Pengertian Motivasi Belajar
Koeswara (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 80) mengartikan motivasi belajar sebagai kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Kekuatan mental tersebut berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Sardiman A.M (2007: 75) mengartikan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai definisi motivasi, belajar, dan motivasi belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual berupa keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan dalam bentuk tekun belajar, ulet menghadapi kesulitan belajar (tidak mudah putus asa), menunjukkan minat terhadap mata pelajaran tertentu, belajar mandiri, bosan pada tugas yang monoton, dapat mempertahankan pendapat, senang mencari dan memecahkan masalah yang digunakan untuk mencapai potensi prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
Bentuk Motivasi Belajar
Adapun bentuk motivasi belajar di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut. Muhibbinsyah (2002: 136-138) menyebutkan bentuk motivasi belajar di sekolah ada dua macam yaitu sebagai berikut.
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyukai suatu materi, dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkret dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah. Karena setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat. Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan.
Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Dimyati dan Mudjiono (2002: 97-101) menyebutkan unsur- unsur yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut.
a. Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Keinginan hanya berlangsung sesaat sedangkan kemauan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan cita-cita dapat berlangsung sangat lama bahkan hingga sepanjang hayat. Cita-cita yang dimiliki siswa akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik sebab tercapainya cita- cita akan mewujudkan aktualisasi diri.
b. Kemampuan Siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Apabila anak memiliki keinginan dapat membaca, maka anak diharuskan mengenal dan mengucapkan semua huruf terlebih dahulu. Keberhasilan membaca akan memuaskan hati anak tersebut dan menyebabkan anak gemar membaca. Kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi Siswa
Kondisi siswa baik jasmani maupun rohani sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Seseorang yang sedang sakit atau marah akan enggan belajar dan susah untuk memusatkan perhatiannya sedangkan siswa yang sedang sehat ia akan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan rajin membaca buku supaya nilai rapornya baik.
d. Kondisi Lingkungan Siswa
Lingkungan siswa yang meliputi keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan masyarakat akan sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Misalnya saja bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, perkelahian antar siswa akan mengganggu kesungguhan belajar. Tetapi sebaliknya keadaan sekolah yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat motivasi belajar.
e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam. Lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan siswa dapat mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa koran, majalah, film semakin menjangkau siswa. Ke semua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar. Pembelajar yang masih berkembang jiwa raganya, lingkungan yang semakin bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi dinamis bagi pembelajaran. selai itu guru diharapkan mampu memanfaatkan koran, majalah, televisi, dan sumber belajar yang lain untuk memotivasi belajar siswa.
f. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Peran guru sangatlah penting di sekolah. Rata-rata hampir lima jam perhari guru berinteraksi dengan siswa-siswanya. Upaya guru dalam membelajarkan siswa dapat terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran di sekolah dapat berupa menyelenggarakan tertib belajar di sekolah, membina disiplin belajar dalam setiap kesempatan, seperti pemeliharaan waktu dan pemeliharaan fasilitas sekolah, pemanfaatan penguatan berupa hadiah, kritik, hukuman tepat guna. Upaya pembelajaran guru di sekolah tidak terlepas dari kegiatan di luar sekolah. Pusat pendikan luar sekolah yang penting adalah keluarga, lembaga agama, pramuka dan lain-lain. Guru diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan pusat-pusat pendidikan tersebut.
Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa unsur seperti cita-cita yang dimiliki oleh seseorang, kemampuan yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan, kondisi siswa baik jasmani maupun rohani, kondisi lingkungan siswa yang meliputi lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal, maupun pergaulan. Selain itu motivasi belajar juga dipengaruhi oleh unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, upaya guru dalam membelajarkan siswa di sekolah.
Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi sangat berperan dalam belajar, siswa yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pelajaran itu. Maka motivasi senantiasa akan menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa.
Sardiman A. M (2007: 83) menyebutkan fungsi motivasi belajar ada tiga yakni sebagai berikut.
- Mendorong manusia untuk berbuat. Fungsi ini sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan
- Menentukan arah perbuatan. Motivasi akan mengarahkan ke arah tujuan yang hendak Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
- Menyeleksi perbuatan. Fungsi ini menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat dengan tujuan tersebut.
Sementara itu, Oemar Hamalik (2003: 161) juga mengemukakan tiga fungsi motivasi adalah sebagai berikut.
- Mendorong timbulnya kelakuan atau sesuatu perbuatan: tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar.
- Motivasi berfungsi sebagai pengarah: artinya menggerakkan perbuatan ke arah pencapaian tujuan yang di inginkan.
