Pengertian Morfologi dalam Arsitektur

Pengertian Morfologi dalam Arsitektur

Morfologi dalam arsitektur, merupakan pemikiran tentang bentuk dan struktur ruang dan lingkungan binaan terhadap suatu kawasan dan itu sangat berkaitan merencanakan dan membangun lingkungan secara fungsional terhadap aktivitas manusia dalam pendekatan morfologi terhadap kota meruapakan suatu kajian ekspresi bentuk tidak hanya mencakup aspek fisik tetapi juga aspek non[1]fisik (sejarah, kebudayaan, sosial, dan ekonomi) penduduk yang dapat mempengaruhi perubahan bentuk ruang kota. Melalui pemahaman terhadap morfologi kota, akan didapatkan gambaran fisik arsitektural yang berkaitan dengan sejarah pembentukan dan perkembangan suatu kawasan mulai dari awal terbentuk hingga saat ini dan juga akan diperoleh pemahaman tentang kondisi masyarakatnya.

Dalam morfologi kota merupakan suatu cerminan dari fungsi dan ide-ide perencanaan dan pembangunan di setiap tahapan perkembangannya baik secara proses berdiri maupun membuka bangunan dilingkungan (Krier, 1979). Sedangakan berdasarkan menurut (Lefebvre, 1901-1991). Menyatakan bahwa ruang bukanlah entitas yang netral melainkan ruang sebagai ruang eksistensi sosial dan kelengkapan-kelengkapan ruang beserta penjelasannya.

Selain itu morfologi kota merupakan cabang ilmu geografis dan arsitektur, mempelajari perkembangan bentuk fisik di kawasan perkotaan, yang terkait dengan arsitektur bangunan, dan juga sistem sirkulasi, ruang terbuka, serta prasarana perkotaan khususnya jalan sebagai pembentuk struktur ruang yang utama. Secara garis besar, wujud fisik kota tersebut merupakan manifestasi visual dan parsial yang dihasilkan dari interaksi komponen-komponen penting pembentuknya yang saling mempengaruhi satu sama lainnya (Allain, 2004). Bentuk pola morfologi yang tercipta dari perkembangan kota dapat disebut dengan ekspresi keruangan suatu kota.

Pendekatan dalam morfologi kota dapat dilakukan melalui Tissue Analysis. Ada 3 tahapan dapat dilakukan yakni :

  1. Proses dalam konteks ini dijelaskan bahwa munculnya suatu kota tidak terjadi secara langsung, namun membutuhkan suatu proses yang memiliki kurun waktu tertentu. Terdapat suatu perkembangan sejarah yang melatarbelakanginya hingga dapat muncul seperti saat ini.
  2. Produk dalam hal ini kota yang ada ada tidak terjadi secara abstrak, namun merupakan hasil dari produk desain massa dan ruang yang berwujud 3 dimensi.
  3. Prilaku mempengaruhi terhadap keberadaan ruang dalam konteks masyarakat yang berhuni. Bentuk kota dipengaruhi perpaduan budaya, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat perubahan prilaku masyarakat disebabkan perkembangan teknologi hal ini menyebabkan berdampak secara kehidupan.

Komponen Morfologi

Komponen morfologi ada 4 bagian yang perlu untuk diperhatikan karena ini berkaitan dengan morfologi kota (Carmona, 2003) yakni:

  1. Menurut (Kaiser, 1995) dikarenakan ini dianggap sebagai generator sistem aktivitas menentukan pola dan arah pertumbuhan kawasan mengenai tata guna lahan sangat mempengaruhi perwujudan fisik kawasan terutama yang terkait dalam pengembangan kawasan terbangun dan tidak terbangun.
  2. Struktur bangunan mengarah dari tipologi dalam sebuah analisis morfologi dan dapat dibahas dalam dua aspek, baik secara penataan dan bangunan arsitektur. Pada penataan massa bangunan ini akan terkait dengan kepadatan dan tapak bangunan sementara bangunan arsitektur lebih dalam mempunyai makna.
  3. Plot atau dimensi membahas pemanfaatan lahan sehingga merujuk pemanfaatan dan pengelolaan ruang.
  4. Jaringan jalan sebagai jalur penghubung, jalan sangat mempengaruhi efesien dan efektivitas fungsi kawasan, jaringan jalan sebagai dari ruang publik dianggap generator inti dari kawasan perkotaan atau jantungnya perkotaan (Hillier B, 1984).

Adapun komponen morfologi secara moratorian menggunakan ada 4 aspek analisis (Moudon, 1997), antara lain :

  1. Elemen desain yaitu mengenai tentang adanya desain seperti ruang penutup atap, buka-buka efektir dan ruang terbuka terhadap desain.
  2. Struktur internal hubungan antara elemen desain yang merujuk pada sebaran ruang terbuka hijau. 3. Hubungan antara bentuk dan kegunaan tentang dimensi dan proporsi ruang berserta komponen fisik yang dapat mengakomodasi fungsi ruang.
  3. Aspek formal atau perwujudan fisik yaitu bagaimana desain banguan dan kawasan secara fisik mencerminkan makna dan kegunaan.

Sumber Bacaan

Krier, R. (1979). Urban Space. London: Academy Editions.

Lefebvre, H. (1901-1991). The Urban Question. Prancis: The Production of Space.

Allain, R. (2004). Urban Morphology : Geografi, Management and architecture of the city. Management and architecture of the city, 254.

Carmona, e. a. (2003). Public Spaces – Urban Spaces, the dimension of urban design. Skotlandia: The Architectural Press.

Kaiser, e. a. (1995). Urban Land use Planning. 4th Edition. Chicago: Univeristy of Illinois

Hillier B, H. J. (1984). The social logic of space. United Kingdom: Cambridge University Press.

Moudon. (1997). Urban Morphology. Urban Morphology as an Emerging Interdiciplinary Field, 3-10.

Banyak yang baca