Menurut S. Nasution (2003: 205) buku merupakan sumber belajar yang paling umum, dan modul merupakan salah satu bentuk buku pembelajaran. Dalam modul substansi yang lebih ditekankan adalah kemandirian siswa (belajar sendiri pada jangka tertentu). “Modul dapat dirumuskan sebagai unit yang lengkap dan berdiri sendiri dan terdiri atas suatu unit rangkaian kegiatan yang disusun membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.” Sedangkan yang dimaksud dengan pengajaran modul adalah pengajaran yang sebagian atau seluruhnya didasarkan atas modul. Modul adalah suatu paket belajar yang berisi satu unit materi belajar, yang dapat dibaca atau dipelajari seseorang secara mandiri.
Modul merupakan suatu unit pengajaran yang disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar. Salah satu tujuan pengajaran modul ialah membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut kecepatan masing-masing. Dianggap bahwa siswa tidak akan mencapai hasil yang sama dalam waktu yang sama dan tidak sedia mempelajari sesuatu pada waktu yang sama. Pengajaran modul juga memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut kecepatan masing-masing, oleh sebab mereka menggunakan teknik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaan masing-masing.
Menurut S. Nasution (2003: 206) Tujuan ketiga dari pengajaran modul ialah memberi pilihan dari sejumlah besar topik dalam rangka suatu mata pelajaran, mata kuliah, bidang studi atau disiplin bila kita anggap bahwa pelajaran tidak mempunyai pola minat yang sama atau memotivasi yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan keempat ialah memberi kesempatan pada siswa untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya dan memperbaiki kelemahannya melalui modul remedial, ulangan-ulangan atau variasi dalam cara belajar. Modul sering memberikan evaluasi untuk mendiagnosis kelemahan siswa sekelas, mungkin agar diperbaiki dan memberi kesempatan yang sebanyak-banyaknya kepada siswa untuk mencapai hasil yang setinggi-tingginya.
Menurut Purwanto (2007: 9) Modul ialah bahan belajar yang dirancang secara sistematik berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu. Tujuannya agar peserta dapat menguasai kompetensi yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Fungsinya sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didik. (Purwanto, 2007: 10).
Menurut Nana Sudjana (2002: 132) makna modul menurut istilah asalnya, adalah alat ukur yang lengkap, merupakan unit yang berfungsi secara mandiri, terpisah tetapi juga dapat berfungsi sebagai kesatuan dari seluruh unit lainnya. Modul merupakan jenis kesatuan kegiatan belajar yang terencana, dirancang untuk membantu pada para siswa secara individual dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Modul bisa dipandang sebagai paket program pengajaran yang terdiri dari komponen-komponen yang berisi tujuan belajar, bahan ajar, metode belajar, alat atau media, serta sumber belajar dan sistem evaluasinya.
Menurut Oemar Hamalik (2003: 145) modul adalah suatu paket pengajaran yang berkenaan dengan suatu unit terkecil, bertahap dari mata diklat tertentu dikatakan bertahap sebab modul mempelajari secara individu dari suatu unit ke unit yang lain. Pengajaran modular dilaksanakan berdasarkan pertimbanganpertimbangan sebagai berikut:
- Individualisasi belajar
Peserta didik berdasarkan kemampuan dan kecepatan belajarnya sendiri, tidak banyak bergantung kepada arahan atau bimbingan tutorial. Peserta menentukan strategi belajarnya. - Fleksibilitas (keluwesan)
Pelajaran dapat disusun dalam bermacam-macam format. - Kebebasan
Peserta melakukan kegiatan belajar mandiri, misalnya membaca mandiri, merangkum sendiri, merumuskan masalah sendiri, menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas-tugasnya sendiri. - Partisipasi aktif
Kegiatan belajar sebagian besar terletak pada keaktifan sendiri. Partisipasi ini dilaksanakan dalam bentuk belajar sambilberbuat (learning by doing)
sebagaimana dianjurkan oleh Jhon Dewey. - Peranan pengajar
Interaksi belajar-mengajar bukan dalam bentuk tatap muka yang sering disebut interaksi manusiawi, melainkan interaksi dengan bahan tertulis dan interaksional yang menunjang. - Interaksi dikalangan peserta
Interaksi ini banyak, bahkan memborong sebagian besar kegiatan belajar, misalnya melalui kegiatan belajar kelompok dan diskusi.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 10) membedakan media pembelajaran buku teks dengan media pembelajaran modul. Berikut ini merupakan perbedaan antara buku teks dan modul.
Tabel Perbedaan Buku Teks dan Modul
| Buku Teks | Modul |
| 1. Untuk keperluan umum atau tatap muka 2. Bukan merupakan bahan belajar yang terprogram 3. Lebih menekankan sajian materi ajar 4. Cenderung informatif, searah 5. Menekankan fungsi kajian materi/informasi 6. Cakupan materi lebih luas/ umum 7. Pembaca cenderung pasif | 1. Dirancang untuk sistem pembelajaran mandiri 2. Program pembelajaran yang utuh dan sistematis 3. Mengandung tujuan/kegiatan evaluasi 4. Disajikan secara komunikatif, 2 arah 5. Dapat mengganti beberapa peran pengajar 6. Cakupan bahasan terfokus dan terukur 7. Mementingkan aktifitas belajar pemakai |
Lihat Komentar (1)
Terima kasih, sangat informatif
Saya izin mengutip ya..