- Motivasi berfungsi penggerak: Motivasi ini berfungsi sebagai mesin, besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan atau Jadi Fungsi motivasi secara umum adalah sebagai daya penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan tertentu untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai fungsi motivasi belajar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi belajar memiliki fungsi yang sangat penting bagi siswa khususnya dalam proses pembelajaran. motivasi dapat menggerakkan siswa untuk mau belajar sesuai dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, menyeleksi kegiatan-kegiatan yang tidak perlu yang dapat mengganggu proses belajar.
Pentingnya Motivasi Belajar
Motivasi belajar sangatlah penting karena memberikan manfaat yang banyak bagi siswa maupun guru. Sehingga Dimyati dan Mudjiono (2002: 85-86) menjelaskan pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut.
a. Bagi siswa
- Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir. Contohnya setelah seorang siswa membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan temannya yang membaca buku tersebut, ia kurang memahami isi maka ia akan terdorong membaca
- Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, misalnya jika seorang siswa terbukti usaha belajarnya belum memadai maka ia akan berusaha setekun temannya yang belajar dan
- Mengarahkan kegiatan belajar, misalnya setelah mengetahui bahwa dirinya belum belajar secara serius dan banyak bersendau gurau, maka ia akan mengubah perilaku
- Membesarkan semangat belajar, misalnya jika seseorang menyadari betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh orang tua dan mempunyai adik yang masih sekolah, maka ia berusaha akan cepat lulus.
- Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (di sela-selanya adalah isitirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat
b. Bagi guru
- Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil, membangkitkan bila siswa tak bersemangat, meningkatkan bila semangat belajarnya timbul tenggelam, memelihara bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan
- Mengetahui dan memahami motivasi belajar di kelas bermacam ragam, ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatian, ada yang bermain di samping yang bersemangat untuk belajar. Diantara yang bersemangat belajar ada yang berhasil dan ada yang tidak. Melihat bermacam-macam motivasi tersebut guru dapat menerapkan berbagai strategi belajar
- Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktur, teman Penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik.
- Memberi peluang guru untuk unjuk kerja “rekayasa pedagogies”. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar sampai berhasil. Tantangan profesional yang dihadapi guru adalah mengubah siswa tak berminat belajar menjadi semangat untuk belajar. Mengubah siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi semangat untuk belajar.
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi sangatlah penting bagi siswa dan guru, dengan mempunyai motivasi belajar siswa akan menyadari betapa pentingnya belajar itu sehingga mereka akan melalui proses belajar dari awal sampai akhir hingga berhasil dan tidak mau kalah dengan teman-temannya. Dengan adanya motivasi belajar siswa, guru akan lebih mudah menggunakan strategi pembelajaran yang tepat untuk siswa dengan keanekaragaman motivasi sehingga pembelajaran akan lebih berhasil dan bermakna.
Upaya Menumbuhkan Motivasi dalam Kegiatan Belajar di Sekolah
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi belajar. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru harus berhati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagikegiatan belajar para anak didik supaya tepat sasaran. Sebab mungkin bermaksud untuk memberi motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan anak didik. Sardiman A. M (2007: 91-95) menjelaskan bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah sebagai berikut.
1. Memberikan Angka Kepada Peserta
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang baik. Sehingga yang dikejar- kejar adalah nilai ulangan dan rapornya. Angka-angka yang baik itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa. Tetapi ada juga siswa yang belajar pokoknya hanya ingin naik kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya masih sangat rendah. Hal ini harus menjadi perhatian guru bahwa pencapaian angka- angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu langkah guru selanjutnya yang ditempuh guru adalah bagaimana mengajarkan tentang nilai juga di samping mengajarkan pengetahuan-pengetahuan.
2. Memberikan Hadiah
Hadiah tidaklah selalu dikatakan sebagai motivasi karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat terhadap pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar terbaik tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Menciptakan Situasi Kompetisi di Kelas
Saingan atau kompetisi dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individu maupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Unsur persaingan selain digunakan dalam dunia industri juga sering digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Melibatkan Ego Peserta Didik
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertahankan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas yang baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa si subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberikan Ulangan
Siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu memberikan ulangan juga merupakan langkah menumbuhkan motivasi. Tetapi yang harus diiingat guru adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa mebuat siswa menjadi bosan. Dalam hal ini guru harus bersifat terbuka, maksudnya apabila akan ada ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan harapan hasilnya akan meningkat.
7. Memberikan Pujian
Apabila ada siswa yang sukses berhasil menyelesaikan tugas dengan baik guru perlu memberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus bentuk motivasi yang baik. Supaya pujian ini dapat menjadi motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan mempertinggi semangat belajar sekaligus membangkitkan harga diri.
