan menuju kesuksesan.
Menilik pada pembahasan di atas, bahwa perilaku anak remaja yang putus sekolah sering di artikan negatif oleh masyarakat, karena mereka beranggapan bahwa anak yang putus sekolah tidak ada jaminan mencapai masa depan yang cemerlang dalam kehidupannya. Dan berikut macam-macam perilaku menyimpang yang biasa di hadapi oleh anak yang putus sekolah.
Adapun sebagian contoh penyimpangan perilaku kenakalan remaja pada umumnya yang menjadi pemicu terjadinya putus sekolah adalah sebagai berikut;
– Perkelahian Pelajar
Perkelahian atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi diantara pelajar. Bahkan, bukan “hanya” antar pelajar SMU, tetapi juga sudah melanda kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
– Balapan Liar
Balapan liar karena remaja masa mempunyai jiwa keinginan tauaan yang cukup tinggi terpengaruh dari film atau sekedar ingin mencari nama dan di bilang jagoan saja. Kenakalan remaja dapat di golongkan menjadi kegiatan yang meyimpang atau kegiatan yang negaatif yang merugikan dirinya dan orang lain, kegiatan balap liar yang dilakukan kalangan remaja ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, meskipun masyarakat merasa terganggu tapi mereka mengaku membiarkan saja dan tidak berani menegur karena mereka melakukan balap liar dengan jumlah kawan muda yang banyak “kelompok”. Dan mirisnya lagi oknum joki balap liar ini di dominasi oleh para remaja yang masih duduk di bangku SMA, bahkan ada yang masih SMP. Waktu tengah malam yang seharusnya ia pergunakan untuk istirahat malah di gunakan untuk balap liar yang tidak ada manfaatnya dan Akhirnya keesokan harinya mereka tidak berangkat ke sekolah malah sebaliknya membolos. Padahal tanpa di sadari hal tersebut telah merugikan dirinya sendiri dan masa depannya.
– Penggunaan narkoba
Remaja yang menggunakan narkoba bukan berarti memiliki moral yang lemah. Banyaknya zat candu yang terdapat pada narkoba membuat remaja sulit melepaskan diri dari jerat narkoba jika tidak dibantu orang-orang sekelilingnya.Zat kokain dan methamphetamine yang terdapat dalam narkoba akan memunculkan energi dan semangat dalam waktu cepat. Sedangkan heroin, benzodiazepines dan oxycontin membuat perasaan tenang dan rileks dalam otak. Ketika otak sudah tidak menerima lagi asupan zat-zat tersebut, maka akan timbul rasa sakit dan itulah yang membuat seseorang kecanduan.
– Mengonsumsi alkohol (minuman keras)
Alkohol merupakan substansi utama yang paling banyak digunakan remaja dan sering berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor yang merupakan penyebab utama kematian remaja. Menurut Clinical and Experimental Research, remaja yang mengonsumsi alkohol, daya ingatnya akan berkurang hingga 10 persen. Substance Abuse and Mental Health Services Administration juga mengatakan bahwa 31 persen remaja yang minum alkohol mengaku stres karena jarang diperhatikan oleh orang tua.
– Hubungan Seksual Pra Nikah
Beberapa faktor yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton film porno. Adapun motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka, pengaruh teman, kebutuhan biologis dan merasa kurang taat pada nilai agama. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Ohio University menyebutkan bahwa remaja yang melakukan hubungan seks di usia dini cenderung menjadi pribadi yang meresahkan masyarakat, yaitu menjadi seorang pemalak.
Dari beberapa contoh di atas tersebut menjadi dampak negatif yang sangat besar bagi anak yang putus sekolah, selain menanggung beban moral mereka juga di bayang-bayangi dengan masa depan yang suram.
b). Penyebab Perilaku Menyimpang pada Remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal):
Faktor internal:
– Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
– Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
– Pengaruh Kawan Sepermainan
Baik buruk dari perilaku seseorang anak juga dapat di ketahui dengan siapa ia bergaul. Namun di kalangan remaja memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja sangatlah besar. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
– Pengaruh Keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan.
– Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
Lingkungan juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah.
– Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan disekitarnya dapat terganggu. Dan masih banyak lagi faktor-faktor eksternal lain yang dapat menimbulkan perilaku menyimpang pada remaja.
Sumber Bacaan
C.E. Beeby, Pendidikan di Indonesia, LP3ES, (Jakarta; Djaya Pirusa, 1981) H. 179
Drs. ST. Vembrianto, Kapita Selekta Pendidikan I,(Yogyakarta; Yayasan Pendidikan
Paramita, 1982) h. 15
Drs. YB. Suparlan, Kamus Istilah Pekerja Sosial, (Yogyakarta; Kanisius, 1990) h. 8
Drs. Lukman Hakim, Kamus Ilmiah (Surabaya; Terang 1994) h. 138
Abuddin Nata, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ed. 1, cet. 1
(Jakarta: Kencana, 2003), hal. 127
P siagian Sondang, Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta: 2004
Drs. Sofyan S. Willis, Problema remaja dan pemecahannya, (Angkasa, Bandung: 1996) h 68
Farmadi, Selamatkan Anak-Anak dari Putusnya Pendidikan (Semarang: Mujahid Press,
2004), hal. 59
Winarno Surachmad, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Departemen P dan K, 1977)
hal. 31
Vembriarto, Pendidikan Sosial, Jilid II (Yogyakarta Paramita, 1975), hal. 85
Tim Penyusun Peace Education Program, Pendidikan Damai Dalam Perspektif Ulama
Aceh (Banda Aceh: PPD, 2005), hal. 208
Baharuddin M, Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya (Jakarta: Yayasan
Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982), hal 320
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan…, hal. 122
Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, cet. II (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) hal. 18
A.H. Harahap, Yayasan Bina Pembangunan Indonesia, Bina Remaja, Medan: 1981 hal. 143
Singgih D.Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta: Gunung
Mulia, 1985), hal. 87
Mohammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila,
Usaha Nasional, (Surabaya; 1986). H. 199
Hsbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Raja Grafindo (Jakarta; 1999) H. 99
Dra. Sari Yuanita, Fenomena Remaja Menjelang Dewasa, Brilliant, Books, Yogyakarta: 2011
Tags: anak putus sekolah, putus sekolah, remaja putus sekolah, sekolah