8. Memberikan Hukuman
Hukuman merupakan reinforcement yang negatif tetapi apabila diberikan secara tepat dan bijaksana dapat dijadikan alat motivasi. Oleh karena itu guru harus benar-benar memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9. Menumbuhkan Hasrat untuk Belajar kepada Peserta Didik
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan dan ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, dan tentunya hasilnya akan lebih baik.
10. Menumbuhkan Minat
Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai minat. Minat dapat dibangkitkan dengan cara membangkitkan adanya suatu kebutuhan, menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau, memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan menggunakan berbagai macam bentuk mengajar. Merumuskan tujuan belajar yang diakui dan diterima oleh anak. Apabila siswa memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
11. Tujuan yang Diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan menjadi alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan akan timbul gairah untuk belajar terus menerus.
Banyak cara yang dapat dipakai guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa di sekolah. Guru berjanji akan memberi nilai yang baik apabila siswa rajin belajar dan akan memberikannya sebuah hadiah yang bermanfaat, menciptakan suasana persaingan di dalam kelas tetapi persaingannya harus positif, dan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kepada semua siswa untuk berusaha demi terwujudnya sebuah tujuan berupa prestasi, guru tidak lupa memberikan ulangan untuk mengetahui seberapa jauh siswa memahami materi, siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik diberikan pujian, memberikan teguran bagi siswa yang malas untuk belajar ataupun mengerjakan tugas, mengajak siswa untuk rajin belajar dengan menanamkan kepada diri siswa betapa pentingnya belajar, dan menggali minat yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Indikator-indikator Motivasi Belajar
Hamzah B.Uno (2010: 23-25) mengemukakan indikator-indikator motivasi belajar sebagai berikut.
1. Adanya Hasrat dan Keinginan untuk Berhasil
Di dalam belajar setiap siswa membutuhkan motivasi. Misalnya saja siswa yang akan mengikuti ujian akhir semester, membutuhkan sejumlah informasi dan ilmu supaya ujiannya berhasil dan memperoleh nilai yang baik. Jika pada ujiannya siswa tidak dapat menjawab soal, maka timbullah motif untuk mencontek supaya dapat mempertahankan dirinya supaya tidak dimarahi orang tuanya karena nilainya jelek.
2. Adanya Dorongan dan Kebutuhan dalam Belajar
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasilah sebagai pendorong seseorang untuk belajar. Apabila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentang waktu tertentu. Siswa memiliki kebutuhan untuk menguasai ilmu kebutuhan demi masa depan, sehingga termotivasi untuk belajar.
3. Adanya Harapan dan Cita-cita Masa Depan
Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau hukuman akan mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Keinginan hanya berlangsung sesaat, kemauan dapat berlangsung lama, dan cita-cita dapat berlangsung sangat lama. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik, sebab terwujudnya cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.
4. Adanya Penghargaan dalam Belajar
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang, salah satu diantaranya adalah motivasi. Misalnya saja seseorang rajin belajar karena adanya harapan penghargaan atas prestasinya. Tetapi di dalam pembelajaran tidak selamanya selamanya penyelesaian tugas dan belajar yang rajin dilatarbelakangi motivasi berprestasi. Kadang-kadang seseorang termotivasi oleh kegagalan dan ketakutan. Apabila tidak menyelesaikan tugas takut dimarahi oleh guru atau diolok-olok temannya.
5. Adanya Kegiatan yang Menarik dalam Belajar
Seseorang yang telah merasa senang terhadap sesuatu, apabila ia dapat mempertahankan kesenangan tersebut maka ia akan termotivasi untuk melakukan kegiatan tersebut. Jika seseorang menghadapi masalah atau tantangan dan ia merasa yakin mampu, maka biasanya orang tersebut akan berusaha mencoba melakukan hal tersebut.
6. Adanya Lingkungan Belajar yang Kondusif
Selama perkembangannya individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Individu tersebut akan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keinginan untuk menyesuaikan diri ini berpangkal pada dorongan, kebutuhan, motif yang menimbulkan perbuatan untuk hidup bersama dengan lingkungannya terutama dengan manusia. Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dan kehidupan bermasyarakat. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, pergaulan yang buruk akan mengganggu kesungguhan belajar. Tetapi sebaliknya, kondisi lingkungan yang kondusif, aman, tenteram akan memperkuat motivasi untuk belajar.
Tags: Bentuk Motivasi Belajar, Fungsi Motivasi Belajar, Indikator-indikator Motivasi Belajar, Menumbuhkan Motivasi Kegiatan di Sekolah, Pengertian Motivasi Belajar, Pentingnya Motivasi Belajar, Unsur-unsur Motivasi Belajar
